“Ke New Zealand yuk akhir tahun ini, naik campervan, road trip biar kayak di film-film.”
Begitu ucapan saya ke suami selepas kami menikah di akhir Maret kemarin. Menikah? Kata itu jarang sekali terlintas di benak saya. Menikah di bawah usia 30 tahun. Sebagai mbak-mbak kantoran yang suka jalan-jalan, dari awal usia 20 tahun saya lebih suka menghabiskan waktu (dan uang) untuk solo traveling. Banyak hal yang ingin saya lakukan sebelum usia 30. Ambisi yang paling tinggi jelas ingin keliling dunia, kalau belum bisa tercapai paling tidak saya ingin keliling Eropa dan ingin road trip di New Zealand. Tapi ternyata memang rencana Tuhan tidak bisa ditebak. Ternyata saya disuruh menikah dulu di usia 27 tahun. Keputusan yang ternyata tidak saya sesali. Karena setelah menikah ternyata saya #JadiBisa bulan madu ke Eropa.
Yang awalnya saya berencana solo traveling ke Eropa, ternyata malah jalan sama suami. Dan tentunya perjalanan tersebut tidak terlepas dari jasa Traveloka. Saya sudah lama mengenal Traveloka dan suka menggunakan aplikasinya di gawai, baik untuk mencari tiket pesawat, hotel, atau kereta api. Fitur yang paling saya suka adalah best price finder untuk tiket pesawat, sehingga saya tidak perlu susah-susah membuka satu-satu situs maskapai untuk membandingkan tiket termurah. Menariknya, di Traveloka kita bisa memilih mau pergi dari kota atau bandara yang spesifik. Hal ini tentu sangat memudahkan bagi saya yang ingin jalan-jalan dengan dana minimal. Saya tidak hanya bisa membandingkan antar maskapai, tapi juga bisa membandingkan pilihan berangkat dari Indonesia atau negara tetangga.
Di Traveloka bisa pilih kota maupun bandara spesifik yang diinginkan.
Fitur Find lowest price estimates membantu kita untuk melihat kapan tanggal termurah yang tersedia.
Akhirnya kemarin saya ke Eropa ‘cuma’ habis 8 juta pulang pergi. Dengan bantuan Traveloka, saya bisa menemukan harga tiket yang murah, walaupun harus menempuh perjalanan Jakarta - Kuala Lumpur, Kuala Lumpur - Amsterdam pulang pergi, dan pulang ke Jakarta dari Kuala Lumpur. Yang paling membantu adalah Traveloka menawarkan berbagai jenis pembayaran yang memudahkan penggunanya. Kalau harus booking langsung di maskapai, mungkin saya tidak akan bisa berangkat ke Eropa. Tapi Traveloka menawarkan pembayaran tanpa kartu kredit, sehingga jadi juga saya berangkat berdua dengan suami.
Eropa sudah, lalu bagaimana dengan bucket list saya selanjutnya yaitu New Zealand? Beruntung suami juga pecinta jalan-jalan, sehingga kami pun sudah semangat merencanakan perjalanan kami berikutnya. Tapi ternyata memang Tuhan selalu punya rencana lucu. Saya langsung hamil setelah menikah 2 bulan. Menikah saja saya jarang kepikiran, apalagi punya anak. Namun tentu saja kami dengan senang menyambut berita ini. Lalu bagaimana dengan anggapan bahwa kalau sudah punya anak tidak akan bisa bersenang-senang lagi? Apalagi saya dan suami masih punya bucket list yang ingin dicapai. Yang jelas kami harus menunda rencana kami di akhir tahun ini. Lucunya ternyata Traveloka tidak hanya membuat saya #JadiBisa ke Eropa, tapi juga #JadiBisa langsung punya momongan :)
Suatu siang di kantor, saya yang sedang bosan dengan rutinitas iseng membuka aplikasi Traveloka di gawai saya. Saya pun iseng mengecek hari libur di 2018. “Wah, asyik ni, di Agustus ada libur di hari Jumat dan Rabu minggu depannya. Cuti 4 hari bisa dapat 9 hari libur.”, begitu pikir saya. Dan di bulan itu juga si kecil nanti kemungkinan besar sudah bisa diajak memulai petualangan :D
Dan ternyata benar, di tanggal yang saya inginkan itu saya dapat tiket pulang-pergi ke New Zealand seharga di bawah ini!
Delapan juta pulang pergi ke New Zealand naik full service airline!
Saya memutuskan tidak langsung membeli tiket, karena pikir saya, “Ah, nanti biasanya Traveloka ada promo tambahan di weekend.” Akhirnya di hari Minggu, sambil bersantai dengan suami, iseng saya cek lagi Traveloka. Saya masukkan tanggal yang sama, dan benar saja, harga yang saya dapatkan untuk tanggal dan jam yang sama lebih murah 600 ribu per orang xD
Belum lagi ditambah ada promo kartu kredit Mandiri untuk hari Jumat-Sabtu, jadi masih dapat potongan 300 ribu lagi. Benar-benar tiket termurah yang pernah saya temukan untuk rute ke New Zealand! Naik full service airline pula! Dan yang lebih menyenangkan, tiket yang saya dapat bisa dijadwal ulang dengan fitur Easy Reschedule dan juga Refund dari Traveloka. Tentu saya berharap semua lancar sehingga saya tetap bisa mewujudkan bucket list saya ke New Zealand, tapi adanya kedua fitur tersebut tentu lebih memberikan ketenangan :D
Jadi, terima kasih Traveloka! Entah sudah berapa bucket list yang telah diwujudkan hanya dengan sentuhan jari di aplikasinya. Semuanya #JadiBisa dengan Traveloka!
Kami sampai di Giant Ibis terminal di Siem Reap pukul 5.30. I will definitely recommend Giant Ibis to everyone who plan to take bus in Vietnam and Cambodia. Pengalaman naik Giant Ibis ini benar-benar nyaman, I slept like I’m in real bed. Begitu sampai di terminal, kami memutuskan mau naik tuk-tuk ke penginapan. Begitu keluar, ternyata ada mas-mas yang bawa kertas berisi nama saya. Wow... ternyata saya dijemput oleh orang hotel. Saya memang sudah booking di booking.com, sudah dihubungi manajer hotelnya, ditanya detail kedatangan karena memang ada fasilitas free pick up. Tapi hari sebelumnya, saya belum konfirmasi lagi, jadi saya pikir paling orang hotelnya lupa. Ternyata saya benar-benar dijemput :’))
Sesampai di hotel juga kami langsung disambut resepsionis yang sangat ramaaaaah, yang langsung menjelaskan tentang tour di Siem Reap. Dia juga sempat bilang kalau muka kami orang Indonesia mirip dengan orang Kamboja, hahahaha... Dari hotel sendiri memang menyediakan tour ke komplek Angkor dan beberapa tempat lain di Siem Reap. Kami memilih Angkor Small Tour, yang meliputi Banteay Kdei, Ta Prohm, Ta Keo, Angkor Thom, dan Angkor Wat. Dan karena kami juga ingin melihat sunset, jadi menambah dengan sunset package (which we actually regret it). Small tour ini biayanya USD 16, ditambah sunset USD 5. Dan ternyata kalau pesan dari hotel, biayanya masih ditambah pajak dan service charge. Jadi total kami keliling Angkor Park kemarin sekitar USD 27.
Rute Small Tour Angkor Park
Kami diantar dengan tuktuk ke Angkor Archaelogical Park. Jalanan di Kamboja memang mirip dengan kota kecil di Indonesia, jalanannya belum begitu bagus dan berdebu. Apalagi kalau naik tuktuk akan sangat berasa anginnya. Jadi sangat disarankan untuk sedia masker atau scarf sebelum berkeliling naik tuktuk. Kami diantar ke tempat beli tiketnya, untuk One Day Pass sendiri harganya USD 20. Ada pula Three Day Pass (USD 40) dan Seven Day Pass (USD 60) buat yang memang mau menjelajahi candi-candi di Angkor dengan santai. Kabarnya mulai Februari 2017 tiket masuk Angkor Park akan naik, One Day Pass sendiri harganya jadi USD 37.
Loket tiket masuk Angkor Park.
Tiket masuk Angkor Archaelogical Park sendiri seperti ini.
Kami difoto dulu saat beli tiket.
Walaupun di Indonesia sendiri banyak tempat wisata untuk melihat candi dan reruntuhannya, Angkor Archaelogical Park still worth a visit. Kompleksnya sendiri memang sangat luas. Di sana juga banyak anak-anak kecil yang menjajakan souvenir. Di peraturannya Angkor Park sendiri selain menjelaskan tentang dresscode dan aturan-aturan umum, jelas ditulis bahwa kita jangan membeli barang dagangan dari anak-anak kecil, karena jika mereka mengenal uang dari kecil mereka akan malas bersekolah. Sebenarnya kasihan juga kalau lihat anak-anak kecil yang jualan. Sempat ada anak kecil yang langsung mengejar saya waktu keluar dari Ta Prohm, menawarkan magnet yang awalnya 10 ringgit untuk 4 buah, lama-lama jadi 10 ringgit untuk 10 buah. Karena saya pakai jilbab, dipikirnya saya dari Malaysia kali ya. Sebenarnya gadis kecil itu pintar juga bisa mengenali saya sebagai orang Malaysia karena saya memakai jilbab, dan dia tahu kalau mata uang Malaysia adalah ringgit. I also read some experiences that those street kids selling souvenirs in Angkor Park can speak basic English and know some basic geography knowledge. Saya kurang tahu apa mereka benar-benar tidak bersekolah (karena ada yang bilang kalau sekolah di Kamboja bisa dimulai dari siang hari), apa mereka adalah bagian dari organisasi yang mengeksplotasi anak kecil. But they say if you want to help them, you can just donate to official organizations. Sebenarnya pasti dilema kalau dihadapkan dengan kejadian seperti ini, ada beberapa orang yang tidak mempermasalahkan membeli dari street kids, tapi ada juga yang memilih untuk tidak membeli dari mereka. Saya sendiri akhirnya meninggalkan gadis kecil tersebut, berlalu naik tuktuk.
Di hotel kami pun menyediakan peraturan ini.
Well, my favorite temple in Angkor Park, it’s certainly not Angkor Wat. Angkor Wat cantik sih kalau difoto dari depan dengan pantulan dari air. But Ta Prohm is my favorite temple!
Tomb Raider spot!
Look at the huge tree! So magical!
Jika candi-candi lain di Angkor Park kebanyakan sudah dalam kondisi yang bagus, Ta Prohm ini salah satunya yang masih dalam kondisi hampir sama seperti saat ditemukan. The ruins and huge trees on the ruins do give eerie atmosphere in this temple. Pohon-pohon besar ini juga yang memberikan ciri khas tersendiri bagi Ta Phrom jika dibandingkan dengan candi lainnya. Berasa seperti di hutan dikelilingi reruntuhan.
My second favorite temple is Bayon in Angkor Thom. Angkor Thom adalah bekas ibukota Kerajaan Khmer kuno yang didirikan oleh Raja Jayawarman VII. Bayon sendiri adalah salah satu candi di area Angkor Thom. The distinct features of Bayon are the giant stone faces in the temple. Wajah-wajah di patung yang ada di Bayon ini konon adalah wajah Raja Jayawarman VII sendiri.
Sebenarnya banyak yang bisa dijelajahi di Angkor Thom selain Bayon, tapi karena kami capek dan nggak tahan panas, akhirnya kami langsung menuju ke Angkor Wat.
The entrance to Angkor Thom.
Finally we saw the famous Angkor Wat.
Waktu kami sampai di Angkor Wat, kayaknya mataharinya pas ada di atas banget. Karena nggak kuat panas, kami pun segera beranjak dari Angkor Wat setelah berfoto dengan memicing-micingkan mata karena nggak tahan dengan panasnya. Kami pun diantar menuju tempat melihat sunset, yaitu di Phnom Bakheng. Dan ternyata.... untuk menuju Phnom Bakheng harus mendaki bukit yang lumayan jauh juga! Phnom Bakheng sendiri adalah sebuah candi, di mana kita harus naik ke atasnya untuk menikmati sunset. Ternyata ada batasan jumlah orang yang boleh naik ke atas, yaitu 300 orang. Masuk akal sih, nggak bisa membayangkan kalau banyak orang menaiki candi yang usianya sudah ribuan tahun ini. Karena dibatasi, maka kami harus mengantri untuk naik. Padahal kami sudah datang dari pukul 15.30, ternyata sudah banyak orang yang di atas. Kami baru bisa naik sekitar pukul 17.30, harap-harap cemas kalau mataharinya sudah hilang. Eeh ternyata mataharinya memang tertutup awan jadi sunsetnya memang nggak kelihatan *sad
Akhirnya kami cuma duduk-duduk sebentar di atas dan mengambil beberapa foto.
Orang-orang yang menunggu sunset di Phnom Bakheng.
