Ivy Rouge: Discover Your Dream Home in Oakville | Condos 2 Home
Explore Ivy Rouge, a stunning community in Oakville offering modern homes and townhomes designed for luxurious family living. Find your dream property with Condos 2 Home today!

seen from Germany
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Greece
seen from United States
seen from United States
seen from Russia
seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States
seen from China
seen from Argentina
seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Mexico

seen from China
Ivy Rouge: Discover Your Dream Home in Oakville | Condos 2 Home
Explore Ivy Rouge, a stunning community in Oakville offering modern homes and townhomes designed for luxurious family living. Find your dream property with Condos 2 Home today!
D.17: THE ROUGE
Every morning I hear the ruckus downstairs, Madam's gentle voice becomes loud and demanding —demanding a perfection for her night.
The VVIP, she says as she fixes her lips with Ruby Woo, and flirting with the mirror, she is such a dream for me who always fantasize the flaming heat of seduction, behind the mahogany door.
His gaze captures Madam's beauty under the Belgian moon. They whisper, laughing, breathing, loving: creating the rawest art in my life.
One moon away I collapse into something dark and sinful, but liberating and excites me. And like a little kid playing hide and seek, I flirt at my silhouette, thinking: I do look beautiful with my blushing cheeks, even when no man around.
BIJOUX (RAW)
warning: the story contains explicit details of sexual activity, language, and violence. it might be disturbing/inappropriate for some readers. discretion is advised. cast: kyokutei shinku; ivy wei rouge; irina white; watanabe azuma mentioned: shimizu nao; sora; madam lilith; kyokutei karen words: 14,036 estimated reading time: 70 minutes, 10 seconds language: Indonesian writers: 𝕾𝖊𝖑𝖊𝖓𝖊 & 神話
⠀⠀ 𝐋𝐀𝐏𝐎𝐑𝐀𝐍 𝐀𝐔𝐃𝐈𝐓 𝐊𝐄𝐔𝐀𝐍𝐆𝐀𝐍 terhempas keras di atas meja. Seluruh umat di dalam ruangan pucat, pusing, dan perut mereka bergejolak ingin memuntahkan apa saja yang ada di lambung. Sejak awal divisi keuangan memulai presentasi mereka, air wajah Shinku sudah masam. Tangannya mengusap kasar wajah beberapa kali dan urat-urat kecil pada dahi menyembul. Pria itu marah. Marahnya tidak sembarangan. Ini—benar-benar di tingkat puncak. Kalau kata Nao, mereka seharusnya segera mengajukan surat pengunduran diri saja. ⠀⠀ “Siapa yang menyuruh meniadakan anggaran pembuatan gudang di Indonesia? Kemana sisa uang tagihan di Vietnam? Kalian ingin main-main?” ⠀⠀ Cengkraman tangan Shinku pada pinggir meja terlihat begitu kuat hingga otot-otot lengannya tegang. Yakinilah pria itu mencoba menahan amarahnya. ⠀⠀ “Begini ... itu ... pihak mereka tidak memberikan data yang lengkap,” tutur salah satu pekerja setelah meneguk saliva beberapa kali. ⠀⠀ “Sejak kapan kalian jadi pemalas?” tanya Shinku geram. “Aku membayar kalian sebagai tim khusus untuk meringankan kinerja departemen. Bukan untuk mempersulit.“ ⠀⠀ Kepalan tangan Shinku dipukul pada laporan yang terkapar tak berdaya sekitar tiga kali. Di setiap ketukannya, ia berkata, “Sampah. Tidak berguna. Seperti kalian.”
⠀⠀ "𝐁𝐀𝐆𝐀𝐈𝐌𝐀𝐍𝐀 menurutmu, Arisa-chan?" Sepasang obsidian gelap Ivy menatap penuh harap. ⠀⠀ "Kupu-kupu, ya." Arisa menimbang, jemarinya mengetuk-ngetuk pelan permukaan meja. ⠀⠀ "Mhm, kurasa bisa kita realisasikan untuk koleksi musim semi mendatang," putus yang bermarga sama dengan Shinku itu kemudian. ⠀⠀ Refleks Ivy mengangkat kedua tangannya ke udara. Butuh sekuat tenaga untuk ia menahan jerit bahagianya. Ia melompat kecil di tempat duduknya, kemudian merangkul Arisa dan memeluknya erat. ⠀⠀ "Ivy-chan, jangan senang dulu! Ini baru ide kasar, ingat?" Arisa tertawa pelan. Tangannya yang halus menepuk-nepuk pundak Ivy lembut. ⠀⠀ "Eum! Aku ingat," jawab Ivy seraya melepas pelukannya. "Tenang saja, aku tidak akan melupakan bagian pentingnya." ⠀⠀ Arisa tersenyum. Kepalanya mengangguk pertanda ia percaya dengan perkataan si Nona Rouge. Dilihatnya Ivy meraih cangkir gelas dan meminum susu cokelatnya. Sudut bibirnya ditepuk-tepuk dengan tisu kemudian. ⠀⠀ "Sedetik kau menjerit dan melompat, detik berikutnya kau bersikap anggun dan penuh pertimbangan." Arisa menggelengkan kepala. Tangannya dengan hati-hati menutup kotak perhiasan yang sejak dua jam tadi dibiarkan terbuka di atas meja. ⠀⠀ Ivy meniup poninya. "Bukan begitu," elaknya. ⠀⠀ "Percaya padaku, Ivy-chan, kau tidak perlu berubah. Jangan membuang bagian dari dirimu untuk orang lain." ⠀⠀ Ivy menunduk. Jemarinya melingkar indah di badan cangkir, mengelus ukiran abstrak di permukaannya. "Mm," jawab Ivy singkat. ⠀⠀ Arisa menghela napas. Ia mendekatkan kursinya pada si gadis berdarah campuran, mengambil tangan gadis itu dan menggenggamnya hangat. ⠀⠀ "Aku tahu keduanya adalah dirimu. Kau ceria dan elegan di saat yang bersamaan. Maksudku tadi adalahㅡ" ⠀⠀ "Mm!" Ivy menggeleng cepat. Ia meletakkan cangkirnya kembali ke atas meja. "Aku tahu," ucapnya. "Kau tidak perlu khawatir, Arisa-chan. Aku tahu apa yang aku lakukan." ⠀⠀ Tangannya yang kosong ditaruh di atas milik Arisa, menepuk-nepuknya beberapa kali. ⠀⠀ Arisa mengerutkan batang hidungnya. "Baiklah, baiklah," balasnya. Ia memilih untuk tidak melanjutkan topik pembicaraan tersebut. ⠀⠀ "Apa agendamu setelah ini, Arisa-chan?" tanya Ivy. ⠀⠀ "Hmm, mengecek beberapa laporan dan proposal kerja sama." ⠀⠀ "Terdengar membosankan." ⠀⠀ Arisa mengerjap. Ia menatap lekat-lekat wanita di hadapannya. Ivy pun melakukan hal yang sama. Dalam hitungan tiga detik, tawa lepas pecah di antara keduanya. ⠀⠀ "Astaga! Ivy-chan!" komentar Arisa di tengah-tengah usaha mengontrol tawanya. ⠀⠀ "Itu benar!" bela Ivy, masih tertawa kecil meskipun ia sudah siap beranjak pergi dari kantor pribadi Arisa. ⠀⠀ "Ya ampun. Kau mengatakannya seolah-olah kau tidak melakukan hal yang sama di keseharianmu." Arisa menyandarkan tubuh ke sandaran kursinya yang empuk. Akhirnya ia berhasil mengatur napas dan mengelap sedikit air mata yang hampir jatuh akibat lontaran spontan seorang Rouge. ⠀⠀ "Hmm, untuk beberapa hari belakangan, memang tidak!" Bangga Ivy. Ia menjulurkan lidahnya meledek sang mentor. ⠀⠀ "Loh? Akan kulaporkan pada Shinku-nii!" ⠀⠀ Mata Ivy mendadak melebar. "Kenapa dilaporkan pada Tuan Shinku?!" ⠀⠀ "Karena kau bermalas-malasan." ⠀⠀ "Aku tidak bermalas-malasan! Hanya belum ada laporan yang masuk!" ⠀⠀ "Tidak mungkin." ⠀⠀ "Aku tidak berbohong!" tegas Ivy. Raut wajahnya seribu kali lipat lebih serius daripada saat mereka mendiskusikan produk baru yang akan dirilis musim mendatang. ⠀⠀ Arisa menampilkan senyum tak berdosanya. ⠀⠀Ivy menyipitkan matanya. ⠀⠀ "Arisa-chan iseng! Akan kulaporkan pada Tuan Shinku nanti." Lagi, ia menjulurkan lidahnya. Dalam sekali ayun tangannya meraih tas perhiasan di atas meja. ⠀⠀ "Aku akan pulang sekarang; Arisa-chan jahat!" serunya selagi berlari kecil meninggalkan ruangan. ⠀⠀ Arisa terkekeh pelan dan menggelengkan kepala. Kalau dipikir-pikir, si Kyokutei Shinku, kakak sepupunya itu—ah, sudahlah.
⠀⠀ 𝑺𝑬𝑴𝑩𝑨𝑹𝑰 𝑴𝑬𝑴𝑬𝑳𝑼𝑲 𝑲𝑬𝑫𝑼𝑨 𝑳𝑼𝑻𝑼𝑻, Ivy mengetik sebuah pesan. Sudah beberapa kali ia menghapus susunan kalimatnya. Terkadang ia menggeleng, menutup wajah, atau memukul pelan keningnya sendiri. ⠀⠀ "Nona, Anda harus segera membuat sebuah keputusan." ⠀⠀ Suara Irina membuat Ivy terlonjak kaget. Bibirnya mengerucut sebagai sebuah aksi protes. ⠀⠀ "Aku tahu," jawab Ivy, bersungut-sungut. ⠀⠀ "Seharusnya Anda tidak melampiaskan kekesalan pada Watanabe-san kemarin," kata Irina. Asisten yang sudah dianggap Ivy seorang kawan dekat itu memang paling pintar menggarami lukanya! ⠀⠀ "Ugh! Irina, aku ingin makan sup jagung dan 𝘣𝘰𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘮𝘮𝘦𝘯." ⠀⠀ Irina menggeleng pelan. Permintaan tiba-tiba itu, pastilah karena si Nona sedang kacau pikirannya; Nonanya malu. Namun begitu, "Baik, Nona," adalah wujud kepatuhan yang ditunjukkan Irina pada orang terkasihnya.
⠀⠀ 𝐋𝐈𝐌𝐀 𝐁𝐄𝐋𝐀𝐒 𝐌𝐄𝐍𝐈𝐓 berlalu. Akhirnya, keberanian dan kerendahan hati terkumpul cukup juga. Pesan itu statusnya sudah terkirim.
Ivy Rouge ⠀⠀ Watanabe-san, aku minta maaf atas sikap kenakakkanku kemarin. ⠀⠀ sent a sticker. Ivy Rouge ⠀⠀ Itu … sekaligus, apakah Tuan Shinku sedang sibuk? ⠀⠀ Aku ingin mengembalikan perhiasan yang Tuan Shinku pinjamkan padaku dan Arisa-chan waktu itu.
⠀⠀ “Oh,” kata Azuma tiba-tiba. Tubuhnya terperanjat atas suara notifikasi. ⠀⠀ Shinku mengalihkan netranya dari layar laptop. “Kenapa?” ⠀⠀ “Rouge-san.” ⠀⠀ “Maksudmu?” ⠀⠀ Tanpa mempertimbangkan apapun, Azuma menunjukkan isi ruang pesannya dengan Ivy kepada Shinku. Dilihatnya roman sang tuan tak berubah; ia datar seperti biasa. ⠀⠀ “Aku saja yang datang. Sekitar jam tujuh malam.” ⠀⠀ Kepala Azuma mengangguk. Kedua ibu jarinya tampak lihai bergerak pada layar ponsel. Ia adalah ahli dalam perkara pertukaran pesan. Rekor tertingginya adalah mengirim tiga ratus pos-el dan membalas semuanya kurang dari satu jam. Seulas senyum puas terlukis manis pada wajahnya. Azuma kemudian meletakkan gawai pribadi itu di dekat tumpukkan kertas dan fokus—‘tuk kesekian kalinya—pada laptop. Ah, perihal isi pesan, begini bunyinya:
W. Azu ⠀⠀ Kyokutei-san akan datang ke hotel Anda pada pukul tujuh malam.
⠀⠀
⠀⠀ "IRINA!" Ivy menjerit, terburu-buru berlari menghampiri asisten pribadinya. ⠀⠀ "Nona Rouge! Ada apa?" Tak kalah panik, Irina meninggalkan meja dapur dan mengerem mendadak langkah lebarnya sebelum ia menabrak Ivy. ⠀⠀ "Tuan Shinku akan datang berkunjung malam ini!" terang si Nona. Sebuah senyum lebar mempercantik paras. Ia berputar-putar dan melompat kecil sembari memeluk ponselnya. ⠀⠀ "Ya Tuhan," Irina mendengus. "Dalam rangka apa, Nona?" ⠀⠀ "Hmm," Ivy membaca ulang pesan dari Watanabe Azuma, "dalam rangka mengambil perhiasan yang dipinjamkan kepadaku dan Arisa-chan," lanjutnya santai. ⠀⠀ Irina menatap datar Nona mudanya itu. Rasa hati ingin mengingatkan sang Nona agar tak berharap terlalu banyak. Terakhir kali si Kyokutei sialan berjanji akan menghubungi, si Nona malah patah hati lantaran janji tak ditepati. ⠀⠀ Seakan menangkap kekhawatiran Irina, Ivy tersenyum dan menepuk pundak Irina pelan. "Jangan khawatir," katanya, "Watanabe-san pasti menghubungiku kalau ada perubahan rencana." ⠀⠀ Irina mengangguk. Watanabe Azuma adalah seorang yang piawai dalam pekerjaannya. ⠀⠀ Sembari berjinjit, Ivy mengintip ke belakang pundak Irina. "Apakah makanannya hampir jadi?" tanyanya penasaran. ⠀⠀ Irina menoleh ke meja dapur. Bahan-bahan untuk membuat sup jagung masih mentah dan belum diolah. ⠀⠀ "Belum, Nona. Tunggulah sebentar lagi. Saya akan kembali menyiapkan makan malam sekarang." ⠀⠀ "Aku bantu!" ⠀⠀ "Nona—" ⠀⠀ "Irinaaa!" potong Ivy, memelototi yang lebih tua. ⠀⠀ Irina menghela napas. Ia takkan pernah menang dari Nonanya ini. Sambil menahan senyum, ia mengangguk dan bergegas mengambil satu celemek masak lagi untuk Nonanya. ⠀⠀ Sementara itu, sebuah pesan balasan dikirim Ivy kepada yang bersangkutan.
Ivy Rouge ⠀⠀ Oh, ya ampun. Jadi merepotkan Tuan Shinku. ⠀⠀ Apakah Watanabe-san akan datang juga?
⠀⠀ Pesan dari Ivy tak dibaca oleh Azuma. Ia dan Shinku sibuk membuat laporan ‘tuk Genji. Sungguh, wilayah Rusia seharusnya tak mengirimkan data mereka di jam ini. Mulut si Kyokutei tak hentinya menyumpah. ⠀⠀ “Orang-orang ini. Tunggu hingga aku memecahkan kepala mereka dengan botol vodka,” ujarnya. ⠀⠀ “Shin-kun, hari ini kau sudah banyak marah. Baru tiga puluh menit kau selesai menghabisi tim keuangan khusus. Sebagai teman, aku sarankan kau rehat sejenak.” ⠀⠀ Shinku menggeram, menyilangkan tangannya di depan dada begitu kencang sehingga lengan jasnya ingin robek. Pria itu harus santai dengan rutinitas olahraganya atau ia akan menjadi Hulk, batin Azuma. ⠀⠀ “Apakah Sora-san ada waktu? Sudah tiga bulan sejak aku mendapatkan sesi pijat,” ucap Shinku seraya menutup mata. “Ah, sialan.” ⠀⠀ Jika sudah gusar begini, maka Azuma hanya bisa mengamati saja. Nanti juga akan reda. “Aku akan menghubungi Nao-kun dan memintanya ‘tuk memesan waktu Sora-san. Oh, Rouge-san.” ⠀⠀ Azuma membaca pesan tersebut kemudian menengok Shinku sejenak. ⠀⠀ “Apakah aku harus ikut?” ⠀⠀ “Apakah kau ingin ikut?” ⠀⠀ “Haruskah?” ⠀⠀ Shinku membuka mata, mengerutkan dahi, dan menghakimi pria itu tanpa kata. Azuma cuman menggaruk kepalanya yang tak gatal.
W. Azu ⠀⠀ Kami akan datang.
⠀⠀ Hanya Bapa-nya yang tahu mengapa acara masak sup jagung malah merambat menjadi proses pembuatan kue kering sederhana. ⠀⠀ "Nona, apakah ini sudah cukup?" ⠀⠀ Ivy melirik sekilas. "Mm, belum. Aduk sedikit lagi, Irina." ⠀⠀ "Baik," sahut Irina. Matanya sesekali mengecek status kematangan sup jagung di kompor. ⠀⠀ Getar ponsel di meja makan membuat Ivy mengangkat kepala. Ia berlari kecil sebelum layar ponselnya kembali redup, sebab tak mungkin baginya menyentuh ponsel sekarang; tangannya sedang dibalut sarung tangan plastik sekali pakai. ⠀⠀ "Watanabe-san akan datang juga," kata Ivy, menyuarakan isi pesan masuk tersebut. ⠀⠀ "Oh?" Entah mengapa, Irina terdengar lega. Mungkin karena hati Nonanya tidak akan dipermainkan kali ini, atau mungkin juga karena akan ada orang lain yang membantunya mengawasi si Kyokutei.
⠀⠀ 𝐓𝐄𝐌𝐁𝐀𝐍𝐆 𝐋𝐄𝐌𝐁𝐔𝐓 𝐉𝐀𝐙 menggema di seluruh isi mobil. Suara penyanyinya begitu menyayat hati hingga membuat Azuma sesekali mengerutkan hidung dan ikut bersenandung. Sementara di kursi belakang, Shinku kini bersandar sembari sesekali meneguk Augustiner Hell. Barang itu adalah anugerah dari seorang klien. Tentu saja. Banyak objek yang didapatkan oleh Shinku berasal dari para pelanggan jasa perusahaannya; wujud konkret atas rasa terima kasih, begitu kata mereka. ⠀⠀ Si Hell ini—bukan neraka—lumayan cocok di lidah Shinku. Kendati demikian, ia masih menyukai arak. Terutama yang dari Arab. Tuan Ammar pernah membawakannya tiga botol dan itu bertahan kurang dari dua bulan. Kala Shinku meminta ‘tuk dikirimkan beberapa botol lagi, Tuan Ammar menolak. Baginya, Shinku harus menahan dahaga akan alkohol yang kandungannya di atas empat puluh persen itu. Oh, ya—adam itu adalah peminum yang tangguh. Tubuhnya telah menyerap minuman beralkohol sejak sekolah menengah atas. Kawannya tak lain dan tak bukan ialah si Watanabe yang sedang bernyanyi sembari menggenggam stir mobil erat. ⠀⠀ “Kita sudah sampai,” katanya ketika mobil memasukki area parkir bawah tanah Hyatt. ⠀⠀ Shinku meletakkan si Hell kosong pada lubang minuman, mengusap tangan menggunakan cairan pembasmi kuman, kemudian tak lupa Arcana Rosa ke seluruh tubuhnya. Ia mencoba menyamarkan bau alkohol dari jasmani. Meski begitu, mulutnya tak akan bisa berdusta. Walhasil, Shinku mengambil air mineral kemasan dan meneguknya seraya keluar dari mobil. ⠀⠀ Tanpa ragu, dirinya dan Azuma melaju ke dalam hotel, menaiki lift, dan melenggang bebas di tengah koridor. Dari kacamata Azuma, tampang Shinku menawan seperti biasa. Perbedaannya adalah terdapat rona kemerahan serupa warna bunga mawar pada kedua pipinya. Beberapa rambut pun turun akibat gel sudah tak mampu menahan; mereka bekerja terlalu keras hari ini. ⠀⠀ “Saya akan menekannya,” tukas Azuma saat mereka di depan kamar hotel Ivy. Telunjuknya menekan tombol di dekat pintu tegas. ⠀⠀ Suara bel dari pintu membuat kedua puan yang tengah sibuk masing-masing itu menatap satu sama lain. Yang lebih muda menoleh pada jam dinding; masih beberapa menit menuju pukul tujuh. Nyata di mata Irina, Ivy tersenyum. ⠀⠀ "Biar saya," kata Irina seraya melepas celemek birunya. ⠀⠀ Ivy mengangguk dan meniru aksi Irina. Ia meletakkan celemek hijau mudanya di salah satu kursi meja makan. ⠀⠀ Sebuah cermin terletak di samping lemari pendingin, di mana di situ pula Ivy mengecek bayangan dirinya. ⠀⠀ Pakaian rumah—yang masih bermerek mahal—berupa kaos tanpa lengan dan celana selutut membalut tubuhnya. Rambutnya diikat setengah, bibirnya dipoles warna merah buah ceri. ⠀⠀ Sementara itu, Irina membuka pintu kamar hotel. Berdiri tegap di depan pintu adalah dua orang tamu. ⠀⠀ "Tuan Shinku, Tuan Azuma," sapa Irina. Ia melangkah ke samping sebagai gestur 'tuk mempersilakan keduanya masuk. ⠀⠀ Ivy datang tak berselang beberapa detik kemudian. Senyumnya merekah. "Tuan Shinku, Watanabe-san, silakan masuk!" ⠀⠀ Dari dalam dapur, tercium aroma kayu manis. Dari salah seorang figur, Arcana Rosa dengan mudah dideteksi Ivy. Namun begitu, ada bau lain yang asing, yang bukan bagian dari harum favorit si Nona Rouge sejak beberapa tahun silam itu. ⠀⠀ Shinku mengangguk. Mulutnya terkunci, tapi kaki melangkah masuk. Azuma mengekor patuh. Dari keduanya terlampir aura kaku, formal, dan kurang nyaman. Sebagaimana mereka di hari-hari kerja. ⠀⠀ “Maaf sudah mengganggu waktu Anda,” ujar Azuma. “Apalagi sepertinya Rouge-san dan White-san sedang sibuk. Aromanya sangat wangi.” ⠀⠀ Tidak biasanya lisan Azuma begitu luwes. Andaikan bukan karena sang tuan yang masih berupaya menyadarkan diri dan menghalau bau alkohol dengan terus meminum air putih, ia tak akan berperilaku seperti sekarang. ⠀⠀ "Eum! Aku dan Irina baru saja selesai memasak untuk malam malam," jawab Ivy semangat. Ia memimpin kedua tamu menuju ruang tengah dan mempersilakan mereka duduk di sofa panjang. ⠀⠀ "Saya akan ke dapur terlebih dahulu," ucap Irina sopan. Tanpa menunggu perintah, wanita berusia 25 tahun itu bergegas menyiapkan minuman untuk tamu Nonanya. ⠀⠀ Ivy menoleh pada Irina sebentar, kemudian netranya jatuh pada sosok idaman. 'Tuan Shinku malam ini nampak sedikit berbeda,' batinnya. ⠀⠀ "Tuan Shinku dan Watanabe-san, apakah bersedia mencicipi sup jagung buatan Irina? Aku berani bertaruh rasanya enak!" tawar Ivy, kedua tangannya yang berada di pangkuan mengepal semangat. ⠀⠀ Kata ‘sup' menarik minat Azuma. Itu akan baik bagi Shinku, pikirnya. “Oh, tentu! Ayo, Nona Rouge, pandu kami ke meja makan,” ujarnya kelewat bersemangat sehingga mengeluarkan aura yang aneh. ⠀⠀ Hal itu dirasakan pun oleh Azuma. Ia mengutuk dirinya. Jikalau Nao ada di sini, maka semuanya akan lebih mudah. Pria itu terlahir ketika Tuhan sedang berjalan-jalan di lembah bunga matahari. ⠀⠀ Sementara Shinku masih bergeming. Namun, atensinya adalah milik Ivy. ⠀⠀ Kali ini terlalu jelas. Ivy mengerutkan dahi. Kepalanya menoleh ke belakang, ke tempat di mana Irina terlihat sedang mengaduk isi panci di kompor. ⠀⠀ "Watanabe-san," panggil Ivy, volume suaranya lebih kecil dari sebelumnya, "sebenarnya ada apa?" ⠀⠀ Ivy menoleh ke arah Shinku. "Tuan Shinku sejak tadi belum berbicara. Maksudku ...," Ivy menggigit bibir bawahnya ragu, "apakah kalian tidak apa-apa?" tanyanya khawatir, mengalihkan pandang dari si Tuan dan asistennya secara bergantian. ⠀⠀ “Oh.” Azuma mengambil langkah mendekati Ivy. Cukup bagi mereka agar tak didengar oleh yang lain. “Shin-kun terlalu banyak minum. Mungkin sebentar lagi dia ingin ke toilet. Apakah Rouge-san bisa beritahu saya di mana letaknya?” ⠀⠀ Shinku tak perlu mengomando Azuma ‘tuk membuatnya mengerti apa yang harus dilakukan. Dua puluh tahun bersama, Azuma hapal apa yang Shinku butuhkan dan tahu bagaimana cara mendapatkannya. ⠀⠀ Mungkin bisa dikatakan bahwa Watanabe muda itu ialah sang pengasuh ulung. Ia ditempa keras ‘tuk merawat bayi raksasa Kyokutei. Begitulah hidupnya dan Azuma menikmati peran tersebut. ⠀⠀ Ivy terbelalak kaget. Pantas saja! ⠀⠀ "Apakah ada masalah di kantor?" tanya Ivy pada Azuma. Atensinya beralih pada Shinku, mencermati raut muka si pria. ⠀⠀ "Toiletnya ada di sana," lanjut Ivy. Tangannya menunjuk sebuah pintu berwarna cokelat tua yang berjarak beberapa langkah dari mereka berada kini, bersampingan dengan pintu kamarnya yang tertutup juga. "Apakah perlu kuantar sekarang?" ⠀⠀ Azuma mengangguk kecil pada pertanyaan pertama. “Tidak perlu, biar saya saja,” tukasnya kemudian mendekati Shinku. “Toiletnya ada di situ. Segeralah cuci mulut dan wajah, Shin-kun.” ⠀⠀ “Terima kasih,” sahut Shinku lalu meninggalkan Ivy dan Azuma. Ia begitu cuek dan bergerak sebebasnya hingga pintu toilet tertutup. ⠀⠀ “Maaf. Memang kalau habis minum, Shin-kun tidak suka berbicara. Biasanya dia akan ke toilet untuk sikat gigi. Jangan khawatir, dia membawa milik pribadi, kok,” ujar Azuma ramah. ⠀⠀ Kawannya di dalam sana bukan tipe pemabuk. Ia akan minum secukupnya ‘tuk meredakan penat otak lalu berhenti sebelum hal-hal di luar kontrol terjadi. Azuma mengakui kebolehan Shinku di dimensi itu. Tak semua orang tahu kapan waktu berhenti yang tepat. ⠀⠀ Atensi Ivy mengikuti setiap pergerakan Shinku sampai pria itu menghilang di balik pintu toilet yang ditutup. Tanpa sadar, ia mengembus napas yang entah sejak kapan ditahannya. ⠀⠀ Penjelasan Azuma membuatnya mengangguk, meski suasana hati dan pikiran masih terlampau khawatir. Ini kali pertamanya melihat Shinku berlaku demikian. ⠀⠀ "Nona Rouge, makanannya sudah siap." Suara Irina menariknya kembali pada kenyataan. Ivy menoleh, sekali lagi mengangguk paham. ⠀⠀ "Tuan Shinku masih di toilet. Watanabe-san, mari ke meja makan terlebih dahulu?" ajak Ivy seraya bangkit dari tempat duduknya. ⠀⠀ Irina menunggu di bawah pilar huruf U terbalik yang merupakan perbatasan antara ruang tengah dan dapur. Dalam hatinya, ia pun merasa ada sesuatu yang tak biasa. ⠀⠀ “Terima kasih atas makan malamnya,” ujar Azuma santun seraya menarik kursi. “Apakah ini semua khas dari Belgia?” ⠀⠀ Sebagai seseorang yang terbiasa dihidangkan ragam makanan, Azuma merasa menu yang ditawarkan oleh Ivy dan Irina begitu asing. Bahkan ketika ia melakukan perjalanan bisnis, Azuma menghindari pergi ke restoran. Dirinya memilih ‘tuk menjelajahi toko swalayan dan memasak hidangan tradisional Jepang di hotel. Kasarnya, lidah Azuma sulit menerima asupan kurang familiar. ⠀⠀ Samar-samar decitan pintu terdengar disusul langkah kaki. Dengan tenang, Shinku mengambil tempat di samping Azuma. Tampangnya sedikit basah akibat air. Bahkan masih ada tetesan dari ujung rambutnya. ⠀⠀ "Benar! Hmm, sebenarnya, ini versi sederhananya. Bahkan, bisa dibilang hanya semangkuk sup jagung dan sepiring roti biasa. Di Antwerp, roti ini," Ivy menunjuk pada beberapa lembar roti gandum yang disusun rapi oleh Irina di atas piring berbentuk oval, "disajikan dengan lebih banyak macam dan jenis. Watanabe-san harus melihat dan mencobanya sendiri jikalau berkunjung ke Antwerp nanti. Malam ini, aku dan Irina hanya mampu menyediakan keju krim dan mentega sebagai pelengkap, sayang sekali." Ivy menunduk, nada suaranya berubah lesu ketika mendapati hanya itulah yang terdapat di samping piring roti. ⠀⠀ "Mohon maaf atas kurangnya persiapan makan malam hari ini. Semua karena kelalaian saya mengecek persediaan bahan makanan di kulkas," ucap Irina. ⠀⠀ Atensi kedua puan di sana naik pada sosok yang baru datang; Shinku. ⠀⠀ Meja makan berbentuk persegi empat, sehingga mereka duduk saling berhadapan. Ivy dengan Shinku dan Irina dengan Azuma. ⠀⠀ Tersaji di atas meja makan, selain roti, adalah sup jagung yang sudah dituang ke mangkuk beling masing-masing orang dan empat gelas air putih. ⠀⠀ "Mm. Lain kali, aku akan membawakan hidangan Antwerp yang sesungguhnya untuk Watanabe-san!" putus Ivy yang secara tak langsung memecah hening yang tiba-tiba datang beberapa menit lalu. Sebisa mungkin pula ia menahan diri supaya tidak mencuri pandang pada adam Kyokutei. ⠀⠀ “Wah, terima kasih. Nanti kalau ada kesempatan, saya ingin mencoba hidangan khas Belgia,” tutur Azuma bersemangat. Tentu saja dibuat-buat agar suasana jauh dari canggung. ⠀⠀ Sementara itu, seperti tak terkena efek apapun, Shinku melepas jas, menaruhnya pada kursi, kemudian menggulung lengan baju hingga siku. Matanya memandangi sup jagung dan roti bergantian. “Terima kasih,” katanya lalu menyantap sup. Ia bahkan tak menunggu ‘tuk dipersilakan; semua sesuka hatinya. ⠀⠀ Hal itu membuat Azuma mengulum bibir. Dirinya mengulas senyum mohon ampunan kepada Irina dan Ivy atas perangai sang tuan. ⠀⠀ “Selamat makan!” seru Azuma. Ia sungguh berusaha keras hari ini. Oh, semangat Shimizu Nao, datanglah dengan mudah ke dalam diri si Watanabe yang malang. ⠀⠀ Irina menatap kedua adam datar. Ivy tersenyum canggung yang malah terlihat seperti sebuah ringisan. Kalau situasinya begini, ia pun bingung hendak bagaimana. ⠀⠀ Sementara Shinku langsung menyantap makanan dan Azuma mengucap selamat makan, Ivy dan Irina melipat tangan dan memejamkan mata. Mereka berdoa dalam hati. Durasinya tak lama. Irina mengucap amin terlebih dahulu yang kemudian disusul Ivy beberapa detik setelahnya. ⠀⠀ "Selamat makan!" seru Ivy. ⠀⠀ "Selamat makan," tanggap Irina singkat. ⠀⠀ Tidak ada suara denting alat makan yang tercipta. Ivy dan Irina dengan hati-hati menyendok dan menyuap supnya. ⠀⠀ Pada suapan kelima, sang Nona akhirnya menyerah juga. Ia mencuri pandang pada Shinku. ⠀⠀ Oh, Tuhan. Seandainya saja situasi tak secanggung barusan, pastilah pipi Ivy sudah memerah padam saat si Adam melepas jasnya tadi. Untuk kali ini, ia berterima kasih pada kecanggungan yang ada. ⠀⠀ “Rasanya mirip seperti buatan Madam Lilith,” tutur Shinku tiba-tiba. “Sewaktu di Brussels, Tuan Ammar dikirimi sup jagung. Beliau bilang itu adalah masakan Madam.” ⠀⠀ Azuma meneguk supnya lalu meletakkan sendok. Dilihatnya sang tuan sudah selesai menyantap. Di antara mereka bertiga—Azuma, Nao, dan Shinku—pria bertubuh layaknya dipahat oleh seorang seniman itu memang terlatih makan cepat. Baginya menutrisi tubuh adalah esensial, tapi pekerjaan tetap dominan. ⠀⠀ “Saya akan membasuh mangkuk ini.” ⠀⠀ Kini mulut Azuma terbuka sedikit. Ia ingin melayangkan protes. Namun, Shinku telah berada di dapur dan mulai membersihkan peralatan makannya. ⠀⠀ Sejatinya ini bukan perkara abnormal. Kawannya itu memang selalu bersikap demikian bahkan ketika mereka hanya berdua. Shinku tak pernah membiarkan Azuma atau Nao membereskan wadah bekas makannya; ia selalu mandiri mengenai hal tersebut. ⠀⠀ Lalu dengan tergesa, Irina mengelap bibirnya dengan tisu dan beranjak dari tempat duduk 'tuk menghampiri Shinku. ⠀⠀ "Tuan Shinku, biar saya yang membereskannya," kata Irina. ⠀⠀ Mengesampingkan rasa jengkel karena si Tuan adalah sumber utama kemurungan dan kegelisahan Nonanya beberapa tahun belakangan, Irina tetap harus menjaga nama baik sang Nona. Ia tak akan membiarkan orang-orang menganggap Nonanya memiliki seorang asisten yang lancang. ⠀⠀ Belum lagi, semurung-murungnya sang Nona dibuat, Tuan yang sama pula yang sejauh ini berhasil membuat sang Nona tersenyum lebar, matahari pun kalah cerahnya. ⠀⠀ Sementara itu di meja makan, Ivy menatap Azuma penuh tanda tanya. ⠀⠀ "Apakah Tuan Shinku akan langsung pulang setelah aku mengembalikan perhiasannya?" tanya Ivy berbisik. ⠀⠀ “Tidak perlu. Lanjutkan saja makanmu,” ujar Shinku tanpa menatap Irina. Kedua tangannya begitu lincah memoles sabun dan membasuh dengan air mengalir. ⠀⠀ Azuma mengamati hal tersebut sebelum berkata, “Sepertinya begitu. Apakah Anda ingin berbincang sesuatu kepada Shin-kun?” tanyanya. ㅤㅤ"Terima kasih, Tuan Shinku. Anda tak perlu repot-repot," balas Irina. Setelahnya, ia menunduk hormat sekilas sebelum melangkah kembali ke meja makan. ㅤㅤDi meja makan, Ivy mengangguk sekilas atas pertanyaan