Liburan #JadiBisa Segampang Karya Wisata Waktu Masih Sekolah (yang Bebas Antrian)
Apa yang bakal kamu lakukan kalau tiba-tiba dikasih tiket pesawat/kereta/bis* secara cuma-cuma?? (*pilih salah satu!!).
~Kalau aku sih langsung terima, terus minta yang tujuannya ke Bali (kalau dapet tiket pesawat), ke Surabaya (kalau dapet tiket kereta), dan ke beberapa daerah di Jawa Barat (kalau dapet tiket bis). Yang pasti aku mau mengunjungi tempat-tempat rekreasi yang ada di sana alias LI-BU-RAN.!
Oke. Terus tempat-tempat apa aja yang mau kamu kunjungi selama di sana??
~Aku mau ke .... *berpikir karena aku sendiri bingung mau ke mana*
~Aku cari dulu deh di internet.
Ya, udah, kamu bikin itinerary dulu! Nanti dikasih tiket ... . *salah satu dari pilihan di atas*
Aku ambil laptop terus duduk di depan TV yang dibiarkan menyala. Aku cari di internet tempat-tempat rekreasi di daerah tujuan liburanku. Sambil nyari, telingaku mendengarkan TV *hanya mendengarkan, karena mataku melihat layar laptop.*. Siapa tahu di TV ada acara yang lagi bahas tempat wisata yang wajib dikunjungi ketika berkunjung ke suatu daerah.
Tiba-tiba waktu acara TV lagi iklan, aku denger kalimat begini, “Traveloka dulu, liburan tenang kemudian.” Aku langsung mikir, Traveloka? Itu kan situs yang menyediakan jasa liburan. Saat itu juga, otakku langsung memerintahkan tangan, mata, sampai hati untuk membuka website Traveloka.
Setelah website terbuka, aku lihat-lihat sebentar dan langsung ambil kesimpulan, Ah, Traveloka kan cuma nawarin tiket transportasi sama hotel aja. Kalaupun ada yang lain palingan pulsa sama paket data. Jadi buat apa aku lama-lama buka website ini.. Aku menutup website Traveloka.
“Hhhm, dia lupa sama slogan gue, Traveloka dulu, liburan tenang kemudian.” Kata website Traveloka ketika ia mengetahui kesimpulan si aku pasca buka websitenya.
Aku kembali browsing sambil dengerin TV. Kali ini didampingi buku kecil dan sebatang pensil. Kedua alat ini membantuku membuat daftar tempat-tempat rekreasi yang ada di daerah tujuan liburanku.
Aku pun menghabiskan banyak waktu, tenaga, pikiran, dan pulsa listrik untuk membuat catatan yang berisi serentetan tempat rekreasi yang direkomendasikan orang di daerah tujuan liburanku.
Setelah itu aku memilah-milah tempat rekreasi yang sudah aku daftar sekaligus membuat itinerary atau rencana perjalanan. Pembuatan itinerary juga menghabiskan banyak waktu dan pulsa listrik untuk browsing lagi. Aku perlu mencari informasi sedetil mungkin tentang tempat yang akan aku kunjungi.
Begitu Itinerary-ku selesai, aku langsung menunjukkannya pada papa mama *maklum aku kan anak kecil, jadi masih tergantung pendapat orang tua*. Sekaligus minta doa restu orang tua sebelum aku pergi liburan.
Setelah papa mama membaca itinerary-ku, komentar pertama datang dari mama, katanya, “Selama di sana, kakak *panggilanku dari orang tua*, nggak butuh makan? Perasaan dari semua tempat yang ada di daftar, kayaknya nggak ada tempat makannya? Katanya mau sekalian wisata kuliner.”
Aku langsung sadar kalau aku sudah melupakan sesuatu.
“Kak, kakak harus tetep makan teratur! Kalau nggak nanti sakit. Kakak tuh di sana sendirian. Nggak ada temen, nggak ada saudara. Jadi nggak boleh sakit.” Papa langsung ikut mengomeliku, begitu tau aku lupa memasukkan tempat makan di-itinerary-ku.