Malam itu kami pun naik tuktuk kembali ke hotel dengan kecapekan tapi senang. Jangan lupa untuk minum banyak air putih karena memang cuacanya yang panas dan jalannya juga jauh. Di kawasan Angkor sendiri banyak yang menjual makanan dan minuman. Kami sempat makan siang vegetarian food di warung yang ada di kawasan Angkor. Harga makanannya cukup mahal, karena berkisar di USD 5 ke atas. Tapi makanannya enak juga sih, tapi ya tetap aja mahal. Air minum 1.5 liter saja harganya USD 1.
Oh ya, kami sempat mencari praying room di Angkor Park, tapi tanya ke driver tuktuk malah dia dengernya Pre Rup :)))
Me : “Praying room, praying room to pray.” *on repeats
Phi Le : “Pre Rup? It’s far from here.”
Me : *gives up*
Akhirnya kami sholat aja di tempat istirahat yang disediakan saat mendaki menuju Phnom Bakheng. Katanya ada restoran muslim yang menyediakan surau, tapi waktu itu kami nggak nemu restoran itu.
Day 4
Basically hari ini cuma bermalas-malasan di hotel kecil yang cantik ini. Kami pulang diantar tuk-tuk ke Bandara Siem Reap. Kalau kata kareshi sih, bandaranya kayak Bandara Adi Soemarmo Solo.
Kesan di Siem Reap itu kotanya seperti kota kecil di Indonesia, jalanan masih kurang bagus, tapi tempatnya menyenangkan. Sayangnya, semua harga di sini pakai USD, jadi terasa mahal buat kami (or maybe because we’re so cheap). Makan nasi dengan fried mushroom dan sayuran saja 5 USD. Mungkin kalau sempat cari di street food-nya nggak dapat mahal sih.
Kami juga belum sempat mengunjungi Pub Street dan Old Market, padahal lokasinya cukup dekat dengan hotel. If you want to enjoy Siem Reap’s night life, you could visit Pub Street. Seharusnya di Siem Reap ini bisa dua hari supaya bisa leisurely exploring the temples and the city.
And that ends my birthday trip this year. Sebenarnya trip ini cukup unplanned jika dibandingkan trip lain. But still, I enjoyed it. We enjoyed it! Sangat disayangkan kami cuma punya waktu 3 hari, karena memang agak dipaksakan bisa ke Vietnam dan Kamboja di 3 hari itu. Maybe someday we will go there again.
PS : Flight AirAsia saya dari KL – Jakarta yang seharusnya pukul 22.20 di-retime jadi pukul 00.45 lalu delay baru berangkat pukul 01.30. Nggak apa-apa, GA saja bisa delay 6 jam dan cuma dikasih kompensasi hot meal (hey London last year, I’m still butthurt). I still enjoy taking a flight with AirAsia.
Melintasi Vietnam - Kamboja Naik Mekong Express dan Giant Ibis
So, I just got back from my (very) short trip to Vietnam and Cambodia. Idealnya keliling ASEAN butuh waktu beberapa minggu, tapi sebagai mbak-mbak kantoran yang harus bekerja 8-5 demi membayar tagihan, saya mencoba ke Ho Chi Minh City (or I prefer to call it Saigon) dan Siem Reap dalam 4 hari. This is my annual October trip, birthday month when I decide to visit new country. Saya dan kareshi dapat tiket Jakarta – Saigon via Singapura dengan JetStar seharga Rp705.793,-/ orang dan tiket Siem Reap – KL dengan AirAsia seharga Rp772.456,- dan KL – Jakarta seharga Rp415.786,- juga dengan AirAsia.
Day 1
Kami berangkat hari Kamis pukul 15.10, lalu transit di Bandara Changi 2 jam sambil makan malam. Penerbangan dari Singapura – Saigon butuh waktu 2 jam, dan sampai di Saigon pukul 21.00 (tidak ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Saigon). Di Bandara Tan Son Nhat kami tukar uang USD ke Vietnam Dong dulu, karena lebih baik bawa USD saja dari Indonesia, baru ditukarkan dengan Dong. Selesai tukar uang baru kami bingung mau naik apa ke kota. Pilihannya ada taksi resmi dari bandara (Vinasun/Mai Linh) atau bisa juga dengan uber atau GrabCar atau bahkan GrabBike. Yep, di Saigon juga ada GrabBike. Akhirnya kami memutuskan pesan uber, dari bandara ke penginapan di District 1. Bandara Tan Son Nhat sendiri ternyata benar-benar berada di tengah kota. Begitu keluar bandara langsung disambut jalan utama dengan banyak toko di sepanjang jalan. Perjalanan ke District 1 memakan waktu 30 menit, dengan biaya 88.000 Dong (sekitar 50an ribu rupiah). Kesan pertama melihat Saigon.... ramaii motor kayak Jakarta! Jalanannya juga semrawut kayak di Jakarta. Tapi entah lah waktu itu mungkin nggak macet, jadi saya menikmati aja perjalanannya dan saya suka dengan kotanya! It’s crowded like Jakarta, but doesn’t seem so stressful. The shops along the road are also lovely. From coffee shops and restaurants, the night view is simply attractive.
Sayangnyaaaa.... kami dikecewakan oleh penginapan yang kami booking. They say they’re overbooked and can’t get us rooms! Jadi kami diantar ke penginapan lain yang harganya sama. Karena sudah malam dan sudah malas, kami pun manut-manut aja. Yang penting bisa tidur malam itu.
Day 2
We only had 6 hours to visit Saigon before moving to Cambodia. Paginya kami mulai perjalanan kami di Saigon dengan sarapan di McDonalds dekat Ben Thanh Market. Rencananya hari ini kami mau mengunjungi Independence Palace, Saigon Notre-Dame Cathedral, Saigon Post Office, dan Ben Thanh Market yang semuanya berada di District 1 dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Sebenarnya masih banyak yang bisa di-explore di Saigon, seperti War Remnant Museum, Cu Chi Tunnel, Bitexco Tower. Tapi dengan keterbatasan waktu kami memutuskan pergi ke tempat yang dekat-dekat saja. Anyway, kalau jalan-jalan sendiri di Saigon tanpa tour, lebih baik siap-siap simcard Vietnam. Kami kemarin sok-sokan nggak butuh internet, dan ternyata ribet juga kalau mau cari jalan tanpa map online. Akhirnya kami beli simcard 3G seharga 150.000 Dong, and that was like the best decision we made that day. Berbekal Google Maps kami pun dengan mudah menuju Independence Palace. Kalau kata kareshi, Independence Palace itu seperti Istana Bogor (tanpa rusa-rusanya). Tiket masuknya sebesar 30.000 Dong. Sejarah Independence Palace (Reunification Palace) ini adalah rumah sekaligus tempat kerja presiden Vietnam Selatan di zaman Perang Vietnam. Di dalamnya kita bisa melihat di antaranya conference hall, cabinet room, private apartment, dan president’s office.
Setelah puas melihat bagian dalam Independence Palace, kami pun jalan menuju Notre-Dame Cathedral. Di antara Independence Palace dan Notre-Dame ada taman, dan kami sempat duduk-duduk dulu di taman.
Lagi duduk-duduk nunggu difoto
What I realise about Saigon, there are many green areas there. Ada beberapa taman di tengah kota dengan bangku-bangkunya. Asik banget suasananya untuk duduk-duduk santai atau sekedar people watching. Di taman itu juga ada penjual ibu-ibu seperti di Indonesia yang jualan kacang dan telur puyuh. Dari taman, kami jalan kaki sebentar ke Notre-Dame Cathedral. Bangunannya memang sangat cantik di tengah kota. Dengan warna merah bata, dua bell tower, dan patung Virgin Mary di depannya, katedral ini sangat fotogenik. Waktu kami ke sana, ada pasangan yang sedang foto pre-wedding di depannya. Saya baru menyesal begitu sampai di Jakarta, kenapa kemarin nggak sempat foto-foto lucu sama kareshi. Yang ada foto masing-masing, itu pun foto saya miring-miring karena difotoin kareshi :’)))
Di samping Notre-Dame, tinggal menyeberang jalan, ada Saigon Post Office. Ya, kantor pos saja di sini jadi atraksi wisata. Tapi memang interior kantor posnya bagus. Di dalam juga ada yang jual souvenir. Basically this is a working post office and a souvenir shop.
Dari kantor pos kami makan siang di Kampung Pandan, restoran Asia yang menyediakan surau, sekalian bisa sholat. Restoran ini letaknya dekat dengan Ben Thanh Market. Setau saya, di daerah itu ada dua restoran halal yang berdekatan, yaitu Kampung Pandan dan satu lagi yang saya lupa namanya. Selesai makan siang, kami ke Ben Thanh Market mencari souvenir. Di dalamnya sih ya pasar biasa seperti di Indonesia, jual makanan, baju, souvenir. Tapi penjualnya ada yang sangat agresif. Kami lewat di depan penjual kaos, lalu ada yang langsung narik-narik tangan saya dan kareshi. Terus dipaksa beli kaosnya. Awalnya ditawari 280.000 Dong sampai turun ke 50.000 Dong. Dan itu ditariknya kenceng banget. Saking maksanya, kami bilang aja kalau kami cuma punya 40.000 Dong (which is true, we didn’t have much money left) dan akhirnya penjualnya ngelepas kami pergi. Di Ben Thanh Market sendiri kita harus pintar nawar, sama seperti di Indonesia.
Selepas dari Ben Thanh Market kami langsung ke Mekong Express. Dari Saigon kami mau ke Phnom Penh naik bus, atau lebih tepatnya VIP Van. Sebelum booking Mekong Express ini kami sempat galau mau naik apa ke Phnom Penh, karena katanya driver di Vietnam – Kamboja itu reckless. Beberapa bus yang direkomendasikan adalah Giant Ibis dan Mekong Express. Sebenarnya lebih ingin naik Giant Ibis karena reviewnya lebih bagus, tapi sayang untuk jam keberangkatannya nggak ada yang cocok. Akhirnya (terpaksa) pesan VIP Van Mekong Express yang ada jam berangkat jam 15.00 seharga USD 14. Kenapa terpaksa? Karena reviewnya yang serem-serem dan pernah ada kecelakaan juga. Kenyataannya? Pengalaman naik Mekong Express VIP Van ini nggak terlalu buruk juga sih. Kami selamat sampai tujuan dalam waktu 6,5 jam. Memang drivernya reckless, selip kanan kiri, tapi yaa sebelas dua belas sama driver bus Indonesia.
VIP Van yang cukup nyaman, tapi driver-nya reckless.
Sebelum naik, kami dikasih satu botol air mineral dan tissue basah. Di van kami ada empat mbak-mbak British, dua orang Vietnam, kami berdua serta driver. Kalau mau naik VIP Van Mekong Express, sebaiknya cepat-cepat memilih seat di belakang driver saja. Seat paling belakang kalau penuh isinya empat orang, jadi mungkin agak sumpek. Untung waktu itu cuma ada satu ibu-ibu di samping kami.
Sekitar pukul 18.00 kami sampai di perbatasan Vietnam di Moc Bai. Drivernya meminta paspor kami dan membantu mengurus visa on arrival untuk mbak-mbak British. Kami tinggal nunggu paspor kami dicap di imigrasi Vietnam. Jangan bayangkan imigrasinya seperti di bandara, karena imigrasi ini terkesan shady sekali. Cuma gudang tua yang dijadikan tempat imigrasi. Oh, but they also have small Duty Free Shop. Ditambah ada pula anjing-anjing berkeliaran di gedungnya. Begitu dapat paspor, kami kembali ke van, dibawa ke imigrasi Kamboja di perbatasan Bavet. Imigrasi Kamboja lebih sedih sih.. karena waktu kami datang tiba-tiba mati lampu. Ya, mati lampu dan gelap total. Petugasnya ada dua, yang terpaksa nyenterin kami untuk dicap imigrasi.
Kembali ke van, kami pun melanjutkan perjalanan di Kamboja. Perbatasan Bavet ini berada di Propinsi Svay Rieng, dimana setelah melewati perbatasan akan ada banyak casino yang katanya sering dikunjungi orang Vietnam. Kami sempat mampir ke satu warung makan sebelum melanjutkan perjalanan. Beberapa menit perjalanan selepas dari perbatasan Bavet masih dipenuhi casino, tapi selanjutnya sepanjang perjalanan cuma ada hutan di kanan kiri. Ternyata yang gemerlap cuma awal masuk Kamboja saja, setelah itu gelap dengan penerangan yang jarang cuma dari rumah-rumah di sepanjang jalan.
Kami sampai di Phnom Penh pukul 21.30, turun di dekat Phnom Penh Night Market. Begitu masuk Phnom Penh, memang langsung kelihatan suasana kotanya, jika dibandingkan dengan jalanan yang kami lewati sebelumnya. Sesampai di kantor Mekong Express, kami ke Giant Ibis yang lokasinya berdekatan untuk memastikan sleeping bus kami. Dari Phnom Penh ke Siem Reap kami memang sengaja memilih sleeping bus yang harganya USD 16, lumayan bisa berhemat ongkos hostel. Tapi sayangnya karena keterbatasan waktu kami jadi tidak sempat main-main di Phnom Penh. Cuma sempat makan di Hummus Lebanese Restaurant. Jam 22.30 kami menuju ke bus kami. Surprisingly, Giant Ibis sleeping bus ini tampak nyaman sekali. Sleeping arrangement-nya model bunk bed, ada yang single dan double. Kalau kamu adalah solo traveler, lebih baik segera memesan yang single, karena yang double benar-benar tidak ada pembatasnya. Jadi kalau dapat yang itu, ya kamu akan bersebelahan dengan stranger. Well, kalau strangernya mas-mas ganteng sih nggak masalah yaa bisa sambil mepet-mepet *ehem* Sleeping bus sendiri jadwalnya ada jam 22.30 (flat bed), 23.00 (bagian atas kasur miring 45 derajat), dan 23.30 (flat bed).
