Peperangan mengajarkan satu musuh yang jelas, perdamaian mengajarkan untuk menemukan musuh diantara kelompok sendiri
Kaum Viking
Masa Perang adalah bentuk penderitaan terbesar manusia, semua kejahatan ada disana. Penjarahan, perbudakan, pemerkosaan, pembunuhan, saling menghina agama/kepercayaan dst. Pertanyaannya, setelah masa perang apakah manusia mengalami penderitaan lagi ?
Di masa jeda peperangan seperti abad 21 ini, masing-masing manusia menguras keringat untuk memenuhi kebutuhan biologisnya (makan, pakaian, tempat bertengger). Setelah kebutuhan biologis terpenuhi, tidak sedikit melanjutkan perjalanan memenuhi hasrat lainnya entah sebuah kekuasaan, aktualisasi diri, validasi, dan semua itu semua tidak mutlak sebagai sebuah fitrah ketamakan manusia. Demikianlah sistem sosial-budaya sepanjang sejarah manusia. Berdalih pada kekayaan, kekuasaan, kehormatan di masa perang ataupun tanpa perang, semua bagian dari kehidupan.
Mari kita berandai, akan ada sebuah MASA EMAS seluruh umat manusia dimana semua kebutuhan kelompok dan individu terpenuhi. Rasa aman, rasa nyaman, kebutuhan primer, sekunder, tersier semua ada begitu saja.
Bukannya mereka akan kehilangan banyak harapan ? Seorang prajurit perang dengan berani turun ke medan tempur dengan harapan mati secara terhormat, tanpa peperangan mereka tidak akan merasakan keberanian menghadapi kematian semacam itu. Jika seorang pebisnis memiliki banyak perusahaan yang hebat tak tertandingi, maka dia tidak lagi merasakan semangat sulitnya membangun bisnisnya dari nol. JIka seorang ayah dapat membiayai kuliah anaknya di kampus manapun dan memberikan warisan terbaiknya, lalu harapan apalagi yang bisa dia berikan untuk anaknya?. Jika seorang anak terlahir pintar sejak bayi, maka harapan apalagi untuk dia terus belajar sehingga dapat membahagiakan kedua orang tuanya ?
Apakah kedamaian adalah ilusi ? apakah masa jeda dari perang adalah masa menuju ke bentuk penderitaan manusia lainnya ? apakah manusia akan terus dihantui dengan berbagai kekhawatiran ?
Sungguh indah skenario Tuhan. لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِي كَبَدٍ “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” Dengan memahami kompleksitas ini, manusia seharusnya tidak lagi berusaha mencari kebahagiaan, bijaknya “ Menemukan kedamaian diantara setiap kebahagiaan dan kesedihannya yang dialaminya“







