Kemarin, hari Senin.
Seperti Senin-senin sebelumnya, saya ngebut buru2 menuju kantor karena apel pagi dimulai sebelum jam 8.
Alhamdulillah sampai kantor pas banget apel baru dimulai.
Nggak ada yang beda dari apel hari ini. Pimpinan apel membahas agenda yang sedang berjalan di bidang dan saya berusaha mendengarkannya dengan seksama.
Selesai apel, saya tanda tangan di presensi apel. Kenapa? Konon kepala dan sekretaris dinas pingin tahu siapa aja yang nggak ikut apel.
Nah konflik dimulai ketika saya duduk di kursi saya.
Ada pesan WhatsApp masuk;
"Na tolong absenin saya ya, saya lagi isi bensin ngantri nggak keburu apel"
Klasik. Permintaan sebelumnya pun saya udah pernah nolak. Kok nggak kapok ya saya tolak?
Saya diemin aja tuh.
Nggak lama, si ibu nelpon. Saya nggak angkat juga. Saya memilih membalas via chat karena malas debat pagi2.
"Bu maaf saya nggak bisa ngabsenin. Ibu langsung ke Bu Dian aja ya"
Nggak lama, si ibu muncul. Dan marah2 ke saya! Hehe.
"Hana, kok saya WA nggak dibales nggak diangkat. padahal kamu online!"
"Udah saya bales Bu"
"Halah alasan. Apa susahnya sih ngabsenin!"
"Tadi aja dari bidang kita cuma ada saya sama Bu Dewi. Mana berani saya ngabsenin ibu"
Diapun pergi sambil membanting langkah.
Saya? Yaa agak deg2an sih. Cuma saya lebih tenang. Dan nggak nyangka bisa seberani itu; berhasil mempertahankan prinsip meski di hal yang menurut orang "remeh" ini.
Oh iya, ini balasan WA saya ke beliau:
"Maaf Bu saya nggak bisa. Semoga ibu memahami prinsip saya ya Bu..🙏🏼 utk tugas lain/tanggung jawab lain saya pasti mau bantu dan kerjakan.."
*Meskipun pahit, semoga tetap terlihat cukup sopan dengan saya menyisipkan emoticon 🙏