Sebelum naik bus, kami dikasih kantung plastik tempat menaruh sepatu, dan juga diberikan air mineral. Di bus-nya sendiri ada toilet dan wifi, tapi saya nggak mencobanya karena sudah keburu tepar. Di bus juga ada colokan, jadi bisa aman nge-charge gadget. Entah karena saya kecapekan atau emang bisa tidur di mana saja, rasanya tidur di sleeping bus itu nyaman sekali. Perjalanan 6 jam ke Siem Reap benar-benar tidak terasa. It was such a comfortable journey. Bagi saya yang tingginya cuma 154 cm, panjang kasurnya sih pas-pas saja. Tapi kareshi yang tingginya 170-an katanya memang ngepas banget!
Enaknya naik Mekong Express dan Giant Ibis ini adalah tiketnya bisa dipesan online di https://catmekongexpress.com/ dan http://www.giantibis.com/ . Jadi bisa pilih seat dulu, dan nanti tinggal cetak email tiket dari mereka atau tunjukin email itu. Oh ya, kalau di situsnya Mekong Express disebutkan bahwa bus mereka dilengkapi wifi. Mbak-mbak British yang bareng kami sempat menanyakan wifi dan begitu dijawab nggak ada, mereka bilang false advertising. I don’t know about their bus, but there’s definitely no wifi in the VIP van.
Jadi ceritanya awal Mei kemarin gue memutuskan untuk ke Jepang yang ke-4 kalinya dengan kareshi. I remember that 2 years ago I wrote that I will come back to Japan with a traveling partner who's also my life partner. Hey who knew it's going to happen for real right 8)))
Karena gue bawa orang yang baru pertama kali ke Jepang, terpaksa itinerary-nya menyesuaikan untuk first timer, which means hi Osaka, Kyoto, Tokyo again! Hi Osaka Castle, Fushimi Inari, Asakusa again! But hey, I have nothing to complain, I'm going with kareshi! But besides visiting the same old mainstream places, I also tried the different new things to do, like trying public bath for the first time!
Iya, gue 4 kali ke Jepang baru pertama kemarin nyobain public bath (sento). Mungkin kalian udah banyak mendengar tentang onsen. Apa bedanya dengan sento? Sento definisinya memang public bath, yang biasanya menggunakan air hangat. Sedangkan onsen definisnya adalah natural hot spring. Tapi ada juga sento yang sumber airnya dari hot spring. Hemm ya baiklah, intinya mandi bareng-bareng lah ya...
Gue memutuskan untuk nyobain public bath karena malam sebelumnya gue dari Kyoto ke Tokyo perjalanan naik overnight bus. Biar bisa jalan-jalan cantik di Tokyo, tentunya gue harus mandi pagi dan dandan cantik dulu dong ya. Nah, bingung nyari shower room di mana, akhirnya gue memilih untuk mandi bareng di public bath aja. Anyway, ternyata ada juga day hotel di Asakusa yang bisa untuk beberapa jam, dengan rate mulai dari 3000 yen per 3 jam kalau tidak salah. Mungkin lain kali bisa dicoba kalau mau beristirahat sebentar setelah perjalanan overnight.
Kembali ke cerita public bath, tempat yang gue pilih adalah Nagomino-yu, public bath yang berada hanya beberapa menit jalan dari stasiun JR Ogikubo. Pilihan yang tepat karena memang lokasinya yang benar-benar dekat dengan stasiun JR Ogikubo, dan dari stasiun JR Shinjuku bisa langsung ke Ogikubo. Gue memilih Nagomino-yu ini setelah googling dan menemukan situs ini. Kalau dari situsnya Nagomino-yu ini adalah public bath yang juga onsen karena sumber airnya dari hot spring. Public bath biasanya ada yang buka sampai jam 7 pagi, setelah itu tutup dan buka lagi jam 10 pagi. Dari sekian banyak public bath itu, yang aksesnya paling gampang dan masih buka sampai jam 9 pagi, dan harganya juga terjangkau cuma Nagomino-yu. Dan di situsnya juga ada halaman berbahasa Inggris.
Begitu menemukan tempatnya, gue pun langsung masuk ke sana, bergegas menemui resepsionisnya. Eh ternyata disuruh lepas sepatu dulu dan taruh sepatunya di dalam locker. Begitu ke meja resepsionisnya lagi, bapak-bapak yang ada di situ tanpa basa-basi langsung meminta kunci locker dan mengetik angka 1250 di kalkulator. Ternyata harga untuk mandi di situ 1250 yen. Begitu gue kasih uangnya, si bapak ini langsung memberikan kunci locker lain dan seperangkat alat mandi (ada handuk, setelan baju mandi, sama sikat gigi dan odol). Tampaknya bapak ini memang tidak mau berbicara panjang lebar, tanpa menjelaskan apa-apa, si bapak langsung memberikan itu semua. Baiklah, mungkin si bapak memang nggak bisa berbahasa Inggris.
Ya sudah lah, kami pun bergegas menuju ke elevator, dimana tempat mandi untuk cewek ada di lantai 2 dan tempat mandi untuk cowok ada di lantai 4. Di lantai Basement juga ada semacam relaxation room. Gue pun naik ke lantai 3, bersemangat untuk segera mandi. Keluar dari elevator, ada beberapa kursi dan dua mbak-mbak sedang duduk-duduk. Gue celingak-celinguk bingung mau ke mana. Masuk lah gue ke ruangan berikutnya, dan gue pun langsung disuguhi dengan pemandangan mbak-mbak dan ibu-ibu full naked. Oh my eyes!
Para wanita ini dengan santainya berjalan benar-benar tanpa busana di ruangan yang ternyata adalah locker room. Oke, gue berusaha tenang walaupun kebingungan di situ. Ternyata di kunci yang dikasih bapak resepsionis tadi ada nomor lemarinya. Gue pun berjalan menuju locker gue. Sampai di depan locker gue kebingungan mau ngapain, apakah gue juga harus menanggalkan semua pakaian gue di situ. Ya udah dengan cueknya gue mengikuti para wanita yang sudah lebih profesional tentang tata cara mandi di public bath. Tapi nggak semua wanita di sini dengan vulgarnya naked juga sih. Ada beberapa yang di locker room ganti baju dengan baju yang dikasih di resepsionis dan baru lepas baju di ruangan mandi.
Gue pun masuk ke ruangan mandi, yang untungnya nggak ramai karena tempatnya sendiri memang udah mau tutup jam 9 pagi, dan pas gue masuk itu udah jam 8-an. Ada beberapa yang memang ke ruangan mandinya cuma pake handuk saja, ada juga yang membawa tas yang dikasih dari resepsionis untuk tempat baju dan handuk. Di ruangan mandi itu ada bak mandi besar untuk berendam bareng-bareng. Dan ada beberapa bilik shower untuk membilas badan sebelum nyemplung di bak. Bilik-bilik itu dipisahkan dengan sekat yang rendah, ada bangku kecil untuk duduk, shower, dan peralatan mandi yang lengkap yaitu sabun, shampo, dan conditioner. What I like from Japan is, wherever you're staying there'll always shampoo and conditioner.
Tata cara mandi bareng di Jepang
Sebelum berendam di bak memang wajib hukumnya untuk mandi terlebih dahulu. Setelah mandi, baru lah kita boleh nyemplung. Dan untuk berendam kita memang tidak boleh mengenakan pakaian apa pun. Well, act like local right. Bak-nya ada beberapa, sepertinya kandungan airnya yang berbeda. Gue cobain aja salah satu bak, dan ternyata it feels really good soaking in hot water! Mandi bareng-bareng ini ternyata enak juga!
Selesai mandi, gue kembali ke locker room, beres-beres sebentar. Meletakkan handuk, setelan mandi, dan tas di box yang telah disediakan. Di situ juga ada powder room, alias ruang dandan, yang ada hair dryer dan beberapa skin care(?) atau lotion(?) entah lah gue juga nggak ngerti fungsinya. Dandan dulu lah sebelum jalan-jalan cantik di Tokyo. Sudah bersih, sudah wangi, sudah cantik, gue pun menuju ke lantai basement. Di sana ternyata ada lemari-lemari berisi komik! Relaxation room ini sepertinya dipake untuk tidur-tiduran sambil baca komik. Ada colokan dan wifi juga di sini. Lumayan lah numpang ngecas dan update status dulu.
Karena tempatnya udah mau tutup jam 9, kami pun segera menuju ke resepsionis di lantai 1 untuk mengembalikan kunci locker. Mengambil sepatu dan keluar menyambut dinginnya udara Tokyo yang habis hujan di pagi itu.
I enjoy my first time experience trying public bath in Japan! Dan ternyata, kareshi nggak jadi nyobain public bath karena nggak mau mandi sama om-om. LOL!
halooo, mau tanya ya kira, wkt apply visa UK daftar layanan sms kan? dpt sms pertama yang menyatakan kalo aplikasi kita sudah diteruskan ke kedutaan tuh berapa lama setelah submit? a
Haloo..Dapat sms pertama langsung sorenya setelah submit, tapi setelah itu nggak di-sms lagi.. Jadi tau visanya udah jadi dari email aja :)
Setelah rencana Euro Trip tertunda beberapa tahun, akhirnya di Oktober 2015 cita-cita masa kecil untuk mengunjungi Inggris pun terwujud. Walaupun belum berkesempatan mewujudkan keliling Eropah, tapi ke London pun saya sudah bahagia. Kenapa gue sangat terobsesi dengan Inggris? Ya, blog post ini cukup mewakili alasan untuk mengunjungi Inggris.
Awal cerita dari UK trip ini adalah waktu gue pergi ke Garuda Travel Fair bulan Maret / April kemarin. Awalnya sih cuma iseng-iseng aja mau lihat tiket murah, begitu sampai di sana entah ada trigger apa, gue pun mengunjungi booth Dwidaya Tour, tanya tiket ke London, dan.... langsung beli tanpa pikir panjang. Ya lagian kalau kebanyakan dipikir-pikir, malah ntar nggak berangkat-berangkat. Harga tiket ke London pp dengan Garuda Indonesia waktu itu adalah USD 984. Memantapkan niat untuk pergi, akhirnya terbeli lah tiket ke London tanggal 17 – 24 Oktober 2015. Kenapa tanggal itu yang nggak ada libur? Ya karena gue mau ulang tahun pas di London. Simply just because I can.
Beberapa bulan kemudian, tiba lah bulan Agustus 2015. Dan gue baru heboh mau memperpanjang paspor karena paspor gue akan habis masa berlakunya di November 2015. Selagi membuat paspor, gue pun mempersiapkan persyaratan untuk apply visa UK. Yang harus disiapkan jauh-jauh hari adalah KTP, akte kelahiran, dan kartu keluarga, translated in English by sworn translator. Untuk itu, gue pun menghubungi Worldnet Translation Service di [email protected] untuk jasa penerjemah. Harga per lembar dokumen Rp 80.000,- dan pengerjaannya 2 hari. Dan akhirnya, gue pun punya KTP, akte, dan kartu keluarga dalam bahasa Inggris.
Jangan lupa juga untuk meminta surat referensi bank yang menyatakan kalau kita punya rekening di bank yang bersangkutan, dan ditujukan ke Kedutaan Besar Inggris. Kalau di bank gue, BNI Syariah, surat referensi bank harus diminta ke bank tempat kita membuka rekening (alias di Solo buat gue). Biayanya 100 ribu, cukup bawa KTP dan buku tabungan ke bank, dan karena gue diwakilkan mintanya di Solo, jadi harus bikin surat kuasa. Jangan lupa juga kasih tau ke bank alamat kedutaan yang kita tuju. Waktu itu gue nggak bikin surat permohonan referensi bank, jadi alamat kedutaan yang ditulis oleh bank salah. Tapi untungnya sih tidak jadi masalah.
Selain itu, kita juga harus membuat surat sponsor visa atau keterangan kerja yang ditandatangani oleh atasan kita. Contoh suratnya bisa dilihat di sini. Untuk surat keterangan kerja jangan lupa ditegaskan kalau kita ke Inggris memang cuma untuk berlibur dan bukan untuk mencari pekerjaan di sana, atau mencari om-om British. Pihak kedutaan sebenarnya cuma ingin memastikan kalau kita pasti akan kembali ke Indonesia.