Azuma. Tentu saja ia ingin berbincang lebihㅡbukan sesuatuㅡkepada Shinku. Sudah berapa hari sejak ia terakhir kali berkesempatan mengobrol dengan pria itu? ㅤㅤ"Namun, kurasa sekarang bukan waktu yang tepat. Tuan Shinku butuh istirahat." ㅤㅤIvy mengalihkan pandang pada mangkuk supnya. Sendoknya diputar-putar malas mengaduk makanan favoritnya sejak kecil tersebut. ⠀⠀Azuma tak membalas perkataan Ivy sebab didapatinya Irina kembali; Shinku pun menyusul kurang dari beberapa sekon setelahnya. Tentu Azuma tahu si Rouge ingin berbicara lebih lama dengan sang tuan. Namun, pertanyaannya adalah apakah Shinku menginginkan hal yang sama? Azuma tak berani mengucap hal itu. ⠀⠀ “Apakah Anda sudah selesai makan?” tanya Shinku tenang. Maniknya memandangi mangkuk sup Ivy yang sudah mendingin. ㅤㅤ"Huh?" Ivy mengangkat kepalanya menatap Shinku. Arah pandangnya jatuh lagi ke atas mangkuk supnya. Ia kemudian mengangguk. ㅤㅤIrina menahan helaan napas yang hendak dicipta. Nonanya pastilah sedang berpikir sesuatu yang membuat suasana hatinya memburuk. ㅤㅤ"Saya akan ke belakang terlebih dahulu," pamit Irina seraya membawa peralatan makan yang sudah tak lagi dipakai. ㅤㅤIvy meraih gelas dan meminum isinya. Ia mengelap sudur bibirnya dengan tisu, lalu berkata, "Tuan Shinku dan Watanabe-san, makanlah dulu rotinya kalau belum kenyang." ⠀⠀ Kali ini giliran Shinku yang bertanya-tanya. Ada apakah dengan Nona di seberangnya? Padahal isi mangkuknya tadi masih lumayan banyak. Roti pun tampak belum dijamah tangannya. ⠀⠀ “Terima kasih, Rouge-san!” ujar Azuma kemudian mengunyah satu roti. Oh, Tuhan. Teksturnya kasar di lidah sang adam. ⠀⠀ “Bisakah kita berbicara secara pribadi?” Shinku menatap Ivy intens. Ia bahkan tak memberikan kawan di samping satu lirikan. ㅤㅤSeakan baru saja mendapat tawaran lamaran di medan perang, Ivy mengerjap dan menatap Shinku seolah berkata apa-aku-tidak-salah-dengar? ㅤㅤGadis itu buru-buru mengangguk setelah sadar. Kalau ada satu yang sejak awal membuatnya tak bisa duduk diam dan tenang, itu adalah tatapan Shinku. Ibarat pisau, pria itu seakan-akan ingin mengulitinya sampai habis. Tak biasanya begini. ㅤㅤ"Oh, bisa." Ivy bangkit berdiri dari tempat duduknya. Ia melangkah menuju ruang tengah nyaris menuju pintu masuk, sedikit lebih jauh dari posisi sofa diletakkan oleh pihak hotel. ㅤㅤDari meja makan, akan hanya terlihat salah seorang dari mereka yang berdiri menghadap letak dapur. ㅤㅤ"Apakah ada yang bisa saya bantu, Tuan Shinku?" tanya Ivy. ⠀⠀ Dan orang itu adalah Shinku. Ia berdiri di hadapan Ivy sembari menyilangkan tangan di depan dada. Gestur ini secara tak langsung menandakan ada penolakan dari sang adam; entah apa itu. ⠀⠀ “Apakah Anda sakit?” tanyanya setengah berbisik. Jelas enggan orang lain mendengar. ⠀⠀ Bahkan saat ini, Azuma dari kursinya hanya mencuri-curi pandang sembari terus mengunyah roti yang terlalu kering ‘tuk seleranya. Apakah yang mereka bicarakan? Semoga tidak ada apa-apa, doanya. ㅤㅤPostur si adam di hadapannya sekarang membuat Ivy merasa kecilㅡtubuhnya seolah menciut. Persis seperti ketika Chelseaㅡshih tzu peliharaan milik temannya di Antwerpㅡdimarahi oleh si pemilik. ㅤㅤ"Tidak," jawab Ivy pelan. "Saya hanya mengkhawatirkan Anda. Tidak seharusnya pula saya membuat Tuan Shinku dan Watanabe-san datang ke sini; saya yang sewajibnya mengunjungi Anda untuk mengembalikan perhiasannya," jelas Ivy. Tatapan Shinku masih belum berani dibalasnya. ㅤㅤSementara itu, di dapur, Irina kembali dan mengerutkan dahi. ㅤㅤ"Nona Rouge dan Tuan Shinku?" tanyanya pada Azuma, selagi mata menyapu seisi ruangan. ⠀⠀ “Berbicara secara pribadi,” jawab Azuma lalu minum. “Sebaiknya kita memberikan mereka ruang. Ingin keluar sejenak?” ⠀⠀ Kepala Shinku dimiringkan beberapa derajat ke kiri. “Saya datang ke sini atas keinginan saya sendiri. Anda tidak perlu merasa kurang nyaman dengan keputusan saya. Kecuali, saya mengganggu Anda.” ⠀⠀Intonasi suara anak dari Kyokutei Karen itu tak berubah. Ia masih tenang. Meski begitu, Shinku kurang tahu apakah masih ada aroma alkohol darinya. ⠀⠀ “Perihal yang pertama, saya tidak apa-apa. Anda tidak perlu khawatir,” katanya. Tangan Shinku yang temperaturnya rendah menyentuh rahang Ivy kemudian didorong lembut hingga samar di balik surai temaram. ⠀⠀ “Saat ini sedang ada wabah. Tidak sepatutnya Anda bebas pergi. Tinggallah di rumah beberapa hari. Saya akan mengirimkan kebutuhan Anda.” ㅤㅤSontak Irina menatap Azuma tajam. 'Dan meninggalkan Nona Rouge bersama si Kyokutei berduaan?' Demi Tuhan, kalau bukan karenaㅡPandangan Irina bergulir. Di saat itu ia dapati Nonanya memiringkan kepala ke arah tangan Shinkuㅡyang dari sudut pandangnyaㅡnampak sedang mengelus entah pipi atau tengkuk si Nona. ㅤㅤIrina menggeram tertahan. Ia memejamkan matanya sebentar dan menarik napas panjang. ㅤㅤ"Hanya sebentar," ucap Irina, menanggapi ajakan Azuma, setelah mempertimbangkan berbagai hal. ㅤㅤIa melepas fokusnya dari apa yang tengah berlangsung di antara Nonanya dan Kyokutei Shinku. Irina memberi mereka privasi. ㅤㅤ"Mm," Ivy menggumam. Kepalanya digeleng samar supaya bersentuhan dengan hangatnya tangan si adam. Hilang semua ketegangan; tubuhnya seketika rileks. ㅤㅤIris kembarnya perlahan naik menatap Shinku. Jernih, siapapun rela terperangkap di galaksi malam yang indah itu. ㅤㅤ"Berdiam diri di hotel tidak menyenangkan," jawab Ivy. Embusan napas jenuh dibuatnya bersamaan dengan fokus indra penglihatan yang turun ke lantai. ⠀⠀ Sejauh pengalamannya bersama wanita, Shinku belum pernah menemui seseorang seperti Ivy. Wanita ini kentara sifat kekanak-kanakannya; sesuatu yang sering ia hindari dari lawan jenis. ⠀⠀ Keberuntungan Ivy ialah dirinya memiliki relasi tak langsung dengan Tuan Ammar. Itulah yang menjadi pertimbangan Shinku selama ini. Janjinya pun kepada Madam Lilith ‘tuk menjaga Ivy selama di Jepang. ⠀⠀ Dari sudut matanya, Shinku menemukan pintu hotel ditutup. Figur Irina dan Azuma tak visibel lagi di ruang makan. ⠀⠀ “Bukankah pekerjaan Anda di dalam ruangan? Tentu itu tidak akan membuat Anda bosan,” ujarnya sehalus mungkin. Ibu jari yang bersembunyi di belakang telinga Ivy bergerak pelan. Memberikan pijitan kecil kepada si Pemilik raga. ㅤㅤIvy mengerutkan hidungnya. "Hal itu menambah kejenuhan berada di dalam ruangan," katanya, menolak setuju dengan pernyataan si adam. ㅤㅤBibirnya mengulum senyum selagi ia membuat jelas aksinya menyandarkan kepala pada telapak tangan Shinku. Pesis seperti kucing peliharaan. ㅤㅤKakinya hendak melangkah maju guna mempertipis jarak di antara mereka. Namun, sesuatu membuatnya sadar. ㅤㅤ"Watanabe-san dan Irina," bisiknya pelan. ⠀⠀ “Saya pikir Anda adalah orang rumahan. Ternyata bukan, ya?” Shinku menaikkan sebelah alis. Ia berusaha mengindahkan topik mengenai hilangnya Irina dan Azuma. “Apakah Anda sering kabur dari rumah ketika Madam tidak tahu?” tanyanya. ⠀⠀ Netra Shinku mengamati wajah Ivy. Dari mata turun ke hidung lalu ke bibir. Ia baru sadar akan warna ranum sang nona hari ini; mengingatkannya seperti buah ceri yang telah dicelup ke dalam gula. ⠀⠀ “Perhiasan,” ujar Shinku lekas. Ia mengaburkan pemikiran yang tak sesuai kemudian menarik tangan. “Di mana mereka? Saya harap Arisa-san dan Anda mendapatkan banyak inspirasi.” ㅤㅤ"Bukan begitu!" sergah Ivy spontan. ㅤㅤ"Madam selalu tahu ketika saya berkunjung ke pasar tradisional atau berjalan-jalan sebentar di bukit," jelasnya, "umm, walaupun terkadang tahunya di akhir...." Suara Ivy mengecil di belakang. Ia terkekeh pelan, pun mengusap tengkuknya malu. ㅤㅤIvy memang senang berpetualang sesuka hati. ㅤㅤ "Oh, perhiasan." Berlagak seolah tak menyadari tatapan haus Shinku akan sesuatu pada parasnya, Ivy membasahi bibirnya sekali. ㅤㅤ"Arisa-chan sangat berterima kasih. Saya pun sama. Kami sudah mendapatkan beberapa desain baru untuk koleksi musim semi." Kebanggaan terselip di akhir kalimatnya. Ivy tak sabar menanti proses selanjutnya. ㅤㅤ"Saya akan mengambil perhiasannya di kamar. Tuan Shinku, duduklah terlebih dahulu," pinta Ivy sebelum berbalik badan dan berjalan menuju kamarnya. ㅤㅤSelang empat langkah, Ivy berhenti dan kembali menghadap Shinku. ㅤㅤ"Tuan Shinku," panggilnya, "Arcana Rosa Anda hari ini tidak murni." ㅤㅤIvy menatap pria itu lurus pada kedua matanya. ㅤㅤHal itu harus ia katakan sekarang. Sebab menurutnya, jika tidak, maka ia takkan pernah mendapatkan kesempatan 'tuk menyampaikan hal tersebut. ㅤㅤEkspresi khawatir sekali lagi terbesit di wajah. Ivy menunduk, lalu memutar langkah menuju tempat tujuan awal. ⠀⠀ Perkaatan Ivy tak begitu lekat di dalam benak Shinku. Namun, yang terakhir menarik atensinya. Hell dan Noir ternyata dua kombinasi yang kuat. Satu botol air mineral, sikat gigi, dan semangkuk sup tak bisa menghilangkan wangi mereka sepenuhnya. ⠀⠀ Ah, sudahlah. Shinku enggan mengambil pusing perkara itu terlalu panjang. Toh dirinya ialah seorang pria dewasa yang boleh menegak minuman beralkohol. ⠀⠀ Volume sofa menurun drastis tatkala massa Shinku duduk. Romannya digosok berulang kali menggunakan telapak tangan; sedangkan matanya menyerap seisi kamar hotel milik Ivy dan Irina. ⠀⠀ Tempat tinggal sementara keduanya ditata apik. Debu pun tak berani menampilkan diri. Nyana Shinku, Irina merawat perabotan begitu cakap. ㅤㅤTas perhiasan yang memang sudah disiapkan segera diambil Ivy dari atas ranjang. ㅤㅤBelum berselang setengah menit kemudian, anak kesayangan Madam Lilith itu sudah kembali menghampiri Shinku. ㅤㅤIvy duduk di sebelah si pria. Tangannya terjulur menyerahkan tas yang tampilannya mewah. ㅤㅤ"Sekali lagi, terima kasih banyak, Tuan Shinku." Ivy merendah diri dan menundukkan kepalanya. ⠀⠀ “Hm.” Pria tersebut mempertegas duduknya, mengambil tas, dan memeriksa isinya. Semua masih lengkap. ⠀⠀ “Yang mana kesukaan Anda?” tanyanya seraya menatap mata elok Ivy pekat. ㅤㅤ"Semuanya indah." Ivy mengambil kesempatan terakhir 'tuk melihat perhiasan yang dimaksud saat Shinku memeriksa isi tasnya. ㅤㅤ"Hmm, ibarat empat musim, perhiasan yang Tuan Shinku pinjamkan juga memiliki pesonanya masing-masing. Saya pribadi, menaruh selera pada yang berhias bunga mawar." Ivy memiringkan kepalanya. Satu tangannya naik menyelipkan rambut ke belakang telinga. ㅤㅤ Meski menyandang status sebagai wanita karir di bidang berlian, jarang sekali si Nona muda memakai perhiasan bernilai ratusan juta. Pada saat ini, misalnya, hanya anting emas putih berbentuk bulan sabit yang menambah kesan manis pada penampilannya. ㅤㅤ"Apakah Tuan Shinku memilih perhiasannya sendiri? Sebab mereka semua sungguh memiliki kesan yang beragam." ⠀⠀ “Begitu,” Shinku mengeluarkan kotak-kotak yang berisikan desain bunga mawar, “ya, saya pikir akan bagus bagi Arisa-san memiliki variasi inspirasi. Terkadang dirinya hanya mengitari satu orbit. Sementara para pesaingnya ada tiga langkah di depan, dia masih berjalan di dekat garis ‘mulai’,” ungkapnya. ⠀⠀ Binar ain Shinku begitu tenang dan mengawang. Ia tampak mengingat-ingat sesuatu yang berkaitan dengan anak dari Kyokutei Genji tersebut. ⠀⠀ “Berpaling,” katanya kemudian. Memerintah tegas. ㅤㅤIvy tak berkomentar banyak. Dibanding dirinya, Arisa tentu lebih berpengalaman. Akan tak adil jika ia ikut menilai sang mentor. ㅤㅤAlih-alih memikirkan hal tersebut pula, perintah Shinku membuatnya mengangkat kedua alisnya. ㅤㅤ"Berpaling?" Ivy membeo, pun menuruti permintaan si adam di waktu yang bersamaan. ㅤㅤKini duduk membelakangi Shinku, hatinya malah berdebar amat cepat. Ia meletakkan tangannya di dada. Semoga Tuan Shinku tidak bisa mendengar ritme detak jantungnya sekarang. ⠀⠀ Rantai kalung yang dingin menyentuh kulit Ivy secara mendadak. Tak seberapa lama, tubuh Shinku dicondongkan ke depan, tangannya merapikan bunga mawar yang menutupi setengah salib. ⠀⠀ “Apakah Anda sudah mencobanya, Nona Rouge?” tanya Shinku. Kepalanya kini berada di samping wajah sang nona; manik terlihat mengamati parasnya lewat sudut mata. ㅤㅤIvy tergeming. Bibirnya bergerak hendak mengucap sesuatu, tetapi tak satu pun kata mampu disuarakan. ㅤㅤTangannya naik mengelus liontin baru yang menggantung di leher. ㅤㅤMenyentuhnya, Ivy pernah. ㅤㅤMembayangkan seberapa tinggi ia akan terbang seandainya kalung tersebut menjadi hak milikㅡoh, Tuhan. Ia memimpikannya setiap malam. ㅤㅤNamun 'tuk benar-benar merasakan nyamannya kalung melingkar dilehernya, menambah kilau pada kulitnya; Ivy terlalu takut untuk berharap. ㅤㅤKetika yang tak pernah dipikirkan menjadi kenyataan, ia tak tahu bagaimana harus bersikap. ㅤㅤ"Akuㅡ" Ivy mengatupkan bibirnya. Usai mendapatkan kembali suaranya, ia membalas, "Lancang bagi saya untuk mencobanya tanpa seizin Anda, Tuan Shinku." ㅤㅤIvy menunduk. Ibu jari dan telunjuknya masih mengapit liontin mawar, seakan-akan benda berharga itu akan hilang kalau tak disentuh. ㅤㅤ"Tuan Shinku pandai memilih perhiasan." Ivy tersenyum samar. ㅤㅤ"Siapapun yang sangat beruntung untuk memiliki salah satu pilihan Anda, pastilah sangat diberkati hidupnya." ㅤㅤKepalanya menoleh ke mana wajah Shinku berada. ㅤㅤSangat dekat. ㅤㅤAh. ㅤㅤPipinya menghangat. ⠀⠀ “Itu cocok untuk Anda, gunakanlah.” ⠀⠀ Lisan Shinku begitu ringan berucap. Seolah-olah memang dari permulaan perhiasan-perhiasan di sana adalah hak milik si Rouge. ⠀⠀ “Semuanya bisa Anda simpan,” tambahnya seraya meletakkan tas yang nilainya setara upah gaji regional—kalikan lima kali—di pangkuan Ivy. Satu kuasanya pun ditaruh di tempat yang sama. ⠀⠀ Rasanya kamar hotel ini milik mereka. Segenap roman merah muda, aroma Arcana Rosa, sedikit Hell dan Noir, serta kayu manis dari dapur berkecamuk tidak karuan. Bisa-bisa membuat pusing dan mabuk hingga rasionalitas hilang ke dasar laut; kasarnya sih kasmaran. Yah, siapa saja yang melihat keduanya—meski sang adam penuh tipu muslihat—akan menilai demikian. ㅤㅤIvy membelalakkan matanya. Seluruh tubuhnya tiba-tiba panas. Secepat kilat ia berbalik menghadap si Tuan, kepanikan nampak jelas pada sorot matanya. ㅤㅤ"Tuan Shinku, saya tidakㅡ" Ivy memotong kalimatnya sendiri. Ia menarik napas sekali, menenangkan diri. ㅤㅤTeramat munafik apabila berkata ia tak ingin ini semua. Namun kalau diminta bersumpah, ia bersumpah tak ada maksud lain saat mengatakan kalimat tentang diberkatilah ia yang memiliki perhiasan pilihan Kyokutei Shinku. ㅤㅤ"Saya..." Ivy terdiam lagi. Sepasang obsidian gelapnya bergerak gelisah. Ia tak tahu harus menaruh fokus ke mana. Otaknya berputar begitu cepat, memaksa Ivy untuk segera mencerna apa yang sedang terjadi dan bagaimana untuk bersikap. ㅤㅤ"Saya tersanjung," ungkap Ivy jujur. Tangannya menggenggam tas perhiasan di pangkuan, mengusap bahan kainnya sekali. ㅤㅤIvy mengangkat kepalanya. Ia menatap Shinku lekat-lekat. "Saya diberkati," ucap Ivy sambil tersenyum. ㅤㅤ"Terima kasih, Tuan Shinku." Wajahnya maju mendekat, mengecup pipi si Tuan lembut. ㅤㅤBukan untuk perhiasannya. Melainkan untuk kesempatan dan harapan yang tak pernah dibiarkannya hilang. ㅤㅤIvy berjalan di atas seutas tali. Di bawahnya adalah jurang mati. Di ujung sana Shinku mengamati. Sesekali menasehati, berulang kali membuatnya menanti, tetapi tak pernah menyuruhnya berhenti. ㅤㅤHasil akhir memang tiada pasti. Yang penting Ivy tahu, Kyokutei Shinku masih punya hati. ⠀⠀ Keyakinan Ivy memang patut diacungi jempol. Namun, pengharapan merupakan hal yang berbahaya ‘tuk orang-orang berjiwa lemah dan awam akan bengisnya manusia di dunia. Lebih dari itu, di atas sana, takdir tengah memakan buah anggur. Jemarinya asyik bermain dadu. Tiap kali beberapa angka ganjil keluar, dia akan berhenti sejenak lalu mengerucutkan bibir. Manusia manakah yang harus dijadikan pusat perhatiannya hari ini? Si musim panas atau si musim dingin? Lalu, apakah yang harus kita lakukan? Penghancuran sementara atau seutuhnya? Ah, rumit! ⠀⠀ Shinku diam sambil menatap Ivy. ⠀⠀ Labirin di dalam kepalanya menjadi /sedikit/ lebih rumit dibandingkan sekitar satu jam yang lalu. Oh, dia merasa seperti seekor binatang buas; tidak punya akal dan kontrol diri setiap kali menyelam di lautan perunggu sang nona. Ada apakah dengannya? ⠀⠀ Ini hanyalah bisnis. Penghormatan kepada yang lebih tua. Napsu duniawi tanpa rasa. Benarkah? ⠀⠀ Katakan kapan dirinya pernah merasa sebingung ini? Seperti duduk di dalam perahu ringkih yang berlayar di samudra penuh ombak ganas. Mungkin, mungkin, mungkin—dengarkan, mungkin ini pengaruh si Hell atau si Noir. Yah, mungkin saja. Probabilitas itu ada. ⠀⠀ Shinku tak ingin terjun ke alam asing. Dirinya menolak mengambang di antara bintang dan eksistensi yang sifatnya transaksional. Oh, oh, oh—bukannya sudah terlambat ‘tuk itu? ⠀⠀“Hah,” kepala Shinku menunduk, “benar,” gumamnya. “Ini hanya permulaan.” ⠀⠀ Suara beberapa benda terjatuh ke lantai terdengar singkat. Dari visualnya, kilauan berlian dan emas terpancar; perhiasan-perhiasan yang disimpan kini berhamburan tanpa nilai saat Shinku menarik jasamani Ivy ke dalam peluknya secara paksa. ⠀⠀ Bibir menuntut rasa lapar, gusar, kesal, dan penolakkan atas peluang terbentuknya emosi berujung destruksi. Tangan mencengkram bagian belakang kepala sang nona, mendorong agar aksesnya dipermudah. Biarkan dia masuk. Ada cerita yang hendak disampaikan lisannya. ㅤㅤBanyak kupu-kupu berterbangan bebas di dalam perutnya. Bersama-sama dalam hitungan ketiga mendobrak lapisan yang selama ini mengurung mereka. ㅤㅤBak menonton langsung salju mencair dan bunga pertama musim semi mekar. Dadanya adalah tanah yang menyerap dingin sekaligus merasakan hangat perubahan musim setiap tahun. ㅤㅤKedua telapak tangannya diletakkan pada pundak si anak Abraham. Tegap dan kuat, aman berada dalam pelukannya. ㅤㅤSedikit demi sedikit kelopak matanya terpejam. Celah bibir yang biasa dibuka 'tuk melantun tutur kata santun dan memanjatkan doa, malam ini bertugas lain. ㅤㅤWalau tak sabar dan terburu-buru, masih ada terselip ketukan permintaan izin di sana. Lantas ia mempersilakan tamunya masuk. Menyambutnya hangat meski agak kikuk. ⠀⠀ Canggungnya sang nona dapat diketahui oleh Shinku dengan cepat. Mari jangan lupakan bahwa pria yang kini meletakkan lututnya di antara kaki jenjang di sana ialah ahli mengapresiasi jasmani. ⠀⠀ Di tengah amarahnya, Shinku berusaha menahan tindakan yang dapat melukai Ivy. Sejenak dirinya teringat Irina dan itu menyebalkan. Tak ada jaminan Azuma dan wanita itu akan tiba-tiba datang; menemukan mereka saling menyicipi ranum. ⠀⠀ Sedikit tekanan diberikan pada lisan si Rouge sebagai ajakan ‘tuk ikut bermain bersama. Selama ini, wanita itu selalu pasif tatkala bibir saling bertemu; sebuah perubahan harus terjadi. ㅤㅤIvy melenguh. Lisannya menyapu milik Shinku lembut. Pergerakannya hati-hati dan penuh rasa penasaran. ㅤㅤTangan yang semula diam kini bergerak melingkari leher si adam. Tubuhnya bergerak maju menempati singgasana impian. ㅤㅤIa ingin lebih. Ceritakan padanya lebih banyak. Semua yang tak terucap, segalanya yang tertahan; ia adalah lembar kosong yang masih bersih. Penuhi. ㅤㅤJalan masuk dibukanya lebih lebar. Ia berubah berani. Lisannya berpetualang, menyapa seluruh penjuru gua yang masih asing. ⠀⠀ Shinku membiarkan Ivy menjadi penjelajah junior yang penuh pertanyaan. Sesekali ia memandu, tapi tak sebegitu tegas seperti menit awal. Ia malah merebahkan diri, mengusap punggung sang nona, menyemangati ‘tuk tak berhenti. ⠀⠀ Meski begitu, sesungguhnya kini benak sang adam lebih banyak memikirkan Azuma dan Irina. ⠀⠀ Sejenak ia menjauhkan rambut Ivy, menyematkan sebagian dari mereka ke belakang telinga, lalu melepaskan ranum. Ia menggigit kecil bagian bawah buah ceri yang merah dan membesar itu lalu menyelipkan kuasa ke dalam baju sang nona. Merasakan tekstur kanvas yang mulus sembari menyiapkanya ‘tuk perjalanan baru. Shinku akan memberikan lukisan baru di permukaannya. ⠀⠀ Dengan sekali gerakan, sembari menahan tubuh Ivy, ia kembali duduk. Begini memang lebih tepat. ⠀⠀ Lalu, dada sang pria menurun sebab mengembuskan napas. Maniknya mengamati keadaan diri Ivy lalu membiarkan jari menurunkan pakaian bawah yang menyimpan banyak rahasia. Sejauh ini, hanya dirinyalah sang juru kunci dari segala asrar tubuh Ivy Rouge. Bajingan beruntung. ⠀⠀ "Mn?" Ivy menarik wajahnya ke belakang. Sorot mata sayu yang penuh tanda tanya menatap Shinku, sungguh bertentangan dengan bibirnya yang memerah dan mengilap di bawah penerangan lampu ruangan. ⠀⠀ Ah. Pria di bawahnya ini memang menawan. Siapa yang tak akan dengan senang hati menyerahkan diri menjadi makan malamnya? ⠀⠀ Ivy mencondongkan tubuhnya ke depan ketika ujung jemari si Tuan menyapa punggungnya. Bunga musim semi pertama mekar di sana. ⠀⠀ "Tuan Shinku sangat tampan," bisik Ivy, membiarkan yang dipuji mengembalikan posisi. ⠀⠀ Ivy mengangkat beban tubuhnya sedikit 'tuk memudahkan pekerjaan si Tuan. Tangannya bergerak ke belakang, membiarkan celananya jatuh ke lantai. ⠀⠀ Oh, merah darah Victoria's Secret mempertegas mulus kaki jenjangnya. ⠀⠀ Tiada akan menyia-nyiakan ‘tuk merasa betapa nirmala paha sang nona. Menggunakan kedua kuasa, disapunya masing-masing penopang tubuh semampai itu dengan lembut. Menikmati setiap lekuknya hingga ke pinggang. ⠀⠀ Buah adam Shinku bergerak naik lalu turun. Dia tak bisa sembunyi lagi. ⠀⠀ Bunyi sabuk dilepas disusul ritsleting celana yang diturunkan terdengar kecil. Namun, apa yang tampak setelahnya adalah kontradiksi ketika sang pemilik mendorong dua lapisan kain hingga lutut. Shinku malam ini sungguh kasar. Kesabarannya pun menolak menunjukkan eksistensi. ⠀⠀Ia kemudian mengenyampingkan si Victoria, menekan lipatan venus si Rouge menggunakan punggung ibu jari, lalu memutarnya ‘tuk mencari nona kecil yang bersembunyi di antara cembungan lunak. ⠀⠀ Belum genap sebulan sejak petualangan terakhir, Shinku kembali mengirimkan avonturir-avonturirnya ke dalam venus. Menenggelamkan diri mereka ke kolam hangat alami penuh berkah. ⠀⠀ Mulutnya terkunci rapat. Kepal tangannya di kedua bahu Shinku mengerat. ⠀⠀ 'Tuk melirik apa yang terjadi di bawah sana, Ivy tak sanggup. Ia mencegah dirinya meleleh ditiap sentuhan pria itu lebih lagi. ⠀⠀ Mereka yang kini berenang di kolamnya bukanlah pendatang baru. Pun berani Ivy bilang, mereka lah yang menggali dan menjelajah, membangun dan membentuk. ⠀⠀ Membiarkan naluri mengambil alih, Ivy mengangkat pinggangnya lebih tinggi, menuntut lebih. ⠀⠀ Semakin dalam menyelam, para avonturir merasa ruang pergerakkan mereka menjadi lebih sempit. Sekitar satu menit mereka bertahan hingga akhirnya sang tuan menyuruh keluar, membalurkan sisa hasil penyelaman pada permukaan venus si Rouge. ⠀⠀ “Slowly,” ujarnya sembari memandu sang nona ‘tuk mengklaim tempat. Singgasana yang sebenarnya telah siap; menunggu hangat cuaca planet venus dan suasana musim seminya ⠀⠀ “Let me in slowly,” bisik Shinku dengan napas yang kasar. ⠀⠀ Bisikan Shinku bak angin bulan Desember di malam hari. Ketika Ivy keluar rumah dan mengeratkan mantel, tetapi lupa bahwa bukan itulah bagian sensitifnya. Adalah telinga dan tengkuk, yang mana dibiarkan terekspos tanpa penghangat dan syal. ⠀⠀ Jelas ia bergidik. Dingin seharusnya menusuk kulit. Dari indra pendengaran ke bawah, hingga menyebar ke seluruh tubuh. Namun sekarang, kenapa malah panas dan kobar api yang menyala dalam dada? ⠀⠀ Si Nona Rouge mengangkat kepala. Ia mencari sesuatu dalam tatap sang Raja. Kekuatan, kepercayaan, keinginan, pengharapan, apapun yang terpancar dari gelapnya samudra di hadapan. ⠀⠀ Selagi ia mengklaim tahta, sedikit demi sedikit turun dan duduk, galaksi malamnya tertutup kabut. ⠀⠀ Sakit itu masih di sana. Rasanya tidak nyaman. ⠀⠀ "Mn━" Ivy menggigit bibir bawahnya. Semakin lama semakin memerah dan nyaris meninggalkan tanda. ⠀⠀“Shush.” ⠀⠀ Meski lapar akan gairah dan kehangatan sang venus, Shinku yang sedari tadi menikmati roman Ivy lekas memberikan obat atas rasa tidak nyaman yang dirasa. Kemari, berikan kisahnya pada ranum yang tak lagi secerah buah ceri melainkan api yang siap membakar habis apapun di depannya. ⠀⠀ Tangan yang biasanya digunakan ‘tuk menghantam kini mengusap punggung sang lawan lembut. Itu hanya satu, yang lainnya memberikan sapuan kecil pada wajah; menyisir rambut mata hingga surai. ⠀⠀ Singgasana ini pas bagi si Rouge. Shinku tahu itu karena dirinya pun merasakan hal yang serupa. Begitu nyaman dirasa sampai tak sadar lenguh kabur di antara hikayat yang tengah ditulis. ⠀⠀ Lalu, dirinya menginginkan lebih. Bukan hanya sekadar duduk diam; berilah sedikit dinamis pada rengkuh singgasana. Maka, Shinku mendorong jasmani ke atas. Membuat hentak tanpa peringatan. Ah, ia merasakan tekstur si Victoria cukup kasar pada kulit. ⠀⠀ Ungkap nikmat enggan dibuat. Sengaja ditahan walau bibir terbuka. Ia mendongak. Surai hitamnya menggantung indah, berkilau dan nampak halus di mata. ⠀⠀ Ia mulai bergerak. Pelan namun pasti, menelan ia yang seolah tercipta memang untuknya. ⠀⠀ Kuasanya menarik Shinku 'tuk menghapus jarak. Didekap erat leher pria itu pada miliknya. ⠀⠀ Beri ia afeksi; beri ia bukti. ⠀⠀ Hanyut—pria itu terhanyut di dalam lautan kasih venus. Entah kemana dirinya akan dibawa, Shinku memutuskan ‘tuk menjadi petualang yang bebas. Inginnya tak ada hal resktriktif sekarang. ⠀⠀ Dari kepala hingga bawah hanyalah kehangatan yang diberikan oleh sang Lilith. Walau tak bisa didustakan kadang gayanya didapati kikuk. Kenyataan itu membuat Shinku tersenyum, tapi lekas dibenamnya pada rahang dan leher Ivy; terkaburkan oleh isapan keras pada beberapa titik kulit yang lembut. ⠀⠀ Oh, selalu. Mana bisa berkunjung ke istananya tanpa membawa pulang buah tangan? Biarkan dirijya memberikan bukti bahwa si Jelita pernah hadir di wilayahnya. ⠀⠀ Tak sengaja mata Shinku melirik jam dinding. Malam semakin tinggi dan ia lupa dua orang lain yang menunggu mereka. Perlahan, tangan yang awalnya berada di punggung kini mencari saku celana. Gawai persegi panjang ditariknya keluar; sedikit kepayahan, tapi masih berhasil. ⠀⠀ Shinku menepuk salah satu pipi bawah si Rouge yang menonjol, mencengkramnya, lalu menggigit kecil bahu yang sedari awal menggoda maniknya. Sekalian ia turunkan tali baju sang nona sembari tangannya sibuk memberikan pesan singkat kepada Azuma. Begini kira-kira bunyinya: ⠀⠀ “Urus Irina untukku. Jemput aku sebelum jam 9 pagi. Bawakan laporan departemen teknologi dan minta mereka menghapus rekam jejak prototipe 91-A. Terima kasih.” ⠀⠀ Lembutnya bibir Shinku kini beradu dengan halus kulit bahu Ivy. Ketika didapatinya pesan berhasil terkirim, ponsel itu dilempar ke sofa tak bertuan di samping kiri. Ayo mulai pemberkatan jasmaninya lebih serius. ⠀⠀ Rangkaian melodi itu akhirnya dilantun juga. Sengatan yang dirasa dari pipi bawah menyebar langsung ke penjuru tubuh. Gigitan pada bahu membuatnya semakin larut dalam prosesi pemujaan. ⠀⠀ Si Tuan mengetahui jasmaninya lebih daripada ia sendiri. ⠀⠀ Oh, Tuhan. Satu pintu menuju dunia yang tak pernah dipikirnya ada telah terbuka. ⠀⠀ Ia berdansa di atas singgasananya lebih lagi. Semakin percaya diri, ritmenya dipercepat dan lagunya diperbesar. ⠀⠀ Satu kuasa mengepal rambut si adam dalam genggaman. Sedangkan yang lain berpindah dari bahu ke lengan, hingga kembali lagi pada bahu. ⠀⠀ “Fuck!” gusar Shinku. ⠀⠀ Aroma Arcana Rosa mulai mengudara lebih