Aku mengambil buku kecil dari tangan mama dan masuk ke kamar. Kenapa aku bisa lupa sih masukin tempat makan ke itinerary? Padahal kan wisata kuliner termasuk agenda liburan., omelku. Aku mulai merasa kesel sendiri.
Kenapa sih mau liburan aja harus ribet begini? Padahal aku cuma perlu cari tempat rekreasi aja, tapi kenapa aku masih ngerasa pusing sih?, batinku, Aku jadi inget karya wisata waktu masih sekolah dulu...
Aku pun mulai mengenang masa-masa sekolah dulu, di mana kalau mau pergi karya wisata ke luar kota *yang ujung-ujungnya jadi liburan* aku cuma bayar aja, terus bisa tenang-tenang karya wisata. Nggak perlu repot-repot nyari tempat yang mau dikunjungi, nyari tempat makan, beli tiket masuk, dan segala urusan lainnya. Pokoknya karya wisata waktu masih pake seragam itu nggak ribet deh *Ya, iyalah, orang udah diurusin sama guru-guru sama orang tua.*.
Satu lagi nih, pas nyampe lokasi, kita nggak perlu tuh yang namanya antri buat masuk ke tempat rekreasi. Begitu dateng langsung masuk, soalnya udah punya tiket. Aku pun berharap liburan kali ini sama seperti karya wisata waktu sekolah dulu.
Tapi apa mungkin liburan aku ini nggak serumit karya wisata waktu SD dulu?, tanyaku sambil baring di tempat tidur dan menatap langit-langit kamar, aku ragu liburanku ini bisa segampang karya wisata anak sekolahan yang tinggal bayar ke guru, terus berangkat, pas sampe di tempat rekreasi langsung masuk tanpa harus antri lagi.
Di tengah keraguanku itu, telingaku mendengar iklan Traveloka di TV *lagi-lagi hanya mendengar karena TV nggak ada di kamar* dan di akhir iklan aku denger slogannya lagi, “Traveloka dulu, liburan tenang kemudian.”
Traveloka dulu, liburan tenang kemudian? Apa, iya, websire Traveloka yang isinya cuma jual tiket pesawat, tiket kereta, sama daftar hotel bisa bikin liburan aku jadi tenang?, aku bertanya-tanya sambil menyalakan laptop dan membuka website Traveloka.
Website Traveloka menjawab. “Ya, iyalah, gue gitu loh.. Traveloka kan punya produk Aktivitas & Rekreasi. Produk yang ngasih kamu tips dan informasi tentang tempat wisata yang sudah pasti mendukung liburan kamu. Jadi cuma Traveloka yang bisa wujudin angan-angan kamu tentang liburan yang gampang kayak karya wisata waktu sekolah dulu.”
Setelah website terbuka, mata aku langsung ngeliat tulisan Aktivitas & Rekreasi. Perasaan kemarin aku nggak ada ngeliat produk ini deh., pikir aku sambil meng-klik tulisan produk ini dan laman Aktivitas & Rekreasi pun terbuka. Oh, jadi Traveloka juga punya produk kayak gini. Kenapa nggak dari kemarin aku buka ini?, kataku dengan sedikit menyesal.
Website Traveloka pun menertawakanku. “Makanya baca dulu baru ambil kesimpulan. Kemarin langsung ditutup sih laman Traveloka-nya. Nyesel kan sekarang.” katanya.
Di laman produk ini ada tulisan ‘pilihan-pilihan terbaik’ di bawah kotak tempat mengetik nama destinasi atau atraksi. Terus aku klik tulisan itu dan aku pilih Indonesia lalu keluar Destinasi Lokal Populer di beberapa daerah, termasuk daerah tujuan liburanku. Di setiap kotak daerah tertulis angka yang menunjukkan jumlah tempat wisata yang ada di daerah itu. Wow, lebih banyak dari yang ada di itinerary aku., kataku takjub.
Aku mulai menjelajah dari menu Atraksi. Di menu atraksi ini disediakan berbagai macam tempat seperti waterboom dan wahana permainan di dalam dan luar ruangan.
Lalu aku beralih ke menu Aktivitas. aku kaget begitu melihat tempat-tempat yang disajikan dalam menu ini. Tau nggak tempat apa aja? Ada tempat spa, salon, tempat berkuda, dan tempat-tempat untuk melakukan banyak aktivitas lainnya.