Apply visa UK harus mengisi form di http://visa4uk.fco.gov.uk/, setelah buat akun di sana, nanti kita harus menjawab banyak *sekali* pertanyaan yang menurut gue lebih membingungkan dari soal ujian. Biaya visa UK ini USD 136, yang harus dibayar dengan kartu kredit. Isi dari form visa UK ini adalah :
Part 1 > Passport and Travel Information
Di bagian ini yang harus diisi antara lain nama, tempat tanggal lahir, nomor paspor, apakah ini paspor pertama yang dimiliki, traveling ke UK seorang diri atau nggak, kapan sampai di UK, berapa lama di sana, alamat tinggal di UK. Karena harus isi alamat, kita bisa booking penginapan dulu di www.booking.com, pilih yang pay later dan free cancellation.
Part 2 > Personal Details and Travel History
Kita harus ngisi permanent residential address dan berapa lama tinggal di alamat ini. Selain itu ada Travel History yang harus kita isi, pertanyaannya di antaranya apa kita pernah ke UK dalam 10 tahun terakhir, apa pernah ditolak waktu apply visa ke suatu negara, pernah traveling ke mana saja selain UK selama 10 tahun terakhir, apa pernah terlibat tindakan kriminal, apa pernah jadi anggota organisasi teroris (seriously?), apa pernah mendukung terorisme, dan sebagainya.
Part 3 > Family Details
Ini bagian paling gampang di mana hanya perlu mengisi data keluarga, seperti nama dan tempat tanggal lahir orang tua.
Part 4 > Employment and Income
Okay, ini sebenarnya bagian yang paling membingungkan. Awalnya yang harus diisi cuma gaji sebulan (dalam GBP), nama kantor, jabatan, jenis pekerjaan, alamat kantor, tanggal mulai bekerja. Lalu ada pertanyaan tentang Income and Expenditure, yang bikin gue pusing gimana jawaban yang paling baik agar visa gue diterima. Di bagian ini kita ditanya apa punya tabungan, berapa jumlahnya, berapa pengeluaran sebulan, apa ada penghasilan yang kita berikan kepada anggota keluarga lain, berapa biaya yang kita tanggung untuk trip ke UK, berapa uang yang kita punya untuk trip ini, biaya tiket, akomodasi, biaya hidup, apa ada yang membiayai selama di UK. Semuanya dijawab dalam GBP. Dan penghasilan kita kalau dikonversi ke GBP tentu terlihat sedikit sekali -____-
Anyway, untuk rekening yang gue punya di tabungan sekitar 2500 GBP / 50-an juta. Dan tembus kok visanya, jadi nggak perlu beratus-ratus juta lah buat ke Inggris.
Part 5 > Family and Friends in the UK
Di bagian ini kita ngisi apa yang akan kita lakukan di UK. Jawab aja traveling, visiting touristy places, visiting historical places, visiting Harry Potter Studio (YA!), visiting football stadiums, looking for experiences to write on personal blog, dan sebagainya. Kalau kita punya teman atau keluarga di UK, kita bisa masukin datanya. Gampangnya sih jawab No saja.
Part 6 > Medical Treatment
Bagian paling singkat yang menanyakan apa pernah berobat di UK, tinggal dijawab No.
Part 7 > Additional Information
Bagian ini menanyakan apakah ada informasi lain untuk dijadikan pertimbangan dalam aplikasi visa. Kalau jawaban gue kurang lebih begini :
I have been working as .... in .... for .... years. My current status as full-time employee gives me annual leave for 12 days a year. With my annual leave, for these past few years I have traveled to several countries using my personal fund. The purpose of my trip to UK is for holiday and to get more traveling experiences.
Then you’re almost done, and the last part is answering Visa Confirmation Questions yang menanyakan apakah ada rencana untuk kerja di UK, apa tujuan ke UK untuk tinggal dengan keluarga di sana, dan apakah ada rencana untuk sekolah di UK.
Phew.. Setelah selesai menjawab semua pertanyaan gue pun membuat waktu appointment yang gue pilih di hari berikutnya yaitu hari Jumat tanggal 28 Agustus 2015 jam 13.50, print form aplikasi visa, print appointment confirmation, lalu mempersiapkan dokumen-dokumen pendukung.
Keesokan harinya, selepas istirahat makan siang, gue pun menuju ke VFS Jakarta Visa Application Centre di Kuningan City Mall Lantai 2. Yang gue bawa ke sana :
- Print out appointment confirmation
- Print out form aplikasi visa yang sudah ditandatangani
- Paspor baru dan paspor lama
- Dokumen-dokumen pendukung, yaitu: tiket PP ke London; KTP, KK, dan akte kelahiran dalam bahasa Inggris; surat keterangan kerja yang ditandatangani manajer, surat referensi bank, slip gaji dan rekening koran 6 bulan terakhir, konfirmasi booking penginapan.
- Pas foto 4,5 x 3,5 cm sejumlah 2
Dengan diantarkan bapak-bapak GrabBike, gue pun sampai di Kuningan City jam 13.45. Langsung ke VFS, gue disuruh nunggu sebentar, lalu jam 14.00 gue masuk ke dalam, dicek paspor dan application confirmation, ambil nomor antrian, nunggu sebentar, dan langsung submit dokumen. Proses submit dokumen berjalan dengan lancar, alhamdulillah sih dokumen gue nggak kurang apa pun. Gue ditanya, pilih layanan prioritas yang cuma 3-5 hari atau regular yang 15 hari. Kalau prioritas biayanya tambah sekitar 2 jutaan kalau tidak salah, dan sekarang sudah nggak hanya yang punya visa Schengen yang bisa apply priority visa, semua paspor sudah bisa. Karena waktu keberangkatan gue masih Oktober, gue pun ambil yang reguler. Ditanya mau pakai layanan SMS atau tidak dengan nambah 25 ribu, ya udah lah nambah aja biar puas. Setelah selesai submit, gue nunggu sebentar untuk dipanggil buat ngambil sidik jari dan foto. Mas-mas yang ngambil sidik jari waktu itu ganteng. Tekan aja deh mas, tekan....
Proses aplikasi visa ini nggak lama, sebelum jam 15.00 gue udah selesai dan balik ke kantor lagi. Sorenya gue dapat SMS kalau aplikasi visa gue udah dikirim ke Manila. Oke, dan mulai lah gue harus bersabar dan deg-degan menunggu 3 minggu untuk kepastian apakah gue jadi berkunjung ke negaranya Om Benedict ini.
2 Minggu Kemudian....
Tanggal 15 September gue dapat e-mail dari British Embassy di Manila, yang isinya :
A decision has been made on your application... A decision....
Kenapa sok misterius banget sih!! Gue pun semaking deg-degan karena belum ada kepastian visa gue diterima atau nggak. Gue coba googling, ternyata setelah dapat email sok misterius ini kita harus nunggu kurang lebih seminggu untuk dapat e-mail lagi yang mengatakan paspor kita sudah bisa diambil. Berhari-hari gue harap-harap cemas lihat inbox e-mail, sampai akhirnya tanggal 21 September gue pun dapat e-mail ini :
Yes! Paspor gue sudah bisa diambil hari itu juga! Siangnya gue pun langsung menuju Kuningan City diantar bapak-bapak Gojek. Gue udah deg-degan aja mau ambil paspor. Begitu paspor gue pegang, masih di dalam amplop, langsung gue buka amplop itu, cek halaman visa gue, dan.... alhamdulillah gue jadi ke Inggris!!!
Foto yang dipake untuk visa itu foto yang diambil di VFS.
Inggris, cita-cita masa kecil gue! Mas-mas British, wait for meee~~
Special thanks to:
1. Mz Ariev (backpackstory.me), yang sudah memberikan inspirasi untuk mengisi form aplikasi visa.
2. Bapak-bapak GrabBike dan Gojek yang sudah mengantarkan gue bolak-balik untuk apply visa ini. Tanpa bapak-bapak ini, nggak mungkin gue semudah ini bisa pergi ke Inggris.
Postingan ini masih ditulis di KLIA 2 di saat gue ngantuk dan semakin kedinginan (banget).
"Jeng, mau ke Seoul ya? Sama siapa?"
"Sendiri."
"Ngapain liburan sendir?!"
Entah sudah berapa kali gue ditanyain ini (dan barusan juga sudah berkali-kali ditanyain sama strangers di airport), kenapa liburan sendiri, kenapa nggak ngajak temen. But even if I ask someone to accompany me, no one will do that because it is very costly. Oke lah, kalau ada promo kemungkinan besar gue akan ajak-ajak, tapi kalau liburan impulsif gini, who’s on Earth as crazy as I am? Suddenly book a flight to Seoul without planning anything.
Jadi mungkin kalau ditanya kenapa gue suka liburan sendiri, salah satu jawabannya karena susah nyari temen yang mau diajak liburan. Bisa jadi karena susah menemukan waktu yang pas, budget yang pas, interest yang sama. Dan gue termasuk orang yang picky memilih travel mate. Daripada pergi sama orang yang nggak cocok dan malesin mending pergi sendiri toh. Liburan kan buat senang-senang bukan bikin stres. Well, I could be annoying too during a trip. Pada dasarnya, gue tipe yang submissive, mau diajak ke mana ngapain ayo-ayo aja. Tapi kalau udah bete, I will clearly show my bitch face. I know sometimes you are annoyed by me, my fellow travel mates 8)))
Dan daripada nggak liburan, mending tetap jalan walaupun sendiri. Traveling somewhere is always better than staying at home (walaupun bermalas-malasan di kamar seharian itu juga menyenangkan). Liburan sendiri bisa menyenangkan karena jadi bebas mau ngapain. Mau jalan jauh bisa, mau bermalas-malasan bisa, itinerary bisa dibikin seenak sendiri.
Another reason, could be because I am an introvert who enjoy solitude. There’s a time when I just want to escape from routine, when I don’t need to pretend to be all smiley and nice, when I could just not talk to anyone in particular, not do anything, just do people watching at airport or some place.
Then, is it scary to travel solo, especially for female? Well, it depends. For me, it’s not scary. Yes it could feel lonely sometimes. Regarding the safety, it depends on the destination. Biasanya gue akan memilih negara-negara yang sekiranya aman untuk dikunjungi female solo traveler, seperti Malaysia, Singapura, Jepang, Hong Kong, atau Korea Selatan. Gue juga nggak senekat itu untuk pergi ke negara-negara yang reputasinya kurang baik untuk solo traveler. Toh pada akhirnya tetap tergantung masing-masing orang. Gue tipe orang yang clumsy dan awkward, nggak bisa baca peta, nggak bisa hapal jalan, tapi entah gimana survival rate gue cukup tinggi.
And yes, solo traveling could be lonely sometimes. Nggak ada teman yang bisa diajak ngobrol pas nungguin pesawat, pas di pesawat, pas di jalan, kalau mau foto harus minta orang motoin. But that way, I could appreciate the company of others. Dan jadi bikin semakin kangen dengan teman-teman :3
Anyway, sesungguhnya motivasi utama gue dari solo traveling itu biar bisa seperti Jesse dan Celine di Before series. Iya, siapa tau bisa ketemu mas-mas kayak Ethan Hawke terus ternyata jodoh. Walking around the town and doing the talking. And we make promise to meet again later, and turns out the guy already married.
So, right now I’m in KLIA 2 waiting for my flight to Seoul at around 7 AM today. Okay, bahkan gue nggak memperhatikan jam berapa pesawat gue akan berangkat.
And this will be my 2nd time visiting Seoul after my first visit in 2011. So, why Seoul, again?
Ya sudah, berangkat lah saya ke Korea Selatan (lagi). Persiapan liburan kali ini seperti biasa, ngurus visa (yang cukup bikin deg-degan karena denger cerita-cerita kalau visa Korea semakin susah didapat), nyiapin winter coats yang untungnya dulu pernah beli karena sekarang nyari winter coat harganya beuh mahal sekali, cari gloves yang bisa buat nyentuh layar smartphone (YA), tukar won (tempat favorit gue tukar uang masih di ITC Kuningan, namanya lupa tapi naik eskalator sekali terus lurus ke depan, rate-nya paling bersahabat), pinjam koper, kerja habis-habisan di kantor (oke, ini bukan persiapan liburan tapi ini terpaksa), dan akhirnya baru H-1 packing. And I was very beaten up before going on this trip. And winter is coming. Sudah was-was kalau sampai di Seoul malah sakit kayak pertama kali dulu.
Tiba lah tanggal 24 Desember, dan gue berangkat menuju ke Bandara Soekarno Hatta. Sudah web check-in, boarding pukul 19.45. Karena hawa-hawanya akan macet perjalanan ke bandara, gue pun berangkat jam 15.00 naik Damri dari Pasar Minggu. And yes, the traffic’s really bad. Dari Pasar Minggu ke pertigaan Kalibata aja hampir 1 jam. Sesudahnya gue terlelap nggak sadar sampai udah di Tol Cengkareng. Jam sudah menunjukkan pukul 17.00. Saking macetnya menuju bandara, orang-orang dari Damri pada turun di Amaris Hotel lalu ngojek. Dan sudah ada mas-mas yang ketinggalan pesawat ke Jogja, bahkan nggak dapat tiket untuk hari itu. Yang sabar ya mas 8’((
Di dalam bandaranya, macetnya parah sekali. Banyak yang milih ngojek ke terminal-terminal. Dan gue…. kebelet pipis. Mas kondektur Damri bilang kalau mau ke T3 dulu, ternyata nggak jadi, akhirnya ke T1, T2, baru T3. Dan dari T1 ke T3 ada kali 1 jam sendiri, bikin stres. Yes, the traffic at the airport is that bad! I want airport train to Soeta!