pekat saat peluh sang adam gugur. Parfum itu memang dirancang sedemikian rupa agar tak luntur bagaimanapun kondisinya; ingin diam bagaikan patung atau penuh gerak. ⠀⠀ Malam ketiga dihabiskan bersama sang nona, tak pernah dirinya sevokal ini. Rantai yang membelegu fantasi tergelap mulai longgar. Sedikit demi sedikit, sang adam menampilkan bentuk diri yang sesungguhnya. ⠀⠀ Baju basah, rambut tak karuan, dan rona kemerahan pada wajah; sungguh indah. Adiratna dari Antwerp bekerja keras malam ini. ⠀⠀ Sofa kamar hotel Hyatt berdecit nyaring saat Shinku merebahkan Ivy. Ritme dipelankan sejenak saat posisi diatur. Kaki sang nona ditekuk; sedangkan miliknya menapakki lantai. Luas sofa di sana tak mampu merengkuh keduanya. ⠀⠀Jemari tangan Shinku menyisir rambut ke belakang seraya membiaran mata menikmati jamuan pemberkatan. Sesekali atensinya teralihkan pada mata kalung mawar dan salib yang saling menghantam satu sama lain setiap kali dirinya masuk ke dunia Ivy dengan kencang tanpa ada tanda akan berhenti. ⠀⠀Semua yang terjadi di luar kepala bukan lagi menjadi perkaranya. Ivy tidak peduli, ia enggan peduli. ⠀⠀Dari bawah sana ia menatap karya terbaik Bapa-nya dalam-dalam. Gagah dan rupawan; Ivy tersenyum samar karenanya. ⠀⠀Jemarinya naik menangkup pipi si adam. Mengelusnya lembut sebelum hentakan kesekian membuat ia mendongak, mengekspos kembali leher dan dada yang tak lagi sepenuhnya putih polos. ⠀⠀"Oh, Tuan━" Ivy melenguh, tangannya meraih lengan baju Shinku. ⠀⠀Puncaknya sudah dekat. Terang bintang sudah menunjukkan jalan. ⠀⠀Kebebasan dan kekuasaan bukan lagi di tangannya. Oleh sebab itu ia meminta, memohon pada pemilik hatinya, supaya tolong bawa ia menuju surganya. ⠀⠀ Bibir Shinku terbelah, mengucap amin pada permintaan. Rahangnya tampak mengeras, seringai terulas, dan ibu jari mengusap ranum sang nona sebelum membubuhi dengan miliknya. Entah sudah berapa kali mereka menyicip satu sama lain. Namun, jelas tak pernah puas. ⠀⠀ Geraman kecil lalu datang dari sang adam. Besi sabuknya beberapa kali menyentuh paha dalam Ivy bahkan saat luapan sungai dari venus mulai membasahi. Dirinya pun keluar dari kehangatan itu ‘tuk mengalihkan luarannya ke tempat lain. Bahaya. Mereka belum siap ‘tuk menanam bibit di dalam venus. Walhasil, letupan penuh kekacauan berada di sekitar mereka. ⠀⠀ Ah, Shinku langsung teringat Irina dan tatapan penuh aura membunuhnya. ⠀⠀ Sungai venus meluap hangat. Pemiliknya mencipta melodi penutupan yang indah, tinggi dan mendayu di saat yang bersamaan. ⠀⠀ Kuasanya terkulai lemas, satu di samping kepala dan satunya lagi di atas perut. Matanya sayu hampir menutup, ranumnya merah dan basah, dadanya bergerak naik turun mengatur napas. Bahkan dengan rambut dan pakaian yang berantakan, yakinlah si puan masih sanggup membuat banyak lawan jenisnya terpukau kagum. ⠀⠀ Akan ada banyak hati patah seandainya apa yang terucap dari bibir dapat didengar setiap orang. ⠀⠀ "Tuan Shinku," panggilnya disela-sela kunjungan sementara ke surga. ⠀⠀ Kabut di galaksi malamnya ditiup angin pergi menjauh. Jernih dan cerah, ia mencari manik kembar milik si Tuan. ⠀⠀ Ia habis kata. Namun sesuatu harus diucap. Agar tahu bahwa semua nyata, supaya yakin bahwa ia tak sedang bermimpi. ⠀⠀ Lantas jemari yang sempat beristirahat itu kembali bangkit. Ia menyentuh bibir si adam. Puas akan konfirmasi yang didapat, senyumnya mengembang. ⠀⠀ Sungguh, ia adalah sebuah lukisan berharga dan mahal. ⠀⠀ "Aku diberkati," bisik Ivy pada dirinya sendiri. ⠀⠀ Ah. Begitu tiba-tiba, matanya berkaca-kaca dan hidungnya memerah. ⠀⠀ Merasa konyol akan luapan emosi yang menyergap, Ivy tertawa kecil dan menutupi matanya dengan lengan. ⠀⠀ Sebuah panah menusuk dada Shinku. Ia tiba-tiba merasa nyeri atas perilaku Ivy. Kendati demikian, setelah merapikan celananya, tubuh sang adam direbahkan di sebelah sang nona, tangan menjauhkan lengan yang menutupi paras ayu, dan kecupan disemat pada pipi. ⠀⠀ Seumur hidupnya, Shinku belum pernah melakukan ini. Biasanya adalah kerjakan lalu tinggalkan; selagi kebutuhan terpenuhi, maka itu cukup. Ia tak butuh tinggal lebih lama. ⠀⠀ Lantas, kenapakah sekarang berbeda? Hatinya belum berani mengambil simpulan pasti. Bahkan, jika ia tahu pun, maka jalan tak akan pernah mendapat restu. Menyakitkan. Kenyataan selalu begitu. ⠀⠀ Shinku mencoba memahami Ivy. Wanita itu masih muda. Banyak pengalaman hidup belum dilaluinya. Ia berani bilang mekarnya pun belum. Jadi, hingga Ivy menunjukkan warna aslinya dan tahu apa yang ingin dituju, Shinku akan mengiringi langkah sang nona; selayaknya janji yang telah diikrar lisan. ⠀⠀ Sedikit saja ‘tuk mendorong Ivy, bibir Shinku berbisik, “Saya berterima kasih kepada Anda, Nona Rouge. Anda sungguh perhatian dan manis. Orang-orang beruntung memiliki Anda di sekitar mereka.” ⠀⠀ Kupu-kupu hinggap dalam hatinya. Musim semi mulai terlebih dahulu di sana. Ia ingin tinggal selamanya di sana. Bermain di bawah hangat sang raja siang. ⠀⠀ Figur Shinku di sampingnya ini nyata. Tiap kata yang keluar dari bibir pria itu pun ada. ⠀⠀ Ivy mengubah posisinya menjadi menyamping. Ia menolak mengekspresikan sesuatu di bawah sana yang memprotes, pun basah dan terasa lengket. ⠀⠀ "Saya harap Anda adalah salah satu dari orang-orang tersebut," gumam Ivy. ⠀⠀ Semakin lama memandang, hatinya seakan-akan semakin membesar. Perasaan yang berlabuh dalam diri tiap kali mendengar nama dan melihat raga pria di sampingnya bukanlah sesuatu yang biasa. ⠀⠀ Terserah apakah seorang wanita dewasa akan melakukannya atau tidak, Ivy tak ingin peduli sekarang. ⠀⠀ Ia berpindah naik dan telungkup di atas badan Kyokutei Shinku. Telinga dekat dengan dada si Tuan, mendengarkan dengan tenang detak jantungnya. ⠀⠀ Ivy mengembus napas lega. Ia tak ingin malam ini usai. ⠀⠀ Reaksi Shinku tak begitu nyata atas pengharapan Ivy. Ia hanya tersenyum tipis. Segala hal asing ini, lagi, dirinya enggan meloncat dan menyelam terlalu jauh. Sekarang bukan waktu yang tepat. ⠀⠀ “Apakah Anda tidak ingin membersihkan diri?” tanya nya sambil mengelus kepala Ivy. Mereka saat ini adalah dua eksistensi yang kotor dengan hasil nikmat duniawi. ⠀⠀Andaikan orang-orang mampu melihat keadaan di sekitar mereka, maka satu kata yang pantas: berantakan. Perhiasan seolah tak ada harganya pada lantai, Victoria serampangan, likuid amour pada sofa, dan gaya rambut setelah koitus yang tak karuan. Oh, Tuhan. ㅤㅤBila dunia harus menghadapi akhirnya sekarang, maka jadilah. Ivy telah mengambil posisi ternyamannya. ㅤㅤTangannya bermain di lengan atas si adam, meniru pergerakan kuasa yang mengelus kepalanya. ㅤㅤ"Sebentar lagi," jawab Ivy, tak rela kalau keintiman ini harus segera berakhir. ㅤㅤHening menghampiri isi kepala si puan untuk beberapa detik. Matanya terpaku pada vas bunga di atas meja. ㅤㅤMawarnya selalu diganti setiap hari. Segar dan wangi. Irina yangㅡ ㅤㅤ "Irina!" Ivy mengangkat kepalanya cepat, "Aduh," mengaduh saat beberapa helai rambutnya tertarik, dan menatap Shinku cemas. ⠀⠀ “Oh, Tuhan,” kata Shinku sambil tertawa. Deretan gigi rapinya dan kedua sudut bibir tampak manis pada wajah. Pernahkah ia seperti ini sebelumnya di hadapan Ivy? Belum. ⠀⠀ Kala tawa itu berhenti, ia menjauhkan surai temaram sang nona dari tangan dan kancing bajunya. “Irina akan baik-baik saja,” tambahnya. ⠀⠀ Sebuah janji. ㅤㅤIvy tertegun. Alunan musik baru yang didengar telinganya ituㅡya Tuhan. Apakah ia baru saja menggunakan semua keberuntungan yang ia punya malam ini? ㅤㅤSi Nona teramat gembira. Ia menahan pekikan senangnya dengan cara membenamkan wajah ke dada si adam. ㅤㅤKedua kakinya naik ke udara dan digoyangkan, menyalurkan energi 'tuk melompat bahagia kepada ibu dan telunjuk jari kakinya. ㅤㅤ'Oh, Tuhan! Tuan Shinku tertawa!' ㅤㅤIvy mengintip paras tampan si adam malu-malu dari balik tirai bulu matanya. ㅤㅤKontrol diri. Ia harus bersikap normal. Tentu saja Tuan Shinku bisa tertawa, ia 'kan juga manusia! ㅤㅤNamun, apakah penyebab si Tuan pada akhirnya mengalun melodi indah tersebut? ㅤㅤYa Tuhan! Semakin dipikirkan, Ivy semakin terbang! ⠀⠀Sebagaimana Ivy mencoba menahan diri, hal yang serupa dilakukan oleh Shinku. Kelakuan nona itu membuatnya gemas. Ada dorongan di dalam diri ‘tuk menariknya lebih dekat, merasakan kembali ranum manis yang tersembunyi di balik tirai rambut, dan—lainnya. Dua puluh empat jam tak cukup baginya; ia akan selalu merasa lapar apabila si Rouge terus bersikap seperti ini. ⠀⠀“Nona, sebaiknya Anda segera membersihkan diri,” sarannya mencoba tenang. ㅤㅤKali ini Ivy mengangguk. Ia bangkit dan duduk di atas otot perut si Tuan. ㅤㅤSatu tangannya menutup mata Shinku, sedangkan yang satu lagi menyamankan letak si Victoria. Wajahnya memerah padam. ㅤㅤIvy berdeham pelan setelah mengembalikan hak melihat Shinku. ㅤㅤKalau memang keberuntungan semasa hidup harus dipakai semua malam ini, Ivy takkan menyia-nyiakannya. ㅤㅤ"Tuan Shinku, mari ikut berendam?" ajaknya, sedetik menatap si adam dan sedetik lagi mengalihkan pandang. ⠀⠀ Demi Tuhan. Setelah malam ini berakhir, Shinku akan duduk di ruang meditasinya selama lima jam. Ia akan menghirup dupa, membersihkan diri menggunakan bantuan kristal, dan belajar kontrol diri ‘tuk ihwal seksual. Selama Ivy ada di sekitarnya, dirinya tahu keadaan diri akan jauh dari kata ‘aman’. ⠀⠀ Maka, izinkan ia lepas sekali lagi. Menerima tawaran sang Lilith yang mulai menunjukkan sisi penerus Le Royaume Rouge. Jikalau Madam penuh kecantikan dan daya tarik wanita dewasa yang mematikan, maka anaknya adalah tipikal gadis pemalu yang diam-diam menaburkan pesona tatkala banyak jiwa tidur. Mereka berdua berbahaya. ⠀⠀ “Tentu, Nona Rouge,” ujar Shinku sambil duduk. Kedua tangan berada pada pinggiran paha sang nona. ㅤㅤPenolakan memang tak menjadi pertimbangan Ivy, dan ia benar. ㅤㅤ"Eum, ayo!" Tangannya meraih tangan Shinku, telapak kakinya menyentuh lantai. Alih-alih langsung berdiri, Ivy menoleh ke bawah. ㅤㅤ"Oh, astaga," gumamnya kecil. ㅤㅤDari barang berharga hingga sepotong pakaianㅡjejak keintiman mereka belum tiga puluh menit yang lalu sangatlah jelas. ㅤㅤIvy mengambil semua yang terserak di lantai, meletakkannya serapi mungkin di atas meja. ㅤㅤAtensinya beralih lagi pada pria di hadapan. "Saya akan menyiapkan air mandinya terlebih dahulu," kata si Nona seraya beranjak berdiri. ⠀⠀Mata Shinku mengikuti pergerakkan Ivy. Lisan bisa berbohong, tetapi tatapan tidak. Percik gairah kecil lewat pada binarnya saat pandangan turun pada kedua pipi yang menyembul dari si Merah Victoria. ⠀⠀ Pria itu menggeram kecil, mengusap wajah kasar, kemudian berdiri. Dompet Versace dilempar ke atas meja, mendarat pada tumpukkan perhiasan. Tak seberapa lama dirinya mengekori Ivy tanpa membuat suara. ㅤㅤLangkahnya percaya diri. Seolah ia tahu dirinya menang malam ini. ㅤㅤBekas likuid kental hasil perjamuan mereka nampak samar di beberapa titik di kulitnya, terkadang dipertegas ketika sinar lampu tak sengaja menyorot sesuai dengan pergerakannya. ㅤㅤIvy membuka pintu kamar utama. Ukurannya luas dengan interior dan perabotan bawaan dari hotel; ranjang yang cukup lebar untuk ditiduri dua orang, meja nakas di kedua sisi, televisi yang menempel di dinding, dan meja rias di samping lemari. ㅤㅤDi salah satu sudut ruangan di sebelah lemari terdapat sebuah pintu lagi. Di sana kamar mandinya. ㅤㅤCermin lebar dilengkapi wastafel dan rak handuk posisinya tepat di sebelah pintu. Irina menyusun bom mandi yang Nonanya bawa pulang beberapa hari lalu di sana juga. ㅤㅤBerjalan masuk sedikit lagi, sebuah bak berendam dengan kepala pancuran air di atasnya menunggu 'tuk diisi. ㅤㅤIvy mengatur suhu air sebelum membuka kerannya, membiarkan airnya memenuhi bak berendam. ㅤㅤNormalnya, Irina lah yang melakukan semua ini untuknya. Namun si Nona bukanlah Tuan Putri yang nihil pengetahuan. Lempar ia ke sebuah pulau tak berpenghuni, akalnya masih sanggup menguatkannya bertahan hidup. ㅤㅤIvy berbalik badan dan berdiri di depan rak handuk. ㅤㅤ"Hmm," ia menggumam, menimbang bom mandi mana yang harus digunakan. ㅤㅤ"Tuan Shinku," ia menoleh pada si adam, "bantu saya memilih?" pintanya. ㅤㅤAda begitu banyak jenis di sana. Mulai dari wangi bunga sampai wangi buah dan tanaman. ⠀⠀ Pertanyaan Ivy seiring dengan ditutupnya pintu kamar mandi oleh Shinku. Tak ada alasan khusus, ia hanya merasa perlu menutup benda itu. ⠀⠀ “Aroma bunga,” ujarnya tanpa ragu. Siapapun yang mengenal Shinku seutuhnya tahu bahwa terlepas dari perawakan garang, dirinya adalah budak ‘tuk wewangian bunga. Bahkan kebun di kediaman utama Kyokutei Asahi adalah hasil dari kerja keras Shinku. Apabila terlihat deretan bunga mawar, itu khusus ditanam oleh sang taruna ‘tuk Karen, si Bunda. ㅤㅤIvy terkekeh pelan. "Baik," patuhnya. ㅤㅤIa meraih satu yang berbentuk bunga mawar, warna dasarnya putih dengan corak keramik berwarna merah tua dan merah muda. ㅤㅤ"Saya membawa ini dari Antwerp," kata Ivy sambil mencelupkan bom mandi itu ke dalam air. ㅤㅤKerannya sudah ditutup terlebih dahulu saat volume air sudah memenuhi tiga per empat dari tinggi bak berendam. ㅤㅤRaut wajah puas tergambar jelas pada paras. Perlahan warna airnya berubah menjadi putih susu, dan kelopak mawar kering mengambang di permukaan. ㅤㅤ"Saya selalu penasaran bagaimana Julia menemukan ramuan ajaib ini," ungkap Ivy. "Tetapi katanya itu rahasia, dan kalau saya tahu, ia khawatir bisnisnya akan terancam tutup." Ivy mengerutkan dahi dan mengecurutkan bibir. ㅤㅤSeakan sudah terbiasa dengan semua ini, Ivy menanggalkan pakaian atasnya tanpa ragu. ㅤㅤBarulah setelah ia berbalik badan dan menghadap Shinku, baju tanpa lengan itu dibawanya mendekat menutupi dada. ㅤㅤ"Ekhem. Saya tidak terbiasa berendam menggunakan pakaian...," bisiknya malu. ㅤㅤOh, lihat. Rona kemerahan itu bertamu lagi di wajahnya. Tidakkah ia ingat, apa yang dilakukannya bersama si Raja beberapa puluh menit yang lalu? ⠀⠀ “Anda beruntung,” Shinku melepas seluruh kancing bajunya, “saya juga,” tuturnya. ⠀⠀ Berendam adalah aktivitas yang disenanginya. Di dalam sebulan, pria itu bisa merilekskan jasmani sebanyak tujuh kali di dalam bak berisi rempah atau minyak aromaterapi yang disiapkan oleh Nao. Shinku tak pernah mengucapkannya secara eksplisit, tapi kawannya itu tahu cara meramu aroma penenang; ia memiliki bakat sejak lahir. ⠀⠀ “Anda bisa masuk duluan. Saya ingin membilas diri,” tuturnya seraya menaruh jam tangan pada wastafel sebelum melepaskan baju dan celana. Ford dan Gucci tergeletak pada lantai; sedangkan Calvin Klein setia pada pinggang. ⠀⠀ Begitulah kira-kira persiapan Shinku sebelum berendam. Ia lebih senang membersihkan diri lalu masuk ke dalam bak mandi sebagai sentuhan akhir. ⠀⠀ Suara pancuran air terdengar seperti hujan. Di bawahnya Shinku membasahi rambut dan jisim secara merata. ㅤㅤ"Oh." Ivy mengangguk. Ia melepas sisa kain yang melekat pada tubuh seluruhnya, lalu buru-buru menyembunyikan raga sempurna itu di bawah air. ㅤㅤTemperatur airnya pas, tidak terlalu menusuk atau membakar kulit; pun menguarkan harum bunga. ㅤㅤIvy mendesah rileks. Sebisa mungkin arah pandangnya dicegah agar tidak terlalu intens menatap pahatan megah tubuh si adam. ㅤㅤIvy menepuk-nepuk pipinya, membasahi wajah dan mengerjapkan mata. ㅤㅤ'Ayo, fokus!' batinnya. ⠀⠀Sekitar tiga menit berlalu, Shinku turut bergabung bersama Ivy. Bukan di samping, tetapi di belakang sembari menyelonjorkan kaki; mengurung si Nona Lilith. ⠀⠀ Momen itu terasa khidmat sebab sang adam menutup mata, mengistirahatkan kepala ke belakang, dan membiarkan tangan ditaruh pada pinggiran bak mandi. Aroma bunga mawar ramah pada hidung dan sarafnya; mereka memanjakan serta menenangkan pikiran Shinku. ⠀⠀ Jika dilihat secara sekilas, maka situasi mereka sangat domestik. Layaknya pasangan yang menikmati akhir pekan dengan rendaman. Bagian yang belum lengkap adalah segelas anggur merah atau sampanye. ㅤㅤIvy bergerak maju, memberi ruang bagi insan lain di sana untuk duduk dan mengambil tempat nyaman. ㅤㅤUsai beberapa detik berlalu, ia menoleh ke belakang dan tersenyum. ㅤㅤ"Tuan Shinku pasti sangat lelah," ucap Ivy membuka percakapan. ㅤㅤTubuhnya kembali mundur. Punggung bertemu dada bidang. Ia meraih tangan kanan si adam, memijat jari-jarinya perlahan. ⠀⠀ Otak Shinku langsung memutar kejadian pada pagi dan sore hari. Sejak pandemi muncul, keadaan perusahaan menjadi kacau. Terutama di Asia Pasifik. Klien marah, saham turun, dan rute ditutup rapat. Ingin mengadu kepada siapa? Shinku mengemban ribuan pekerja pada punggungnya. Hanya hookah, arak, dan lampu merah yang menerangi kamarnyalah kawan ‘tuk berbagi derita serta lelah. ⠀⠀ Memang pekerjaannya tak murni. Banyak kejahatan ia lakukan demi profit. Kendati demikian, fakta bahwa banyak jiwa bergantung kepadanya membuat Shinku geram dan mengutuk situasi ini. Banyak dari pekerjanya terinfeksi. Bahkan sebagian tak bisa bertahan; dirinya menulis banyak surat duka dalam dua minggu terakhir. ⠀⠀ Mereka yang jatuh adalah ayah, ibu, putra, putri—Tuhan, kepala Shinku ingin meledak. Ini adalah tahun kelimanya menjadi presiden perusahaan Kyokutei di Asia Pasifik dan merupakan krisis terbesar pertamanya. ⠀⠀ Namun, tiada seorang pun yang perlu tahu. ⠀⠀ “Anda juga sudah bekerja keras,” ujarnya. Manik terbuka mengamati kuku-kuku yang dipoles merah sedang bergarak di atas lengannya. ⠀⠀ “Apakah Madam Lilith sehat?” tanyanya. ㅤㅤ"Mm, Madam sehat. Saya selalu mendapat kabar harian dari Elise," jawab Ivy. ㅤㅤ"Madam selalu ingin saya segera pulang," ia menambah setelah beberapa detik mengamati jari-jari panjang milik si adam. ㅤㅤIvy menghela napas. Ia tak ingin memikirkan itu semua sekarang. ㅤㅤTidak ketika ia bisa membahas hal yang lebih menyenangkan, dan mungkin membuat Shinku sekali lagi tertawa. ㅤㅤKuasa si adam dikembalikannya ke tempat semula. Ivy mengangkat kedua tangannya ke udara seraya menyandarkan tubuh ke seorang di belakang. ㅤㅤ"Saya ingin mengganti warna cat kuku," kata Ivy tiba-tiba. Kesepuluh jarinya digoyangkan. ㅤㅤ"Warna apa yang cantik menurut Tuan Shinku?" tanyanya, menoleh pada si Tuan. ⠀⠀ Ya, Shinku sudah tahu mengenai besarnya keinginan Madam Lilith agar putrinya kembali ke pelukan. “Saya rasa warna apa saja akan cocok di kulit Anda,” ujarnya. ⠀⠀ Tangan di udara digenggam oleh Shinku, diamatinya baik-baik para jemari. Rona apakah yang sesuai? ⠀⠀ “Pernahkah Anda mencoba warna nude sebelumnya? Saya rasa itu adalah pilihan yang aman.” ㅤㅤ"Hmm. Kalau begitu saya akan melihat beberapa referensi dan meminta tolong pada Irina untuk mencari barangnya. Tidak banyak warna cat kuku yang saya bawa ke sini." ㅤㅤIvy meniup poninya meski tidak ada sehelai pun yang terbang akibat sudah basah. ㅤㅤ"Berbicara tentang Irina," si Nona membawa genggaman tangan mereka ke dada 'tuk dipeluk, "apakah Watanabe-san bersamanya sekarang?" ㅤㅤAbsen nada khawatir dari pertanyaannya sebab janji telah diucap Shinku tadi. Ia hanya penasaran tentang apa yang sekiranya sedang dilakukan sang asisten pribadi. ⠀⠀ “Begitulah,” jawab Shinku tenang. “Watanabe-san adalah orang yang bisa dipercaya. Saya mengenalnya dari kecil. Namun, jika ada sesuatu yang aneh pada diri Irina nanti, maka jangan ragu beritahu saya.” ⠀⠀ Tangan yang dipeluk mengusap rahang sang nona. Kepala ditundukkan ‘tuk menikmati betapa eloknya paras yang direngkuh. Sepengetahuannya, Ivy memiliki seorang Ibu asal Cina dan Ayah asal Belgia. Mereka bertemu dengan cara yang naas. ⠀⠀ Dari satu sisi, Shinku dan Ivy mempunyai kesamaan; keduanya tak mengenal sosok ayah sejak lahir. ⠀⠀ “Nona Rouge,” panggil Shinku. “Apakah Anda ada niat untuk melanjutkan studi?” ⠀⠀ "Irina selalu aneh." Ivy tertawa kecil, punggung tangannya yang bebas menutupi bibir. ⠀⠀ "Studi formal di universitas?" Ivy melihat Shinku sekilas. "Hmm," ia menggumam, lalu menggelengkan kepala. ⠀⠀ "Ketimbang menambah gelar pendidikan, saya lebih tertarik aktif di lembaga perlindungan hewan." ⠀⠀ Satu kakinya di angkat keluar dari permukaan air. Mulus dan mengkilap; beberapa kelopak mawar menempel di kulitnya. ⠀⠀ "Taman rumah Madam sering kedatangan tamu-tamu mungil. Waktu itu, saat saya masih duduk di bangku sekolah, ada seekor burung yang sayapnya terluka di sana. Persis seperti cerita di dongeng-dongeng." Ivy berceloteh. Tubuhnya semakin lama semakin turun, menyisakan hanya kepala yang berada di atas permukaan air. ⠀⠀ Atensi Shinku kini milik Ivy seutuhnya. Perbincangan mengenai flora dan fauna selalu membuatnya tertarik. ⠀⠀ “Bagaimana keadaannya?” ⠀⠀ Seraya pertanyaan terlempar, lengan dinaikkan ke atas. Dia kembali beristirahat pada pinggiran bak. ⠀⠀ "Saya meminta Madam untuk memanggil dokter hewan. Namun karena terlalu khawatir, Madam salah dengar dan mengira saya yang terluka. Satu rumah jadi panik." ⠀⠀ Ivy tertawa pelan. ⠀⠀ "Setelah keadaan terkendali, Elise membawa burung merpati itu ke klinik hewan. Saya tidak bisa ikut karena ada kelas merajut hari itu. Saat saya datang untuk mengunjungi si merpati di klinik, ia sudah bisa terbang lagi." ⠀⠀ Si Nona menengadah. Ia hendak melihat ekspresi apa yang sedang dibuat Shinku. ⠀⠀ "Madam meminta tolong kepada dokter hewan untuk tidak melepaskan si merpati sampai saya datang. Akhirnya, saya membawa merpati itu pulang dan melepaskannya di taman rumah." ⠀⠀ Ivy tersenyum. Memori tentang hari itu masih jelas di ingatan. ⠀⠀ "Saya harap saya bisa merawatnya sendiri. Namun saya tahu, memberi makan ego saya saat itu bisa memperburuk luka si merpati. Saya tidak tahu apa-apa tentang pengobatan hewan. Oh, apakah Tuan Shinku suka hewan?" ⠀⠀ “Ya,” Shinku mengusap air yang meluncur dari dahinya, “saya memiliki seekor kucing dan seekor burung,” ujarnya ringan. “Apa yang Anda lakukan adalah hal bijak. Terima kasih sudah merawat burung merpati itu.” ⠀⠀ Senyum tipis, tapi manis, mekar pada wajahnya. “Sudah hampir dua bulan saya tidak menengok kucing dan burung itu. Mereka berada di kediaman Watanabe,” tuturnya tanpa diminta. Shinku jelas terbuka akan topik yang menarik minatnya. ⠀⠀ "Wah!" Ivy menyudahi duduk malasnya. Ia berpindah menghadap Shinku, menciptakan kecipak air akibat pergerakan yang tiba-tiba itu. ⠀⠀ "Apakah kapan-kapan saya boleh melihat peliharaan Anda? Saya ingin sekali memiliki hewan peliharaan, tetapi itu tidak mudah. Butuh komitmen dan tanggung jawab; saya khawatir saya tidak bisa mengurusnya dengan baik." ⠀⠀ Ivy memeluk kedua lututnya, lalu mengistirahatkan dagu di atas sana, dan menautkan alis. ⠀⠀ “Tentu. Saya punya foto Abdul dan Lana di ponsel jika Anda ingin melihat mereka.” Senyum tipis Shinku belum luntur. ⠀⠀ Visibel beberapa kelopak bunga mawar melekat pada bahu Ivy. Manik Shinku turun sejenak dan menemukan beberapa bekas perjalanannya tampak beragam; merah dan ungu gelap. Mereka begitu kontras di kulit sang nona. ⠀⠀ “Madam membesarkan Anda dengan baik. Pertimbangkan matang-matang sebelum mengadopsi,” ujar Shinku tenang. “Hewan jenis apa yang ingin Anda rawat?” ⠀⠀ "Seekor anjing!" jawab Ivy semangat. ⠀⠀ "Orang-orang bilang, mereka adalah sahabat sejati manusia. Saya pun berpendapat bahwa hal itu benar. Seekor anjing pernah menyelamatkan hidup saya beberapa tahun silam. Sejak saat itu, saya mencari tahu banyak tentang anjing." ⠀⠀ Kini pipinya kirinya yang dibiarkan beristirahat di atas lutut. ⠀⠀ "Hmm, saya tebak, Tuan Shinku menyukai seekor kucing?" ⠀⠀ “Oh.” ⠀⠀ Roman Shinku berubah menjadi sedikit dingin. Anjing bukanlah hewan kesukaannya. Hal itu karena orang-orang sering mengasosiasikan dirinya pun Azuma sebagai seekor anjing. Pelayan keluarga yang begitu patuh. Itu juga alasan mengapa Shinku anti menggunakan dasi. Ia selalu merasa seperti hewan berkaki empat tersebut tatkala mengenakan aksesoris itu. ⠀⠀ “Bagus untuk Anda,” ujarnya. Ia menjadi kurang fokus. “Benar. Saya lebih menyukai kucing. Kenapa Anda tahu?” ⠀⠀ "Karena Tuan Shinku memiliki seekor kucing," jawab Ivy mudah. Ia kembali duduk tegak. Perubahan air muka dan nada bicara si adam ditangkapnya sempurna. ⠀⠀ Ivy maju beberapa sentimeter. Tangannya terjulur untuk menyapu rambut si adam ke belakang. ⠀⠀ "Apa yang Tuan Shinku sukai dari karakteristik seekor kucing?" tanyanya pelan. ⠀⠀ Tatapan mata tajam otomatis diberikan Shinku saat tangan Ivy menyentuh rambut. Sebagaimana ketika seseorang mengajaknya berkelahi; pria itu tak sengaja melakukannya. ⠀⠀ “Bermain mahal untuk dimiliki, perhatiannya tinggi meski tampak acuh, menghargai batas pribadi, dan cantik,” jawabnya. “Mata seekor kucing penuh misteri. Lincah dan licik pun. Mereka mengagumkan.” ⠀⠀ Kali ini seringai tampil pada wajahnya. “Sepertinya selera kita berbeda.” ⠀⠀ Kilat keterkejutan dan ketakutan menghampiri jernih iris kembarnya. Detak jantungnya meningkat untuk sepersekian detik saat itu, tetapi Ivy bersyukur tubuhnya tak bereaksi refleks apa-apa. ⠀⠀ Bibirnya mengulum senyum samar, kepalanya mengangguk. ⠀⠀ "Persis seperti seseorang yang kukenal," katanya dengan volume suara kecil. ⠀⠀ "Apakah Anda sama sekali tidak tertarik pada seekor anjing?" ⠀⠀ “Tidak,” jawab Shinku tanpa ragu. “Saya menghargai orang-orang yang menyukai anjing. Namun, saya tidak bisa membayangkan memelihara seekor anjing.” ⠀⠀ Sudah berapa lama mereka berendam? Mungkin satu jam dekat dicapai. Walhasil, Shinku berdiri lalu keluar dari bak. Tangannya terjulur ‘tuk menarik sebuah jubah mandi dari hotel. Pria itu tanpa ragu menggunakannya sebelum melepas sisa pakaian. ⠀⠀ “Saya harap Anda tidak keberatan. Esok Azuma akan membawakan baju,” jelasnya seraya mengeratkan tali jubah. ⠀⠀ Ivy mengerjap ketika si Tuan tiba-tiba bangkit dan menyudahi aktivitasnya. ⠀⠀ "Oh, tidak apa-apa," jawab Ivy. Ia memalingkan wajahnya dan menepuk-nepuk permukaan air perlahan. ⠀⠀ Azuma akan membawakan baju besok pagi. Besok pagi. Besok pagi... ⠀⠀ Ivy memiringkan kepalanya. Matanya beberapa kali lagi mengerjap. Besok pagi? ⠀⠀ Ia menoleh pada Shinku cepat, "Apakah Anda akan menginap malam ini?" tanyanya dalam sekali tarikan napas. ⠀⠀ Di bawah sana, kedua tangannya meremas satu sama lain. ⠀⠀ 'Oh, Tuhan. Semoga iya, semoga iya, semoga iya,' doa si Nona dalam hati. ⠀⠀ “Apakah Anda kurang nyaman dengan itu?” tanya Shinku. Telapak tangannya mengelus permukaan mantel di dada. Ia merasakan betapa halus kain yang membentuk pakaian ini. Apabila dari beludru, tentu saja akan lebih sempurna. ⠀⠀ “Oh. Laki-laki dan perempuan asing di dalam satu ruangan yang sama. Itu terdengar berbahaya,” guyonnya kemudian menarik satu sudut bibir. Sarkastis ala Shinku. ⠀⠀ Perkataan si Tuan membuat wajahnya memanas seketika. Ivy mengerucutkan bibirnya. Ia menenggelamkan setengah wajah, hingga kini hanya dahi sampai hidung yang nampak di atas permukaan air. ⠀⠀ Gelembung muncul di sekitarannya sebagai bentuk protes dalam air. ⠀⠀ Gaya Ivy memang identik dengan seorang anak kecil. Apakah yang harus dilakukan dengan tipikal insan demikian? ⠀⠀ “Keluar dan segera kemari,” perintah Shinku tegas. Air wajahnya tak ramah. Dirinya memberikan aura ketika sedang bekerja. ⠀⠀ Ivy mengerutkan dahi. Nada bicara dan intonasi si Tuan menolak segala jenis ketidakpatuhan. ⠀⠀ Alih-alih menurut, ia malah menggeleng dan membelakangi si adam. Ia ingin tahu seberapa jauh Shinku akan bertindak. ⠀⠀ “Saya akan menghitung sampai