Keren juga Traveloka. Bener-bener pembuat liburan jadi bener-bener tenang. Nanti kalau aku udah capek, aku bisa pergi ke tempat spa buat nge-rileks-in badan. Jadi badan aku tetap segar buat ngejalanin perjalanan besoknya., pikirku.
Dari Aktivitas, aku pindah ke menu Kuliner, menu yang dikritik sama mama papa karena nggak ada di itinerary. Begitu melihat banyak tempat makan yang tersedia di website Traveloka, aku pun merasa aman dari ancaman sakit karena tidak makan teratur.
Menu terakhir yang aku buka adalah Tur. Di menu ini disediakan berbagai tempat rekreasi yang menyajikan ciri khas suatu daerah, tempat rekreasi yang punya tema menjelajah alam dan potensi suatu daerah.
Setelah melihat keempat menu ini, aku jadi bersemangat untuk membuat itinerary dari awal. Aku langsung mengambil buku kecil dan pensil. Lalu membuka halaman baru dan mulai membuat itinerary baru.
Sama seperti membuat itinerary yang terdahulu, proses pembuatan itinerary baru ini pun membutuhkan informasi mendetil dari tempat rekreasi yang akan kukunjungi. Pembuatan itinerary yang baru lebih cepat daripada sebelumnya, karena semua informasi mendetil yang aku butuhkan sudah tersedia di website Traveloka. Mulai dari jam operasional, alamat yang dilengkapi peta lokasinya, deskripsi dan keterangan tempat, juga tidak ketingggalan foto-foto dari tempat tersebut. Bukan cuma itu aja, di website Traveloka juga terdapat komentar orang-orang yang sudah pernah datang ke tempat tersebut. Pokoknya semua yang aku butuhkan tersedia di sana. Jadi hanya dengan sekali klik, aku bisa menulis di buku kecil dengan tenang.
Membuat itinerary liburan yang bersumber dari website Traveloka, membuat aku tidak lupa menyelipkan tempat makan di setiap jam makan aku. Malah bukan cuma tempat makan, tapi aku juga menambahkan tempat spa di beberapa waktu.
Aku menambahkan tempat spa & refleksi dalam itinerary-ku, supaya badanku tidak merasa capek dan selalu dalam keadaan rileks. Jadi badanku tetap sehat sentosa ketika aku pulang ke rumah di Bandung.
Itinerary pun selesai, aku mulai mencoba memesan tiket masuk/voucher tempat yang akan kukunjungi. Aku tentukan tanggalnya, jumlah orangnya, dan aku meminta sistem mencarikan tiket untukku. Setelah tiket didapat, aku diminta mengisi data diriku. Setelah itu aku harus melakukan pembayaran diikuti dengan konfirmasi pembayaran. Kemudian dalam waktu 15 menit, tiket masuk/voucher langsung dikirimkan ke email. Wah, kalau begini gampangnya, harapan liburan segampang karya wisata bisa terwujud. Malah liburan ini lebih gampang lagi, soalnya nggak ada tanggung jawab harus buat laporan, hahaha...., pikirku yang kini tersenyum lebar membayangkan kemudahan yang aku dapat dengan menggunakan Traveloka.
Salah satu kemudahan yang aku terima adalah aku tidak perlu mengantri lagi, seperti pengunjung lain, ketika akan masuk ke tempat rekreasi, karena aku sudah punya tiket masuk/vouchernya.
Saatnya liburaaaaannn....
Aku menjalaninya sesuai dengan itinerary dan liburanku bukan hanya seperti karya wisata waktu sekolah, tapi liburanku sempurna. Aku bisa masuk tanpa harus antri dulu. Padahal jumlah pengunjung membludak dan mereka sedang mengantri.
Kebayangkan kalau nggak ketemu sama Traveloka? Waktu liburanku terbuang sia-sia hanya untuk antri. Jadi aku sarankan untuk buka Traveloka dulu sebelum liburan, karena Traveloka membuat liburan segampang karya wisata anak sekolahan. Pas dateng langsung masuk, tanpa harus antri.
Terakhir, saatnya aku mengucapkan,
“TERIMA KASIH, TRAVELOKA.”