Β β β TIGA PULUH menit Shinku berdiam diri di depan kandang Abdul, Azuma dan Nao mengamati dengan sorot mata khawatir. Mereka saling bertukar pandang, menyeruput teh, lalu hening sejenak.
Β β β βApakah Nii-sama baik-baik saja?β Nao membuka topik.
Β β β βMungkin,β Azuma melirik Shinku, βmungkin dia sedang berkomunikasi dengan Abdul secara batin.β
Β β β Si kucing besar pun bergeming sembari menatap lurus ke mata Shinku. Mimiknya tak terbaca. Seolah-olah memang benar apa yang dikatakan oleh Azuma: mereka berbicara melalui sanubari.
Β Β β β Terkadang Abdul mendekat lalu mundur dua langkah. Kemudian dia mendekat lagi. Ragu.
Β Β β β Ada sesuatu yang membuatnya tak bisa mendekati sang tuan. Bukan karena jeruji besi, tapi energi lain yang kurang nyaman.
Β β β Setelah beberapa menit penuh ragu, akhirnya Abdul percaya diri mendekat. Dia menaruh wajah di sela jeruji, dan menutup mata ketika Shinku mengusap kepalanya.
Β Β β β βLihat itu,β bisik Nao takjub. βMereka saling menyentuh!β
Β Β β β βBegitu rupanya,β Azuma menaruh cangkir teh, βShin-kun mengajari Abdul untuk sabar,β katanya dengan tenang.
Β Β β β Nao membulatkan mata. βNii-sama memang menakjubkan. Dia bisa mengendalikan seekor jaguar.β
Β Β β β Azuma mengangguk tanda setuju dengan perkataan Nao.
Β Β β β Meski begitu, kenyataannya bukanlah demikian. Yang menakjubkan adalah kemampuan Shinku melamun selama tiga puluh menit. Dan Abdul menyadarkannya dengan sundulan kecil pada tangan.
Β Β β β Bukan karena Shinku mengajarkan sabar.
Β Β β β Lalu seperti kucing pada umumnya, Abdul merebahkan diri pada rumput. Menunjukkan perutnya. Tolong usap!
Β Β β β Dan begitu patuh Shinku menggerakkan tangan di sanaβsesekali ditepuk jua. βKau sangat manja,β katanya.
Β Β β β Abdul memeluk lengan Shinku sembari menguap. Taring-taring tajamnya terlihat berkilau bersama lidahnya yang kasar; buntut beratnya dihentak beberapa kali sebagai tanda girang.
Β Β β β Sudah lama dia tak bertemu Shinku dan hari-hari terasa membosankan. Lana pun sibuk tidur di sangkarnya dan hanya sesekali melirik.
Β Β β β Begini terasa lebih hangat. Dia merindukan tangan Shinku yang sudah merawatnya sejak bayi.
Β Β β β Abdul mengenali aromanya, teksturnya, dan ketulusannya. Tapi jujur saja sepertinya sang tuan sedang tak sebebas biasanya dari temaramnya hawa yang dipancarkan.
Β β β Oleh karena itu, Abdul bertingkah menggemaskan. Berguling-guling pada rumput hingga mengotori rambut hitamnya, mengusap-usapkan wajah pada telapak tangan Shinku, dan berusaha menangkap seekor kodok yang hidup di sekitar kolam mandinya.
Β Β β β Dia ingin Shinku bahagia.
Β Β β β Setelah berhasil mendapatkan si kodok, Abdul membawanya kepada Shinku. Telinganya kemudian tegak saat mendengar tawa sang tuan.
Β Β β β βAbdul, kodoknya mati,β ujar Shinku disela tawanya. βOh, sayang sekali.β
Β Β β β Lalu dari tempat mereka, Nao berdiri. Dia berusaha mengamati lebih dekat. Shinku tertawa adalah fenomena yang harus diapresiasi dengan baik.
Β Β β β βAbdul selalu tahu caranya membuat Nii-sama senang,β komentarnya.
Β Β β β βMembawanya ke sini adalah keputusan yang tepat,β sahut Azuma.
Β Β β β Sudah beberapa hari ini Shinku mengunci diri di ruang kerja. Dia terlihat lebih stres dibandingkan biasanya. Hal itu mengkhawatirkan sebab telah mencapai tingkat di mana ia menolak untuk makan. Bahkan panggilan Asahi pun diabaikannya.
Β β β Paham Azuma hanyalah alam yang bisa mengembalikan energi Shinku. Mendaki gunung atau berlayar di laut bukan opsi yang tepat di masa ini. Lantas yang terdekatlah menjadi pilihan utamanya: Abdul dan Lana.
Β Β β β AzumaΒ tersenyum menyaksikan Shinku yang masih tertawa. Kini dia masuk ke dalam kandang dan bermain lempar-tangkap menggunakan boneka kesayangan Abdul. Seperti itu pun cukup.