tiga. Jika pada angka terakhir Anda tidak keluar, maka saya tidak akan berbicara kepada Anda hingga pagi.” ⠀⠀ Shinku memandangi punggung Ivy. Hanya Tuhan yang tahu betapa biru api di dalam dirinya sekarang. ⠀⠀ “Satu ....” Intonasi suara Shinku rendah dan terdengar kesal. “Dua ....” ⠀⠀ Pupil mata Ivy melebar. Sontak ia berdiri, nyaris tergelincir saat tergesa-gesa menghampiri si adam. ⠀⠀ Polos bak seorang bayi baru lahir, ia berdiri dan menunduk di seberang Shinku. Beberapa kelopak mawar melekat pada lengan yang susah payah berusaha menutupi dua objek fantasi kebanyakan pria tentang lawan jenisnya di luar sana. ⠀⠀ "Sudah keluar...," ucap Ivy dengan wajah masam. ⠀⠀ Seringai puas hidup selama sekian detik pada wajah Shinku. Di tangannya sebuah jubah mandi lainnya diam begitu pasrah di cengkraman. ⠀⠀ “Mendekat,” katanya sambil menatap Ivy lekat. Jelas jika sang nona mengangkat kepala, maka mereka akan bertemu pandang. ㅤㅤRatusan pasang mata orang lain bahkan tak dapat menandingi intensnya tatapan mata seorang Kyokutei Shinku sekarang. ㅤㅤIvy bak sebuah buku terbuka yang bisa dibaca halamannya sesuka hati. ㅤㅤMaka ia melangkah maju, menuruti apa yang si Tuan mau. ⠀⠀ Kala jarak tak sampai selangkah, jubah mandi dieratkan pada tubuh sang nona. Kelopak mawar yang tersisa dibiarkan begitu saja tanpa dijauhkan. Mereka terlihat indah menempel pada tubuhnya, kenapa harus disingkirkan? ⠀⠀ “Merawat orang bukan keahlian saya,” tutur Shinku sambil mendorong Ivy agar berdiri di depan kaca. “Jadi, jangan buat saya marah.” ⠀⠀ Selembar handuk putih berukuran kecil digosok pada kepala si Rouge. Tujuannya ‘tuk mengeringkan rambut. ⠀⠀ “Anda bisa melanjutkan rutinitas malam. Saya akan menunggu di luar.” ⠀⠀ Kuasa melempar kain kecil itu ke dalam wadah baju kotor. Tak lupa ia ambil pakaiannya sebelum keluar dari kamar mandi. Terbiasa hidup dilayani bukan berarti tak mahir merawat diri. ㅤㅤ"Mn, terima kasih," ucap Ivy sebelum si Tuan keluar dari kamar mandi. Ia ikuti pergerakannya, hingga pintu tertutupㅡKEMUDIAN IA MELOMPAT-LOMPAT BAHAGIA! ㅤㅤKedua tangan diletakkan di dada. Ia menatap pantulan diri di cermin. Senyum pada bibir enggan pulang. ㅤㅤOh, Tuhan. Apakah ini hadiah ulang tahunnya? Diberikan dimuka? ㅤㅤIvy menangkup kedua pipi. Pantulan diri di cermin nampak sangat segar dan sehat. Ia menarik-narik pipinya, memijatnya, membuat ekspresi konyol, kemudian tertawa pelan sambil melompat kecil di tempat. ㅤㅤDua menit berlalu sejak ia mengeluarkan energi dan semangatnya itu. ㅤㅤIvy menarik napas dan mengembusnya perlahan. Pipinya ditepuk-tepuk lembut. "Bersikap dewasa, Ivy!" peringatnya kepada diri sendiri. ㅤㅤMatanya menyapu deretan botol perawatan kulit di rak di bawah handuk dan jubah mandi dilipat rapi. ㅤㅤIa hanya mengambil satu, menuangkannya ke telapak tangan, lalu ditepuk-tepuk pelan ke seluruh wajah. ㅤㅤSempat terpikir 'tuk memoles bibir, tetapi Ivy membuang ide itu jauh-jauh. Untuk apa? Sekarang sudah malam dan mereka takkan keluar kemana-mana. ㅤㅤRambutnya yang setengah kering disisir menggunakan jemari. Sudah memanjang, haruskah ia memotongnya sedikit? ㅤㅤIvy memiringkan kepala, kemudian menggeleng. Ia akan memikirkan hal itu nanti. ㅤㅤPergelangan tangan kanannya dibawa naik ke hidung. ㅤㅤHmm! Harum bunga mawar. ㅤㅤIvy tersenyum puas, menata jubah mandi yang membalut tubuh, kemudian melangkah keluar. ⠀⠀ Apakah Shinku ada di sana ketika Ivy keluar? Jawabannya tidak ada. Sosoknya saat ini berada di ruang tengah sedang merapikan bekas kegilaan mereka. Dua figur lain tampak menemani. Mereka adalah pegawai hotel. ⠀⠀ “Ganti semuanya,” kata Shinku. Pada tangan kirinya terdapat tas berisikan perhiasan dan dompetnya. ⠀⠀ “Kami akan membawanya besok setelah selesai dicuci, Kyokutei-sama,” tutur seorang pegawai setelah selesai mengeluarkan sofa dan perangkatnya. ⠀⠀ Sebuah transaksi kemudian terjadi di antara keduanya. Sepuluh lembar uang bernilai tertinggi diserahkan Shinku dengan ringan. Yang menerima membungkukkan badan lalu segera menutup pintu. Ini adalah rahasia sampai mati. ㅤㅤ"Huh?" ㅤㅤIvy menyembulkan kepala dari balik pintu kamarnya. "Tuan Shinku?" panggilnya ketika mendapati si adam berdiri di ruang tengah. ㅤㅤIa berjalan menghampiri, masih dalam balutan jubah mandi. ㅤㅤTempat di mana sofa berada kini kosong. Ivy hanya melihat sebentar tanpa berkata apa-apa. ⠀⠀ Shinku menolehkan jasmani, ikut menatap lokasi yang ditatap sang nona, kemudian menaikkan sebelah alis. “Mereka akan mengirimkannya besok,” ujarnya. ⠀⠀ Tas yang digenggam kini diberikan kepada Ivy setelah dompet diambil. Wajah mereka berjarak tipis. ⠀⠀ “Perhiasan Anda,” tutur Shinku pelan. ㅤㅤ"Oh, terima kasih." Ivy mengambil tas perhiasannya. Sebisa mungkin tak meladeni jarak wajah mereka. Ia merasa belum mampu untuk menatap si Tuan pada matanya. ㅤㅤ"Ah, saya ingin meminta bantuan kepada Anda," tutur Ivy, menoleh lagi ke kamar tidur. ⠀⠀ “Ada apa?” tanya Shinku tanpa mematahkan tatapan mata. ㅤㅤ"Ke sini." Ivy menarik pergelangan tangan si adam, menuntunnya masuk kembali ke kamar tidur. ㅤㅤIa membuka lemari di salah satu sisi dinding, memamerkan koleksi busana tidurnya. ㅤㅤAda lebih dari selusin pakaian tidur di sana, dari yang bermodel gaun hingga celana. Jenis kain dan warnanya pun beragam, dari cerah hingga gelap. Motifnya rata-rata polos, kebanyakan diwakili renda sebagai pemanis desain. ㅤㅤ"Pilihkan satu untuk saya?" pinta Ivy, melirik Shinku dari balik lentik bulu matanya. ⠀⠀ Tungkai kaki Shinku mendekat, matanya memindai seluruh pakaian tidur milik Ivy tanpa terkecuali. Kuasanya memegangi pintu lemari kemudian menutupnya pelan. ⠀⠀ “Pernahkah Anda mencoba tidur tanpa pakaian? Rasanya sangat membebaskan,” katanya sembari membuat kontak mata. “Pun Anda ditutupi banyak aksesoris.” ⠀⠀ Jemari sang adam menyentuh kedua kalung Ivy kemudian turun ke dada. Dilihatnya satu kelopak bunga mawar; bibirnya terbelah ‘tuk berkata, “𝓛𝓪 𝓥𝓲𝓮 𝓮𝓷 𝓡𝓸𝓼𝓮.” ㅤㅤPipinya merona. Sentuhan Shinku seakan membawa sengat listrik. ㅤㅤ"Mm," Ivy menggumam, jemarinya bermain dengan tali jubah di pinggang. ㅤㅤ"Tuan Shinku membuat saya malu," akunya, nyaris tanpa suara. ⠀⠀ Tangan yang dipoles indah itu lalu berada di genggaman Shinku. Dengan lembut disematnya kecupan pada sisi telapak. ⠀⠀ Lagi, meronalah lebih merah. ⠀⠀ “Lain kali, jika Anda bertemu saya, tidak perlu menggunakan pewarna pipi,” bisiknya. “Anda lebih cantik seperti ini.” ⠀⠀ Andaikan Ivy bisa melihat, tanduk dan ekor sang adam sedang bergerak girang menggoda. Dia tak akan segan mengeluarkan kata-kata yang mampu mendorong semua darah si Rouge naik ke wajah. ㅤㅤOh, sungguh. Pria di hadapannya ini menawarkan racun berkedok madu. ㅤㅤIvy menyipitkan mata. Ia mengambil satu langkah maju dan memeluk si Tuan tanpa ragu. Tangannya diistirahatkan di punggung, sedikit menarik kain tebal yang menyelimuti tubuh. ㅤㅤ"Kalau begitu, Anda juga harus lebih sering mengunjungi dan menghabiskan waktu bersama saya." ㅤㅤIa bersyukur sisi wajahnya bersandar pada dada si Tuan, menghalangi pria itu 'tuk menyaksikan beragam emosi yang melewati wajah. ⠀⠀“Dan membuat Irina marah?” tanya Shinku. Kelakar lainnya tentu saja. ⠀⠀ Berjanji akan suatu hal yang tak diimani pun kurang jelas wujudnya bukan gaya Shinku. Mengingat agendanya, ia tahu setelah malam ini, akan lebih sulit bagi mereka bertemu. Estimasi paling cepatnya adalah dua minggu; sedangkan selambatnya lebih dari satu bulan. Banyak kegaduhan di luar sudah menanti kedatangan Shinku. ㅤㅤEmbusan napas dibuat Ivy. Untuk sesaat ia sungguh lupa akan Irina. ㅤㅤ"Cepat atau lambat, Irina harus menerimanya," kata Ivy. ㅤㅤIa melepas pelukan dan melangkah ke ranjang. Ia duduk di satu sisi, kemudian merangkak ke sisi sebelahnya. ㅤㅤSetelah itu ia menatap Shinku, sorot matanya mengundang si Tuan untuk bergabung. ⠀⠀ Shinku memiringkan kepalanya beberapa derajat, memandangi gerak-gerik Ivy, dan menyipitkan mata. Sejak kepulangan mereka dari Bali, wanita ini jauh lebih percaya diri. Sesuatu di hati menggaungkan sirene. ⠀⠀ Ranjang sang nona terasa berat sebelah tatkala Shinku naik. Tangannya menepuk ruang kosong di sebelah tubuh; Ivy harus datang ke sana. ㅤㅤLagi, si puan mengerucutkan bibir. Padahal ia bermaksud mengundang, sekarang malah ia yang diundang. ㅤㅤ"Tuan Shinku pintar mengontrol keadaan," kata Ivy seraya beringsut mendekat. ⠀⠀ Lisan Shinku tak menjawab. Ia sendiri sudah tahu besar kuasanya atas diri Ivy dan itu harus berubah. Begitulah yang diimaninya. ⠀⠀ “Cepat tidur,” katanya lembut. Selimut ditarik hingga leher sang nona. “Besok akan menjadi hari yang panjang.” ⠀⠀ Setidaknya ‘tuk si Kyokutei. ㅤㅤBahu si Tuan dijadikannya bantal. Satu tangannya diselipkan masuk ke dalam jubah mandi, mencari hangat tubuh si adam. ㅤㅤ"Tolong jangan pergi sebelum saya bangun besok?" pinta Ivy. ⠀⠀ “Tentu, Nona Rouge,” Shinku berkata penuh harapan. Dia mengusap kepala sang pelan. “Selamat malam.” ⠀⠀ Jarum pendek di angka satu perlahan berganti. Kini dia di angka enam, jisim Shinku langsung terbangun. Dari luar ia mendengar ponselnya berbunyi merintih. Sepertinya benda itu telah lama bersuara. ⠀⠀ Begitu pelan tanpa suara, pria itu beranjak dari kasur tanpa menoleh kepada yang terlelap. Waktu dia keluar kamar dan mengambil ponsel, nama Azuma terang di sana. ⠀⠀ Ada sekitar sepuluh panggilan tak terjawab beserta pesan bertuliskan: saya di depan kamar. Kira-kira sejak satu jam yang lalu. ⠀⠀ “Maaf,” ujar Shinku parau. ⠀⠀ “Tidak apa-apa, Kyokutei-san. Saya tadi makan pagi di restoran hotel. Mereka membuat bubur yang enak.” ⠀⠀ Azuma memberikan sebuah tas jenama Dior kepada sang tuan. “Apakah Anda ingin segelas kopi? Saya membawa bubuk Anda.” ⠀⠀ “Ya. Tolong,” jawab Shinku kemudian bergerak menuju kamar mandi luar ‘tuk bersiap. ⠀⠀ Azuma mengangguk dan melangkah menuju dapur. Dirinya akan membereskan seluruh piring kotor di sana setelah menyeduh kopi Arabika. ㅤㅤDua puluh menit setelah si Tuan turun dari ranjang, Nona yang dibiarkannya tidur mulai menggeliat. Tangannya meraba ke samping, mencari figur yang semalam menjaganya aman. ㅤㅤIvy perlahan duduk saat menyadari Shinku sudah tak di sebelahnya. Ia menggosok-gosok matanya dengan tangan, dan kuasa yang satu lagi menutup mulut yang sedang menguap. ㅤㅤUsai semenit berdiam dan mengumpulkan nyawa, Ivy beranjak turun dari tempat tidur. ㅤㅤDirapikannya jubah mandi yang sedikit tersingkap, ditatanya rambut yang agak berantakan. ㅤㅤSetelah itu ia keluar dari kamar. ㅤㅤ"Tuan Shinku?" panggilnya, sementara mata mengedar 'tuk menemukan sosok yang dicari. ⠀⠀ “Selamat pagi, Rouge-san.” ⠀⠀ Alih-alih Shinku yang ditemukan, Azuma tampak di ruang tengah sembari menggenggam bunga mawar segar. Tampaknya ia ingin mengganti pemanis di dalam vas. ⠀⠀ “Kyokutei-san ada di balkon. Dia sedang membuat panggilan,” tambahnya seraya menunjuk ke arah yang dimaksud. ⠀⠀ Dari pintu kaca, terlihat Shinku berdialog dengan entah siapa melalui telepon genggam. Ekspresi romannya terlampau serius; amarah nyata pada binar mata. ㅤㅤTerkejut, Ivy refleks merapatkan jubah mandinya. Ia mengangguk, menoleh pada balkon yang dimaksud. ㅤㅤPerempuan asal Antwerp itu mendesah lelah. "Padahal belum pukul tujuh," katanya, merujuk pada kesibukan yang menanti si Tuan. ㅤㅤBerdebat apakah ia harus menghampiri atau menghindari, tangannya naik mencari liontin kalung. ㅤㅤSaat didapatinya ada dua yang berbeda di leher, ia tersenyum samar. ㅤㅤIvy berdeham pelan dan menatap Azuma. "Terima kasih untuk bunganya, Watanabe-san," ucap Ivy. ㅤㅤDengan kepercayaan diri ia melangkah dan menghampiri si Tuan di balkon. ㅤㅤAngin pagi membuat Ivy bergidik kedinginan; selapis pakaian tak membantu sama sekali. ㅤㅤKedua tangannya menyelinap 'tuk melingkari pinggang si adam dari belakang. Harapan tertingginya, ia mampu membuat ekspresi si Tuan melunak. ㅤㅤMasih terlalu pagi untuk memulai hari dengan penuh kerutan di wajah. ⠀⠀ Kedua mata Azuma terbelalak. Ia ingin berteriak ‘tuk jangan mendekati sang tuan, tetapi terlambat. Hal terakhir yang dilihatnya adalah ekspresi terkejut di muka Shinku. Setelahnya, Azuma membuang fokus ke objek lain. ⠀⠀ Dolce & Gabbana yang direngkuh Ivy kini sedikit kusut. Namun, bukan itu masalah utamanya. Ialah Kyokutei Karen yang saat ini ada di seberang panggilan. Wanita itu memanggil nama Shinku saat tak ada respons atas pertanyaannya beberapa detik yang lalu. ⠀⠀ “Shin-kun, kau benar-benar tidak mau menjawab?” tanya Karen kesal. ⠀⠀ Jika ada satu hal yang patut disyukuri saat ini adalah Ivy tak berkata apapun. Apabila wanita itu membuka mulut, maka habislah. ⠀⠀ “Aku akan menghubungi nanti,” kata Shinku seraya mematikan panggilan. Dirinya tahu setelah ini akan ada kekacauan di rumah. ⠀⠀ “Selamat pagi, Nona Rouge,” sapanya. Tangan hangat pada punggung Ivy. ㅤㅤ"Selamat pagi." Ivy membuat jarak di antara mereka. Ia kini berdiri berhadapan dengan si Tuan. ㅤㅤ"Tuan Shinku terlihat marah. Saya pikir saya bisa meredakan emosi itu sedikit. Saya minta maaf apabila saya malah mengganggu," katanya, menatap kedua bola mata Shinku lekat. ㅤㅤHingga sekarang, ia masih menelisik dan berusaha mencari tahu apa yang si adam rasa. ⠀⠀ “Saya tidak apa-apa. Sebaiknya kita masuk. Anda akan sakit,” tutur Shinku sambil memandu sang wanita ke tempat yang lebih hangat. ⠀⠀ Azuma melirik keduanya dan menemukan sang tuan menggenggam tangan Ivy hingga pintu kamar ditutup. Kemudian, pria bermanik tajam itu menengok ke arah jam tangannya. Andaikan perkiraan tepat, mungkin Irina akan mendobrak pintu kamar hotel ini sekitar sepuluh menit lagi. Itu pun jika dia tak sakit kepala. ⠀⠀ Ivy mengekor tanpa suara; keberadaan Azuma untuk sekarang dianggapnya tiada. ⠀⠀ Ia melirik pada pintu yang sudah tertutup, lalu memandang Shinku dari atas sampai bawah, hingga naik ke atas lagi. Rapi. ⠀⠀ "Apakah Anda sudah akan pergi?" ⠀⠀ “Iya,” sahut Shinku tenang. Ia meninggalkan Ivy sejenak ‘tuk ke kamar mandi lalu keluar sembari mengenakan jam tangannya. Amarah di paras indah itu hilang. Kendati demikian, tatapan matanya serius. ⠀⠀ “Nona Rouge, apakah Anda mengonsumsi pil kontrasepsi atau lainnya?” Suara pria itu lembut sembari merapikan sedikit surai temaram Ivy ke belakang telinga. ⠀⠀ "Huh?" Raut muka si puan penuh tanda tanya. ⠀⠀ Ia menggeleng jujur. Tak pernah terlintas di otak untuk mengonsumsi pil tersebut. ⠀⠀ "Ada apa, Tuan Shinku?" tanyanya hati-hati. ⠀⠀ “Anda harus mengambil hal itu mulai sekarang,” ujar Shinku. ⠀⠀ Jangan ditanya perasaan pria itu saat mendengar pengakuan Ivy. Ia sudah memiliki dugaan, tetapi masih syok. Dirinya bersyukur belum pernah gegabah ketika berhubungan dengan sang nona. ⠀⠀ Shinku memberikan sebuah kartu nama. “Katakan kepadanya bahwa saya mengirim Anda. Nanti, Anda bisa mendiskusikan metode apa yang tepat untuk Anda dan perihal lainnya untuk mencegah kehamilan.” ⠀⠀ Pada kertas tebal berukuran kecil di sana terdapat sebuah nama rumah sakit beserta dokter kandungan: Oda Haruko. Sepertinya seorang perempuan. ⠀⠀ “Anda mengerti kenapa saya meminta Anda untuk menemui Oda-san, ‘kan?” ⠀⠀ Mengangguk dan bersikap seolah ia paham terdengar lebih mudah. Namun Ivy enggan berbohong kepada diri sendiri. ⠀⠀ Alhasil ia menggeleng lagi. Mungkin, hanya mungkin, sebagian dari dirinya paham dan mengerti. Namun ia butuh penjelasan langsung dari si Tuan. ⠀⠀ "Tuan Shinku, tolong jelaskan." Ia mendongak menatap si adam. Ekspresinya bagaikan seekor anak anjing yang ketakutan. ⠀⠀ Ah, apakah yang harus dilakukan kepada nona malang ini? Shinku mengembuskan napas pelan. “Saya ingin melakukan tindakan preventif. Saat ini mengandung bukan hal yang tepat untuk Anda. Lebih lanjut, saya pikir akan lebih baik bagi Anda rutin memeriksa kesehatan tubuh menyeluruh. Bukankah sekarang Anda telah aktif secara seksual? Anda harus memerhatikan hal tersebut. Bersama siapapun Anda menghabiskan malam, saya ingin Anda menjaga kesehatan diri,” jelasnya sehalus mungkin. ⠀⠀ Shinku memeriksa ponselnya. Si Nyonya kembali menelepon dirinya. ⠀⠀ “Anda bisa menceritakan segalanya kepada Oda-san. Siklus menstruasi dan sebagainya. Beliau akan menjadi dokter pribadi Anda. Jangan cemas mengenai identitas Anda. Kemudian,” ia mematikan gawai, “mari kurangi kontak untuk sementara waktu. Saya akan menghubungi Anda paling cepat dalam dua minggu secara pribadi,” ungkapnya. “Ada beberapa hal yang harus saya urus.” ⠀⠀ Secepat musim seminya datang, secepat itu pula musim gugur menjemput. ⠀⠀ Ivy terdiam. ⠀⠀ 'Bersama siapapun Anda menghabiskan malam,' katanya. Shinku mengatakan demikian seakan si Nona akan menyambut dengan senang hati siapapun yang ingin berkunjung ke tamannya. Padahal, menggenggam tangan pria lain selain yang berada di hadapan saja ia tak nyaman. ⠀⠀ 'Mari kurangi kontak untuk sementara waktu,' katanya. ⠀⠀ Ivy menunduk. Ia mengangguk. ⠀⠀ Bukankah ia yang bilang, bahwa hidup di dalam bayangan pun tak apa? ⠀⠀ "Dua minggu," gumam Ivy pada dirinya sendiri. ⠀⠀ Ulang tahunnya akan tiba minggu depan. Pupus sudah harapan 'tuk mengundang Shinku ke acara kecil-kecilan. ⠀⠀ Sepelan mungkin, Ivy menghela napas panjang. Ia tak ingin terlihat manja dan banyak menuntut. ⠀⠀ Lagi, hidup di dalam bayangan pun tak masalah. ⠀⠀ Puan yang akan genap berusia dua puluh tiga tahun minggu depan itu akhirnya mengangguk paham. ⠀⠀ "Saya mengerti," katanya. "Saya harap semua urusan berjalan lancar. Tuan Shinku, jaga kesehatan dan jangan terlalu lelah," pesan Ivy. ⠀⠀ Kartu nama seorang dokter di tangan ia genggam. "Saya akan mengunjungi rumah sakit bersama Irina nanti." ⠀⠀ Parasnya tersenyum. ⠀⠀ Lantas, mengapa sesuatu dalam hatinya seolah berubah dingin dan membeku? ⠀⠀ Bukankah hidup di dalam bayangan pun tak apa? ⠀⠀ Buah adam Shinku bergerak naik dan turun. Ia pun sadar betapa canggung situasi di antara mereka. Namun, inilah keputusan yang tepat. Dirinya harus menetapkan prioritas. ⠀⠀ “Anda tidak perlu mengantar saya.” ⠀⠀ Kepala sang adam ditundukkan, ranum menyentuh pipi si Rouge yang ekspresinya mendung, lalu keluar dari kamar. Gusar kini mendominasi hati Shinku. Ponselnya tak berhenti bergetar sebab Karen terus menghubungi. ⠀⠀ “Azu-kun,” panggil Shinku tegas. Intonasi suaranya sedikit nyaring. ⠀⠀ “Ke kantor, Kyokutei-san?” tanya Azuma seraya mengekori sang tuan. ⠀⠀ “Ke rumah utama.” ⠀⠀ Azuma mengangguk patuh. “Dimengerti.” ⠀⠀ Sepulangnya si Tuan, Ivy menghempas tubuh ke ranjang. Wajahnya dibenamkan di sisi di mana Shinku tidur semalam. Ia menghirup dalam-dalam harum khas si adam. ⠀⠀ Tak lama kemudian, persis ketika ia nyaris terlelap dan melanjutkan tidur, pintu utama terbuka. ⠀⠀ "Nona Rouge!" ⠀⠀ Oh, Tuhan. Irina kembali. Ivy tak bergerak sama sekali. ⠀⠀ "Nona Rouge?" Kali ini pintu kamarnya diketuk tiga kali. ⠀⠀ "Nona Rouge, saya akan masuk sekarang." ⠀⠀ Pintu terbuka, mata Ivy tertutup. ⠀⠀ Irina menghela napas. ⠀⠀ "Saya akan membersihkan diri dan menyiapkan sarapan. Mohon Nona jangan bangun lewat dari jam sembilan." ⠀⠀ Suara pintu yang ditutup perlahan membuat Ivy membuka satu matanya dan mengintip hati-hati. ⠀⠀ Ia mengembus napas lega. ⠀⠀ Biarkan dirinya menyusun cerita terlebih dahulu. Setelah itu, barulah Irina akan mendapat jawaban dari kisah yang ditunggu.
⠀⠀ “𝑩𝑼𝑲𝑨𝑵𝑲𝑨𝑯 𝑺𝑼𝑫𝑨𝑯 𝑰𝑩𝑼 peringatkan agar tidak membawa wanitamu itu ke depan umum? Kau begitu patuh dulu. Apakah yang membuatmu menjadi serampangan seperti ini? Wajahnya? Otaknya? Atau kasurnya?” ⠀⠀ “Ibu. Cukup.” ⠀⠀ Karen meletakkan kedua tangannya di atas meja keras. Perhiasannya turut menghantam dan menggema. ⠀⠀ “Kasurnya? Berapa lama kau sudah tidur dengannya?” ⠀⠀ “Itu bukan urusan ibu.” ⠀⠀ “Bukan urusanku?” tanya Karen dengan nada mengejek. “Tentu akan menjadi urusanku jika si Sialan itu mengandung! Sebelumnya, kau selalu membawa mereka ke Oda-san. Hanya wanita ini yang tidak. Kemana kau membawanya? Kau bahkan tidak berani menjawab apakah dia menjaga tubuhnya atau belum! Kau ingin ibumu mati? Aku bahkan belum mencapai banyak hal! Kau benar-benar membuatku marah!” ⠀⠀ Teriakan Karen terdengar hingga luar. Azuma yang menunggu di depan pintu jati raksasa hanya bisa menundukkan kepala sembari mengusap kedua tangannya. ⠀⠀ Dari belakang, Nao menghampiri. Wajahnya pucat dan tatapan horor menyeruak saat mendengar suara benda pecah dari balik pintu. ⠀⠀ “Kyokutei Shinku!” geram Karen sembari mendaratkan beberapa pukulan pada punggung sang adam. ⠀⠀ Di sekitar mereka terlihat beberapa guci dan vas bunga berserakan. Oh, tentu saja wujudnya sudah tak utuh. Terima kasih kepada Shinku yang menendang dan memukul mereka tanpa belas kasih. ⠀⠀ “Ibu bilang cukup!” ⠀⠀ “Kembalikan ponselku.” ⠀⠀ “Hancurkan sistem keamanannya dulu!” ⠀⠀ Shinku mengedarkan pandang ke seisi ruangan. Ia tak tahu di mana telepon genggamnya berada karena ketika mereka masuk, Azumalah yang memegang perangkat tersebut; Karen kemudian merenggutnya tanpa acuh. ⠀⠀ Kini apa yang ditemukan Shinku hanyalah ponsel milik sang ibu. Walhasil, benda itu ditariknya dan dilemparkan sekencang mungkin pada dinding. Hancur seketika. ⠀⠀ Jeritan histeris dari Karen menandakan bahwa sesuatu yang genting ada di sana. ⠀⠀ Mata untuk mata. ⠀⠀ Tatapan bengis dituju si Nyonya kepada anaknya. Ia melangkah cepat ke satu lemari, mengambil ponsel yang sedari tadi dicari, dan menginjak benda itu hingga remuk menggunakan sepatu hak tinggi yang merengkuh kaki begitu elok. Keluaran terbaru Fendi. Sangat unik dan runcing. ⠀⠀ Shinku menonton kegilaan Karen. Ia bergeming karena sudah tak peduli. ⠀⠀ “Ibu bahkan melepaskanmu saat tahu utang keluarga Enma kau bayar dalam diam. Baiklah, kau menolak perjodohan itu. Ya sudah. Tapi, tapi, tapi! Berhenti menghancurkan wajah keluarga kita dengan keluar bersama pelacur itu!” serunya serak. Urat leher begitu kentara dan wajahnya merah. ⠀⠀ Shinku menghela napas. ⠀⠀ “Kau,” Karen memukul meja, “jika ingin menjadikannya perhiasan malammu, silakan. Hanya sebatas itu. Tidak bisa lebih. Ibu akan menembak kedua mata ibu untukmu apabila kau masih ingin menyimpannya di kotak perhiasanmu setelah menikah dengan orang lain. Kau bisa memegang ucapan ibu.” ⠀⠀ “Aku harus bekerja.” Shinku merapikan jaket jasnya lalu melenggang menuju pintu. Waktunya sudah habis ‘tuk meladeni wanita itu. ⠀⠀ “Shin-kun,” panggil Karen gusar. ⠀⠀ Kepala taruna beranum tebal di sana menoleh. Binar matanya dipenuhi api ‘tuk sang Adiratna. ⠀⠀ “Dengarkan ibu sebelum terlambat.” ⠀⠀ “Sampai jumpa nanti,” sahut Shinku kemudian keluar tanpa ragu. ⠀⠀ Penuh amarah dan langkah yang menggema, pria itu mengabaikan setiap sapaan bertabur hormat dari para pelayan rumah. ⠀⠀ “Permisi, Kyokutei Karen-sama,” tutur Azuma dan Nao dalam kesatuan sebelum mengejar sang tuan. ⠀⠀ Di dalam ruangan yang penuh hasil kreasi Shinku, Karen mencengkram kursi kuat. Aura membunuh begitu kuat pada obsidian. ⠀⠀ “Aku akan mendapatkannya.” ⠀⠀ Dan itu adalah sumpah.
192 四条大橋東入ル川端町 (RAW)
cast: kyokutei shinku; ivy wei rouge; ayako; ayumi; irina white; nobu mentioned: kyokutei karen words: estimated reading time: language: Indonesian writers: 𝕾𝖊𝖑𝖊𝖓𝖊 & 神話 status: incomplete on tumblr twitter: 𝟏𝟗𝟐 四条大橋東入ル川端町
⠀⠀ 𝐀𝐕𝐄𝐍𝐓𝐀𝐃𝐎𝐑 𝐌𝐄𝐑𝐀𝐇 𝐌𝐄𝐋𝐀𝐉𝐔 𝐒𝐔𝐍𝐘𝐈 di pinggiran Kota Kyoto menuju wilayah Higashiyama. Sekiranya telah hampir lima belas menit sang pengendara memacu mobilnya. Hari ini jalanan tak begitu ramai. Shinku memegang stir mobilnya dengan satu tangan dan menggunakan yang lainnya ‘tuk mengambil topi hitam buah tangan dari Azuma. Tak ada jenamanya. Meski begitu, ia tetap menghargai ketulusan sang kawan. “Kau harus diet merek.” Begitu kata Azuma saat memberikan topi tersebut. ⠀⠀ Malam seperti ini sesungguhnya akan lebih seru jika dinikmati menggunakan sepeda motor. Menjelajah ke sudut-sudut jalan dan menikmati apa saja yang tersedia pada tepinya. Mungkin di lain waktu. Manakala banyak jiwa terlelap sebab urusan duniawi terlalu banyak merampas tenaga. Shinku menginjak rem dengan lembut, dan mobilnya pun berhenti di depan pintu masuk hotel Hyatt. Seorang pegawai, menggunakan seragam yang ukurannya terlalu besar bagi tubuh, menghampiri tergesa-gesa. ⠀⠀ “Selamat malam, Tuan. Apakah Anda ingin menggunakan jasa valet?” tanya saat Shinku menurunkan kaca. ⠀⠀ “Atas nama ‘Kyokutei Shinku’,” ucapnya seraya keluar dari mobil. “Kalau bisa taruh di tempat yang orang tidak bisa lihat.” ⠀⠀ Lima lembar uang kertas bernilai luar biasa membuat pekerja itu kaku saat menerimanya. “Tuan, ini terlalu banyak,” ungkapnya. ⠀⠀ “Gunakan untuk menyesuaikan ukuran bajumu.” Shinku berjalan hirau menuju ke dalam hotel. Perkataannya membuat pria di luar sana mengamati seragamnya sejenak. Dia memiringkan kepala. Mungkin yang dikatakan orang itu ada benarnya. ⠀⠀ Shinku duduk pada sofa lobi yang kosong pengunjung. Tanpa memerhatikan tatapan para pegawai, ia membuat sebuah pesan kepada Ivy yang berbunyi: “Di lobi” . Begitu saja. Langsung menuju poin tanpa ada salam manis atau basa-basi lainnya.
⠀⠀ 𝐍𝐎𝐍𝐀𝐍𝐘𝐀 tak lihai menutupi perasaan, juga tak pandai membuat alasan. "Irina, cukup berbaik hatikah dirimu untuk pergi dan membelikanku sebuah gaun baru nanti malam?" pinta si Nona pada Irina kala makan pagi mereka santap. ⠀⠀ Irina mengangkat matanya. Gadis berparas bak seorang dewi di hadapannya sekarang tidak bisa diam sejak tadi. Tubuhnya bergerak kecil ke kanan dan kiri, bibirnya yang dipoles lipstik merah dibasahi beberapa kali. "Nona, apakah yang sedang Anda rencanakan saat ini?" ⠀⠀ Si Nona terkesiap. Sendok aluminium di tangannya beradu nyaring dengan piring berbahan sama, denting suaranya mengundang perhatian beberapa orang 'tuk menoleh. Seketika ruang makan hotel tempatnya menetap terasa begitu ramai. Ivy Wei Rouge menelan ludah. Apakah sebaiknya ia jujur saja? ⠀⠀ Irina mengembus napas. "Nona," panggilnya, "saya tahu Nona bertukar pesan dengan Tuan Shinku." ⠀⠀ Ivy menunduk. ⠀⠀ "Jikalau harap Anda adalah supaya memiliki waktu berdua dengan beliau, saya—" ⠀⠀ "Irina, kumohon!" Ivy menangkup kedua tangan di depan dada. Alisnya turun memelas. ⠀⠀ "Bukankah—" ⠀⠀ "Irina, kau memang hanya berada di sini karena Madam. Sejujurnya, kau pun jengah terus-menerus berada di sisiku, 'kan?" ⠀⠀ Sontak kedua mata Irina melebar dua kali lipat dari biasanya. Wanita itu menggeleng. Tangannya meraih tangan Ivy di atas meja. ⠀⠀ "Anda tahu betul bukan itu yang saya maksud," tegas Irina. ⠀⠀ "Kalau begitu, izinkan aku keluar malam ini sendirian," balas Ivy, tidak kalah mantap. ⠀⠀ Irina menarik tangannya dan memijat pelipisnya pelan. Apapun jawaban yang Irina berikan, penolakan atau persetujuan, tidak memegang kontrol banyak terhadap keputusan yang telah Nonanya buat. ⠀⠀ Dengan berat hati, Irina mengangguk. ⠀⠀ Dengan senang hati, senyum Ivy menyambut.
⠀⠀"𝐈𝐑𝐈𝐍𝐀!" Sang putri Rouge berseru usai mengecek pesan masuk pada layar ponsel. Kuasanya yang bebas dengan cepat meraih tas selempang kecil berwarna putih dari atas ranjang. ⠀⠀Irina mengekor sampai di depan pintu kamar hotel. "Nona Rouge, berjanjilah Anda tak akan pulang lewat dari tengah malam," peringatnya. ⠀⠀Ivy mengangkat ibu jari tangan kanannya. Tanpa menoleh barang sedetik lagi ke belakang, ia berlari kecil menuju lift. Lobi utama berada di lantai satu. Kyokutei Shinku sudah menunggu di lantai satu.