Achievement gue selama perjalanan tadi, gue bisa bertahan sampai T3. Sudah di T3 lalu menjalani prosedur check-in dan imigrasi seperti biasa, dan sekitar pukul 20.30 berangkat lah pesawat gue ke KL.
And here I am in KLIA 2! KLIA 2 ini sudah oke lah, peningkatan jauh dari KLCC. Banyak bangku buat tidur, ada movie lounge (yang penuh pas gue ke sana), dan akhirnya sekarang gue nongkrong di depan Charging Station, menghabiskan waktu sampai pagi nanti.
Because all we need is free wifi and charging station, and nothing else matters
PS : postingan ini ditulis di saat gue ngantuk dan kedinginan tapi berusaha untuk nggak tidur, plus kelaparan ngidam pizza
Kemarin di twitter ada yang maen hestek #MostMemorableTrip. Bagi gue, (hampir) setiap trip itu memorable. This list will show you why.
1. Bali (2010)
Ketemu Eva dan aktris Korea entah siapa yang lagi shooting tv show di Besakih.
Pengalaman pertama backpacking ke Bali, berdua dengan teman SMA, Vita. Kalau liburan ke Bali dari SD sudah beberapa kali, dan gue nggak pernah menikmati Bali. First time backpacking there changed my mind. We stayed in hostel in Poppies Lane, we did clubbing, we met Eva in Besakih (aktris Korea yang eksis di Super Junior Full House), we met Mbak Eva and Mas Dwi (pasangan yang membangkitkan minat traveling gue). Bisa dibilang sejak pulang dari Bali ini gue jadi punya hobi traveling. So basically this is one of my life changing experience.
2. Seoul (5 – 13 Januari 2011)
Nungguin Nichkhun di depan JYPE.
First time traveling abroad! Lagi-lagi berdua dengan teman kuliah, Friska. Dapat tiket promo AirAsia 3 jutaan pulang pergi ke Seoul. Gue inget minta izin buat ke Seoul sama orang tua lewat telepon, dan gue beli tiketnya dulu baru minta izin 8)))))
Surprisingly, my parents said yes. See, that’s why my parents are the best! Pertama kali bikin paspor, pertama kali apply visa, deg-degan apply visa Korea karena paspor masih kosong, dan ternyata mudah sekali dapat visanya. Di Seoul waktu musim dingin, pertama kali norak lihat salju, dan kedinginan nunggu Nichkhun di bawah hujan salju sambil menikmati segelas hot chocolate.
3. Kuala Lumpur (8 – 11 Juni 2011)
I miss this old U-KISS.
Ini waktu datang fanmeet U-KISS. Waktu dibilang ‘I love you’ sama Eli (yeah yeah, this is pathetic I know but Eli ganteng banget how could I resist and he even put his hand on my shoulder), foto bareng U-KISS, berkenalan dengan sesama fans dari Malaysia dan Australia. The best thing about joining a fandom is, you’re making new friends with strangers, and strangely you can connect with them better than with your friends in real life.
4. Singapore (several times in 2011-2012)
Waktu masih suka-sukanya sama K-Pop, gue bela-belain ke Singapore buat nonton konser dan fanmeeting. Dari Korean Music Wave, konser 2PM, fanmeeting NU’EST. Dan ke Singapore hampir selalu sendirian, tapi ya akhirnya bertemu teman-teman baru di sana 8)))
Pengalaman fangirling paling exciting mungkin pas nungguin 2PM di Changi. Jadi, gue sengaja gak keluar dari imigrasi Changi karena nunggu 2PM yang akan mendarat beberapa menit lagi. Waktu tau mereka sudah mendarat, langsung gue keluar imigrasi dan nunggu di tempat ngambil bagasi. Daaaan…. keluar lah 2PM, kyaa kyaaaa~ Nggak sempet lihat yang lain, cuma lihat Wooyoung jalan pas di depan, gue pun manggil ‘WOOYOUNG!’ dan Wooyoung pun menoleh sambil tersenyum. /dies/ /back to life/
Di Singapore sendiri paling memorable waktu merayakan hari kemerdekaan Singapore. Sore-sore gue iseng jalan sendiri ke Merlion Park, nongkrong di sana beberapa jam sambil melihat parade pesawat militer, dan malamnya I watched one of the greatest fireworks shows in my life. Sempat juga merayakan Idul Adha dengan keluarga teman dari Malaysia yang ada di Singapore, jadi malam-malam dijamu di rumah tante teman.
5. Singapore (14 – 17 Maret 2012)
Geng Nyonyah yang terdiri dari tiga bu dokter dari UGM dan satu mbak-mbak kantoran.
Kali ini ke Singapore dengan Geng Nyonyah (Ajeng, Hani, Vita, dan Rima)! Karena ini traveling pertama komplet dengan teman-teman dekat, tentunya liburan ini menjadi salah satu liburan yang paling berkesan. Solo traveling is fun, but going on holiday with your close friends is unforgettable. Berkunjung ke NTU, maen ke Universal Studio, makan murtabak favorit guru matematika SMA di Changi, dan tidur sempit-sempitan di bangku Changi (ini adalah suatu keajaiban, gue dan Hani bisa muat tidur berdua di bangku kayu Changi yang sempit).
6. Japan (9 – 23 May 2012)
It’s Tokyo Dome baby!
Kalau ditanya destinasi favorit dan trip yang paling paling berkesan, so far gue akan menjawab Jepang Mei 2012. Solo traveling ke Jepang 2 minggu (my parents are really the BEST for giving their only daughter permission to travel to Japan alone, thank you for giving me this chance Mom, Dad!). Dari ujung utara ke selatan Jepang. Dari Hokkaido ke Hiroshima. Ketemu sama pemilik hostel di Kyoto yang ganteng yang surprisingly bisa ngomong Bahasa sedikit (jadi kangen mas Yuya kan…). Ketemu sama Wataru Yoshimura, ditemenin jalan seharian ke Shinjuku Park, Harajuku, dan Akihabara. Ketemu mas-mas aneh di Shin-Okubo yang tiba-tiba mau meluk (hey, Tokyo is weird anyway!). Nonton konser Super Junior di Tokyo Dome. Jalan bareng di Kyoto sama mbak-mbak dari Malaysia. Ke DisneySea sama mbak-mbak dari Singapore. Dua minggu di Jepang, gue bahkan sempat nyampah dan tetap menjalankan bisnis, beli CD dan majalah SuJu buat dijual di Indonesia 8))))
Ada memorable side story untuk trip ini. Jadi, karena gue berangkat dari Soekarno Hatta jam 6 pagi, gue lebih memilih nginep di Soeta daripada harus berangkat pagi-pagi buta. Kebetulan tengah malam Jay Park datang ke Jakarta. Ya udah sekalian nunggu Jay aja di bandara. Karena fans yang nunggu nggak terlalu banyak, gue pun bisa lihat Jay dengan santai, bahkan fans sempat minta tanda tangan Jay. Gue pun minta tanda tangan Jay di kaos yang gue pakai. Waktu gue minta tanda tangan, Jay sempet nyeletuk “Here? This is a good t-shirt.” Aduh bang Jay, kalau buat kamu sih mau tanda tangan di mana saja juga boleeeh <3
7. Bangkok – Singapore (15 – 22 September 2012)
Pengen pake syal Slytherin tapi adanya Gryffindor.
Trip pertama setelah kelulusan, berdua bareng Tiwi, junior SMA dan kuliah. Ke Singapore niatnya cuma mau ke Harry Potter Exhibition, dan ya, I was so happy hingga perasaan di dada membuncah. Dari Singapore lanjut ke Bangkok. Sedihnya pas ke Bangkok sudah semangat ke Madame Tussauds mau ketemu patung Nickhun, dan ternyata patung Nichkhun-nya lagi diperbaiki. Nggak jodoh banget sih… Yang paling nggak terlupakan waktu ke Thailand sih ya pas sepedaan keliling Ayutthaya lalu tiba-tiba gue kena panic attack. Panik nggak sih, lagi sepedaan entah di mana terus gue udah mau pass out aja. Pokoknya ini semua salah kopi yang diminum di pagi hari!
8. Karimun Jawa (Oktober 2012)
Setelah perjalanan 6 jam yang memabukkan.
Jadi ini gue lagi nganggur-nganggurnya habis lulus belum niat nyari kerjaan terus liburan ke Karimun Jawa sama Hani dan Deka. Yang bikin trip ini nggak terlupakan sih ya perjalanan 6 jam one way di atas kapal yang bikin gue pusing-pusing sampai mau mabok. Terus di Karimun ada mas-mas satu rombongan yang pas lagi snorkeling kakinya kena gigitan binatang laut, sampai akhirnya dia harus dipulangkan terlebih dahulu. Kasihan sekali mas-nya *puk puk mas-mas yang lumayan ganteng ini
Waktu island hopping, gue dan rombongan naik kapal kecil, gue yang sangat mengantuk sampai bisa-bisanya tidur di tengah terpaan ombak besar sambil satu tangan pegangan di pinggiran kapal. Sampai yang lain terheran-heran melihat gue yang dengan santainya tidur dan gue diketawain. Yaelah, kalau udah ngantuk sih gue bisa tidur dalam kondisi apa pun, mau ada badai dan ombak juga 8))))
9. Singapore – KL (15 – 18 Agustus 2013)
Geng Nyonyah went to Singapore again.
Trip pertama setelah kerja dengan dua dari Geng Nyonyah, Hani dan Vita (sayang Rima nggak bisa ikut) tentu sangat menyenangkan. Mengobati kangen 7 bulan gue nggak liburan, akhirnya Geng Nyonyah went to Singapore (again) and KL. Kalau yang paling berkesan dari trip ini mungkin waktu naik bus dari Singapore ke KL, pagi-pagi buta begitu sampai KL langsung diteriaki ‘WOI BANGUN!’ sama kondektur bus. Terus diturunkan di tengah jalan dan ditinggal begitu saja. Untung di KL ini ditemani Xiang Wei, temannya Hani yang asli Malaysia. Hani dan Vita sempat merasakan hospitality dari Wei, sayang gue harus sudah balik hari Minggu karena Senin sudah harus kerja lagi.
10. Hong Kong – Macau (11 – 15 Januari 2014)
Piknik bareng TKW di Victoria Park.
Awal 2014 gue punya resolusi untuk menjadikan tahun ini tahun yang lebih baik dan lebih sering traveling. Iya, lebih sering traveling sih, tapi the last 4 months been a hell *maaf kelepasan curcol*
Anywaaay, solo traveling ke Hong Kong ini menyenangkan, dari beli gadget baru di Apple Store, ditawari MLM sama TKW sampai diajakin piknik bareng di Victoria Park, jadi tour guide satu keluarga dari Bali, ke Disneyland sendirian (it turns out to be really fun), dan tentunya kenalan dengan serombongan mbak-mbak dari Jakarta yang tinggal sekamar di hostel dan bahkan sekarang kami sedang merencanakan traveling bareng. This is what I love about going solo, sometimes it feels lonely but it’s never boring 8)))
11. Bangkok (7 – 10 Maret 2014)
Nonton ladyboys show di Alcazar.
Bangkok! Again! Dengan Hani (lama-lama ini Geng Nyonyah susah ya diajakin traveling berempat). Kebetulan gue dan Hani lebih menyukai city trip dibanding jenis liburan yang lain. Dan kami kompak soal people watching. Beruntungnya, di Bangkok ini banyak mas-mas ganteng (yang kebanyakan sudah berpasangan sehingga menurunkan kadar kegantengannya). Favorite thing to do in Bangkok? Jalan-jalan aja, terus tiap lihat mas ganteng, kami saling lihat-lihatan dan beberapa detik kemudian kompak mengucapkan ‘Ganteng ya...' Kami bahkan sempat meleleh melihat ada mas-mas lucu Thailand memberikan balon LINE pada anak jalanan 8')))
Dan akhirnya setelah 2 tahun tertunda, gue pun berjodoh dengan patung lilin Nichkhun di Madame Tussauds.
12. Japan (23 – 31 Mei 2014)
Selalu ada alasan kembali ke Jepang. Kali ini gue pergi dengan teman kantor, Alex. Yang paling memorable dari trip ini? Jelas lah ketinggalan pesawat dari Nagoya! Ah but really, this is one fun trip. Banyak mas-mas lucu dan dedek-dedek kawaii, banyak barang-barang lucu yang menggoda untuk dibeli, ke Disneyland (so this trip completes my Disney theme park trip in Asia, yaay!), daaan berfoto dengan Gundam! Ini Jepang sedang ada proyek untuk menggerakkan Gundam di tahun 2019. Jepang udah mau bikin Gundam bergerak, apa kabar Indonesia yang orang-orangnya masih ngeributin hal-hal itu aja? *brb daftar jadi pilot Gundam
So yeah, that’s my list of #MostMemorableTrip. Memorable itu nggak cuma yang menyenangkan aja, tapi juga pengalaman aneh, sedih, menyebalkan. In a journey, you could get a life changing experience or you get nothing. But the journey itself is never a tedious one. There’s always story in every journey, yes?