⠀⠀ 𝐇𝐈𝐓𝐀𝐌 tidak sering dijumpa orang melekat pada penampilannya. Ia yang berharga dan dijaga, warna-warnanya tak dibiarkan gelap. Kalaupun harus, nuansanya wajiblah elegan dan berwibawa. Namun malam ini, hitam mendominasi lapisan baju pertamanya; sebuah kaos dan celana panjang berbahan beludru yang mencetak indah kaki jenjangnya. Sepatu bot semata kaki dengan hak setinggi lima sentimeter menjadi alas kaki, warnanya satu jenis dengan mantel putih bergaris-garis hitam yang menyempurnakan busana si Nona Rogue malam ini. ⠀⠀Riasan wajahnya dibuat ringan, menampilkan hasil natural. Manis. Dengan percaya diri—setelah berhasil meredam pekikan dan rasa girang luar biasa detik mata mendarat pada figur idaman—Ivy Rouge melangkah dan berhenti di hadapan si lelaki. "Tuan Shinku," sapa Ivy, "apakah Anda sudah menunggu lama?" ⠀⠀ “Empat menit,” tutur Shinku seraya berdiri. Di bawah bayang topi, maniknya mengamati penampilan Ivy dari atas hingga bawah. Terlihat sederhana, tapi masih berkelas. “Kita akan menggunakan bus. Saya sudah membeli dua tiket.” ⠀⠀ Dari dalam sakunya, dua lembar tiket menengok keluar. Mereka menyapa si Rouge. Katakanlah pria ini kolot. Sesuatu yang bentuknya daring tak begitu menjadi seleranya. Shinku lebih senang hal konvensional semacam ini.“Kita harus berangkat sekarang. Dua menit dari sini adalah halte. Mari.” ⠀⠀ Dengan begitu, sangat lugas dan tegas, Shinku yang malam ini mengenakan mode serba hitam sebagaimana Ivy, melangkah lebih dulu. Ia bahkan tak menengok ‘tuk memeriksa keadaan sang wanita. ⠀⠀ 𝐎𝐇, 𝐘𝐀 𝐓𝐔𝐇𝐀𝐍! Baru Ivy sadari betapa serasinya pakaian mereka malam ini. Apakah orang-orang di jalan nanti akan berpikir kalau mereka ialah sepasang kekasih? Ah, Ivy. Padahal sederhana, tetapi pipinya memanas oleh sebab fantasi. Hati-hati dehaman kecil Ivy buat. ⠀⠀ "Tuan Shinku," panggilnya selagi mengambil langkah lebar agar tak tertinggal di belakang, "apakah Anda akan menggunakan transportasi umum juga, bersama saya?" herannya. ⠀⠀ Pertanyaan Ivy begitu retorik di telinga Shinku. Hal seperti itu sudah jelas tak akan dijawab oleh lisannya. Benar saja, adam itu tak menunjukkan tanda akan berkata sesuatu bahkan ketika halte bus masuk berjarak kurang dari lima kaki. ⠀⠀ Begitu menusuk udara malam ini dikombinasikan dengan perangai Shinku, rasanya akan membuat orang-orang tak berani mengatakan ihwal lain lagi kepadanya. Dia begitu rumit ‘tuk dipahami, tetapi berdasarkan pengakuan Azuma, sebenarnya Shinku sangatlah sederhana. Entahlah. Biarkan hal itu nanti cerah dengan sendirinya. ⠀⠀ “Nomor dua ratus tujuh. Kira-kira tiga menit lagi,” kata Shinku tiba-tiba. Netranya terpaku pada layar yang menunjukkan estimasi waktu kedatangan bus. ⠀⠀ Ivy menepuk dahinya pelan. 'Dasar bodoh,' gerutunya dalam batin. Sambil merajuk dalam hati, penyandang marga Rouge itu mengikuti; berdiri di samping yang sanggup bersaing fisiknya dengan dewa Yunani. Ah, sungguh lucu! Ivy terkekeh kecil oleh pemikirannya sendiri; sibuk berimajinasi, sampai-sampai perkataan si lelaki pun tak sepenuhnya ia tangkap. "Nomor dua ratus tujuh?" ulang Ivy. ⠀⠀ Telunjuk Shinku diarahkan pada satu bus yang tiba. Pada bagian atasnya terdapat layar yang bertuliskan ‘207’. Pria itu memang tak suka banyak bicara; ia berdiri kemudian masuk ke transportasi umum tersebut seraya memberikan dua tiket fisik kepada sang supir. ⠀⠀ Tidak seperti sebelumnya, kali ini Shinku menengok ke belakang. Dirinya menunggu Ivy. Ia tak akan bohong, sejak kepulangan mereka dari Bali, Shinku merasa harus lebih bertanggung jawab terhadap si Rouge. Madam Lilith dan Tuan Ammar tentu alasan yang tak bisa dinegosiasikan. Kendati demikian, perbincangan mereka malam itu masih terngiang di dalam benaknya. ⠀⠀ Bibirnya membentuk huruf O kecil. Kepalanya mengangguk paham akan gestur yang Shinku beri sebagai jawaban. Tangannya meraih besi pegangan ketika memasuki bus, atensinya secara otomatis langsung menyapu sekeliling. "Saya boleh duduk di mana saja?" ⠀⠀ “Tentu,” sahut Shinku sembari mengalihkan pandang pada beberapa orang yang menatap kepadanya. Tiga orang berusia senja, dua orang pekerja yang baru pulang minum, dan satu orang pelajar dengan penyuara telinga pada rungu. ⠀⠀ “Bisakah kalian cepat?” pinta sang supir. Matanya menatap Ivy dan Shinku bergantian. Orang-orang ini seperti tidak pernah naik kendaraan publik, batinnya. ⠀⠀ “Kami membayar.” Shinku menatap tajam. Ia tak peduli jika pria itu lebih tua darinya. ⠀⠀ Netranya bergulir dari rupawan paras seorang Kyokutei Shinku ke kerutan di dahi dan pinggir mata supir bus. "Oh, maaf. Ini kali pertama saya mengendarai transportasi umum di Jepang," terang Ivy sebelum membungkuk sekilas. ⠀⠀ Tangannya lalu memegang lengan Shinku, menarik tubuh pria itu pelan. "Tuan Shinku, jangan begitu," bisik Ivy. Ia mengambil tempat duduk di samping jendela, baris kelima dari depan. Sekali lagi diberikan tarikan pada lengan si adam 'tuk ikut duduk di sampingnya. ⠀⠀ Pegangan tangan Ivy dilepaskan tegas oleh Shinku. Dirinya kini dengan patuh duduk, tapi pandangan matanya masih sinis dan menusuk kepada si Supir yang hanya berusaha bekerja. Meski begitu, Shinku protes di dalam benaknya. Mereka berdiri tak sampai tiga menit. ⠀⠀ Tak kalah dari Shinku, Daisuke, nama sang supir bus, menggerutu pelan saja. Ia tak ingin membuat masalah itu lebih panjang. Walhasil, kendaraan itu dirinya pacu laju menuju perhentian berikutnya. ⠀⠀ Terminal Kita Oji telah ditinggalkan. Andaikan tak ada rintangan di jalan, mereka akan tiba di Gion dalam sebelas menit. Ah, Gion. Area tersebut bukan tempat yang asing bagi Shinku. Entah berapa kali ia datang ke sana ‘tuk bertamu bersama rekan bisnis pun secara personal. Ia berharap malam ini tak akan menemui orang-orang tertentu di sana. Itu akan menjadi hal yang canggung. ⠀⠀ Helaan napas lantas dibuat ketika tangannya dipaksa menjauh. Apakah Tuan Shinku sedang dalam suasana hati yang buruk? Mungkinkah Ivy salah satu penyebabnya? Tenggelam dalam spekulasi sendiri, Ivy mendengus sebal. "Seharusnya tak perlu sok mandiri. Sekarang kau malah membuat Tuan Shinku kesal. Dasar Ivy!" Tangannya yang dikepal menjitak keningnya sendiri. ⠀⠀ "Aduh," Ivy mengaduh, mengusap tempat yang sama yang barusan dijitak. ⠀⠀ “Apa yang Anda lakukan?” Shinku menyipitkan matanya. Kepalanya tak bisa memproses apa yang baru saja Ivy perbuat. ⠀⠀ Di luar bus, keindahan wilayah Gion mulai terlihat. Beberapa rumah teh, kedai makan, dan orang-orang berlalu-lalang mulai visibel pada mata. Terutama ain milik Shinku yang saat ini jatuh pada salah satu rumah teh di sudut jalan; bangunan itu terlihat ramai seperti biasa. Sudah hampir enam bulan dirinya tak berkunjung ke sana. ⠀⠀ Ivy terperanjat. Secepat kilat ia menoleh pada asal suara; sebuah keajaiban otot lehernya tidak ada yang tetiba terkilir dan nyeri. "T-tidak," respons Ivy langsung. Ia dapat merasakan pipinya memanas akibat rasa malu. ⠀⠀ Astaga, Ivy! Bisa-bisanya! Irina pasti akan mati-matian menahan tawa apabila mengetahui kejadian ini nanti. Oh, kemungkinan lain, ia akan menghela napas dan menasehati Ivy 'tuk mengontrol diri. ⠀⠀ "Apakah perjalanannya masih jauh?" Topik lain diangkat. Anehnya, apa yang ditawarkan pemandangan di luar jendela sana belum sanggup menarik fokus Ivy dari pria di sampingnya. Dari tegasnya rahang pria itu, atau dari tatapnya yang terkadang menetap pada sesuatu lebih lama dari yang lain. Aaah. Ivy berani bertaruh, Bapa-nya menaruh banyak lebih ketika Dia memahat Kyokutei Shinku. ⠀⠀ “Hm,” Shinku mengalihkan pandangan pada jalan di depan, “itu halte,” ujarnya seraya merapikan topi. ⠀⠀ Bus yang digerakkan oleh Daisuke berhenti mulus. Pengalaman kerjanya terlihat jelas dari cara mengendarai; santun dan tak membuat penumpang menyumpah. Bahkan sebagian tertidur karena piawai kendara Daisuke. ⠀⠀ “Gion!” serunya nyaring, pintu bus terbuka otomatis. ⠀⠀ Pelajar yang duduk di belakang segera berlari keluar, disusul dua orang pekerja, dan Shinku. Atmosfer Gion memang magis. Suara tawa dari kedai dan alunan musik dan vokal wanita yang samar-samar menyapa di balik dinding rumah teh. Menakjubkan. ⠀⠀ “Kita harus berjalan tujuh menit untuk mencapai Matsuba Soba,” ujar Shinku begitu yakin. Ia memberikan kesan bahwa dirinya pernah dan sering ke rumah makan itu. ⠀⠀ "Harus memerhatikan jalan," pesan Ivy pada dirinya sendiri. Berjaga-jaga seandainya tiba waktu ketika ia harus menaiki transportasi umum seorang diri. ⠀⠀ Tubuhnya mundur sedikit ke belakang kala salah seorang penumpang berlari keluar setelah bus berhenti. Hati-hati,' peringatnya dalam hati. Membawa raga untuk yang kesekian kalinya mengekori yang lebih tinggi; butuh sekuat tenaga mengontrol diri supaya tidak melompat dan menjerit. Kyokutei Shinku dari belakang nampak begitu tegap dan gagah. Bahunya lebar. Dari depan, dadanya bidang. Berada dalam rengkuhannya—ASTAGA! IVY! ⠀⠀ Ivy Wei Rouge menepuk-nepuk pipinya pelan. Ia menggelengkan kepala, dan mengerjapkan mata. Demi Tuhan. Ia berlari kecil untuk menyamai langkah dengan pria yang sejak tadi membuat pikirannya tidak karuan. Melamun sebentar, si adam sudah terpaut beberapa langkah darinya. ⠀⠀ "Tuan Shinku," panggil Ivy, "tolong jalan pelan-pelan," pintanya tak bersalah. ⠀⠀ Permintaan Ivy diamini Shinku. Kedua kakinya melangkah lebih pelan dibandingkan sebelumnya. Tak rugi pun, ia benar-benar menikmati suasana Gion. Sepanjang perjalanan, si Kyokutei sibuk mengamati beberapa rumah teh. Matanya menelisik setiap pintu dan tatkala ada geiko yang keluar dari sana, Shinku segera membuang wajah ke sisi lain. Meski begitu, dalam kegelapan ainnya mengamati mereka satu per satu. Seperti tengah mencari seseorang. Ah, sudahlah. Mari lupakan itu. ⠀⠀ “Itu kedainya. Tampak penuh,” ujar Shinku seraya memiringkan kepalanya ke kanan agar mata dapat mengakses isi bangunan lebih dalam. ⠀⠀ “Selamat datang! Oh, oh! Kyokutei Shinku-san rupanya!” ⠀⠀ Seorang gadis berpakaian kimono keluar dari kedai. Di genggamannya terdapat nampan kecil berisikan wadah sake yang kosong. ⠀⠀ “Ayumi-san, apa kabar?” tanya Shinku, suaranya terdengar ramah. ⠀⠀ “Good, dong! Ingin makan? Masuk saja, ada meja kosong!” Ayumi tersenyum lebar. Dia adalah gadis yang penuh energi; matahari Gion, begitu mereka memanggilnya. ⠀⠀ “Eh,” Ayumi tersenyum saat menemukan Ivy, “bukan orang Jepang, ya? Oh, rekan bisnis? Selamat datang di toko kami!” serunya. ⠀⠀ “Ayumi-chan! Jangan berteriak seperti itu!” ⠀⠀ Duh, dimarahi lagi. Ayumi cemberut beberapa detik sebelum membukakan pintu ‘tuk Shinku dan Ivy. “Masuk, masuk!” ujarnya setengah berbisik. ㅤㅤSetelah itu hening datang. Selama kakinya melangkah, tangannya disembunyikan di dalam saku mantel. Cuaca kota Kyoto masih cukup dingin. Warna yang dominan irisnya tangkap adalah merah. Bersumber dari lampion yang digantung di depan toko-toko dan kedai sepanjang jalan. Bangunannya bergaya tradisional dan masih sangat terawat. Wujud nyata dari gambaran Negara Jepang yang Ivy bayangkan dua tahun lalu. ㅤㅤDeretan replika macam-macam soba menarik perhatian Ivy, bersamaan dengan bariton Shinku yang menyatakan sampainya mereka di tempat tujuan. ㅤㅤ"Ohㅡ" Ivy menghentikan kalimatnya ketika seorang gadis menyambut kedatangan mereka, mengenali Shinku pula. Netranya bergantian menatap Shinku dan si gadis yang barusan diketahui bernama Ayumi; terdengar cocok dengan perangainya yang ceria. ㅤㅤIvy tak berkomentar banyak dan sekadar mengulum senyum. Namun begitu, kedua alisnya menaut ketika Ayumi mengasumsikan dirinya sebagai rekan bisnis Shinku. Apakah Tuan Shinku sering berkunjung ke sini bersama rekan bisnisnya? Kebiasaan, Ivy memainkan mata kalungnya. Kenapa ia tiba-tiba merasa tak bergairah? ㅤㅤ"Meja untuk dua orang, sebelah sini," pandu Ayumi, mengantarkan mereka pada meja kosong di sudut ruangan. ㅤㅤIvy lagi-lagi mengedar pandang seolah semuanya adalah sesuatu yang belum pernah ia lihat. Bagian dalam kedai Matsuba Soba sungguh sederhana. Meja dan kursinya terbuat dari kayu yang mengilap saat terpapar cahaya lampu. Penataan meja hanya dibagi untuk dua atau empat orang. Mereka yang datang membawa lebih dari empat orang harus duduk terpisah atau menggabungkan beberapa meja menjadi satu; itupun kalau beruntung ada meja kosong yang letaknya bersebelahan. menarik perhatian Ivy adalah lukisan ikan koi di atas pintu masuk. Tanpa Ivy sadari, ia malah melamun untuk yang kesekian kali. ⠀⠀ “Nona cantik, suka lukisannya, ya?” Ayumi tersenyum lebar, matanya turut menatap lukisan tersebut. “Ini didapatkan oleh kakak saya. Dia bekerja sebagai geiko dan seorang tamu memberikannya.” ⠀⠀ Tak sampai sedetik Ayumi selesai berucap, Shinku menjentik jarinya. “Fokus, Ayumi-san,” katanya lalu memilih sebuah meja. ⠀⠀ “Ah, si Kyokutei.” ⠀⠀ Seorang pria berusia di enam puluhan menghentikan aktivitas memasaknya. Ia berkacak pinggang, menatap Shinku tajam. “Berani sekali kau datang kemari. Aku pikir kau sudah lupa dengan soba buatanku. Cih, menelepon saja tidak,” sinisnya. ⠀⠀ “Ayah, diamlah. Nanti tamumu berkurang,” sahut Ayumi. “Apakah kalian ingin memesan sekarang? Nona cantik, mau soba spesial kami?” ⠀⠀ Kedua manik gadis itu membulat sempurna. Rasanya bintang-bintang di langit kini ditaruh pada obsidian; Ayumi tampaknya menyukai Ivy. ⠀⠀ “Ayu-chan! Kau akan menakuti Nona itu!” peringat Nobu. ⠀⠀ Shinku hanya mengembuskan napas. Oh, Tuhan. ㅤㅤ"Aah." Ivy mengangguk-angguk paham. "Lukisannya indah," timpalnya kemudian. ㅤㅤNada sinis seorang laki-laki membuatnya menoleh dan menatap kaget. Sempat khawatir akan terjadi apa-apa. Oh, terima kasih, Bapa. Ternyata malah kebalikannya. Ivy terkekeh kecil. Fokusnya kembali ke Shinku, memberi tatapan yang seolah berkata, 'Tuan Shinku sangat terkenal.' ㅤㅤManik kembar itu kemudian jatuh pada gadis yang nampak begitu bersemangat. Energinya menular hingga Ivy pun tersenyum lebar. "Ayumi-san, namaku Ivy. Panggil Ivy saja!" katanya. ㅤㅤWanita kelahiran tahun 1997 itu lalu menarik kursinya dan duduk. Kepalanya sekali lagi mengangguk, "Eum! Tolong beri aku soba spesial milik kalian," putusnya langsung, bahkan tanpa melihat gambaran soba yang dimaksud. ⠀⠀ “Tentu!” Ayumi memainkan nampannya dan menggoyangkan tubuh ke kiri lalu ke kanan. “Dua soba spesial!” serunya kepada Nobu, sang ayah. ⠀⠀ “Air putih,” kata Shinku tanpa menatap Ayumi. ⠀⠀ “Oke! Bagaimana dengan Ivy-san?” ⠀⠀ Di dapur terbuka yang ramai, pesanan demi pesanan terus dihidangkan. Aroma sedap kuah soba dan menu lainnya melebur menjadi satu. Asap putih dan api pun terkadang terlihat; semuanya seperti atraksi. ㅤㅤHati hendak memesan teh dingin, tetapi diurung ketika mendengar pilihan Shinku. "Aku air putih juga," jawab Ivy sambil mengangkat jari telunjuknya. ㅤㅤ"Baiklah. Segera datang, mohon ditunggu!" balas Ayumi sebelum melenggang pergi 'tuk melanjutkan pekerjaannya. ㅤㅤSenyum simpul masih dicetak indah di bibir Ivy. Matanya yang tadi mengikuti pergerakan Ayumi kembali pada sosok di hadapan. Perasaan hangat tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam tubuh. ㅤㅤ"Nampaknya Tuan Shinku sudah sering datang ke sini," tebak Ivy. ⠀⠀ “Ya. Rekan-rekan bisnis saya senang ke Gion. Mereka menikmati hiburan rumah teh. Terkadang, saya mengajak mereka kemari juga.” Shinku memegang pinggiran meja. Terkadang ia mengelus permukaannya; tak ada debu di sana. Sesuai selera Shinku. ⠀⠀ "Begitu." Ivy mengangguk. Terjawab sudah rasa penasaran yang sebenarnya sederhana itu. "Ini kali pertama saya berkunjung ke sini, padahal tempatnya tidak begitu jauh dari hotel saya menginap," imbuhnya spontan. ⠀⠀ Bagaikan telah terbiasa bekerja cepat, Ayumi tiba-tiba muncul sembari meletakkan dua gelas kosong dan satu teko berisi air putih. “Ta-Da! Soba kalian akan menyusul, ya. Selamat makan.” ⠀⠀ Kedatangan Ayumi dengan minuman mereka dihadiahi sebuah ucapan terima kasih oleh Ivy. Dengan wajah girang dan penuh semangat yang mampu menular, gadis yang masih duduk di kelas dua sekolah menengah atas itu lalu tersenyum kepada mereka. ⠀⠀ “Permisi!” Ayumi melenggang menuju dapur tertutup. ⠀⠀ Kuasa Shinku mengangkat teko, membiarkan isinya mengaliri kedua gelas yang tersedia. Setelah selesai, ia menengok ke belakang lalu menatap Ivy. ⠀⠀ “Apakah Anda ingin mencuci tangan?” tanyanya. Ah, Shinku dan kebiasaan hidup bersihnya. ⠀⠀ Kalah cepat untuk meraih dan menuang air putih ke dalam gelas membuat Ivy mengerucutkan bibirnya selama sepersekian detik, yang kemudian terlupakan saat sebuah pertanyaan dilontar si laki-laki. ⠀⠀ Ivy melongok ke belakang bahu Shinku. "Mn. Apakah wastafelnya di sana?" tanyanya, mengacu pada salah satu tempat di belakang Shinku.
[tbc]
LADY LILITH BY ROSSETTI (RAW)
warning: the story contains explicit details of sexual activity, language, and violence. it might be disturbing/inappropriate for some readers. discretion is advised. cast: kyokutei shinku; ivy wei rouge; ammar al-gaddafi; madam lilith; andrew; mentioned: kyokutei zen; kyokutei asahi; yohannes words: 13,296 estimated reading time: 66 minutes, 28 seconds language: Indonesian
⠀⠀ 𝐃𝐈 𝐒𝐄𝐁𝐔𝐀𝐇 𝐋𝐎𝐊𝐀𝐒𝐈 𝐁𝐄𝐊𝐀𝐒 𝐆𝐄𝐃𝐔𝐍𝐆 industri di Kota Antwerp, Belgia, berdiri rumah bordil bernama Le Royaume Rouge sejak sepuluh tahun yang lalu. Pemiliknya adalah seorang 𝑀𝑎𝑑𝑎𝑚𝑒 berusia tiga puluh tujuh tahun bersama anak perempuan—angkat—nya yang baru menginjak awal dua puluh tahun. ⠀⠀ 𝐿𝑎𝑑𝑦 𝐿𝑖𝑙𝑖𝑡𝘩, begitu mereka memanggil si 𝑀𝑎𝑑𝑎𝑚𝑒, adalah seorang wanita yang penuh pesona, cerdas, dan memiliki kelasnya sendiri. Tak terhitung berapa banyak pria saling bertarung ‘tuk berada di satu ruangan yang sama bersamanya. Apa pun niatnya, berbincang, menikmati hidangan, atau saling memenuhi momen intim yang memacu gairah. ⠀⠀ Untuk yang terakhir, Lady Lilith, sudah tak menerimanya lagi. Alasannya kepada klien adalah ia merasa sudah cukup menghabiskan waktu malamnya dengan banyak cinta dan sedikit desahan yang menggoda. Sekitar lima tahun yang lalu, ia memutuskan untuk menurunkan gelarnya sebagai ‘Lady Lilith’ kepada putri angkatnya yang masih muda. Meski pun begitu, banyak hati ditemukan hancur karenanya. ⠀⠀ Bahkan setelah Lady Lilith yang pertama pensiun, dan memutuskan hanya menjadi Madam ‘tuk mengurus Le Royaume Rouge, beberapa pria yang penuh kekuasaan masih datang ke sana. Mereka minum, mengunjungi kasino, dan menonton pertunjukkan 𝑏𝑢𝑟𝑙𝑒𝑠𝑞𝑢𝑒 yang rutin dilaksanakan dua kali dalam seminggu. Dari sekian banyak jasa yang disediakan oleh Le Royaume Rouge, bisa dikatakan bahwa tempat ini bukan rumah bordil biasa. ⠀⠀ Le Royaume Rouge berada di posisi kedua sebagai industri seks legal terbesar di Belgia. Bersama dengan Villa Tinto dan Rue d’Amour, rumah bordir milik Madam Lilith ini menyumbangkan banyak uang bagi negara. ⠀⠀ Jika kau bertanya, apakah yang membedakan Le Royaume Rouge dengan dua kompetitor besarnya? Jawabannya adalah kekuatan wanita. Para pekerja di 𝑇𝘩𝑒 𝑅𝑜𝑢𝑔𝑒, begitu mereka menyebutnya secara sederhana, diajarkan untuk menjadi sosok intelektual menyerupai bunglon yang dapat masuk ke dalam status sosial apa pun. Mereka adalah simbol dari gairah, keindahan, dan kemampuan wanita ‘tuk meluluhkan hati pria; bukan ego mereka. ⠀⠀ “Kunci dari menaklukan seorang laki-laki ialah ketika kau bisa berbicara dalam bahasa mereka,” kata Madam Lilith mengutip mendiang Nelson Mandela. ⠀⠀ Madam Lilith mengimani ketika para pekerjanya pandai berbahasa, maka akan mudah bagi mereka untuk menyelami hati para klien. Terutama ketika pelanggan mereka adalah orang-orang dari berbagai latar belakang. ⠀⠀ Bekerja di The Rouge sama dengan sekolah. Setiap minggunya, Madam Lilith mengadakan kelas bahasa, psikologi, bisnis, dan menari. Mereka yang memutuskan mengikuti Madam Lilith harus mengikuti kelas-kelas yang ditentukan tanpa terkecuali. ⠀⠀ Bagi Madam Lilith, bisnisnya bukan hanya sekadar menjual seksualitas, dan kenikmatan semalam saja. Ada beberapa aspek yang harus dirinya perhatikan demi kesejahteraan para pekerjanya; para perempuan. Hal ini diterapkan Madam Lilith dengan harapan ketika mereka tak bersamanya lagi, setidaknya ada bekal yang bisa digunakan oleh mereka di tempat kerja selanjutnya. Baik itu rumah bordil lain atau ranah publik yang umum. ⠀⠀ “Lulusan The Rouge adalah wanita-wanita terpelajar yang bisa mengambil alih posisimu sebagai istri dalam waktu satu malam,” ujar Madam Lilith. ⠀⠀ Kendati demikian, Madam Lilith tak pernah mendoakan para istri kehilangan suami mereka. Perkataan itu hanya keluar ketika ia dan para pekerjanya direndahkan oleh orang-orang; tak jarang istri dari suami yang menghabiskan malam di The Rouge. ⠀⠀ Siapa pun diperkenankan datang ke The Rouge. Tidak peduli pekerjaanmu, orientasi seksualmu, dan siapa dirimu. Semuanya akan diterima dengan hangat jika mengikuti peraturan yang telah ditetapkan oleh Madam Lilith. Memiliki uang adalah esensial, tetapi, tahu bagaimana caranya menghormati wanita merupakan suatu kewajiban kalau kau hendak bermain kemari. ⠀⠀ Madam Lilith tentu memiliki ketakutan sendiri akan ancaman dan teror yang diterimanya. Walau begitu, ia tak menghiraukan hal tersebut terlalu serius. Setidaknya itu yang bisa dilakukan oleh Madam Lilith untuk memenuhi permintaan si Tuan, orang yang menyokongnya dan The Rouge sejak delapan tahun terakhir. ⠀⠀ Menjadi seorang simpanan bukan pekerjaan mudah. Apalagi Madam Lilith memiliki rasa cinta kepada si Tuan. Sesuatu yang diajarkannya kepada anak dan para pegawainya untuk dihindari. ⠀⠀ “Kukatakan kepadamu, jangan menjadi seperti diriku yang mau hidup di dalam duri bunga mawar. Aku tak bisa menuntut lebih atas dirinya. Tubuh dan setengah hatinya dimiliki oleh istrinya. Sedangkan aku hanya memiliki sisanya walau ia selalu bilang bahwa hatinya hanyalah untukku. Aku ini bisa memiliki segalanya, kecuali dia seutuhnya. Hidup di balik tirai kamar tidak untuk semua orang. Aku harap kau mengerti risikonya sebelum mengabdikan dirimu kepada satu orang.” ⠀⠀ Madam Lilith menyiah rambut anaknya yang pada waktu itu masih berusia sembilan belas tahun ke belakang telinga. Ia memandangi wajah gadis itu dengan saksama. ⠀⠀ “Kau begitu cantik, anakku. Bibirmu dan pipimu merona bagaikan bunga mawar yang baru saja merekah, rambut dan alismu hitam seperti malam, dan matamu berkilauan seperti bulan. Seseorang sepertimu tidak harus mengikuti jejakku. Aku memberikanmu pilihan. Dengan bantuan Tuan, The Rouge akan jauh lebih berkembang, dan aku bisa membiayai studimu kemana pun yang kau mau. Aku juga bisa membuka jalan untukmu jika kau ingin bekerja di perusahaan raksasa. Apa pun, anakku. Apa pun yang kau mau. Kau tidak perlu menjadi teman tidur orang untuk sejumlah uang. Cintailah seseorang tanpa beban. Kau tidak harus menderita.” ⠀⠀ Ivy tersenyum pilu kepada Madam Lilith. Wanita yang merawatnya sejak berusia tiga tahun itu masih terlihat menawan dan terasa hangat. ⠀⠀ “Madam,” Ivy menaruh tangan Madam Lilith pada pipinya, “ketika usiaku genap dua puluh tahun, aku akan memberikanmu jawaban. Ketika hari itu tiba, aku harap kau tidak menentang pilihanku,” katanya. ⠀⠀ Madam Lilith menghembuskan napas yang berat. Penentuan jalan hidup Ivy tidak sepenuhnya berada di tangannya sebagai seorang ibu. Bagaimana pun, Ivy bebas menentukan takdirnya bersama Tuhan. Ya, Madam Lilith masih percaya terhadap-Nya. Terlepas dari dosa-dosa yang ia perbuat hingga sekarang. Suatu ironi klasik yang akan sering kau temui di belahan negera Eropa. Khususnya mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan dan harus memberi makan keluarga. ⠀⠀ Ibu biologis Ivy adalah contoh lainnya yang harus melewati ironi itu. Awalnya, ia datang dari Cina dengan niat bekerja sebagai asisten rumah tangga melalui agen penyalur jasa tenaga kerja. Dua bulan bekerja, dirinya mendapatkan kekerasan seksual dari majikan pria, dan dipecat oleh istri bajingan itu. ⠀⠀ Wei Yuan, nama wanita malang tersebut, tak berani melaporkan kejadian yang dialami kepada agennya. Ia hanya menelan kegusaran si Pemilik agen dan terus bekerja di rumah baru. Namun, semakin lama, perut Wei Yuan semakin besar. Tuan dan Nyonya-nya akhirnya mengetahui kebenaran itu dan bersedia menampung Wei Yuan hingga masa kontrak enam bulan mereka berakhir. ⠀⠀ Wei Yuan tahu agennya tak akan menerima wanita hamil. Dugaan itu terbukti saat ia bertemu dengan agennya; mereka menolak untuk mempekerjakan Wei Yuan. ⠀⠀ Pulang ke kampung halaman bagi Wei Yuan bukan pilihan. Ayah dan ibunya hanyalah buruh yang bekerja di ladang jagung milik seorang saudagar yang baik hati. Apabila ia ke kampung dengan perut yang besar, Wei Yuan hanya akan memberikan rasa malu dan penghinaan untuk keluarganya yang miskin harta. ⠀⠀ Akhirnya, Wei Yuan menyewa sebuah unit apartemen tua yang terletak pada pinggiran Kota Brussels. Ia menempati kamar lima di lantai dua. Wei Yuan tak begitu mengenal para tetangganya. Dirinya tahu ada seorang wanita di kamar nomor empat yang selalu pulang ketika subuh dan pakaiannya selalu pendek; begitu kontras dengan dirinya yang konservatif. Meski begitu, tatkala mereka bertemu, orang itu selalu tersenyum hangat, dan menyapanya. Bahkan dirinya sering memberikan makanan di hari-hari tertentu. Menakjubkannya adalah makanan-makanan itu tampak dari restoran mahal. ⠀⠀ “Namaku Christine Marie. Senang mengenalmu, Wei Yuan. Kau sudah mengandung berapa bulan? Apakah kau sering memeriksa kandunganmu?” ⠀⠀ Datang dari desa yang dipenuhi keramahan dan keluguan, Wei Yuan cepat terbuka kepada Marie. Apalagi sosok wanita itu sangat menyenangkan dan luar biasa cerdas. ⠀⠀ “Aku pernah memiliki klien dari Cina dan banyak belajar bahasa Cina darinya. Makanya aku fasih berbahasa Cina! Kau tahu, ia adalah seorang pengusaha ....” ⠀⠀ Selain cerdas, cantik, dan pandai berbicara, Marie juga memiliki selera humor yang baik. Ia adalah epitome wanita dewasa yang baik. ⠀⠀ Namun, suatu malam, Wei Yuan menemukan wajah Marie dipenuhi memar, dan tubuhnya lemah. Dengan susah payah, Wei Yuan membawa Marie ke rumah sakit, dan di sana dirinya mengenal Marie lebih dalam. ⠀⠀ “Orang-orang memanggilku ‘Lilith’. Referensinya adalah lukisan ‘Lady Lilith’ yang dibuat oleh Dante Gabriel Rossetti. Ibuku menyukai lukisan itu karena menurutnya ‘Lady Lilith’ memberikan semangat feminisme ‘tuk para wanita mandiri seperti dirinya. Ah, ibuku yang malang. Ayahku meninggal di laut dan membuat ibuku menjadi janda muda. Berbekal kemampuan melukis dan menjahitnya, ibuku membuka kursus melukis serta jasa menjahit pakaian.” ⠀⠀ Marie menatap langit-langit kamar rumah sakit sembari mengingat masa lalu keluarganya. “Ia meninggal di usia tiga puluh tahun karena kanker payudara. Saat itu kami tidak memiliki uang yang cukup untuk membawanya berobat ke dokter. Ibu hanya mengandalkan tanaman herbal dan jasa dokter gratis dari pemerintah setiap satu minggu sekali. Ibu meninggal di dalam tidurnya ketika aku ingin membangunkan dirinya ‘tuk sarapan pagi bersama. Ibuku sangat cantik, Wei Yuan. Ia dikenal sebagai kembang desa yang pintar dan penuh hidup.” ⠀⠀ Wei Yuan menggenggam tangan Marie sembari mengusap air matanya sendiri. Ia mampu memahami sedikit kondisi hidup wanita itu sebab dirinya pun bukan berasal dari keluarga yang berada. Mereka harus berjuang setiap harinya agar memiliki nasi di meja makan. ⠀⠀ “Apakah ceritaku membosankan hingga membuatmu menangis?” tanya Marie. ⠀⠀ “Tentu tidak!” seru Wei Yuan. ⠀⠀ Marie tertawa lalu meringis. Ia lupa bukan hanya wajah tapi perutnya juga memiliki memar. ⠀⠀ “Ah, intinya aku merantau ke Brussels di usia muda lalu ditipu oleh seorang wanita yang suka merokok dan memiliki riasan tebal. Ia menjualku ke rumah bordil dan hingga saat ini aku bekerja di sana. Tentu saja aku memimpikan untuk segera bebas karena terkadang para klien adalah pria barbar yang kaya harta, tetapi, miskin etiket. Naasnya, rumah bordil tempatku bekerja tidak memiliki jaminan kesehatan dan keamanan untuk para pekerjanya.” ⠀⠀ “Itu sangat buruk.” ⠀⠀ “Sungguh buruk. Beberapa temanku meninggal karena kekerasan. Aku mengutuk tempat itu,” Marie menghela napas lalu menghembuskannya, “dan hari ini aku bebas darinya! Tentu dengan sedikit “oleh-oleh”. Tapi, Tuhan, ini lebih baik daripada terkurung di sana selamanya,” katanya bersemangat. ⠀⠀ Senyum Wei Yuan mengembang lebar. “Selamat! Apakah kau sudah memiliki pekerjaan baru?” ⠀⠀ “Iya! Aku akan membuka rumah bordilku sendiri. Tentunya dengan sistem yang jauh lebih baik. Aku akan menjadi seorang 𝑀𝑎𝑑𝑎𝑚𝑒 yang dihormati semua orang dan tak akan dipandang lemah.” ⠀⠀ Wei Yuan tidak tahu harus berkata apa. Ia tentu bukan seorang yang familiar dengan konsep dunia malam. Namun, dirinya meyakini Marie bukan orang yang jahat. ⠀⠀ “Aku akan mendukungmu, Marie,” katanya. ⠀⠀ Marie mengacungkan ibu jarinya kepada Wei Yuan. “Ngomong-ngomong, apakah kau masih bekerja di toko swalayan jelek itu?” ⠀⠀ Wei Yuan mengangguk. “Iya. Hanya tempat itu yang menerima wanita imigran hamil sepertiku,” ujarnya. ⠀⠀ “Jika kau mau, bekerjalah di tempatku. Aku membutuhkan seseorang untuk mengatur jadwal klien. Kau tidak usah jadi—kau tahu maksudku.” ⠀⠀ Wei Yuan terkekeh kecil sembari mengencangkan pegangan tangannya pada Marie. “Aku mengerti maksudmu dan aku bersedia. ⠀⠀ “Ah, Wei Yuan! Kau adalah juru selamatku!” ⠀⠀ Wei Yuan adalah benar-benar juru selamat bagi Marie; bahkan untuk waktu yang gelap, penuh darah, dan tragis. Tiga tahun The Rouge berjalan, Marie menjalin sebuah hubungan dengan seorang pebisnis asal Saudi Arabia. Hubungan seumur jagung itu diketahui oleh istri si Pengusaha dan ia mengirimkan orang ‘tuk memberikan peringatan kepada Marie. Sayangnya, hal itu cepat berubah menjadi kemalangan ketika peluru yang ditujukan pada lengan Marie dihalau Wei Yuan dan mengenai dada kirinya. Teriakkan penuh horor menggema di lantai bawah tanah tempat mobil para pengunjung The Rouge diparkirkan. ⠀⠀ Para suruhan yang keji melarikan diri dan Wei Yuan tewas di tengah perjalanan menuju rumah sakit. Ia meninggalkan Ivy Wei Rouge, anak tunggalnya, sebagai warisan untuk Marie. ⠀⠀ Kini, Ivy tumbuh sebagai gadis darah campuran yang menawan. Tutur kata, pola pikir, dan tingkah lakunya pun dibentuk sedemikian rupa oleh Madam Lilith agar menjadi wanita yang elegan dan bisa berjuang untuk dirinya sendiri. Ivy begitu menyerupainya ketika muda. Namun, ia tak bisa berdusta bahwa keluguan, sifat pemaaf, dan rendah hatinya seorang Ivy adalah genetik dari Wei Yuan. ⠀⠀ Wanita desa yang lugu yang hatinya sejernih mata air pegunungan. Begitu menyegarkan dan nyaman ‘tuk dipandang mata. Begitu kira-kira Madam Lilith memandang Wei Yuan. ⠀⠀ “Baiklah, sayang. Ah, dua hari lagi, Tuan Ammar akan datang, dan mengundangku untuk makan malam. Ia bilang dirinya datang bersama kawan dan memintaku untuk menanyakan apakah kau bersedia turut hadir? Sebab rasanya ia kurang nyaman jika hanya bertiga,” ucap Madam Lilith sembari merangkul kedua tangan Ivy di dalam miliknya. “Aku tidak bisa meminta bantuan Ella karena ia harus menjaga The Rouge ketika aku menemui Tuan Ammar.” ⠀⠀ Ivy mengangguk tanda mengerti. “Aku akan datang bersamamu.” ⠀⠀ “Terima kasih, Ivy-ku. Kau yang terbaik. Jika kau tidak memiliki gaun, maka belilah.” ⠀⠀ “Madam, aku punya banyak gaun untuk dipakai.” ⠀⠀ “O, Ivy. Mereka semua sudah lama dan jelek. Pergilah untuk membeli beberapa pakaian.” ⠀⠀ “Madam, pada akhirnya gaun-gaun itu tak akan aku pakai. Itu suatu pemborosan.” ⠀⠀ “Ivy, sayangku, anakku yang cantik hingga membuat putra dari seorang menteri rela berlutut di hadapanmu, seorang wanita tidak bisa hanya memiliki beberapa lembar baju. Serupa dengan kosmetik dan perhiasan.” ⠀⠀ Ivy terkekeh sembari memandangi Madam Lilith yang mulai berdiri. “Aku memiliki sepuluh gaun, Madam.” ⠀⠀ “Masih beberapa. Belanjalah bersama Harvey atau Zurie. Mereka memiliki selera mode yang bagus. Aku pergi dulu, sayang. Jangan sampai aku melihatmu menggunakan gaun jelek di hari itu.” ⠀⠀ Madam Lilith mengecup pipi Ivy kemudian pergi dari kamar sang gadis. Ia melangkah keluar dari rumah ‘tuk pergi menuju The Rouge. ⠀⠀ Ivy bergegas keluar menuju balkon kamarnya dan melambaikan tangan ke arah Madam Lilith. Lambaian itu dibalas Madam Lilith dengan sebuah kecupan tangan sebelum ia masuk ke dalam mobil. ⠀⠀ Ketika kendaraan Madam Lilith telah menjauh, Ivy kembali masuk ke dalam kamarnya dan memegang kalung salib kecil yang bergelantung pada lehernya. Ia menutup mata dan berdoa agar Madam Lilith, ibunya, diberikan keselamatan di tempat kerja hari ini. ⠀⠀ Hari kedatangan Tuan Ammar yang telah dinantikan oleh Madam Lilith akhirnya tiba. Pada pukul empat sore, wanita itu terlihat sibuk membetulkan anting yang digunakannya agar terlihat indah pada telinga. ⠀⠀ “Ivy, sayangku, apakah kau sudah selesai berpakaian?” tanya Madam Lilith sedikit nyaring dari lantai bawah. ⠀⠀ Suara Madam Lilith membuat Ivy bergegas turun dari kamarnya. Terlihat ia memegangi gaun berwarna krim yang menampakkan keindahan bahu dan kalung salib pada leher yang jenjang. ⠀⠀ “Oh, Ivy. Astaga, kau sangat cantik,” ucap Madam Lilith sembari memegangi kedua lengan anak gadisnya lalu menyelesik gaun yang tampak sempurna di tubuh si Rouge muda. ⠀⠀ Ivy tersenyum lebar dan tangannya mengusap beberapa bagian hasil rancangan Dolce dan Gabbana yang melekat di tubuhnya. “Harvey berkata baju ini akan membuat kulitku terlihat lebih cerah.” ⠀⠀ “Dan Harvey tidak pernah salah mengenai mode. Apa yang aku bilang? Jika kau hendak berbelanja pakaian, maka ajaklah Harvey bersamamu. Anak itu akan menjadi seorang penata gaya yang luar biasa,” kata Madam Lilith. ⠀⠀ “Oh, Madam, aku jadi teringat Harvey akan melanjutkan studinya di London. Ini akan sulit bagiku untuk menemukan orang yang dapat memberikanku pandangan mengenai gaya busana dan tempat berbagi cerita.” ⠀⠀ “Ah, sayang. Kau bisa mengunjungi Harvey kapan saja di London. Aku akan memberikanmu izin untuk bertemu dengannya.” ⠀⠀ “Bukan seperti itu, Madam. Aku tidak ingin mengganggunya ketika belajar. Sepertinya aku harus melanjutkan kuliahku ke jenjang berikutnya sebagai pengalihan emosi.” ⠀⠀ Madam Lilith memandu Ivy ‘tuk melangkah bersamanya keluar dari rumah. Perbincangan mereka bisa dilanjutkan di dalam mobil sebagai pembunuh waktu. ⠀⠀ “Apakah kau sudah memutuskan subjek apa yang akan kau pelajari, sayang?” ⠀⠀ Kedua tangan Ivy beristirahat di atas paha Madam Lilith. Ekspresi wajahnya berbinar dengan harapan. ⠀⠀ “Aku mengambil psikologi untuk gelar pertamaku. Rasanya aku ingin meneruskan hal itu pada studi master,” ujarnya. ⠀⠀ “Linier? Pilihan yang bagus. Apakah kau akan terus berada di Belgia atau ingin merantau di tempat lain?” ⠀⠀ “Itu masalahnya. Aku belum memiliki penglihatan mengenai universitasnya. Aku tidak ingin berada terlalu jauh dari Madam dan The Rouge. Sepanjang hidupku, sepertinya belum pernah aku pergi dari negara ini. Hm, aku ingin berpetualang, Madam. Namun, dorongan itu belum terlalu kuat.” ⠀⠀ Madam Lilith mengelus rambut panjang milik Ivy sambil tersenyum. “Ambilah waktumu, Ivy. Aku akan selalu mendukungmu. Kau tahu itu, ‘kan?” ⠀⠀ “Sangat, Madam. Oleh karena itu, aku tidak ingin mengecewakanmu.” ⠀⠀ “Kau tidak pernah membuatku kecewa, Ivy. Kau adalah gadis yang pandai dan sangat peduli dengan lingkunganmu. Aku ingat kau selalu bilang bahwa suatu hari nanti akan dibangun sebuah yayasan untuk perempuan dan anak-anak di Belgia di mana kau menjadi penemunya. Kau mengatakan itu ketika masih kecil dan hingga sekarang, kau berperan aktif di komunitas bagi mereka yang membutuhkan. Ivy, kau adalah yang terbaik.” ⠀⠀ Perkataan Madam Lilith membuat kedua bahu Ivy terangkat dan senyum lebar merekah pada wajahnya. Gadis itu merasa hangat dan diberkahi karena dirawat dengan baik oleh seorang wanita penuh cinta seperti Madam Lilith. ⠀⠀ Di atap sebuah restoran berbintang lima, Ammar Al-Gaddafi duduk sembari menikmati pemandangan sore menjelang malam Kota Antewrp dari atas. Matanya yang berwarna kehijauan terlihat berkilau tatkala sinar matahari melewati manik indah yang diturunkan oleh ayahnya. ⠀⠀ “Kota ini begitu estetis. Banyak misteri dan keanggunan di dalamnya,” kata Tuan Ammar. ⠀⠀ ”Ini adalah pertama kalinya saya ke sini dan bisa saya bilang Antewrp. Saya juga dengar mereka akan menjadi salah satu kota yang terdepan dalam perihal mode. Saya cukup mengagumi karya Olivier Theyskens di Rochas.” ⠀⠀ Tuan Ammar memberikan anggukkan lemah. “Pandangan Theyskens mengenai romantisme berjalan lurus dengan konsep yang diusung oleh Rochas. Bisa kubilang dia adalah seorang genius.” ⠀⠀ “Ketika orang-orang berlomba membuat suatu inovasi yang tak bisa dipakai di kehidupan sehari-hari, Theyskens memberikan kenyataan.” ⠀⠀ “Kau sepertinya punya perhatian khusus kepada Theyskens, Shinku,” kata Ammar sebelum menyeruput kopinya. ⠀⠀ Kyokutei Shinku, seorang pria yang hampir berusia di pertengahan dua puluh tahun, tersenyum mendengar perkataan Tuan Ammar. “Mode adalah industri yang akan terus hidup, Tuan Ammar. Berapa triliun yang dihasilkan industri itu setiap hari, bulan, dan tahunnya? Saya sedang melakukan riset pribadi.” ⠀⠀ “Apakah kau ingin menjelajah ke dunia mode?” ⠀⠀ “Sebagai investor, mungkin.” ⠀⠀ “Aku pikir kau sudah melakukannya?” ⠀⠀ “Belum, Tuan Ammar. Saya masih memilih tempat yang tepat.” ⠀⠀ “Kau selalu penuh pertimbangan logika dan emosional, Shinku.” ⠀⠀ Tuan Ammar tertawa hingga keriputnya terlihat. ⠀⠀ “Begitulah. Anda mengenal saya sejak remaja. Saya tidak perlu berpura-pura di hadapan Anda,” kata Shinku sambil merapikan jaket jasnya. ⠀⠀ “Kau mengingatkanku kepada Nona Karen dan Tuan Asahi.” ⠀⠀ “Saya mendengar banyak mengenai itu.” ⠀⠀ Tuan Ammar menghembuskan napas. “Shinku, apakah kau serius tidak ingin mencari tahu mengenai ayahmu?” ⠀⠀ Pertanyaan tersebut membuat Shinku mengalihkan pandangan. “Tuan Ammar, begitu mengejutkan,” ujarnya. ⠀⠀ “Mungkin karena aku adalah seorang ayah dan sudah tua. Sedikit konservatif pula; aku ingin tahu apa yang kau rasakan.” ⠀⠀ “Saya ini tidak merasakan apa-apa mengenai hal itu. Maksud saya, bahkan ketika kami bertemu, saya yakin tidak akan ada yang berubah.” ⠀⠀ Tuan Ammar tersenyum tipis. Sesuatu di wajahnya mengatakan ia mengetahui hal yang Shinku tak ketahui. Namun, ia lekas berlanjut pada topik lain. ⠀⠀ “Sepertinya Marie telah tiba.” ⠀⠀ Shinku melirik ke arah jam tangannya kemudian berdiri membeo Tuan Ammar. Mata mereka di arahkan pada lift yang sebentar lagi akan terbuka. ⠀⠀ “Madam, aku gugup,” kata Ivy di dalam lift. ⠀⠀ “Apakah kau salah makan?” ⠀⠀ “Tidak sama sekali. Aku menyantap hidangan kesukaanku siang ini.” ⠀⠀ ”Lalu kenapa, sayang?” ⠀⠀ “Entahlah, Madam. Bertemu dengan Tuan Ammar selalu membuatku gugup.” ⠀⠀ “Ah, Ivy. Kau sudah mengenalnya lama. Anggap saja ia seperti Paman Willson.” ⠀⠀ “O, Tuhan, tidak, Madam. Mereka berbeda,” kata Ivy sembari meremas kedua tangannya. ⠀⠀ Madam Lilith tertawa kemudian merapikan postur tubuh Ivy. “Angkat dagumu dan melangkahlah. Kita sudah tiba.” ⠀⠀ Madam Lilith menaikkan wajahnya dan berjalan penuh percaya diri menuju Tuan Ammar. Ia juga tak lupa memberikan pandangan santun kepada Shinku sembari tersenyum. ⠀⠀ Di belakang, Ivy membuat langkah kecil yang malu. Ia tak berani menatap kedua pria di sana dan hanya melihat pada sepatu mereka saja. Dari bentuknya, Ivy tahu yang mana milik si Tuan Ammar dan yang bukan. ⠀⠀ “Ivy, jangan menunduk di hadapan tamu,” ujar Madam Lilith. ⠀⠀ Tuan Ammar tersenyum. ⠀⠀ “Jangan terlalu memaksa Ivy. Ia butuh waktu,” katanya. ⠀⠀ Madam Lilith hanya bisa tersenyum sembari menggenggam tas Hermesnya. ⠀⠀ “Biarkan aku menarik kursi untukmu.” ⠀⠀ Tuan Ammar menyiapkan kursi untuk Madam Lilith kemudian mengecup punggung tangan wanita itu dengan lembut. Sudah hampir empat bulan sejak mereka bertemu dan Tuan Ammar rasanya ingin meledakkan segala jenis perasaan di dalam dadanya. Namun, ia harus bersabar. ⠀⠀ Pemandangan itu membuat Shinku tersenyum tipis. Ia tahu Tuan Ammar telah memiliki istri; anak mereka bahkan adalah kawan Shinku. Ini semua merupakan rahasia keluarga yang enggan diintervensi oleh Shinku. ⠀⠀ “Silakan duduk,” katanya ketika menarik kursi untuk Ivy. ⠀⠀ “A-ah, itu, terima kasih,” ujar Ivy seraya duduk. ⠀⠀ “Golce dan Gabbana adalah pilihan yang tepat hari ini.” ⠀⠀ Shinku melirik Ivy, tersenyum, lalu kembali ke tempatnya. Hal itu membuat jantung Ivy berdegup sungguh cepat dan membuat kedua pipinya panas. Matanya masih enggan menatap sosok Shinku dan Tuan Ammar. ⠀⠀ Makan malam mereka dipenuhi dialog seputar bisnis, politik, dan mode. Terkadang, Tuan Ammar melontarkan guyonan kepada Madam Lilith, dan dibalas dengan cerdas. Shinku menikmati interaksi mereka. Dari sudut pandangnya, mereka telrihat seperti belahan jiwa yang melengkapi satu sama lain. Ironis, batinnya. ⠀⠀ “Apakah kau ingin berdansa?” tawar Tuan Ammar sambil meminta tangan Madam Lilith. ⠀⠀ ”Dengan senang hati.” ⠀⠀ Kedua insan itu mengikuti irama musik lambat yang dimainkan oleh beberapa musisi secara langsung. Beberapa kali Tuan Ammar membisikkan sesuatu kepada Madam Lilith yang membuat mereka tertawa. Di beberapa momen, mereka saling menatap satu sama lain, dan tak berkata apa pun. ⠀⠀ Ivy melihat adegan itu sembari mengunyah kentang tumbuknya. Ia begitu tenggelam dalam menonton sehingga tak sadar Shinku sedang memperhatikan dirinya. ⠀⠀ “Anda memiliki kentang di sudut bibir.” ⠀⠀ Informasi dari Shinku membuat Ivy terkejut dan tak sengaja menumpahkan anggur merah pada bagian bawah gaun. Tangan Ivy secara otomatis mengambil kain makan dan membersihkan noda anggur. Tapi, tak ada yang berubah. Ia panik. ⠀⠀ “Andaharus menggunakan air,” kata Shinku tiba-tiba sudah berlutut di hadapan Ivy sembari menuangkan air putih pada kain makan. ⠀⠀ Adam Kyokutei itu membersihkan tumpahan anggur merah pada gaun Ivy penuh hati-hati. Mungkin ada dua menit hingga Shinku memutuskan untuk berdiri. ⠀⠀ “Jangan lupa untuk mencucinya.” ⠀⠀ Ivy memandangi wajah Shinku dengan saksama. Ia sedikit tertegun dan tidak menyangka bahwa kawan Tuan Ammar adalah seorang pria muda. Dipikirnya orang di depannya ini seumuran dengan Tuan Ammar; ternyata tidak seperti itu. ⠀⠀ “Ada apa? Anda ingin berdansa juga?” ⠀⠀ “Eh? Oh ... tidak ... saya ... bukan,” kata Ivy sembari menggelengkan kepala. ⠀⠀ Meski Ivy berkata demikian, Shinku sudah menawarkan tangannya. Sedikit ragu, si Rouge muda menyambut tangan itu. ⠀⠀ “Lihat siapa yang bergabung,” kata Tuan Ammar ketika melihat Shinku dan Ivy berdiri tak begitu jauh dari mereka. ⠀⠀ “Oh, Tuhan. Ivy tampak sangat canggung,” timpal Madam Lilith. ⠀⠀ Penglihatan wanita asli Belgia itu tepat. Ivy tidak tahu harus meletakkan tangannya di mana sehingga membuat suasana agak canggung. ⠀⠀ “Saya tidak pernah berdansa,” katanya. ⠀⠀ “Bahkan di 𝑝𝑟𝑜𝑚 𝑛𝑖𝑔𝘩𝑡?” ⠀⠀ Shinku memandu kedua tangan Ivy untuk menempati bahunya. ⠀⠀ “Iya, saya tidak pergi ke 𝑝𝑟𝑜𝑚.” ⠀⠀ Ivy melirik ke arah tangannya dan mencoba mengatur napasnya. Ia tak ingin membuat Madam Lilith malu karena sikapnya. ⠀⠀ “Saya juga,” kata Shinku sembari menaruh kedua tangannya pada pinggang Ivy. “Saat itu aku bekerja.” ⠀⠀ Si Rouge muda sedikit terkejut atas sentuhan itu. “Oh, bekerja? Anda sudah bekerja sejak umur semuda itu?” ⠀⠀ “Ya, begitulah,” ujar Shinku. “Sedikit waktu untuk belajar mengenai tanggung jawab besar.” ⠀⠀ Kini Ivy memandangi wajah pria itu cukup berani. Di atas mereka terlukis gerombolan awan abu yang tak begitu kentara karena langit hitam. Hanya karena berkat sinar rembulanlah awan-awan itu dapat terlihat. Perlahan cahayanya menyoroti mereka; Ivy kehilangan napasnya ‘tuk beberapa detik. ⠀⠀ “𝙏𝙪 𝙚𝙨 𝙩𝙚𝙡𝙡𝙚𝙢𝙚𝙣𝙩 𝙗𝙚𝙡𝙡𝙚 𝙦𝙪𝙚 𝙡𝙚𝙨 𝙥𝙖𝙥𝙞𝙡𝙡𝙤𝙣𝙨 𝙚𝙣 𝙥𝙖̂𝙡𝙞𝙨𝙨𝙚𝙣𝙩.” ⠀⠀ “𝙌𝙪𝙚 𝙫𝙤𝙪𝙡𝙚𝙯-𝙫𝙤𝙪𝙨 𝙙𝙞𝙧𝙚?” ⠀⠀ “𝙅𝙚 𝙨𝙪𝙞𝙨 𝙙𝙚́𝙨𝙤𝙡𝙚́𝙚. Saya sedikit melamun,” kata Ivy sembari menggelengkan kepalanya. ⠀⠀ Shinku tertawa kecil. Gelagat gadis itu begitu lugu dan menghibur. Tak banyak dirinya temukan orang-orang seperti Nona Rouge ini di sekitarnya. ⠀⠀ Sementara itu, Ivy hanya bisa menunduk, dan berharap perilakunya tidak akan merugikan Madam Lilith di kemudian hari. Oh, Tuhan, ini sungguh bodoh, batinnya. Ia memang tak sering bertatap dengan laki-laki. Ivy menghindari hal itu karena Madam Lilith sering memperingatkannya agar tak gegabah ketika bertemu lawan jenis. Hanya Harvey yang diperbolehkan berada dalam jarak pribadi bersamanya. ⠀⠀ “Apakah Anda ingin duduk?” tanya Shinku. ⠀⠀ “Oh, saya akan mengikuti Anda saja, Tuan Shinku.” ⠀⠀ “Kalau begitu mari kita duduk.” ⠀⠀ Shinku melepaskan tangannya dari pinggang Ivy dan itu menghilangkan perasaan hangat disekujur tubuh sang gadis. Semilir angin malam kini baru dirasakannya berembus membelai diri. Ivy refleks memeluki badannya hingga ia duduk pada kursi. ⠀⠀ Tak seberapa lama hawa dingin itu dirasakannya, sebuah kain—bukan—jaket jas yang familiar menutupi seluruh raganya. Aroma bunga mawar yang tak begitu feminin merasuk ke dalam hidungnya. Seketika dirinya tersadar pakaian itu adalah milik Shinku. ⠀⠀ “Terima kasih,” kata Ivy sembari menatap si Kyokutei yang sudah duduk manis di kursinya. ⠀⠀ Pria itu tak menjawab, tetapi, ia tersenyum. Gelas anggurnya kemudian diangkat dan isinya diteguk habis dalam sekali gerakkan. Ivy berpikir bahwa orang di sana memang bukan tipe yang suka berbicara banyak—mungkin. ⠀⠀ “Apakah malam ini menyenangkan, Shinku?” ⠀⠀ Tuan Ammar menarik kursinya lalu duduk. ⠀⠀ “Sangat menyenangkan, Tuan Ammar. Terima kasih atas undangannya. Saya menikmati malam ini.” ⠀⠀ “Aku senang mendengarnya. Omong-omong, aku berkata kepada Madam Lilith bahwa kita akan pergi ke Heiken untuk berkemah besok. Madam Lilith tertarik untuk ikut, apakah tidak masalah, Shinku?” ⠀⠀ “Tuan Ammar, saya tidak keberataan. Semakin ramai maka akan semakin seru.” ⠀⠀ “Kalau begitu, besok pagi sekitar jam enam, kami akan menjemput kalian,” kata Tuan Ammar menatap ke arah Madam Lilith dan Ivy. ⠀⠀ “Kami akan menunggu kedatangan kalian. Berkemah selama sehari di hutan akan menjadi suatu penyegaran yang baik. Benar, Ivy?” tanya Madam Lilith. ⠀⠀ Ivy mengangguk kikuk. Ia tak tahu harus berkata apa. Menolak rasanya bukan pilihan ketika yang meminta adalah Tuan Ammar. ⠀⠀ Esok paginya, Madam Lilith menaruh dua tas bermerek Louis Vuitton di depan pintu rumah; miliknya dan milik Ivy. Tas tersebut terlihat seperti akan meledak karena terlalu penuh barang. Setidaknya terdapat pakaian, peralatan rias, perlengkapan mandi, dan alat elektronik untuk rambut. ⠀⠀ Sebuah mobil berjenis SUV keluaran Tesla berkendara memasukki kediaman Rouge dan berhenti tepat di depan pintu rumah. Tuan Ammar keluar dari sisi pengendara dengan pakaian yang santai, tetapi, masih menunjukkan wibawa. ⠀⠀ “Selamat pagi, Marie,” bisiknya sembari mengecup pipi Madam Lilith. ⠀⠀ “Selamat pagi. Kau terlihat bersemangat.” ⠀⠀ “Aku tidak sabar ingin bersantai di Heiken. Di mana Ivy?” ⠀⠀ Madam Lilith menengok ke dalam rumahnya. “Ah, gadis itu. Tadi dia sudah bangun dan sudah berpakaian. Mungkin ada sesuatu yang sedang dicarinya. Biarkan aku memeriksa Ivy.” ⠀⠀ Tuan Ammar kini berdiri sendirian di depan pintu. Namun, Shinku segera bergabung dengannya sembari mengangkat dua tas. ⠀⠀ “Oh, Shinku. Kau tidak perlu melakukannya,” kata Tuan Ammar. ⠀⠀ “Santai saja, Tuan Ammar,” sahut Shinku sembari tersenyum. Ia lalu memasukkan kedua barang itu ke dalam bagasi mobil. ⠀⠀ ”Rupanya Ivy sedang di kamar mandi dan akan segera turun,” kata Madam Lilith. Jalannya sedikit terburu-buru. ⠀⠀ “Kita bisa menunggu. Perjalanan menuju Waterloo tak begitu jauh.” ⠀⠀“Maafkan aku.” ⠀⠀ “Kau tidak perlu meminta maaf, Marie. Ini adalah liburan. Rileks sedikit!” ⠀⠀ Tuan Ammar terkekeh, lalu memeluk Madam Lilith. ⠀⠀ “Oh, saya tidak melihat ada Tuan Shinku! Ini memalukan.” ⠀⠀ Madam Lilith segera mendorong tubuh Tuan Ammar. ⠀⠀ “Madam, saya tidak keberatan.” ⠀⠀ “Diberkatilah Anda dengan segala kemurahan hati yang Anda miliki.” ⠀⠀ “Amin,” kata Shinku, membalas humor dari Madam Lilith sembari tersenyum. ⠀⠀ Suara langkah kaki cepat menggema dari dalam rumah. Ivy merapikan rambut dan pakaiannya sejenak sebelum sepenuhnya menunjukkan batang hidung. Terkutuklah saus lada hitam yang ia santap kemarin malam. Perutnya menjadi manja hari ini. ⠀⠀ “Maaf membuat Anda semua menunggu,” kata Ivy, kedua pipinya merona. ⠀⠀ “Tidak masalah, Ivy. Apakah kau sudah siap ‘tuk pergi?” tanya Tuan Ammar. ⠀⠀ “Seratus persen siap, Tuan Ammar.” ⠀⠀ “Syukurlah. Apakah kau tidak keberatan jika aku duduk bersama Ibumu di depan?” ⠀⠀ Ivy melirik ke arah Madam Lilith lalu sedikit mencuri pandang kepada Shinku yang sedang bersandar pada tubuh mobil. Satu set pakaian dari Polo berwarna putih dengan aksen merah pada hem, sepatu olah raga dengan nada yang sama, dan kacamata hitam terlihat sempurna di dirinya. ⠀⠀ “Iya, saya tidak apa-apa.” ⠀⠀ “Well, mari kita masuk ke dalam mobil?” ⠀⠀ Tuan Ammar membuka pintu untuk Madam Lilith; Shinku pun melakukan hal yang sama bagi Ivy. Tak seberapa lama, mobil itu berangkat menuju Waterloo, di mana perkemahan Heiken berada. ⠀⠀ Selama di perjalanan, Tuan Ammar dan Madam Lilith berbincang seru. Mereka terkadang bernyanyi menikmati tembang yang diputar, dan beberapa kali melemparkan candaan kepada satu sama lain. Di beberapa situasi, Tuan Ammar menggoda Shinku mengenai masa kecilnya. ⠀⠀ Shinku menimpali setiap gurauan yang ditujukan kepadanya dengan gaya santai. Ia tak memikirkan hal tersebut begitu dalam. Banyak waktu dirinya diam karena memeriksa informasi terbaru perusahaan yang diberikan oleh Watanabe Azuma. ⠀⠀Di sebelah Shinku, Ivy memainkan lipatan roknya sambil mencuri-curi pandang. Jika kegiatan ini menghasilkan uang, maka Ivy bisa mendapatkan harta yang lumayan besar. Ada sesuatu dari Shinku yang membuatnya penasaran. ⠀⠀ Rupanya perilaku Ivy itu diketahui oleh Shinku. Ia pun memutuskan menyimpan ponselnya dan menolehkan kepala untuk menatap Ivy. Terang saja, gadis itu segera menjadi merah padam, dan membuang wajah ke arah jendela. Shinku tertawa tanpa suara. Ia sebenarnya tak keberatan jika Ivy hendak memulai obrolan. ⠀⠀ “Anak-anak, kita sudah sampai,” kata Tuan Ammar dan memarkirkan mobil tepat di depan sebuah rumah yang terbuat dari kayu. ⠀⠀ Shinku segera turun, mencermati tempat tinggal itu, dan melihat ke area sekitar. Ini sungguh menakjubkan, batinnya. ⠀⠀ “Keren, ‘kan?” tanya Tuan Ammar sembari mengeluarkan barang-barang dari mobil. ⠀⠀ “Anda tampaknya sering menghabiskan waktu di sini, Tuan Ammar,” ujar Shinku. ⠀⠀ “Terkadang aku membawa mitra bisnis kemari. Setidaknya lima belas orang bisa tinggal di sini. Ada empat kamar di bawah dan tiga kamar di lantai dua.” ⠀⠀ “Kita bahkan memiliki lapangan golf kecil.” ⠀⠀ Shinku membawa tasnya dan dua tas milik para Rouge. ⠀⠀ “Kau ingin bergolf, anak muda?” ⠀⠀ “Tentu saja. Apakah ada peralatannya?” ⠀⠀ “Seingatku di dalam gudang di bawah tangga. Mari bermain setelah meletakkan barang-barang kita.” ⠀⠀ Mereka berempat masuk ke dalam rumah kemah dan menempati kamar masing-masing. Shinku dan Ivy di atas; Tuan Ammar dan Madam Lilith di bawah. Orang tua tidak sanggup menaikki tangga, begitu kata mereka. ⠀⠀ “Shinku, anginnya sangat bagus,” ucap Tuan Ammar sembari menaruh bola golf. ⠀⠀ “Apakah Anda akan mencetak banyak skor, Pak Tua?” ⠀⠀ “Oh, aku ini jago bergolf. Bahkan kakekmu mengakuinya.” ⠀⠀ Shinku tertawa, lalu memegang tongkat golf miliknya. ⠀⠀ Di dalam rumah, Madam Lilith membuat minuman, dan makanan untuk mereka berempat. Ivy pun turut membantu seraya memandangi kedua pria di sana dari balik jendela. ⠀⠀ “Sayang, kau belum memasukkan jus jeruknya ke dalam gelas,” kata Madam Lilith. ⠀⠀ “Astaga!” ⠀⠀ Ivy segera menuangkan cairan jus ke dalam empat gelas di depannya. Ia kemudian menata beberapa kue di atas piring. ⠀⠀ “Ivy, apakah kau sakit? Kau terlihat tak fokus hari ini.” ⠀⠀ “Tidak, Madam. Aku baik-baik saja. Mungkin aku terlalu menikmati pemandangan Heiken.” ⠀⠀ “Betul juga. Ini pertama kalinya kau mengunjungi perkemahan ini.” ⠀⠀ Ivy mengangguk. “Apakah aku harus membawa kudapan ringan keluar?” ⠀⠀ “Iya, sayang. Terima kasih.” ⠀⠀ Tanpa melunturkan senyumnya, Ivy membawa kue dan jus jeruk keluar rumah. Ia mendekati meja panjang di dekat lapangan golf lalu menyajikan mereka di permukaan bidang datar itu. ⠀⠀ “Oh, Ivy. Kau tidak perlu repot.” ⠀⠀ “Tidak masalah, Tuan Ammar. Makanan akan segera siap. Aku akan membantu Madam lagi,” ucap Ivy sebelum bergegas ke dalam rumah. ⠀⠀ “Pak Tua Ammar, saya tertinggal empat skor dari Anda.” ⠀⠀ Tuan Ammar menoleh ke arah bola golf. “Shinku, kau harus mengontrol energimu. Kau bisa membunuh seseorang dengan kekuatan sebesar itu.” ⠀⠀ “Itulah tujuannya,” kata Shinku sembari menaruh tongkat golf ke dalam tas. ⠀⠀ Tuan Ammar tersenyum dan melakukan hal yang sama. Mereka sepakat untuk duduk setelah hampir dua jam berdiri. ⠀⠀ “Besok kau akan bertemu dengan Yohannes?” tanya Tuan Ammar. ⠀⠀ Shinku mengusap dagunya. “Iya. Saya harus memeriksa berkas salinan mengenai perjalanan senjata api milik Peter. Mereka bermasalah di tempat tujuan.” ⠀⠀ “Bukankah sepupumu yang ada di Jerman bisa membantu?” ⠀⠀ Shinku meletakkan gelas kemudian membetulkan kacamata hitamnya. “Saya sudah menemuinya sebelum kemari. Dia akan mengurus sisanya setelah saya kembali ke Jepang.” ⠀⠀ “Bagaimana keadaan Peter?” ⠀⠀ “Masih belum sadarkan diri. Sepertinya orang yang menyerangnya memberikan luka dalam di otaknya. Wilayah Eropa bukan kuasa saya, tetapi, Zen tidak tahu harus berbuat apa. Para komisaris mulai mengendus sesuatu yang salah di perusahaan.” ⠀⠀ “Itulah sebabnya Asahi menyuruhmu untuk membantu Zen,” kata Tuan Ammar. ⠀⠀ “Iya. Namun, saya pun tidak bisa berbuat banyak. Tugas utama saya adalah menenangkan Zen dan memasukkan sedikit logika ke dalam otaknya. Saya yakin setelah itu ia bisa mengatasi masalah ini.” ⠀⠀ “Kakekmu merupakan Kyokutei sejati.” ⠀⠀ Shinku menyeringai tipis. “Begitulah.” ⠀⠀ “Apakah ada yang memesan kalkun?” ⠀⠀ Madam Lilith membawa satu piring kalkun dan beberapa sayuran panggang. Disajikannya makan siang utama mereka itu di tengah meja. ⠀⠀ “Luar biasa, Marie. Kau telah bekerja keras.” ⠀⠀ Tuan Ammar mengusap punggung Madam Lilith sebagai bentuk apresiasi. ⠀⠀ “Aku harap kalian tidak meinggalkan sisa!” ⠀⠀ “Kami adalah pria dewasa yang butuh asupan besar. Percayakan semuanya kepada kami.” ⠀⠀ “Tepat,” timpal Shinku. ⠀⠀ “Sempurna! Ivy, ayo makan,” seru Madam Lilith sembari duduk di sebelah Tuan Ammar. ⠀⠀ Ivy mengambil tempat di samping Shinku, meletakkan beberapa saos, dan membersihkan roknya. Tampak beberapa noda sehabis memasak di sana. ⠀⠀ Ketika Shinku, Tuan Ammar, dan Madam Lilith mulai makan, Ivy terlihat menundukkan kepala ‘tuk berdoa. Hanya butuh dua menit sebelum dirinya bergabung di dalam acara santap-menyantap. ⠀⠀ Cara makan Ivy terlihat lebih lambat dibandingkan dengan yang lain. Ia juga sangat kikuk sehingga menjatuhkan beberapa saos dan sayur ke baju atau ke tanah. Perilaku itu menarik perhatian Shinku. Ia menatap Ivy dari balik lensa kacamatanya dan bertanya-tanya kenapa gadis itu terlihat sangat lugu sementara lingkungan tumbuhnya jauh dari kata tersebut. ⠀⠀ “Hati-hati,” ujar Shinku sembari memberikan tisu kepada Ivy. “Rok dan baju Anda kotor.” ⠀⠀ Ivy segera meletakkan peralatan makannya ‘tuk menerima tisu yang diberikan oleh Shinku. ⠀⠀ “Maaf merepotkan,” ujarnya lalu merapikan noda pada pakaian. ⠀⠀ “Bagaimana kalau kita berkuda?” tanya Tuan Ammar. ⠀⠀ “Oh, itu ide yang bagus. Aku ingat pernah berkuda di sekitar sini dan menemukan banyak bunga yang indah.” ⠀⠀“Boleh, Tuan Ammar. Sepertinya akan menyenangkan,” kata Shinku. ⠀⠀ Pada pukul empat sore ketika matahari tak begitu menyengat, peternakkan sapi sekaligus kuda milik Whitewood kedatangan empat orang tamu. Mereka memancarkan keberkahan dan menjanjikan uang bagi sang pria tua. ⠀⠀ “Kau sepertinya pernah kemari,” kata Whitewood sambil menunjuk Tuan Ammar. ⠀⠀ “Ya, saya pernah menyewa kuda dari Anda satu tahun yang lalu.” ⠀⠀ “Oh, pantas saja aku begitu familiar dengan wajahmu. Begitu pula dengan Nyonya yang cantik ini. Senang bertemu dengan kalian lagi.” ⠀⠀ Whitewood mengangkat topinya, menunjukkan kepalanya yang licin. ⠀⠀ “Senang bertemu dengan Anda juga, Tuan Whitewood. Apakah kami bisa menyewa empat kuda?” ⠀⠀ “Tentu saja. Kalian datang di musim yang tepat. Saat ini banyak tumbuhan sedang mekar di dalam hutan.” ⠀⠀ Whitewood melangkah menuju kandang kudanya di sebelah barat. Ia diekori oleh keempat orang itu dengan patuh. ⠀⠀ “Syukurlah kami datang di momen ini. Saya sangat menyukai bunga-bunga yang tumbuh tahun lalu,” kata Madam Lilith sembari melihat kumpulan domba di dalam pagar. ⠀⠀ “Ha! Bagus untukmu!” ⠀⠀ Pintu kandang dibuka lebar oleh Whitewood. Ia kemudian menengok ke arah kiri di mana ada beberapa pria sedang menumpuk jerami. ⠀⠀ “Larrey! Kemarilah! Bantu aku!” teriak Whitewood. ⠀⠀ Sesaat kemudian orang yang disebut sebagai ‘Larrey’ itu sudah berada di samping Whitewood. Rambutnya kemerahan dan matanya biru bagaikan samudera. Perawakannya tinggi besar seperti seorang peternak yang tangguh. ⠀⠀ “Bawakan aku empat kuda dan pelananya,” ujar Whitewood. ⠀⠀ “Siap, Kapten!” ⠀⠀ Ivy melirik takut ke arah Madam Lilith. Ia pernah mengendarai kuda, tetapi, dirinya bukan seorang profesional yang mampu mengkoordinir seekor kuda di hutan. ⠀⠀ “Madam, sepertinya aku tidak usah menaiki kuda,” bisik Ivy. ⠀⠀ “Kenapa, sayang?” ⠀⠀ “Apakah Madam lupa sejarahku dan kuda?” ⠀⠀ Kedua mata Madam Lilith menyalak lebar dan ia menutupi mulutnya. “Oh, sayang. Tuan Ammar, Ivy dan kuda adalah ide yang buruk. Ia tak bisa mengendalikan seekor kuda,” ujarnya. ⠀⠀ Shinku menengok ke arah Ivy dan Tuan Ammar melakukan hal yang serupa. Mereka seakan lupa mendengarkan pendapat gadis malang itu. ⠀⠀ “Mungkin Ivy bisa naik di kuda yang sama bersama saya?” tawar Shinku. ⠀⠀ Madam Lilith menatap Ivy, menunggu persetujuan dari gadis itu. Ia pribadi tak masalah apabila mereka berada di satu kuda yang sama. Menilai dari perawakan Shinku, Madam Lilith percaya pria itu memiliki kemampuan untuk menjaga puterinya. ⠀⠀ “Hm,” Ivy memainkan mata kalungnya, “tentu,” ujarnya sedikit ragu. ⠀⠀ “Masalah terpecahkan!” seru Madam Lilith. “Oh, Tuan Whitewood. Kami hanya butuh tiga kuda.” ⠀⠀ “Tentu, Nyonya!” ⠀⠀ Tuan Ammar tersenyum kepada Shinku kemudian membawa Madam Lilith keluar dari kandang. Shinku dan Ivy mengikuti di belakang dalam diam. ⠀⠀ “Apakah tidak masalah?” ⠀⠀ “Maksud Anda?” ⠀⠀ “Apakah tidak akan terlalu berat?” tanya Ivy tanpa memandang Shinku. ⠀⠀ “Saya sering mengendarai kuda bersama seorang teman.” ⠀⠀ “Itu terdengar menakjubkan.” ⠀⠀ “Terkadang itu menyulitkan karena ketika berburu, kinera saya menjadi lambat.” ⠀⠀ Dada Ivy tiba-tiba merasa berat. Apakah dia menyulitkan? ⠀⠀ “Oh, begitu. Saya akan belajar berkuda setelah ini,” gumamnya. ⠀⠀ Shinku melirik Ivy dari sudut matanya. “Saya tidak membicarakan tentang Anda.” ⠀⠀ “Ah, iya. Saya hanya merasa kurang nyaman ... entah kenapa. Mari jangan membahasnya lagi.” Ivy kembali memainkan kalungnya. Ini adalah suatu kebiasaan ketika dirinya berpikir. Shinku mendorong batang kacamata hitamnya lebih dalam dan memutuskan untuk diam. Sekitar tiga menit menunggu, tiga ekor kuda dipandu oleh Larrey dan Whitewood kepada mereka. “Ini adalah Anton, dia yang paling besar,” kata Larrey sembari menepuk tubuh seekor kuda hitam. ⠀⠀ “Saya akan mengambil kuda ini.” Shinku mengelus wajah Anton dan membiarkan kuda itu mengendus tangannya untuk beberapa saat. Ia kemudian mencermati seluruh kaki Anton; takut jikalau ada luka. Untungnya tak ada yang perlu dikhawatirkan. ⠀⠀ “Oh, terima kasih,” kata Madam Lilith ketika Tuan Ammar membantunya naik ke atas kuda. ⠀⠀ Sementara itu, Ivy menghela napas dan melangkah pelan ke arah Anton. Ia menatap Shinku sejenak kemudian menaikki kuda. Saat Ivy merasa ia akan terjatuh, sebuah tangan menahan pinggangnya, dan mendorong jasmaninya agar sampai pada lapik. ⠀⠀ Tak perlu dipertanyakan siapa yang membantu, Ivy sudah tahu. Namun, dirinya enggan menatap pria itu. Ia memutuskan untuk duduk sesuai posisinya. Ketika Shinku menaikki kuda, Ivy mencengkram ujung pelana agar keseimbangannya terjaga. Hanya Tuhan yang tahu betapa jantung Ivy hendak loncat dan berlari keluar ketika merasakan dada Shinku tepat di belakang kepalanya. Dirinya tak bisa bernapas secara normal. ⠀⠀ “Kalian siap?” tanya Tuan Ammar kepada Shinku dan Ivy. ⠀⠀ “Siap,” sahut Shinku. ⠀⠀ Suara pria itu hampir membuat Ivy bergidik. Ia tahu jarak di antara mereka tipis. Tapi, tak sampai level di mana dirinya dapat mendengar napas Shinku setelah berbicara. ⠀⠀ “Bagus! Mari kita mulai.” ⠀⠀ Tuan Ammar mengentak-entakkan tali pengendali kudanya dan melaju menuju arah hutan. Dari arah belakang, Madam Lilith mengikuti yang kemudian disusul oleh Shinku dan Ivy. Adegan itu terasa tak nyata bagi seorang gadis berusia sembilan belas tahun. Daun berguguran di antara sinar matahari sore terlihat berwarna keemasan. Ditambah Tuan Ammar dan Madam Lilith saling berpacu, untuk melihat siapa yang lebih cepat, membuat hati Ivy terasa hangat. ⠀⠀ Madam Lilith terlihat begitu hidup dengan warna dan Tuan Ammar di sisinya. Wajahnya yang cantik menjadi jauh lebih menyilaukan ketika dirinya tertawa. Andaikan Madam Lilith sebebas dan sebahagia ini setiap harinya, batin Ivy. ⠀⠀ “Shinku, kami ingin pergi ke mata air kecil di barat. Apakah kalian hendak ikut?” tanya Tuan Ammar. ⠀⠀ “Saya masih ingin melihat pohon,” ujar Ivy tiba-tiba. ⠀⠀ Shinku menatap Ivy selama beberapa detik kemudian ia mengalihkan maniknya ke Tuan Ammar. “Apakah ada titik poin temu?” ⠀⠀ “Ada lapangan luas dipenuhi bunga di sebelah utara. Kalau tidak salah, ada papan penunjuknya. Orang-orang sering pergi ke sana untuk berpiknik,” kata Madam Lilith. ⠀⠀ “Kalau begitu, mari bertemu di sana,” ucap Shinku. ⠀⠀ “Baiklah. Sampai jumpa!” ⠀⠀ Tuan Ammar tersenyum lebar lalu mengangguk kepada Madam Lilith. Mereka kemudian melaju ke arah barat bersama hembusan angin yang sejuk. ⠀⠀ “Pohon jenis apa yang ingin Anda lihat?” tanya Shinku. ⠀⠀ “Eh? Itu ... apa saja?” jawab Ivy ragu. ⠀⠀ Shinku tersenyum tipis kemudian mengarahkan Anton ke sisi timur hutan. Pemandangannya tak jauh berbeda dari awal ketika mereka masuk. Hanya saja, suara hewan lebih nyaring terdengar. Terutama mereka yang berada di atas pohon. “Di sini banyak tupai,” kata Shinku. ⠀⠀ Ivy mendongakkan kepalanya. Sinar matahari membuatnya tak bisa melihat binatang yang disebut oleh Shinku dengan jelas. Saat Ivy mencoba menyipitkan matanya, warna alam menjadi jauh lebih gelap. Namun, ia akhirnya bisa melihat tupai-tupai sedang menjelajahi batang pohon. ⠀⠀ “Lebih jelas?” ⠀⠀ Dengan otomatis, Ivy menatap Shinku. Kacamata hitam pria itu kini bertengger di hidungnya. “Iya, terima kasih,” katanya. ⠀⠀ “Lihatlah sepuas Anda.” Shinku memandangi daratan sembari memegang kendali terhadap Anton. Mereka mengitari wilayah hutan sebelah timur selama hampir satu jam dan menemukan berbagai macam buah serta hewan yang tak begitu berbahaya. ⠀⠀ “Beri biru ini sangat segar,” kata Ivy sembari terus mengunyah. ⠀⠀ “Itu cukup mahal di negara saya.” ⠀⠀ “Benarkah? Saya selalu ingin ke Jepang. Tapi ... tidak berani.” ⠀⠀ Menghabiskan waktu bersama Shinku secara pribadi membuat Ivy berangsur nyaman di dekatnya. Meski begitu, ketika kulit mereka tak sengaja bersentuhan, ia masih merasa sedikit panas, dan malu. ⠀⠀ “Belum pernah meninggalkan rumah?” ⠀⠀ Ivy memandangi pepohonan dari balik lensa hitam. “Mhm. Madam Lilith merawat saya teramat baik. Ia bahkan melarang saya untuk pergi ke The Rouge dan berinteraksi dengan klien di sana. Madam sering bilang bahwa dunia luar itu kejam dan berbahaya, terutama pria. Kita, wanita, harus bisa menjaga diri sendiri.“ ⠀⠀ “Oh, menarik. Apakah saya terlihat berbahaya?” ⠀⠀ “Eh? Itu ... Anda mengenal Tuan Ammar. Jadi, saya pikir Anda bukan orang sembarangan.” ⠀⠀ “Begitu, ya.” ⠀⠀ “Hm,” Ivy mengunyah buah berinya lagi, “Anda cukup menakutkan. Terlihat dewasa, bisa satu frekuensi dengan Madam dan Tuan, serta pandai mengendarai kuda. Ya, saya rasa sedikit berbahaya?” ujarnya hati-hati. ⠀⠀ Shinku tertawa kecil dan itu membuat Ivy merona. Apakah ia mengatakan sesuatu yang jenaka? Jika ia menjadi Shinku, maka rasanya dirinya akan tersinggung. ⠀⠀ “Sekarang saya mengerti.” ⠀⠀ “Mengenai?” tanya Ivy. ⠀⠀ “Diri Anda.” ⠀⠀ “Saya?” ⠀⠀ Ivy memainkan buah beri terakhirnya. Entah kenapa ia merasa gugup akan penilaian Shinku terhadapnya. Dirinya sungguh ingin itu adalah sesuatu yang baik. ⠀⠀ “Ya, Anda. Beberapa pertanyaan saya telah terjawab.” ⠀⠀ Pertanyaan? Pertanyaan apakah yang ada di dalam isi kepala Shinku? Ivy sangat ingin mengetahuinya. Apakah negatif? Apakah positif? Kenapa Ivy merasa khawatir? ⠀⠀ “Bolehkah saya—“ ⠀⠀ “Shush.” ⠀⠀ Shinku menunduk lalu menunjuk ke arah hamparan bunga di depan mereka. Di sana tampak Madam Lilith dan Ammar sedang duduk sembari mengecup bibir satu sama lain. Mereka terlihat begitu fokus di dalam dunia yang mereka konstruk. ⠀⠀ Ivy tertegun melihat kegiatan itu dan terus menontonnya di balik perlindungan kacamata hitam milik Shinku. Diperhatikannya tangan Tuan Ammar berjalan mengikuti lengkuk tubuh Madam Lilith hingga ia tiba pada pinggul dan meremas bagian pipi bawah. Sementara itu, tangan si Nyonya Rouge telah tenggelam di antara kaki Tuan Ammar. Entah apa yang dilakukan oleh tangan itu. Namun, Tuan Ammar tampak tersenyum; terkadang memberikan ciuman-ciuman kecil pada leher Madam Lilith. ⠀⠀ Ivy segera menggelengkan kepalanya dan tak sengaja memundurkan tubuhnya. Ia bergidik ketika merasakan sesuatu menyapa pinggulnya. Terasa keras, batinnya. Apakah itu bagian dari pelana kuda? ⠀⠀ “Ah, sial,” kutuk Shinku dalam bahasa Jepang. ⠀⠀ “Maaf?” ⠀⠀ “Tolong jaga jarak Anda.” ⠀⠀ Ivy kurang mengerti kenapa Shinku baru sekarang meminta batasan. Beberapa saat yang lalu dirinya merasa selangkah lebih dekat dengan pria itu. Kini, rasanya mereka kembali ke titik awal. ⠀⠀ “Baik. Maafkan aku.” Dengan sedikit perasaan kesal, Ivy membuat jarak antara dirinya, dan Shinku. Ia juga lebih memilih untuk menatap rambut indah Anton yang berkilau karena ditaburi sinar matahari sore. ⠀⠀ Perlahan matahari mulai terbenam dan itu menjadi tanda bagi Shinku ‘tuk mengingatkan pasangan di sana agar segera pulang. “Tuan Ammar!” serunya dari sisi lain. ⠀⠀ Tuan Ammar segera menoleh ke arah Shinku dan melambaikan tangannya. “Kami akan segera menyusul!” ⠀⠀ Shinku mengangguk tanda setuju lalu memacu Anton untuk membawa dirinya dan Ivy kembali ke peternakan. Beberapa menit setelah mereka tiba, Tuan Ammar, dan Madam Lilith muncul. Mereka mengembalikan kuda dan si Gaddafi membayar segalanya; sungguh perilaku yang mulia serta mengagumkan. ⠀⠀ Setelah tiba di rumah kemah, mereka berempat setuju untuk membersihkan diri, dan berkumpul lagi di ruang makan pada pukul delapan tepat. Ivy diam sejenak di depan pintu kamarnya ketika Shinku melewati dirinya. Aroma parfum Shinku terasa khas baginya dan ia hendak mencium wangi mawar dewasa itu sekali lagi sebelum mengunci diri di kamar. ⠀⠀ Madam Lilith adalah orang pertama yang selesai membuat dirinya tampak rapi untuk makan malam. Ia terdengar sibuk di dapur sedang memasak. Tak seberapa lama, Tuan Ammar bergabung, dan membantunya. Televisi pun dinyalakan untuk meriahkan suasana. “Sepertinya Ivy dan Shinku melihat kita di ladang bunga,” bisiknya. ⠀⠀ “Lain kali tolong tahan dirimu,” sergah Madam Lilith tertahan sembari memukul perut Ammar pelan. ⠀⠀ “Ha ha, maaf!” ⠀⠀ Dari lantai dua, Shinku tersenyum melihat pemandangan itu. Ia melirik ke arah jam tangannya; masih ada waktu kurang lebih dua jam. Duduk di sofa sembari membaca majalah akan menyenangkan, pikirnya. Biarkan kedua insan itu hanyut dalam dunia mereka sejenak. ⠀⠀ Si bungsu, Ivy, sedang berendam di bak mandi. Ia menatap air yang keruh karena telah bercampur sabun dan beberapa kelopak bunga mawar yang dibawanya dari rumah. Madam Lilith selalu menerima bunga mawar dari pengunjung setiap malamnya dan Ivy sangat suka memintanya untuk dikeringkan atau menjadi kawan mandi. Berbicara mengenai mawar, ia kembali teringat sosok Shinku. Di dalam bayangannya, pria seperti itu memiliki aroma parfum yang kuat hingga menusuk hidung. Beberapa kawan sekelas di kampusnya, bahkan Tuan Ammar, memiliki wangi tersebut. Ivy sering merasa pusing dan mual ketika menciumnya. Namun, Shinku sedikit berbeda. Mawar dicampur kayu cendana dan sedikit aroma segar lainnya adalah apa yang menempel pada tubuhnya. Sungguh keharuman yang lembut tapi menyimbolkan kekuatan. ⠀⠀ Ivy menyandarkan tubuhnya dan menutup mata. Ia mengulang hari ini di dalam benaknya dengan rinci. Ketika dirinya sampai pada momen di mana Tuan Ammar dan Madam Lilith saling memadu kasih di hamparan bunga, ia merasa sedikit aneh. Bagaimana Tuan Ammar menyentuh Madam Lilith divisualisasikan benak Ivy begitu lembut dan penuh perhatian di setiap lengkuk yang ada. Tanpa sadar, ia menggerakkan tangan pada lengkuk tubuhnya. Perhatian Ivy kemudian jatuh pada bibir. Dirinya mengusap bibir dengan lembut sembari memberikan tekanan kecil menggunakan ibu jari. “Hah ....” Ivy menghembuskan napasnya dengan suara yang kurang senonoh. Ini adalah pertama kalinya ia merasakan seluruh tubuhnya panas dan berdenyut di bagian-bagian tertentu. ⠀⠀ Semakin lama, Ivy merasakan tangannya turun ke arah perut hingga ke kaki. Ia merasa dorongan—atau kebutuhan—untuk mengeksplor tubuhnya. ⠀⠀ “Hm,” ucap Ivy sembari menggigit bibir bagian bawahnya. Di dalam imajinya, Ivy menghirup aroma bunga mawar yang familiar di dalam ruangan remang. Sebuah tangan muncul perlahan dan menyentuh bagian dalam pahanya penuh perhatian. Tangan itu terus memberikan sentuhan sensorik yang membuat dirinya merinding. Hingga pada puncaknya, ibu jari pada tangan itu menekan pusat dari bunga mawarnya yang membesar. Ivy membuka mata; mendesah tercekat. “Shink—“ ⠀⠀ Kedua pipi Ivy yang merona semakin menjadi merah padam. Demi Tuhan, apa yang baru saja dibayangkannya? Sesuatu di bawah sana semakin berdenyut dan ia segera menutup rapat kakinya. Kepala Ivy terasa pusing; ia butuh waktu sejenak sebelum mampu memproses apa yang sedang terjadi. ⠀⠀ “Tuan Shinku! Ivy! Makan malam sudah siap!” seru Madam Lilith dari bawah. ⠀⠀ Seruan itu membuat Shinku meletakkan majalah pada tempat awal. Ia kemudian berdiri dan merapikan bajunya. Saat ini si Kyokutei hanya mengenakan kaos hitam, celana panjang, dan jubah beludru merah yang biasa ia pakai di rumah. Rambut pirangnya terlihat sedikit berantakkan sebab tergesek bantalan kepala sofa. Kaki yang melangkah otomatis terhenti sebab suara pintu dari kamar lain terbuka. Memperlihatkan sosok Ivy dengan gaun malamnya di ambang pintu sama tertegunnya dengan Shinku. Oh tidak, rasanya ia berdenyut lagi, batin Ivy. Dengan cepat, gadis itu menutup pintu, dan menuruni tangga untuk duduk di sebelah Madam Lilith. Ia tak ingin bersampingan dengan Shinku karena imaji itu akan kembali lagi. ⠀⠀ “Kau begitu lapar, sayang?” tanya Madam Lilith. ⠀⠀ Ivy hanya mengangguk. ⠀⠀ Shinku mengernyitkan dahinya sembari turun. Ia mengambil kursi di dekat Ammar dan duduk di sana. ⠀⠀ “Hanya spaghetti, Tuan Shinku. Maaf tidak begitu mewah,” kata Madam Lilith sembari tersenyum. ⠀⠀ “Madam, ini sangat cukup. Percayalah,” sahut Shinku. ⠀⠀ “Kalau begitu mari makan dan beristirahat. Besok kita harus bangun pagi,” ujar Ammar mengingatkan sebelum makan. ⠀⠀ Suasana di antara keempatnya tampak biasa saja. Tuan Ammar dan Madam Lilith kembali mendominasi suasana. Shinku sesekali menimpali sembari melihat berita yang muncul pada layar televisi. Sedangkan Ivy memakan porsinya secara hati-hati dan terkadang melirik ke arah Shinku. Semua orang berada di zonanya masing-masing tanpa mengintervensi. ⠀⠀ Ivy meletakkan piring-piring bersih pada tempatnya; sedangkan Shinku membersihkan area dapur menggunakan lap. Mereka setuju untuk membereskan pekerjaan sehabis makan sebab Tuan Ammar dan Madam Lilith telah memasak. Meja marbel pada bagian kompor sudah berkilauan. Shinku memutuskan untuk pindah ke wilayah belakang di mana Ivy berada. Dipandanginya tempat itu sejenak sebelum mulai melap marbelnya. Keberadaan Shinku membuat Ivy khawatir. Ia memutuskan untuk tidak menatap wajah pria itu dan menyalakan mesin pengering. Tangannya yang diletakkan pada pinggiran meja tak sengaja menyentuh tangan Shinku. Hal itu membuatnya bergidik dan memegang tangannya sendiri. ⠀⠀ “Apakah Anda tidak apa-apa?” tanya Shinku. ⠀⠀ Detak jantung Ivy rasanya kurang karuan. Hanya sedikit sentuhan tak bermakna membuatnya merasa panas. Ia bingung dengan apa yang terjadi dengan tubuhnya. Terlebih dirinya merasa malu dan berdosa karena telah membayangkan Shinku. ⠀⠀ Tak mendapat jawaban, Shinku mendekati si Rouge muda dan meletakkan tangannya pada dahi gadis itu. Terasa sedikit hangat, batinnya. Sementara Ivy mengembuskan napas sembari menatap sayu ke arah Shinku. Ini benar-benar bahaya. Dirinya merasa sedikit pusing dan kembali berdenyut di sana. Kali ini lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Oh, Tuhan. ⠀⠀ “Kembalilah ke kamar Anda. Saya akan membereskan dapur.” ⠀⠀ “Tidak bisa,” kata Ivy sedikit terengah. “Kaki saya tidak kuat.” ⠀⠀Shinku memandangi kedua penyangga tubuh milik Ivy. Mereka dirapatkan begitu erat oleh sang empunya. “Saya akan memanggilkan Madam Lilith untuk Anda.” ⠀⠀ “Oh, jangan!” seru Ivy tercekat sembari menarik baju Shinku. “Itu adalah langkah buruk.” ⠀⠀ “Langkah buruk? Saya tidak tahu apa yang terjadi kepada Anda. Apakah Anda memiliki penyakit khusus?” ⠀⠀ Ivy bungkam dan menguatkan pegangannya pada baju Shinku lalu mengistirahatkan kepalanya pada bahu pria tersebut. Dapat dirasakannya tangan Shinku mengitari pinggangnya untuk membantu dirinya tetap berdiri tegak. Namun sialnya, bukan kata terima kasih yang keluar dari mulut Ivy, melainkan buangan napas yang bisa menjadi racun atau madu bagi yang mendengarnya. “Tuan Shinku, jangan panggil Madam Lilith,” bisiknya lirih. “Antarkan saja saya ke kamar. Itu akan cukup.” ⠀⠀ Shinku paham. Seorang gadis yang masih kurang mengerti mengenai tubuhnya. Walhasil, ia menggendong Ivy menuju kamar; mengindahkan bahasa Dewa Eros yang samar-samar menggoda jiwanya. ⠀⠀ “Apa yang Anda konsumsi hingga begitu sensitif seperti ini?” tanya Shinku penuh selidik ⠀ “Tidak ada. Saya memang seperti ini jika membayangkan sesuatu yang kurang baik. Saya berdosa.” ⠀⠀ Pengakuan Ivy langsung membuat Shinku teringat akan kejadian sore tadi. Tuan Ammar dan Madam Lilith di ladang bunga. Gadis ini memikirkan apa yang mereka lakukan secara rinci. Shinku kurang tahu harus berkomentar apa. Baginya itu adalah perihal pribadi. Kini Ivy terbaring di atas tempat tidur dengan bantuan Shinku. Sorot matanya terlihat letih dan tak berdaya; sedangkan kedua pipinya semakin memerah. ⠀⠀“Biasanya saya akan tertidur dan perasaan ini akan hilang,” ujar Ivy. ⠀⠀ “Kau tidak pernah menyelesaikannya?” ⠀⠀ Ivy mengangguk lemah. “Saya takut. Bagaimana jika saya akan melakukannya berulang-ulang? Jika Madam Lilith tahu, maka dia akan kecewa.” ⠀⠀ “Kecewa? Kau adalah wanita dewasa. Apa maksudmu?” ⠀⠀ “Saya masih anak-anak di mata Madam. Dua hari lagi saya akan berumur dua puluh tahun. Saat itu saya akan memutuskan.” Ivy meremas bantalnya dan sedikit menggerakkan pinggulnya. Tuhan, ia tak ingin terlihat kotor di hadapan pria itu. ⠀⠀ Meski Shinku tak mengerti apa yang maksud kalimat terakhir Ivy, ia tersenyum tipis. “Kau benar-benar unik.” ⠀⠀ Tangan dan jemari Shinku; hal-hal itu membuat Ivy memekik tatkala mereka membawa selimut ‘tuk menutupi dirinya. Oh, sungguh penuh dosa isi kepalanya sekrang sebab ia memutar imaji di mana jemari itu menyentuh sistem inti planetnya. ⠀⠀ “Ada apa?” tanya Shinku. ⠀⠀ Ivy tak kuasa menjawab. Dia membenamkan wajah pada bantal dan mengeluarkan erangan kecil di sana. Jujur, dirinya belum pernah merasa semenderita ini ketika dorongan biologisnya muncul. Biasanya rasa itu akan bertahan lima menit atau menghilang ketika Ivy tidur. Namun sekarang, ia yakin tubuhnya tak akan berhenti terbakar bahkan saat dirinya hilang kesadaran. ⠀⠀ “Jika itu begitu menyakitkan, maka lepaskan saja. Aku akan keluar,” ucap Shinku. ⠀⠀ Mendengar pria itu hendak pergi, Ivy dengan spontan mencengkram lengan besar di sampingnya dan membalikkan tubuh secara pelan. “Saya tidak mengerti caranya. Tolong ajari.” ⠀⠀ Shinku tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Kedua mata membulat lebar, tubuh yang kaku, dan pikiran tersendat gagal memproses permintaan Ivy. Apakah gadis ini sedang mempermainkannya? Ia tak akan menyentuh Ivy demi menjaga rasa hormatnya kepada Tuan Ammar dan Madam Lilith. Oleh karena itu, ia berkata, “Anatomi tubuh kita berbeda." ⠀⠀ “Tuan Shinku, bahkan Anda tidak tahu?” tanya Ivy, suaranya bergetar seperti berusaha menahan tangis. Ia cuman ingin perasaan ini segera berakhir. ⠀⠀ “Ini sulit bagiku.” ⠀⠀ Ivy mengatur napasnya lalu menatap Shinku. Beberapa air mata akhirnya jatuh dari sudut. Hal itu membuat Shinku frustrasi. ⠀⠀ “Aku akan memandumu menggunakan kata-kata.” ⠀⠀ “Benarkah?” Ivy terdengar penuh pengharapan. ⠀⠀ Shinku tak menjawab, tetapi ia berdiri tegap, melangkah ke ujung ruangan, dan mematikan penerangan. Ini adalah pengalaman pertama Shinku untuk membantu seseorang melepaskan hasrat berahi mereka tanpa terlibat secara langsung. Jiwa kompetitfnya bangkit; Shinku ingin melakukan yang terbaik. “Apakah kau sudah siap?” tanyanya. ⠀⠀ Ivy membenarkan posisi berbaringnya dengan hati-hati. "Sudah, Tuan.” ⠀⠀ “Letakkan tanganmu pada dada dan berikan pijitan kecil di sekitar buahnya,” perintah Shinku. Sejauh pengalamannya, ada wanita yang tak memiliki reaksi apa-apa ketika payudara mereka diberikan stimulasi dan ada yang menyukainya. Titik rangsangan manusia beragam. ⠀⠀ “Hah,” lenguh Ivy pelan ketika menuruti komando Shinku. Kedua matanya tertutup secara spontan; memfokuskan indera pada sentuhan. Perasaan ini baru baginya. Menggelitik dan menuntut lebih. ⠀⠀ “Sepertinya itu berpengaruh kepadamu.” ⠀⠀ “Iya, Tuan,” sahut Ivy seraya membuka ruang bagi saudari mudanya di bawah sana ‘tuk bernapas. ⠀⠀ “Bawa tanganmu turun.” ⠀⠀ Patuh, Ivy menelusuri perutnya dan berhenti pada tepian celana dalam yang ia gunakan. Dirinya dapat merasakan deretan pita kecil di sana. Oh, Tuhan, sungguh kekanakkan, batin Ivy mengenai seleranya. ⠀⠀ “Tanganku sudah di bawah, Tuan Shinku.” ⠀⠀ “Apa yang instingmu katakan?” ⠀⠀ “Untuk melepaskannya.” ⠀⠀ “Kalau begitu lepaskan.” ⠀⠀ Perintah Shinku terasa seperti pelatuk untuk Ivy. Ia yang selama ini selalu bertahan untuk tidak menyentuh diri, hanya karena seorang yang asing, tiba-tiba dengan percaya diri menjamah daerah intimnya. Melodi keduniaan penuh berahi pun tak dapat terelakkan; pinggul turut terangkat ketika jari telunjuknya tak sengaja menyentuh bagian kecil yang menyembul. Ia mengintip siapa yang sedang datang bertamu sehingga memaksanya bangun. Urnanya kini merah karena jengkel dipermainkan. ⠀⠀ “Rileks, jangan terburu-buru atau kasar. Gunakan ibu jarimu dan berikan pusaran lembut,” saran Shinku. ⠀⠀ Ivy menjauhkan untaian gaunnya yang menghalangi. Perlahan, ia menggunakan ibu jari pada tangan kirinya untuk mengucap salam seperti yang dipandukan oleh Shinku. Sebuah gerak pusaran yang lembut dengan sedikit improvisasi berupa penekanan kecil sebagai permintaan izin ‘tuk menjelajah lebih dalam. Aneh, tetapi tubuh Ivy berangsur-angsur merasa lebih tenang dengan debaran di dalam dada yang smeakin ganas. Suhu tubuhnya pun dirasa meningkat ketika ibu jarinya mulai tenggelam sambil terus memijit sang penguntit. “Hangat,” ucap Ivy di sela aktivitas mencintai diri. ⠀⠀ Shinku menyilangkan tangannya di depan dada. Ia sedang berusaha mengalihkan pikirannya. Data perusahaan yang dikirimkan Azuma terus muncul di dalam imaji visual; sesekali napas kasar dibuang tatkala mendengar nyanyian Ivy. ⠀⠀ “Tuan Shinku,” panggil Ivy dengan napas yang tersendat. ⠀⠀ “Ya?” ⠀⠀ “Shinku ... ah ... Shinku.” ⠀⠀ Lisan si Kyokutei kelu. Dalam temaram diamatinya pakaian dan selimut Ivy kumal, rambut panjangnya kacau, dan kaki tak beraturan geraknya. Taburan bintang jelas tengah ditatap Ivy. Di antara euforia itu napasnya tersengal dan sistem tubuh berhenti bekerja merasakan adrenalin yang menuju puncak. ⠀⠀ Shinku memberikan waktu sebelum membuka mulut. “Apakah Anda merasa lebih baik?” ⠀⠀ Tangan Ivy menarik selimut ‘tuk menutupi jasmani secepat kilat; tak peduli nektar dari mawarnya terus mengalir. Kepalanya kemudian mengangguk. Sungguh malu. ⠀⠀ “Kalau begitu, saya akan kembali ke kamar. Selamat malam.” ⠀⠀ Kecanggungan masih kuat memenuhi bilik. Hilangnya eksistensi Shinku tak mengubah apa pun. Ivy menghantam jidatnya beberapa kali pada permukaan kasur. Apakah ia baru saja berkhayal mengenai Shinku ketika orangnya ada di kamar yang sama? Oh, Tuhan. Ivy tak tahu di mana ia harus meletakkan tampang besok pagi. ⠀⠀ Ketika Ivy berharap yang terburuk akan terjadi, Shinku bersikap tak ada yang terjadi di antara mereka saat sarapan berlangsung. Pria asal Jepang itu sibuk mengunyak kue panekuknya sembari memeriksa layar ponsel. Tidak seperti kemarin, Shinku mengenakan pakaian formal. ⠀⠀ “Apakah mereka sudah mendapatkan alamatnya?” Tuan Ammar menatap Shinku sambil membersihkan tangannya menggunakan lap kain. ⠀⠀ “Ya, mereka akan tiba sebentar lagi,” ujar Shinku lalu berdiri. “Aku akan keluar dulu.” ⠀⠀ Tuan Ammar mengangguk dan memperhatikan Shinku keluar dari rumah perkemahan mereka. Madam Lilith dan Ivy turut melakukan hal yang sama. Sorot mata penuh tanya terpancar dari manik si Rouge dewasa. ⠀⠀ “Apakah Tuan Shinku tak akan pulang bersama kita?” tanyanya. ⠀⠀ “Sayangnya seperti itu. Ia harus segera pergi ke Brussels. Ada pekerjaan yang harus ia lakukan.” ⠀⠀ “Aku pikir dia kemari ‘tuk berlibur.” ⠀⠀ “Kyokutei Shinku tidak pernah berlibur,” kata Ammar sembari tersenyum. ⠀⠀ Ivy menatap figur Shinku dari kursinya sedikit sedih. Ia merasa pertemuannya dengan pria itu begitu singkat. Memori yang ditinggalkan pun sungguh aneh dan unik hingga ia ingin menguliti seluruh tubuhnya sendiri dan membeli lapisan epidermis baru beserta wajah yang asing untuk Shinku lihat. ⠀⠀ Jemari Ivy kini memainkan mata kalungnya yang berbentuk salib sembari bersandar pada dinding luar rumah kemah. Ia melamun menghadap ke arah lapangan golf yang kini dipenuhi beberapa pria yang datang ‘tuk menjemput Shinku. Mereka terlihat kasar dan menyeramkan. Dua pria bahkan didapati Ivy memiliki bekas luka senjata tajam pada wajah mereka. Hal ini membuat Ivy bertanya-tanya mengenai identitas Shinku. Namun, ia ragu, apakah ingin mengetahui kebenarannya atau tidak? ⠀⠀ “Zen sudah mulai memahami kemana ia harus mengambil langkah,” kata Mark sembari memainkan tongkat golf. ⠀⠀ “Butuh waktu dua minggu baginya sadar,” timpal Shinku. ⠀⠀ “Dia terlalu memikirkan hal-hal kecil.” ⠀⠀ Simon berkacak pinggang lalu menatap ke arah langit. “Hah, tampaknya hari ini akan cerah.” ⠀⠀ “Setiap kau berkata seperti itu, pasti nanti akan hujan,” ujar Andrew. ⠀⠀ “Simon Si Pembawa Hujan, kau harus bertanggung jawab atas payung kami,” goda Mark. ⠀⠀ Shinku tersenyum lalu mengarahkan pandangannya ke arah rumah kemah. Ia menemukan sosok Ivy sedang menatapnya cukup serius. ⠀⠀ “Tuan Shinku, Anda bisa berpamitan sekarang. Kami akan menunggu Anda di mobil,” kata Andrew lalu melangkah bersama ketiga kawannya menuju sebuah van mewah berwarna hitam. ⠀⠀ Shinku pun segera membawa diri menuju rumah kemah. Namun, ia menemui Ivy terlebih dulu sebelum masuk ke dalam dan bertemu Ammar serta Madam Lilith yang sedang sibuk berbincang. ⠀⠀ “Terima kasih banyak atas sambutanmu. Aku merasa senang selama kurang lebih dua hari ini,” kata Shinku. ⠀⠀ Ivy masih memainkan kalungnya. Terkadang arah pandangnya ada di ujung sepatu Adidas yang ia kenakan lalu beralih kepada Shinku. ⠀⠀ “Kapan Anda pulang?” tanyanya setelah memberanikan diri. ⠀⠀ “Kemungkinan lusa.” ⠀⠀ “Lusa? Itu sangat cepat,” ucap Ivy hampir berseru. “Oh, maaf.” ⠀⠀ Semburat merah muncul pada kedua pipi Ivy. Entah seberapa jauh lagi dirinya bisa memalukan dirinya di hadapan Shinku. ⠀⠀ “Tidak apa-apa. Saya dengar besok Anda akan ulang tahun, benar?” ⠀⠀ Ivy mengangguk pelan. “Benar, Tuan.” ⠀⠀ “Kalau begitu selamat ulang tahun, Nona Ivy. Saya yakin Anda akan mekar menjadi bunga yang sangat indah.” ⠀⠀ Kedua netra Ivy menatap manik Shinku malu-malu dari rimbunan rambut mata. Ia sudah sering mendapatkan ucapan seperti ini dari kawan-kawannya. Kendati demikian, saat Shinku yang mengantarkan kalimat itu, Ivy tak bisa mengontrol senyumannya. ⠀⠀ “Sepertinya putrimu menyukai seseorang,” ujar Tuan Ammar yang menonton adegan itu dari balik pintu kaca. ⠀⠀ Madam Lilith meratapi tas Ivy yang berada di atas meja kemudian meremas kedua tangannya. “Bagaimana menurutmu?” ⠀⠀ “Mengenai?” ⠀⠀ “Tuan Shinku.” ⠀⠀ “Seorang pria lajang yang mapan secara finansial, fisik, dan spiritual. Calon menantu idaman.” ⠀⠀ “Keluarganya?” ⠀⠀ Tuan Ammar menggosok dagunya yang berambut tipis. “Sekumpulan pasukkan dari neraka.” ⠀⠀ Madam Lilith menghembuskan napas. “Oh, Tuhan. Semoga ini hanya cinta sesaat,” ungkapnya khawatir. ⠀⠀ Ivy memasukkan helaian rambut ke belakang telinga. Ia kembali memandangi wajah Shinku tanpa menghilangkan senyuman lebarnya. “Saya akan tumbuh dengan baik,” katanya. ⠀⠀ “Bagus. Saya harus berpamitan dengan Tuan Ammar dan Madam Lilith.” ⠀⠀ “Tuan Shinku,” cegat Ivy cepat. “Apakah akan memberatkan jika saya menyimpan nomor telepon Anda?” tanya Ivy. ⠀⠀ “Tentu saja tidak. Namun, sepertinya ponsel Anda ada di dalam. Taruh saja nomor Anda pada milik saya.” Shinku mengeluarkan ponselnya kemudian memberikan objek itu kepada Ivy. ⠀⠀ “Terima kasih,” ucap Ivy dengan girang sembari menyimpan nomornya pada kontak Shinku. ⠀⠀ “Saya akan mengirimi pesan nanti. Permisi.” ⠀⠀ Ivy mengangguk dan hanya bisa memandangi Shinku. Saat eksistensi Shinku lenyap, ia menempelkan dahi pada dinding rumah, dan menahan teriakkan keluar dari mulut. Oh, Tuhan, ini tak akan menjadi begitu buruk, batinnya.