Iseng googling, ternyata selain untuk final World Cup 2002, Nissan Stadium Yokohama juga salah satu stadion untuk 2020 Olympics dan beberapa international matches. AKB48 dan TVXQ juga pernah konser di sini. Padahal stadionnya di pinggiran. Boleh juga.... *padahal ke sini dengan terpaksa – View on Path.
Kansai International Airport yang terletak 50 km dari Osaka dan dibangun di atas man-made island.
Gue udah dua kali ketinggalan pesawat pas lagi traveling ke luar negeri. Yang pertama, ketinggalan pesawat dari Kuala Lumpur. Gara-garanya…. nonton X-Men First Class di bioskop. Dulu pas film-film luar negeri nggak masuk ke Indonesia, ya gue sempet-sempetin dong nonton film di negara tetangga. Ternyata malah ketinggalan pesawat, sendirian pula. Dan akhirnya harus beli tiket pulang lagi. Ya masih di KL masih terjangkau lah.
Pengalaman ke-2 ketinggalan pesawat ya waktu mau pulang dari Jepang kemarin. Gimana ceritanya gue bisa sampai ketinggalan pesawat, dari Jepang pula 8’))))
Jadi begini, pesawat pulang dari Nagoya itu Sabtu jam 9.35 pagi. Biasanya kalau pesawat pagi gini, gue lebih milih tidur di bandara. Tapi kemarin sudah booking penginapan di Nagoya, akhirnya ke penginapan saja. Jumat malam gue dan teman udah nggak memegang banyak cash. Teman memutuskan untuk membelanjakan cash terakhirnya dan berencana mau ngambil uang di ATM 7-11. Pas di 7-11 ada message dari teman:
Teman : “Masa harus ambil duit min 10 ribu yen di ATM sevel.”
Me : “Hah? Tadi aku bisa ambil 5 ribu.”
Teman : “Gatau tuh di sevel nya.”
Me : “Udah dicoba?”
Teman : “Jadinya ga ambil deh. Udah terlanjur abis duitku T__T Yakali 10 ribu, buat apa lagi…”
Me : “Ya udah besok ambil di Nagoya Station aja.”
Teman : “Ke Nagoya-nya piye duitnya?”
Me : “Aku masih ada sih kalau cuma 400 yen.”
Teman : “Aku ada 51 yen…”
Me : “Bye….”
Ya, akhirnya teman nggak jadi ambil uang, dan gue pede bisa ambil uang pagi-pagi di ATM kantor pos Stasiun Nagoya.
Paginya kami berangkat dari penginapan sekitar jam 7. Kalau semuanya lancar bisa lah sampai di airport jam 8, sudah web check-in pula. Sampai di St. Nagoya, gue langsung cari ATM. Dan ternyata….. kantor pos nya belum buka, baru buka jam 9.
Oke, mulai panik. Sudah tanya ke petugas stasiunnya, mau beli tiket kereta bandara pake kartu kredit juga nggak bisa. Akhirnya gue cari 7-11 ke luar stasiun. Nemu bapak-bapak petugas, gue tanyain aja ada kombini (convenient store) 7-11 terdekat nggak. Bapaknya nunjukin jalan, dan gue sebenernya nggak ngerti juga jalannya tapi ya sudah dicoba saja. Nggak ketemu juga, gue masuk ke Lawson, nyobain ATM di situ. Ya beneran nggak bisa. Gue sampai tanya ke mas-mas penjaga Lawson (yang lumayan lucu), dengan susah payah mas-nya bilang kalau kartu gue nggak bisa dipakai di ATM itu. Ya itu gue juga udah tau. Akhirnya tanya di mana 7-11 terdekat, mas-nya keluar nunjukin jalan dengan Inggris yang terbata-bata. Setelah mengucapkan ‘Arigatou’ dengan penuh semangat ke mas-nya (yang lumayan lucu dan baik), gue pun berlari ke arah jalan yang ditunjukkan. Masih nggak ketemu juga itu 7-11 nya, dan gue sudah sangat panik karena jam sudah menunjukkan hampir pukul 8. Gue panggil aja salah satu om-om kantoran yang jalan di depan gue, awalnya om-nya sempat nggak noleh, gue putus asa. Ternyata lagi pakai earphone. Begitu sadar gue panggil, dan gue tanya di mana 7-11, si om langsung menunjuk seberang jalan dengan penuh semangat. Gue pun nggak kalah semangat dari si om langsung mengucapkan ‘Arigatou gozaimasu!’ dan langsung berlari ke seberang jalan. Sampai di 7-11, gue langsung ambil uang 10 ribu yen. Tau gini mending teman langsung ngambil uang aja semalam….
Sambil panik, gue berlari ke St. Nagoya. Untung jalannya belum terlalu jauh. Di sana teman yang nunggu juga udah panik takut gue nyasar. Gue sih nggak nyasar baliknya, tapi susah nyari ATM. Langsung gue beli tiket ke airport dan bergegas menuju peron. Pas udah naik kereta, dipikir sudah aman, eh ternyata ke airport harus ganti jalur di beberapa stasiun berikutnya dan kami kelewatan stasiunnya. Kami bergegas turun di stasiun berikutnya dan balik lagi ke stasiun sebelumnya. Nunggu keretanya aja udah makan waktu 15 menitan. Sudah naik kereta yang benar ke airport, lihat jam, sudah mendekati jam 9. Dan ternyata perjalanan dari St. Nagoya ke bandaranya terasa sangat jauh sekali.
Akhirnya kami sampai di bandara pukul 9.15. Langsung cari counter check-in AirAsia, ternyata sudah ditutup. Kami menjelaskan kalau sudah web check-in, mbak-mbak counternya nggak ngerti. Kami lari ke departure gate, disuruh ngeprint boarding pass. Kemudian kami sama-sama pasrah. Langsung cari tempat duduk, teman pergi ngerokok, gue bengong di kursi sambil nyari harga tiket pulang. Ketemu harga tiket pulang untuk hari itu juga sekitar 9 jutaan per orang. Tambah pusing jadinya…
Personally, I didn’t mind extending my stay in Japan. Apalagi visa juga masih berlaku 15 hari. Gue sempat mikir, lanjut ke Seoul aja apa, katanya ke Korea Selatan bebas visa kalau sudah ada visa Jepang dan berangkatnya dari Jepang. Sama-sama ngeluarin uang banyak, mending sekalian lanjut liburan. Tapi karena teman harus segera pulang hari itu juga, akhirnya kami cari tiket pulang. Tanya-tanya ke counter Korean Airlines dan JAL di bandara, harga tiket ke Indonesia (atau Singapore yang terdekat) antara 11 juta sampai 20 jutaan, one way. Cari tiket online, termurah China Eastern ke Singapore seharga 5 juta. Lihat harga tiket AirAsia, ada 9 juta dari Kansai ke Jakarta, berangkat malam itu juga. Teman pun akhirnya beli tiket AirAsia itu. Gue sempat bilang “Udah yang penting kamu dapat tiketnya dulu, aku sih gampang pulangnya.” *sok iyes banget sih
Pada akhirnya, tiket gue pun diamankan oleh teman. Dan jadi juga gue pulang ke Indonesia malam itu.
Dan berakhir dengan kami harus menempuh perjalanan dari Nagoya ke Osaka lagi. Hikmah dari ketinggalan pesawat? Bisa merasakan perjalanan anti mainstream bolak-balik Osaka-Nagoya-Osaka, melihat desa-desa di Jepang dari jendela kereta, dan bisa merasakan Kansai International Airport. Pelajaran yang bisa diambil? Selalu sedia cash yang cukup sampai di airport untuk pulang. Kebetulan gue dan teman sama-sama santai, nggak ada cash pun kami santai. Kami nggak punya cash 1740 yen untuk kereta bandara, tapi bisa beli tiket pulang seharga 75700 yen.
This Japan trip is certainly the most expensive trip I’ve ever had, but still, it was really fun. Bad thing happened, but too many good things, memories and stories there. Dan…. selalu ada cerita di balik musibah yang terjadi.
*kembali lagi jadi mbak-mbak kantoran sambil menabung untuk the next trip
Besides your job, any income that support you to travel?
For now, I only earn money from my job. I’m one of those who don’t spend money for fancy things (though I can’t resist gadget and toys) and I don’t usually hang out every weekends, my priority is saving money to travel (and for investation later). I think foreign travel is not about how much money you earn, but how you manage your money. Priority, I say.
November 2013 AirAsia membuka rute penerbangan ke Nagoya, Jepang. Gue iseng lihat harga tiket dan ternyata ada promo pulang-pergi ke Nagoya seharga Rp 3,2 juta. Nagoya, masih jauh kalau mau ke Osaka, Kyoto dan Tokyo. But then, why not? Akhirnya gue dan teman beli tiket ke Nagoya untuk bulan Mei 2014 selama tujuh hari. Gue ke Jepang pertama kali Mei 2012 selama dua minggu, dan seorang diri. Ya, di tengah-tengah kesibukan skripsi gue malah memutuskan untuk liburan. Kalau beli tiket promo jauh-jauh pas udah kerja itu rasanya nggak yakin nanti bisa berangkat atau nggak, bisa cuti atau nggak. But they say if you really want something, universe will conspire to help you. So take the chance. That’s what I said to persuade my friend 8)))
Selama tiga minggu traveling di Jepang tahun 2012 dan 2014 kemarin, gue memang sengaja pergi dari utara ke selatan Jepang. Menyeberang ke Hokkaido naik kereta bawah laut, naik kereta lokal ke Tokyo, naik shinkansen ke Hiroshima, mampir ke Nara, Himeji dan Nagoya, ke Kyoto, Osaka, dan mencari stadion sepakbola di Yokohama. Mencoba airport Haneda, Nagoya, dan Kansai.
When to go? The best time if you want to see sakura is April-early May. Tahun 2012 gue sampai di Jepang pertengahan Mei, dan sengaja ke Hokkaido cuma untuk lihat sakura (dan pada akhirnya sakura-nya juga hampir tidak ada). Bulan Juni katanya sudah sering hujan di Tokyo, akhir Mei juga kadang-kadang sudah hujan. Summer is going to be really really hot, even if summer is the season of fireworks, but it is too much. Autumn is the best time to see momiji leaves, I’m considering to go back to Japan in autumn.
Next time ke Jepang pas autumn, siapa tau sudah ada traveling partner yang sekaligus life partner.
Cheap flight? Kalau mencari tiket promo, AirAsia banyak promo ke Jepang, dari 2.9 jutaan sampai 3 jutaan. Setelah kemarin merasakan mendarat di Nagoya, next time lebih memilih langsung ke Tokyo atau Osaka saja, karena kalau ditambah biaya bus/kereta dari/ke Nagoya, jatuhnya akan lebih mahal.
Best route? For first timer, I recommend Tokyo-Kyoto-Osaka. Tokyo is like the best city on Earth (they say), Kyoto itu Jogja-nya Jepang (dan banyak dedek-dedek kawaii), Osaka is…. cheap! Lebih enak kalau mendarat di Tokyo dan pulang dari Osaka. Kalau punya banyak waktu, ada side trip yang bisa dilakukan dari masing-masing kota, seperti Kamakura, Nara, Himeji.
Backpack or suitcase? Suitcase. Biar bisa bawa pulang Gundam se-toko. But seriously, kalau traveling ke tempat lain gue bisa nggak belanja, tapi di Jepang…. too many cute things to buy. Dan berakhir gue yang berangkat menggendong backpack, pulangnya membawa koper, itu pun harus nambah bagasi setidaknya 20 kg. Tapi ya siap-siap saja naik turun tangga di stasiun bawa-bawa koper. Mostly ada elevator dan eskalator, tapi kalau udah nggak nemu itu ya… good luck. Mana stasiunnya berasa satu kecamatan, mau ganti line sepertinya harus jalan berkilo-kilo. Oh, and the stations are always crowded. Orang-orang Jepang ini jalannya nggak ada yang santai, berasa dikepung dari segala arah pas di stasiun.
Accommodation? 2000 - 3000 yen per night in guesthouses. Ya itu gueshouse-nya sederhana sekali, tapi cukup layak lah kalau cuma buat numpang tidur. Toh we’ll spend most of our time outside. Kalau di Tokyo, gue sudah mencoba Khaosan Tokyo Original, Khaosan Tokyo Ninja, dan Sakura guesthouse. Paling suka di Sakura guesthouse (lebih mahal juga), least favorite di Khaosan Tokyo Original (too cramped). Cari saja yang kira-kira reviewnya bagus dan aksesnya gampang dekat subway. Kalau di Kyoto, lebih suka menginap di rumah-rumah lokal yang dijadikan guesthouse. Pernah di Hostel Mundo dan Hannari guesthouse. Rumahnya kecil dan sempit tapi benar-benar bersih, nyaman juga. Apalagi di Hostel Mundo, pemiliknya ramah sekali. Di Osaka, lebih murah di business hotel. Dua kali ke Jepang, gue menginap di Hotel Taiyou. Private room dengan AC dan TV cuma 2000 yen. Jangan berharap terlalu banyak, hotelnya sudah tua, showernya juga cuma ada tiga, and sometimes the room is smelly. Tapi di luarnya langsung Subway Dobutsuen-mae, jadi ke mana-mana gampang. Sekarang gue suka booking penginapan di www.booking.com, no booking fee, bisa booking tanpa kartu kredit, bisa dicancel, bayar pas datang. Oh, haven’t booked a room yet? Daijobu, di Jepang banyak net cafes dan love hotels. Love hotels ini dalemnya bagus malah, tapi cukup mahal juga sih (nggak, gue nggak nyobain).