⠀⠀ 𝐃𝐈 𝐏𝐈𝐍𝐆𝐆𝐈𝐑𝐀𝐍 𝐊𝐎𝐓𝐀 𝐀𝐍𝐓𝐖𝐄𝐑𝐏 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐃𝐀𝐌𝐀𝐈, Ivy terus memeriksa ponselnya. Seperti seorang remaja yang kasmaran, ia menunggu salam dari Shinku. Padahal baru beberapa jam sejak mereka mereka berpisah. ⠀⠀ “Ivy? Apa yang kau lakukan di kamar hingga tak mendengarku memanggilmu untuk makan siang?” Madam Lilith bersender pada fondasi ambang pintu kamar Ivy. Ekspresinya tak begitu senang. ⠀⠀ “Maaf Madam, aku tidak mendengarmu.” ⠀⠀ “Nah, sekarang kau mendengarku, ayo turun, dan makanlah. Aku membuatkan sup jagung kesukaanmu.” ⠀⠀ Ivy menatap ponselnya ragu. Namun, tatapan Madam Lilith membuatnya merasa kecil sehingga ia segera berlari ke arah wanita itu, dan turun bersamanya untuk menyantap makan siang. Di ruang makan terdapat beragam hidangan yang menggugah selera. Sayangnya, Ivy tak selera makan. Pikiran Rouge muda itu dipadati oleh Shinku. ⠀⠀ “Ivy, jangan bermain dengan makananmu,” peringat Madam Lilith. ⠀⠀ “Maaf Madam.“ Dengan cepat, Ivy meneguk supnya hingga habis. ⠀⠀ “Oh, sayang. Ada apa denganmu?” Madam Lilith menyentuh dadanya sendiri sembari menatap Ivy dengan khawatir. ⠀⠀ “Aku baik-baik saja,” sahut Ivy lalu menaruh mangkuk supnya. “Bolehkah aku kembali ke kamar?” ⠀⠀ “Ya, sayang. Beristirahatlah.” ⠀⠀ Atas izin Madam Lilith, Ivy terburu-buru berjalan menuju kamarnya. Ia tak menyadari bahwa tingkah lakunya diperhatikan oleh sepasang mata penuh rasa gelisah khas seorang ibu untuk anaknya. ⠀⠀ Matahari berganti bulan; terik berubah menjadi syahdu. Ivy dalam balutan gaun malamnya masih menunggu pesan dari Shinku yang sepertinya tak akan pernah tiba. Sembari memainkan rambutnya, gadis itu memandangi layar ponsel lalu beralih pada tumpukan buku psikologi dan novel romansa yang menjadi satu di atas meja nakas. ⠀⠀ “Sepertinya aku bersemangat untuk hal yang sia-sia,” ujarnya. ⠀⠀ “Apakah itu?” ⠀⠀ “Ah! Madam!” Ivy memegangi dadanya; jantungnya seperti melompat keluar. ⠀⠀ “Maaf, sayang. Aku tak bermaksud membuatmu terkejut,” kata Madam Lilith sambil mengambil tempat di sebelah Ivy. “Apakah kau menunggu sesuatu? Kau bersikap aneh seharian ini. Makan malam pun kau lewatkan.” ⠀⠀ Ivy mengembuskan napas. Ia sebenarnya tak ingin melibatkan Madam Liilith ke dalam kegundahan hatinya. Namun, jika bukan kepada wanita itu, dirinya tak tahu harus bercerita kemana. Harvey? Oh, ide buruk. Pria itu hanya akan heboh sendiri. ⠀⠀ “Madam,” Ivy memutar tubuhnya agar mereka saling menatap, “apakah ini normal untuk memiliki rasa kepada seseorang yang tak begitu kau kenal? Maksudku, ini begitu mendadak; seperti sebuah perampokkan atau ujian di sekolah. Aku tidak memiliki analogi yang bagus,” tuturnya. ⠀⠀ Tangan lembut yang hangat milik Madam Lilith menggenggam kuasa milik Ivy. Senyum manis terlihat mengembang di wajahnya. “Pengalaman mencintai bagi setiap insan adalah hal personal. Artinya, kau dan aku akan memiliki kisah percintaan yang berbeda serta beragam. Normal atau tidaknya apa yang sedang kau alami, aku tidak bisa memberikan jawaban, Ivy. Aku tidak tahu bagaiamana caramu memandang momen yang terjadi antara dirimu dan dirinya sehingga percikkan api romansa itu timbul. Namun, anakku, sebagai seorang ibu—walau aku tak melahirkanmu—aku ingin yang terbaik untukmu. Jika aku boleh lebih lanjut memberikanmu nasihat, aku ingin kau berhati-hati. Aku tahu kau mengerti maksudku, ‘kan?” ⠀⠀ Ivy menatap manik Madam Lilith dalam. Ia kemudian menganggukkan kepala seraya tersenyum pahit. “Terima kasih, Madam. Aku sangat menyayangimu,” ujarnya. ⠀⠀ “Oh, sayang.” Madam Lilith menarik tubuh Ivy ke dalam peluknya. Penuh kasih sayang dibelainya rambut panjang sang gadis dan ditanamkannya sebuah kecupan jua pada kepala. “Aku akan selalu mendukungmu. Apa pun keputusan yang kau pilih. Kau memiliki janjiku.” ⠀⠀ Ivy merebahkan kepalanya pada pangkuan Madam Lilith, memainkan mata kalungnya, dan memandangi vas yang berisikan mawar merah di meja kumpulan parfum. Itu membuat pikirannya menyebut satu nama ‘tuk kesekian kalinya di hari ini. Sungguh, sang pemilik identitas harus membiarkan otaknya beristirahat. Ivy ingin terlelap sejenak membawa gagasan pemikirannya ke semesta semu.
⠀⠀ 𝐒𝐄𝐈𝐒𝐈 𝐊𝐄𝐃𝐈𝐀𝐌𝐀𝐍 𝐑𝐎𝐔𝐆𝐄 𝐓𝐄𝐑𝐋𝐈𝐇𝐀𝐓 𝐒𝐈𝐁𝐔𝐊. Orang-orang berlarian ke sana kemari menata bunga, balon yang mengandung gas helium, dan lain-lain yang meneriakkan sebuah perayaan ulang tahun. ⠀⠀ “Oh, Madam Lilith, di mana saya harus meletakkan hadiah-hadiah ini?” tanya Joanna, sang asisten rumah tangga yang telah bekerja selama hampir enam tahun. ⠀⠀ “Taruh di ruang tengah. Terra meletakkan beberapa hadiah di sana.” ⠀⠀ ”Baik, Madam. Oh, selamat pagi, Nona Ivy. Apakah Anda tidur dengan nyenyak?” ⠀⠀ “Sangat nyenyak. Terima kasih banyak atas kerja kerasmu, Joan,” kata Ivy sembari tersenyum lebar. ⠀⠀ “Apa pun untuk Anda, Nona. Gaun merah berenda itu sangat cocok di kulit Anda. Oh, saya harus bergegas sebelum Harold berkicau kepada saya. Permisi.” Joanna berlari kecil ke ruang tengah bersama tumpukkan hadiah pada dekapan. Ivy memandang adegan itu cukup jenaka. Betapa ia ingin tertawa saat ini, tetapi, hati dan pikirannya sedang lelah. Kedua bagian diri itu menghabiskan malam berkontemplasi seraya menunggu sebuah pesan yang ternyata tak pernah hadir di notifikasinya. ⠀⠀ “Setelah aku pergi dari kamarmu, kau kembali bangun?” Madam Lilith mengatur beberapa bunga ke dalam vas. ⠀⠀ “Iya, Madam. Apakah terlalu tampak?” ⠀⠀ “Dua kantong mata dan bibir yang kering. Aku rasa itu tidak begitu sulit untuk ditebak. Gunakanlah riasan dan berikan bibir indahmu nutrisi, sayang.” ⠀⠀ Ivy terkekeh sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga. “Aku akan melakukannya nanti. Hari ini yang hadir hanyalah orang terdekat, benar?” ⠀⠀ “Tentu, Ivy-ku. Sesuai permintaanmu. Kita hanya akan makan pagi lalu berfoto untuk media sosial dan pulang ke rumah masing-masing. Kau bahkan tidak perlu hadir. Kami para wanita tua tak ingin membuatmu mati bosan karena mendengar celoteh kami mengenai para suami,” kelakar Madam Lilith. ⠀⠀ “Rencana yang luar biasa, Madam. Aku tak sabar untuk melarikan diri dari meja makan,” timpal Ivy. ⠀⠀ “Larilah selagi kau bisa, sayang. Oh, apakah kau sudah memeriksa tumpukkan hadiah yang dikirimkan untukmu? Tengoklah ke ruang tengah. Siapa tahu mereka bisa memperbaiki suasana hatimu yang serupa cuaca Antewrp bagian selatan.” ⠀⠀ Ivy tertawa untuk yang pertama kalinya hari ini. Terima kasih kepada Madam Lilith. “Baiklah. Aku akan melihat barang-barang itu.” ⠀⠀ Kepala Madam Lilith menengok ke belakang dan senyumnya mengembang. Semoga saja gadisnya itu akan bahagia. ⠀⠀ Deretan kotak yang dibungkus kertas kado tampak mulai menyerupai bentuk pohon natal yang dihiasi dengan tas-tas bingkisan di setiap sisinya. Ivy memeriksa setiap nama pengirim hadiah dengan saksama. ⠀⠀“Ah, Paman Roger. Bibi Jace, Harvey, Nona Weather, Joanne, Madam Lilith, ....” Ivy terlihat bersemangat ketika menyebut identitas para dermawan yang mengiriminya hadiah ulang tahun. Sebagian besar hadiah itu berasal dari para pekerja The Rouge atau kawan-kawannya di sekolah dan di kampus. “Sudah habis,” ucapnya kemudian terdengar sedikit kecewa. Ia mengharapkan mendapatkan satu nama yang sejak kemarin menghantui dirinya. ⠀⠀ “Oh, Nona Ivy. Anda seperti anak kecil yang tak sabar!” seru Joanna. ⠀⠀ “Aku gembira ketika mendapatkan hadiah, Joan!” ⠀⠀ “Beruntunglah Anda, Nona Ivy. Lebih banyak hadiah untuk Anda!” Joanna meletakkan beberapa kotak dan tas-tas bingkisan dari jenama terkenal. Ia kemudian meninggalkan Ivy ‘tuk membantu pelaksanaan penyajian makanan. ⠀⠀ “Oh, Laura! Harris, Jovin, dan Tuan Kyokutei Shinku.” Suara Ivy otomatis berbisik ketika mengucap nama pria tersebut. Meski begitu, debaran jantungnya tak pelan sama sekali. Dia malah semakin keras dan kencang.“Aku rasa aku akan mengambilnya,” ucapnya seraya menengok ke kiri dan ke kanan. ⠀⠀ Pemandangan itu sungguh lucu. Ivy mengambil tas bingkisan dari Shinku seperti seorang pencuri kemudian secepat mungkin dirinya berlari menuju kamar di lantai kedua. ⠀⠀ “Oh, Nona Ivy! Anda akan jatuh!” peringat Joanna saat menghidangkan ayam panggang di atas meja makan. ⠀⠀ “Joanku yang malang, kau tertinggal berita,” ucap Madam Lilith sembari memotong daun bunga mawar. ⠀⠀ “Maksud Anda, Madam?” ⠀⠀ “Ivy sudah jatuh.” ⠀⠀ Joanna berkacak pinggang, dahinya mengernyit, dan alisnya naik sebelah; ia tak mengerti apa yang dimaksud oleh Madam Lilith. Ia hendak meminta penjelasan lebih lanjut, tetapi, Madam Lilith sudah menjauh sembari membawa vas bunganya. ⠀⠀ Di lantai atas kediaman The Rouge, Ivy mengunci kamarnya. Ia tak ingin siapa pun menginterupsi kegiatannya saat ini. Tas bingkisan dari Shinku kini ditaruh di atas ranjang; Ivy mundur beberapa langkah dan meloncat kegirangan beberapa kali. “Ya Tuhan! Ya Tuhan! Ya Tuhan!” serunya tertahan. ⠀⠀ Gadis itu tak menyangka akan mendapatkan hadiah dari Shinku sebab pesan yang dijanjikan oleh sang pria tak kunjung diterima ponselnya. Namun, mari nomor duakan hal tersebut untuk sementara waktu, Ivy benar-benar ingin membuka hadiah yang ada di dalam sana. “Baik, mari kita mulai,” ujarnya sembari bertelut. ⠀⠀ Suara gemeresik dari tas bingkisan samar-samar terdengar ketika Ivy menarik keluar satu kotak berukuran medium dengan pelan. Tak ada jenama yang menandai asal-usul hadiah itu. Saat tutup kotak dijauhkan, Ivy menemukan satu kotak parfum, kartu ucapan, dan buku menidurkan diri di atas sesuatu yang terlihat seperti pakaian. “Arcana Rosa,” ucapnya saat membaca tulisan yang tercetak pada kotak parfum. ⠀⠀ Ivy hanya butuh waktu kurang dari satu menit untuk membongkar wadah pelindung si Arcana Rosa. Dipandanginya botol kaca yang elegan itu cukup lama sebelum aroma magis yang terkandung di dalamnya dihirup. Karakteristik wangi kayu yang kasar dan gelap bercampur dengan bunga mawar yang ringan menciptakan impresi maskulin dan feminin yang sempurna. Setelah beberapa saat wanginya mereda, Ivy dapat mencium aroma buah seperti leci. Saat otak si Rouge muda memproses wangi tersebut lebih dalam, ia teringat akan aroma kayu eksotis yang gelap dari Timur Tengah. “Rasanya bukan suatu yang baru. Di mana aku pernah menciumnya?” gumam Ivy. ⠀⠀ Botol parfum diletakkan di atas kasur, tangan mengambil kartu ucapan, dan seketika aroma Arcana Rosa yang rasanya sudah disemprotkan selama beberapa jam menyeruak ke dalam indera penciuman Ivy. Barulah dirinya sadar jika parfum tersebut digunakan oleh Shinku. “Apakah itu artinya kami mempunyai wewangian yang sama?” ⠀⠀ Ivy menenggelamkan wajahnya pada kasur. Ia dapat merasakan wajahnya merona secara instan. Setelah dirinya tenang, Ivy memutuskan ‘tuk membaca kartu yang telah ditulis oleh Shinku.
“Selamat pagi, Nona Rouge. Izinkan saya mengucapkan selamat ulang tahun yang kedua puluh untuk Anda. Sebelumnya saya harus meminta maaf karena memberikan Anda hadiah yang saya asumsikan Anda akan menyukainya. Satu botol parfum kesukaan saya, satu buku mengenai petualangan dunia, dan satu gaun dari Dolce dan Gabbana yang baru dirilis tahun ini. Untuk yang terakhir, saya kurang tahu ukuran Anda, dan hanya menduga-duga saja. Sekali lagi, selamat ulang tahun, Nona Rouge. Semoga Anda mekar dengan indah.”
⠀⠀ Ivy menengok ke dalam kotak sesaat lalu kembali lagi pada kartu ucapan. “Catatan, sepertinya Anda memberikan nomor telepon yang salah. Alih-alih berbincang dengan Anda, saya tiba-tiba harus berurusan dengan seorang nelayan bernama ‘Hendrijk’ karena telah mengganggunya malam-malam. Di bawah ini adalah nomor telepon saya. Hubungi ketika Anda memiliki waktu. Salam Kyokutei Shinku.” ⠀⠀ Seluruh tubuh Ivy terjatuh di atas lantai. Ia tak tahu harus beraksi seperti apa saat ini. Apakah harus bersyukur atau malu? Ia tampaknya sudah tak memiliki harga diri lagi di mata Shinku. ⠀⠀ “Oh, nomor,” ujar Ivy lalu mengambil ponselnya. Begitu cepat sang gadis menyimpan data itu seolah-olah takut akan kehilangannya. “Aku akan mengiriminya pesan.” ⠀⠀ Sementara itu di Brussels, Shinku sedang duduk di taman milik sepupunya, Kyokutei Zen, sembari membaca koran pagi. Ia ditemani Andrew dan Simon yang menyantap hidangan pagi mereka. Shinku menutup korannya saat menemukan sebuah pesan dari nomor tak terdaftar di kontak. Ia memeriksa isinya lalu tersenyum tipis. “Aku akan membuat panggilan sebentar,” katanya lalu masuk ke bagian taman yang lebih dalam. ⠀⠀ Satu menit, dua menit, dan di menit ketiga, ponsel milik Ivy berdering. Ia kelimpungan ketika menemukan nama Shinku pada layar. ⠀⠀ “Bernapas!” seru Ivy sebelum mengangkat menerima telepon tersebut. “Selamat pagi?” ⠀⠀ Suaraku, tolong jangan retak, batin Ivy. ⠀⠀ “Selamat pagi, Nona Rouge. Rasanya saya harus memanggil Anda seperti itu sekarang.” ⠀⠀ “Ivy saja cukup, Tuan Shinku. Saya merasa belum cocok dipanggil seperti itu.” ⠀⠀ “Lalu, kapan Anda merasa pantas disebut demikian?” ⠀⠀ “Mungkin ketika umur saya dua puluh lima tahun?” tanya Ivy tak yakin. ⠀⠀ “Bagi saya, saat ini adalah momen yang tepat.” ⠀⠀ “Kenapa begitu, Tuan Shinku?” ⠀⠀ “Karena Anda telah memasuki usia dewasa.” ⠀⠀ Ivy memutar ujung rambutnya sembari tersenyum lebar. “Saya kurang paham maksud Anda, tetapi, saya akan memikirkan hal tersebut.” ⠀⠀ “Tampaknya Anda sangat suka berpikir, Nona Rouge. Apakah tadi malam Anda memikirkan sesuatu juga hingga tak bisa tidur?” ⠀⠀ Ivy tertegun atas pertanyaan Shinku. Mungkin adam itu tak memiliki motif tertentu dan ini hanyalah pertanyaan basa-basi. Kendati demikian, baginya yang menghabiskan malam kemarin berkontemplasi memikirnya sang pria, ini adalah hal yang mengejutkan. Seluruh anak rambut di tubuh Ivy naik. ⠀⠀ “Ah, itu—sepertinya. Oh, Tuan Shinku. Terima kasih atas hadiah-hadiahnya. Anda adalah orang yang sepertinya perhatian. Saya pernah bilang hendak berkeliling dunia dan Anda memberikan buku mengenai topik tersebut. Kemudian, baju Dolce dan Gabbana, saya menggunakan jenama yang serupa di hari pertama kita bertemu. Lalu, parfum ini. Saya tidak tahu kenapa Anda memberikannya kepada saya. Apakah ada sesuatu yang saya tak sadari?” tanya Ivy. ⠀⠀ Shinku memandangi kebun bunga mawar yang ditanam Zen. Jari telunjuknya menyentuk permukaan salah satu bunga itu kemudian sebuah seringai tipis muncul di wajahnya. “Tidak ada, Nona Rouge. Apakah Anda menyukai aromanya?” ⠀⠀ Sebuah dorongan untuk berteriak girang muncul di dalam diri Ivy. Tapi, ia segera tenang, dan menjaga sikapnya. “Sungguh wangi yang unik dan menyenangkan, Tuan Shinku. Saya menyukainya.” ⠀⠀ “Syukurlah kalau begitu. Saya dengar dari Tuan Ammar, Anda akan mengadakan acara makan bersama. Apakah ini saatnya kita harus mengakhiri panggilan ini?” ⠀⠀Ivy tentu merasa durasi dialog mereka sangat singkat. Masih ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. “Tuan Shinku, saya punya permintaan.” ⠀⠀ “Apakah itu?” ⠀⠀ Ivy memainkan mata kalungnya. Ia merasa gugup dan takut atas permintaan yang dirinya akan buat kepada Shinku. Kendati demikian, hal ini telah dipikirkannya secara teliti—dalam satu malam. Hasilnya adalah bagaimana pun Ivy mencoba memikirkan pilihan yang lain, ia selalu kembali ke tempat yang sama dan itu membuatnya yakin bahwa apa pun ujungnya, saat ini, dirinya tak akan ragu untuk maju. ⠀⠀ “Nona Rouge, apakah Anda sedang mabuk?” ⠀⠀ “Tidak, Tuan Shinku. Saya serius mengenai permintaan ini. Ini memang sangat aneh dan sekarang saya tak tahu seperti apa citra diri ini di dalam benak Anda. Tapi, rasanya saya tak melihat siapa pun selain Anda.“ ⠀⠀ Shinku menyimpan kuasa bebasnya ke dalam saku. “Nona Rouge, Anda adalah seorang perempuan yang secara fisik pun karakteristik dapat digilai oleh seluruh laki-laki. Jika berbicara mengenai ego dan harga diri saya sebagai seorang pria, tentu saja permintaan dari Anda akan saya terima dengan senang hati. Namun, ini tidak segampang itu.” ⠀⠀ Ivy menggigit bibir bawahnya. “Apakah karena Tuan Ammar dan Madam Lilith?” tanyanya. ⠀⠀ “Rasa hormat saya kepada mereka adalah nyata wujudnya. Lebih lanjut, Madam Lilith sudah membesarkan Anda dengan baik agar tidak familiar dengan lingkungan yang hitam. Saya tidak ingin menodai kerja keras Madam.” ⠀⠀ Kalimat yang diutarakan oleh Shinku mengenai sasaran. Ivy yang ditumbuh di sekitar The Rouge tak pernah diizinkan lebih lanjut ‘tuk memahami apa saja yang terjadi di sana. Madam Lilith selalu mengajarinya ihwal di luar The Rouge yang berkenaan mengenai kehidupan ideal masyarakat. Apa yang diucapkan oleh Shinku juga mengonfirmasi terkaan Ivy tentang dirinya yang bukan individu biasa. ⠀⠀ “Tuan Shinku, saya sudah dewasa. Saya membuat keputusan ini setelah proses pertimbangan yang intens.” Ivy menolak mundur. ⠀⠀ “Nona Rouge, kita baru mengenal beberapa hari. Berikanlah diri Anda waktu untuk berpikir lebih matang mengenai hal yang Anda inginkan. Saya merasa saat ini Anda digerakkan oleh tindakan impulsif. Apakah Anda yakin telah dewasa?” ⠀⠀ Seketika tubuh Ivy tak berkutik. Ia pikir apa yang sudah diproses otaknya secara khusyuk adalah yang terbaik. Namun, Shinku tanpa usaha mematahkan keyakinannya. Di situ ia sadar permintaannya belum memiliki fondasi yang kuat. Dada Ivy terasa seperti ditusuk oleh sebuah belati. Ia masihlah seorang anak-anak yang terburu-buru karena takut mainan kesukaannya akan hilang karena dibeli orang lain atau di dalam kisahnya pergi tanpa kabar. Ivy pun tak mau menjadi serpihan memori belaka. Dirinya harus berusaha lebih keras. ⠀⠀ “Tuan Shinku, berikan saya waktu.” ⠀⠀ “Waktu untuk?” ⠀⠀ “Untuk membuktikan kepada Anda bahwa saya adalah seorang wanita dewasa. Bisakah Anda memberikan saya kesempatan itu?” ⠀⠀ Shinku mengusap bibirnya lalu tersenyum. “Tentu.” ⠀⠀ “Hingga saat itu tiba, saya akan mengejutkan Anda. Tolong tunggu saya yang sedang mempersiapkan diri ini. Saya akan mengabari Anda lagi. Tuan Shinku, semoga Anda selalu sehat!” ⠀⠀ “Anda juga, Nona Rouge. Semoga hanya yang terbaik untuk Anda,” ucap Shinku kemudian memutus panggilan di antara mereka. ⠀⠀ Ivy menghela napas lalu menghembuskannya kasar. Di dalam jiwanya kini membara sebuah api mengenai janji dan ikhtiar ‘tuk buktikan kepada seluruh orang, bukan hanya Shinku, bahwa ialah insan yang matang, dan patut dipertimbangkan. Penuh gairah, Rouge muda itu menarik ritsleting gaun yang digunakan dan meninggalkannya terjatuh di pinggiran ranjang. Ia menatap kaca yang menunjukkan seluruh kesempurnaan dan ketidaksempurnaan jasmaninya; mengapresiasi mereka sejenak sebelum menarik gaun merah di dalam kotak: Golce dan Gabbana berwarna merah dari Kyokutei Shinku. Ivy tersenyum ketika menemukan pakaian tersebut memeluk tubuhnya sangat baik. Betapa indahnya menunjukkan lekukkan tubuh yang sering tersembunyi di balik celana dan lapisan kain gaun yang mengembang. Sebagai ceri di atas kue, Ivy memoleskan lipstik merah yang dianugerahkan Madam Lilith kepadanya kira-kira satu tahun lalu. Benda itu tak pernah sekali pun digunakannya sebab ia merasa kurang pantas saat memakai warna merah. Namun, sejak hari ini, Ivy akan terus menggunakannya. ⠀⠀ “Michael, Lisa, Bonnie, oh, kalian. Apakah sudah lapar?” tanya Madam Lilith ketika menyambut para kawannya. ⠀⠀ “Oh, Madam. Kami sungguh kelaparan—oh, hai, astaga, ya Tuhan!” seru Michael histeris. ⠀⠀ “Michael! Kenapa begitu—oh, Bunda Maria!” ⠀⠀ Di belakang Madam Lilith, Ivy terlihat menuruni tangga. Begitu tenang dan percaya diri, wanita itu berdiri di samping Madam Lilith yang tertegun. Keseriusan memenuhi binar mata. ⠀⠀ “Madam, aku telah memutuskannya. 'Le Royaume Rouge’ adalah milikku,” ucapnya tegas.
𝐃𝐀𝐘𝐒 𝐖𝐈𝐓𝐇𝐎𝐔𝐓 𝐒𝐔𝐍𝐒𝐇𝐈𝐍𝐄.
𝐈𝐅 𝐒𝐇𝐈𝐍𝐊𝐔 𝐖𝐀𝐒 𝐘𝐎𝐔𝐑 𝐁𝐎𝐘𝐅𝐑𝐈𝐄𝐍𝐃
DAY ONE
• At 05.00 AM, a chat arrives. It says, “Good morning.” • He tries to send it regularly. Leaving the fact that he doesn’t like to exchange text-based messages. • He won’t reply fast because work is still his priority. • Expect a call in the evening.
DAY TWO
• Most of the dates happen at night. The classic date night will be dinner. Going to a restaurant or calling a chef. He knows Ivy can’t cook. • Chilling on the sofa while watching Netflix might do too. • A goodnight kiss before he goes home.
DAY THREE
• Adventurous vacations. Snorkeling with the shark, safari in Africa, paragliding, off-roading; expect the unexpected. • Matching sunglasses. • He loves it when his baby is sweating with excitement. • “Do you enjoy it? Blessed you, we are just starting.”
DAY FOUR
• A personal bartender. Shinku knows varied cocktail recipes. • “Moscow mule? Pink lady? Mojito? Bamboo? Name it.” • He’ll show his mixing skill. Not as pro as the bartender, but worth to be proud of; some women believed it was a stupefying experience.
DAY FIVE
• Couple workout twice a week. • Buying numerous vitamins and organic products for Ivy. • One the phone: “No sugar. Drink your green juice. Don’t even think to fool me.” • A sadistic personal trainer. No slacking. • “What? Do another set. Now.”
DAY SIX
• Going to every social gathering together. Slaying with their outfit. • Carrying Ivy’s pouch when he can. • Bringing food and drink to her without being asked. • Constantly checking her dress then whispers, “It’s hard to concentrate. I wonder why?”
DAY SEVEN
• Making a way for Ivy’s business. She won’t know about this, though. • “Send me a picture.” Every time he has a free time. • Smiling at whatever Ivy sends. Azuma thinks he has gone crazy. • Actually, he’s just in love. • “I’ll see you next week.” Sent.
DAY EIGHT
• Staring at a message on his hotel bed. It says: “I’m off to work!” but he is going to bed. • They haven’t talk much since he is away; time difference sucks now. • He waits a little bit longer. Just in case. • “I’m here!” • “I’m here too.”
DAY NINE
• Strolling around a village in French while holding hands. • This time the trip is about healing. • Sitting on a bench, circled by a lavender garden, and eyes are staring at the lake. • No words. Only adoration to nature and a warm embrace.
DAY TEN
He won’t say ’I love you’ to show his love. Instead, he conveys it through burning touches, heavy kisses which truthful of his adoration, be considerate but always fails to control the passion whenever he thrusts himself in. “𝑴𝒊𝒏𝒆. 𝒀𝒐𝒖’𝒓𝒆 𝒎𝒊𝒏𝒆.”
DAY ELEVEN
• From one store to another—the designer boutique or H&M—he won’t judge. • He comes into the changing room too. • Standing on the edge while watching Ivy getting undresses. • “That looks good.” He knows she loves to hear it but somehow ends up waiting outside.
DAY TWELVE
• A relationship without a fight is questionable, especially with Kyokutei Shinku. • His family is one thing. His jealousy is—irrational. • “Who was so funny that both of you laughed like a maniac? Tell me. I want to laugh too.” Deadpan. Just run.
DAY THIRTEEN
• No matter how late it is, when she's calling for him, he'll be there. • "Which part is sick? I'll rub it for you." • Anything she craves, he'll give. A hug? Sure. A kiss? Got it. She wants to hang like a freaking koala? Do it. She wants him to act cute? Yeah—what?
DAY FOURTEEN
• Agreeing to be with him means embarking into a kingdom of the unknown. • It seems his heart is nowhere to be found. • One day he can pamper her with loves and bites; the next day he won’t say anything. • His attitude is confusing. Does he breathe for her?
DAY FIFTEEN
• If he thinks it’s the right time, he’ll show her his crystal collection. • “This is clear quartz. It helps to balance your body.“ • At the end of the introduction, he might gift her with a crystal: rose quartz. • “It resembles you. Use it well.”
MAKTUB / 𝕯.08
madam,
let me be,
the 𝖑𝖆𝖉𝖞,
le royaume rouge,
is mine.
MAKTUB / 𝕯.07
woof,
woof,
woof woof?
𝖜𝖔𝖔𝖋!