Khaosan Tokyo Original, Tokyo Sky Tree jadi pemandangan setiap hari.
Food? 300 yen – tak terhingga. Kalau mau cari yang murah, beli di 7-11, Lawson, Family Mart dan sejenisnya saja. Nanti diangetin sama mas-mas atau mbak-mbaknya, tinggal makan deh. Kalau di Yoshinoya, Sukiya, dan restoran beef bowl sejenisnya, kisarannya juga 400 an yen. Atau di tempat makan yang pakai vending machine. Jadi pesen di vending machine, masukin uang, bawa kertas pesanan dari vending machine ke bapak-bapak yang jaga. Yang belum kesampaian sampai sekarang itu mencoba sushi standing bar. Kemarin gue dan teman sama-sama malas karena harus makan sambil berdiri. Kalau bisa mencoba segala jenis makanan, try street food. They say it’s Japan, all the food is delicious.
Mas-mas penjual takoyaki di Namba.
Is Japan really expensive? Yes and no. My Japanese friend even said Tokyo is expensive, but not as expensive as you think. Osaka is cheaper, cheaper lodging, cheaper and good food too. Jangan lupa mampir ke Namba di Osaka, di sekitar situ ada jalan Shinsaibashi untuk belanja-belanja murah dan Dotombori untuk makanan-makanan. Namba is a must visit for shopping (and this is coming from a girl who doesn’t like shopping).
Uniqlo dan H&M sedang banyak diskon.
Touristy places? Depend on your preference, www.japan-guide.com bisa jadi referensi yang sangat membantu. Kalau di Tokyo, gue biasanya nggak ngeluarin uang untuk masuk tempat wisata, kecuali ke DisneySea/Disneyland. Di Kyoto ada Kiyomizudera, Kinkakuji, Ginkakuji, Fushimi Inari, Imperial Park, Nijo Castle, Arashiyama. Di Osaka bisa beli Osaka Amazing Pass seharga 2300 yen. Satu hari bebas naik subway dan masuk gratis ke beberapa tempat wisata, seperti Tsutenkaku Tower, Osaka Castle, Tempozan Ferris Wheel, naik Santa Maria Cruise, Dotombori River Cruise, dan lain-lain. Kalau beli ini lebih baik dimanfaatkan dengan baik dari pagi sampai malam.
Disneyland atau Universal Studio? Disney Resort (DisneySea dan Disneyland) di Tokyo dan Universal Studio di Osaka. If you’re a Disney girl/guy, Disney is a must visit. But I personally prefer Tokyo DisneySea. Firework show di malam hari pun lebih spektakuler di DisneySea. If you like Harry Potter, Wizarding World of Harry Potter dibuka Juli 2014 di Universal Studio Osaka. Gue sempet nyesek waktu dikasih tahu teman ini, but then, another reason to come back to Japan. Kalau mau nyoba rollercoasters yang nyeremin, FujiQ Highland is also a must visit. Kemarin sudah berencana ke sana sekalian ke Kawaguchiko, tapi karena waktu mepet akhirnya belum jadi ke sana.
Tokyo DisneySea!
Transportation? Di Tokyo ada tiga macam kereta, Subway Tokyo/Toei Metro, monorail, dan JR train. Jangan bingung, yang paling banyak digunakan adalah subway Tokyo Metro dan JR. Beli saja Tokyo Metro one day untuk jalan-jalan di Tokyo. Kalau di Kyoto lebih enak keliling kota naik city bus. Pas turun dari bus, bilang saja ke supirnya ‘one day pass’, nanti dikasih one day pass seharga 500 yen untuk naik city bus sepuasnya. Untuk perbandingan saja, sekali jalan naik bus itu 230 yen. Kalau mau ke Fushimi Inari dan Arashiyama, lebih mudah dijangkau dengan kereta di Kyoto. Kalau di Osaka lebih mudah dengan subway, one day pass juga ada kalau mau keliling Osaka dengan subway. Transportasi antar kota bisa dengan bus, kereta lokal, atau shinkansen. Bus biasanya gue booking dari Indonesia di www.willerexpress.com, sometimes they offer discount price, and they offer many choices of bus. Untuk kereta bisa cek harga di www.hyperdia.com. Harga dan jam-nya juga. Dan jam keberangkatannya itu sangat akurat. Kalau mau coba shinkansen, well shinkansen ini mahal sekali. Kemarin nyoba shinkansen Osaka-Nagoya one way harganya 5830 yen, selama kurang lebih 50 menit. Beli tiket kereta JR dan shinkansen bisa di JR office di stasiun-stasiun, bisa beli dengan kartu kredit juga. Kalau shinkansen dari Tokyo-Kyoto/Osaka harganya bisa 1 jutaan rupiah lebih. Tahun 2012 gue dua minggu di Jepang, beli JR pass (7 days) di Indonesia seharga 3 jutaan rupiah (yang lebih mahal dari harga tiket pesawat gue). Itu bisa dipakai untuk naik shinkansen dan JR train sepuasnya selama satu minggu. Jadi karena itu gue bisa dari Hokkaido sampai ke Hiroshima, sampai mabok shinkansen saking sering bolak-balik naik shinkansen.
JR Pass dan tiket-tiket shinkansen.
Cash or card? Bawa cash yang sekiranya cukup sampai kalian sampai di airport lagi untuk pulang. Ambil uang di ATM Jepang itu harus di ATM 7-11 atau kantor pos, nggak bisa di sembarang ATM. Pengalaman kemarin, gue dan teman kehabisan uang untuk ke airport (1740 yen), rencananya mau ngambil di ATM Nagoya Station, ternyata susah nyari ATM-nya. Akhirnya kami pun ketinggalan pesawat karena nggak punya uang ke airport. Credit card bisa dipakai di toko-toko tertentu atau department store. Kalau di department store (Isetan, Takashimaya, dll), nanti bisa minta tax refund di customer service-nya. Harga barang-barang di Jepang biasanya belum termasuk tax 8%.
How to communicate? Use English. Learn basic Japanese words like sumimasen (excuse me), arigatou (thank you), etc. Japanese people are very very kind and friendly, they will help you. Walaupun English mereka terbata-bata, tapi mereka tetap akan bersemangat menolong. Ya ada sih yang kalau ditanyain di jalan menghindar, but most of them are very kind. Pernah gue tanya harus naik kereta mana sama om-om di depan gue, dia nunjukin keretanya sampai masuk ke kereta mastiin gue berada di kereta yang benar. Bapak-bapak petugas stasiunnya juga sangat helpful, so don’t hesitate to ask questions.
Internet in Japan? Tahun 2012 dulu free wifi cukup susah ditemukan di Jepang, tapi kemarin ke sana ternyata sudah banyak free wifi. Kalau di Tokyo, ada di setiap subway, cukup masukin email saja. Di Kyoto juga ada free wifi, caranya dengan kirim email kosong. Petunjuknya ditempel di setiap bus stop di Kyoto. Di Osaka juga sudah tersedia free wifi. Karena kemarin sudah sewa pocket wifi, jadi gue nggak nyoba free wifi-nya. Sewa pocket wifi lebih baik pesan dari Indonesia, bisa di http://globaladvancedcomm.com/ atau di http://japan-wireless.com/. Lebih baik beberapa hari sebelum keberangkatan, karena nantinya pocket wifi akan dikirim ke kantor pos bandara atau ke alamat yang dituju. Gue kemarin kurang persiapan internet, jadinya baru sewa pocket wifi di bandara Nagoya, di SoftBank counter dan itu mahal sekali, per hari 1590 yen tambah administration fee 315 yen. Bayar cuma bisa dengan kartu kredit, belum lagi kartu kredit kita akan di-charge 40 ribu yen pas awal sewa sampai kita balikin pocket wifi-nya. Sebenarnya di bandara Nagoya ada counter pocket wifi rental lain, tapi di Departure Area. Di Arrival gue cuma nemu SoftBank saja. Koneksi internetnya cukup mumpuni, cuma di subway saja nggak bisa dipakai.
Pocket wifi SoftBank yang bisa untuk 10 koneksi internet sekaligus.
Visa Jepang susah? No, getting Japanese visa is not difficult. Apalagi sedang ada wacana WNI akan bebas visa ke Jepang. Asal persyaratan dipenuhi sesuai ketentuan di website embassy Jepang, then you’ll get your visa in 4 days. Saldo di rekening? Gue dulu tahun 2012 masih kuliah, cuma ada belasan juta di rekening, dua minggu di Jepang, dapat visanya. Gratis lagi, karena visa Jepang gratis untuk pelajar (sekarang kurang tau masih gratis atau nggak sekarang ternyata sudah tidak gratis). Bikin visa Jepang harus di embassy Jepang yurisdiksi sesuai di KTP, jadi bisa dicek dulu di situsnya KTP kalian itu masuk embassy yang di mana. Gue KTP Solo, apply visa di Jakarta. Teman KTP Surabaya, harus apply di Surabaya.
PENTING!
Jangan kalap belanja di Tokyo kalau nanti masih mau ke Osaka. Ya, karena di Osaka bisa dapat barang-barang lucu lebih murah. Tapi kalau ke Tokyo dan ke Harajuku (Takeshita street), pasti susah juga menahan godaan untuk belanja. Apalagi belanja di Disney Resort, too hard to resist.
Pakailah sepatu senyaman mungkin di Jepang. Kalian akan banyak jalan di Jepang. Jangan manja. Taksi di Jepang sangat sangat mahal, sayang kan buang-buang uang untuk taksi. Mau ganti line di stasiun aja jalannya entah naik turun tangga berapa kali. Belum lagi ditambah nyasar-nyasar cari exit di stasiun. Jadi kalau sudah ada tujuan, lebih baik tahu aksesnya dengan jelas. Gue sama teman kemarin membuat kesalahan dengan sudah jalan jauh dan nyasar di hari pertama, alhasil kami berdua sama-sama cedera. Dan itu baru hari pertama, masih ada enam hari harus jalan jauh. Ya toh, kami tetep kuat jalan, walau sering ngeluh ‘aduh, capek! kaki sakit banget!’
Orang tua saya adalah tipikal orang tua pada umumnya. Instead of asking ‘What makes you happy?’ or ‘What do you really want to do in life?’, they often ask ‘When will you get married?’ Apalagi saya sudah menginjak seperempat abad dan sudah memiliki pekerjaan yang layak, tentu yang diinginkan orang tua adalah saya segera menikah dan….. mereka segera punya cucu. I said to my mom, “I consider getting married at the age of 27.”
Pernah suatu waktu saya minta izin ke orang tua untuk liburan ke Jepang. Ayah orangnya cenderung lebih cuek, setiap saya minta izin liburan, ayah cuma tanya “Mau ngapain di sana?”, yang tentunya saya jawab “Mau liburan.” Sudah begitu saja, ayah tidak akan bertanya macam-macam. Ibu lebih perhatian tentunya. Setiap minta izin liburan, reaksi ibu pasti “Astaga kamu ngapain lagi liburan ke luar negeri terus?” Waktu minta izin ke Jepang, reaksinya juga sama seperti itu.
Ibu tanya, “Setelah ke Jepang mau ke mana lagi? Masih mau ke Eropa?” My parents know my obsession about Europe. I always say that I want and I will travel to Europe. Saya pun menjawab dengan penuh percaya diri, “Ya. Aku mau ke Eropa, tahun depan.”
Buat saya, traveling itu hobi. Seperti cewek-cewek yang punya hobi shopping atau mas-mas geek yang punya hobi koleksi komik. Most of the money I earn, I spend it to do thing that makes me happy, which is traveling. Mulai sadar suka traveling itu pas pergi ke Bali berdua dengan teman saat kuliah. I went to Bali few times before, and I didn’t really like it. Tahun 2010, teman mengajak ke Bali berdua. Ibu cukup kaget waktu saya bilang mau ke Bali, cuma berdua. Pada akhirnya karena orang tua saya bukan tipe yang strict, toh akhirnya saya berangkat juga.
Jujur saja, itu pengalaman pertama saya naik pesawat. Pengalaman pertama naik (tepatnya membonceng) sepeda motor dan nyasar di Denpasar. Saya dan teman tidak membuat itinerary sebelumnya, jadi semua dilakukan serba spontan. Bahkan mencari hostel di Poppies Lane pun tidak direncanakan sebelumnya. Dan ternyata, ke Bali seperti ini rasanya berbeda dengan ke Bali yang sudah diatur oleh agen travel. I start to like Bali. I saw things I didn’t see when I was in Bali before.
Yang membangkitkan minat saya pada traveling adalah pasangan suami istri yang kebetulan menjadi teman perjalanan di Bali, Mbak Eva dan Mas Dwi. Mereka berdua baru saja selesai dari EuroTrip selama sebulan. Mendengar cerita Mbak Eva selama di Eropa, saya pun langsung excited. Starting from that day, I promise myself that I will travel to Europe. Apalagi sebelumnya saya memang sudah punya ketertarikan dengan Inggris.
Setelah itu, saya mulai rajin buka situs-situs airlines, lihat harga tiket. Akhirnya pengalaman ke luar negeri pertama itu adalah Januari 2011 ke Seoul, berdua juga dengan teman cewek. Saya ingat waktu itu saya minta izin ke orang tua lewat telepon. Orang tua memberikan izin buat saya pertama kali ke luar negeri, hanya dengan satu teman cewek. Selama tahun 2011-2012 saya sempat beberapa kali ke Singapura, Malaysia, Thailand, dan Jepang. Most of the time, I travel solo. Ke Singapura dan Malaysia sendiri itu sudah biasa, tapi pengalaman solo traveling paling tidak terlupakan adalah waktu ke Jepang bulan Mei 2012 selama dua minggu. Kebiasaan solo traveling ini yang membuat ibu khawatir. Ibu selalu bilang, “Traveling-nya nanti saja bareng sama suami, jadi ibu juga tenang. Apa nanti kamu mau ke Eropa sendiri juga?” Yang saya jawab, “Ya sendiri. Kalau ada yang mau diajak ya aku ngajak teman.”
Eropa. Sendiri. Satu bulan.
Saya selalu membayangkan bisa mewujudkan hal tersebut, setidaknya saat saya masih di usia 20-an tahun. Awal tahun 2014, saya membuat resolusi. Resolusinya sederhana saja, saya hanya ingin memperbanyak traveling di tahun 2014 ini. Dan saya ingin merayakan ulang tahun saya yang ke-25 di London. Oke, yang ini memang tidak sederhana. Tapi ini lebih sederhana dan lebih mudah diwujudkan dibanding keinginan ibu saya yang menginginkan saya segera menikah, kalau tidak tahun ini atau tahun depan. I guess it’s easier for me to travel to London this year.
Walaupun orang tua saya tidak sepenuhnya menyukai hobi traveling saya, tapi mereka juga tidak melarang saya untuk traveling. Mereka pun memperbolehkan saya traveling sendiri. I’m glad I have parents like them, because my parents are really the greatest in my world.
Still, the questions remain…
“What makes you happy? What do you really want to do now?”
Traveling makes me happy. I want to travel and see the world. And find my traveler partner, who’s going to be my life partner.
Anyway, saya punya mimpi, bertemu jodoh di kereta dari Paris ke London. Not Budapest to Vienna anymore. No Jesse and Celine, but this time it’s going to be my story. Ada amin? Aamiin….
Atau…. siapa tau saya bisa bertemu jodoh di Inggris kalau saya terpilih ikut #InggrisGratis. Seven days in England? Anything could happen.
I must go to England, and I will go to England, no matter what it takes.
Saya cuma seorang mbak-mbak kantoran yang rutinitasnya tiap hari membosankan. Yang prioritas hidupnya adalah menabung untuk traveling. Traveling itu hobi.
Saya memulai hobi traveling sejak 2011. Dan sejak itu saya sudah merencanakan akan melakukan EuroTrip tahun 2012 (gagal, karena saat itu masih kuliah jadi nggak punya duit cukup buat ke Eropa) dan tahun 2013 (gagal, karena sibuk dengan dunia kerja). Dua tahun gagal mewujudkan EuroTrip, tahun 2014 saya mulai realistis, dengan kondisi saya sebagai mbak-mbak kantoran saya nggak punya banyak waktu buat menjelajahi Eropa, jadi saya memutuskan akan ke destinasi traveling yang paling saya impikan, yaitu Inggris. If I couldn’t make it to do EuroTrip for a month, then London for few days would be enough. Mungkin itu tujuan hidup saya dalam waktu dekat. Shallow, eh? No, because that's the thing that I really want to do right now.
Jadi pertanyaannya, KENAPA SIH HARUS INGGRIS?
Ayah sekolah di Aberystwyth. Anyway, my younger brother was named Aberys, taken from the town name. Dan ternyata Aberystwyth itu di Wales yang merupakan negara bagian dari United Kingdom. Okay, I must admit something, sebelumnya saya nggak hapal negara-negara bagian di UK, padahal cuma ada empat negara bagian : England (Inggris), Wales, Scotland, dan North Ireland. Jadi ayah saya dulu di Wales dan bukan England. Sepertinya orang Indonesia lebih biasa menyebut UK dan negara-negara bagiannya dengan Inggris.
Beranjak ketika saya SD, karena major ayah saya adalah ilmu perpustakaan (he got Master of Library title), sejak kecil saya dibiasakan suka baca buku. Waktu SD kalau nulis hobi di biodata, nulisnya pasti ‘Membaca’. Saya pun banyak dibelikan buku bacaan, salah satunya adalah ‘LIMA SEKAWAN’ atau ‘THE FAMOUS FIVE’ karya Enid Mary Blyton, seorang penulis novel anak-anak ternama dari Inggris. One of my all time favorite children books. Sampai sekarang saya masih punya lengkap koleksi Lima Sekawan dan entah sudah saya ulang baca berapa kali. Siapa yang nggak tau Lima Sekawan. Julian, Dick, Anne, George, and Timmy the dog. I adore them SO MUCH. Saya sangat terpukau dengan petualangan-petualangan seru keempat bocah dan anjingnya itu. Sejak saat itu, saya punya cita-cita, untuk berpetualang di English countryside seperti Lima Sekawan. Cita-cita untuk naik karavan, tidur di tenda, hiking, biking, camping di pulau, menangkap kawanan penyelundup, dan menemukan harta karun.
Koleksi Lima Sekawan yang masih lengkap sampai sekarang.
Sampai sekarang kadang saya masih suka mengulang baca Lima Sekawan, dan sekarang cita-cita saya jadi lebih realistis dan tidak muluk, cukup suatu saat saya akan mengunjungi English countryside. Melakukan hal-hal yang tidak bisa saya wujudkan ketika masih SD. Walaupun saya juga sudah nggak berminat menangkap kawanan penyelundup dan menemukan harta karun lagi. Saya yang sekarang punya cita-cita lagi, cita-cita jauh ke depan, yaitu ingin menghabiskan masa-masa tua di countryside. Well, itu sangat jauh ke depan ya...
Kemudian beranjak ke tahun 2004, saya kelas 2 SMP. Tahun itu pertama kalinya saya benar-benar menonton dan menyukai sepakbola. Tidak lain karena Euro Cup 2004 di Portugal. Waktu itu saya belum ngerti yang namanya sepakbola, tapi waktu nonton Tim Inggris tanding entah kenapa tiba-tiba saya merasakan panggilan untuk mendukung mereka. Panggilan itu sebenarnya muncul dari wujud seorang Frank Lampard. Lampard waktu itu bagi saya terlihat sangat ganteng dan sangat menarik. Sejak itu saya memutuskan untuk mendukung The Three Lions. Until now. And now I’m like, ‘Apakah gue memilih jalan yang salah?’ Saya memutuskan untuk mendukung tim yang mengklaim sebagai negara asal sepakbola tetapi terakhir menang di Piala Dunia ketika tahun 1966. But I guess I will always support England national football team. Let’s hope for the best in World Cup 2014.
Sebagai penggemar The Three Lions tentunya saya punya keinginan untuk mengunjungi England national stadium, Wembley Stadium. Untuk mengunjungi Stamford Bridge. Yes, I don’t talk much about football lately, but I’ve been a fan of Chelsea since 2004. Okay, ini tentunya karena faktor Frank Lampard. Saya suka Chelsea sejak pertama kali dilatih Jose Mourinho, dan musim itu Chelsea menjuarai English Premier League. Satu wish list saya kalau mengunjungi London adalah menyempatkan untuk menyaksikan pertandingan Chelsea. Kalau nggak sempat ya setidaknya foto di depan Stamford Bridge saja juga sudah bahagia hingga perasaan di dada membuncah. Kalau beruntung siapa tahu bisa ketemu Lampard dan foto bareng sambil ndusel-ndusel manja.
Waktu SMP juga, saya punya satu buku bacaan yang sampai sekarang masih menjadi one of my biggest fandoms. Sherlock Holmes, the brilliant detective from London, karya Sir Arthur Conan Doyle. Saking nyatanya, saya merasa kalau Holmes itu bukan cuma sekedar tokoh fiktif, tapi benar-benar detektif yang hidup di London di masa itu. I have infatuation towards Holmes. I love Holmes. Weird choice for a kid, eh? Probably because since I was a kid, I love adventure and detective story books, so I found the smart and arrogant Holmes very intriguing. Beranjak dewasa, khususnya sekarang ini, setelah mengenal Sherlock Holmes versi om-om ganteng Robert Downey Jr. dan Benedict Cumberbatch (dan Jonny Lee Miller. Yes, I do watch Elementary.), saya pun semakin mencintai Sherlock Holmes.
Sherlock halal lho guys....
Setelah dikenalkan dengan TV Series ‘SHERLOCK’, saya mantap berpendapat bahwa karakter Holmes yang diperankan Om Benedict adalah karakter Sherlock Holmes yang paling tepat. Oh yes, I do love arrogant jerk like Sherlock. We agree that Sherlock is such a lovely arrogant jerk, don’t we? Dan sebagai penggemar Holmes (I wouldn’t dare to call myself Sherlockian, but yes I am Sherlocked!), tentu Sherlock Holmes Museum di 221B Baker Street adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi. Berjalan ke 221B Baker Street dari Baker Street Tube dan berfoto bersama patung Sherlock Holmes di luar Baker Street Tube adalah hal yang harus dilakukan ketika saya mengunjungi London.
Do you spot Sherlock?
Inginnya sih berkunjung ke 221B Baker Street nanti dengan seorang partner. Jadi bisa berpose layaknya Holmes dan Watson. Someday, I’ll find my Holmes (yes, because I am Watson.)
Me wants this!
Bicara tentang British TV Series, ada satu serial lagi yang sebenarnya saya nggak terlalu mengikuti, tapi saya suka, yaitu Doctor Who. Saya baru sempat menonton Dr. Who dari Tenth Doctor, yang diperankan oleh another om ganteng David Tennant, yang dengan melancholy sad face-nya sebagai Tenth Doctor membuat saya ingin memeluk om ganteng. It’s funny it makes me laugh, sometimes it makes me cry. Doctor, if you let me become your traveler mate, I’ll trust my entire universe to you. Dan kalau ke London nanti, pokoknya saya mau masuk ke TARDIS! Eh maaf, maksudnya masuk ke telephone box. Iya, yang merah, bukan yang biru.
Doctor, bring me into your TARDIS!
Ada lagi yang tidak boleh dilewatkan mengenai Inggris. HARRY POTTER. Saya sudah dari SD mengikuti Harry Potter. Ada cerita tentang fandom ini, dulu waktu kelas 6 SD, saya dan satu teman dekat sangat mengidolakan Harry Potter, khususnya Daniel Radcliffe. Akhirnya kami sepakat mengirimkan fan letter ke Daniel Radcliffe. Iya, dikirim ke Inggris. Kami sampai googling alamat surat untuk Daniel. Dengan bahasa Inggris anak SD yang pas-pasan, kami pun menulis surat untuk Daniel. Setelah itu kami ke rumah guru bahasa Inggris, minta tolong suratnya dikoreksi. Bahkan kami sempat beli gift buat Daniel, stationery Harry Potter. Padahal apalah arti stationery murah buat Daniel.
Selang beberapa waktu yang cukup lama, datang lah balasan fan letter kami! Dikirim dari Inggris. Isinya sih nggak ada kata-katanya, cuma foto Daniel pas masih culun dengan tanda tangan. Tapi itu pertama kalinya saya menulis fan letter dan mendapat balasan dari idola, jadi pasti tahu kan bagaimana bahagianya saya waktu itu. Apalagi itu zaman SD dulu... The thing I did for fandom was so random.
Kalau ke Inggris, saya pasti akan mengunjungi King’s Cross Station dan mencoba menerobos Platform 9 ¾, siapa tahu ternyata saya adalah seorang penyihir! (Then my whole life would be a lie!) Dan yang tidak boleh terlewatkan di London oleh penggemar Harry Potter tentunya adalah Warner Bros. Studio Tour London – The Making of Harry Potter. Kaak, itu di Trip Advisor ratingnya 5 kaak. MEMUASKAN SEKALI. Dulu sempat ke Harry Potter Exhibition di Singapore, itu saja sudah bahagia sekali. Apalagi kalau bisa maen ke WB Studio Tour di London. And Butterbeer, a must try when I visit WB Studio Tour!
So, England, I’m soooo coming!!!! No matter how long it will take, I promise myself that I’ll land myself in England. I will make my childhood dreams come true. So, wait for me, mas-mas British beraksen seksi <3
Mas-mas British beraksen seksi.
Kalau ini, mbak-mbak kantoran yang ingin sekali pergi ke Inggris.
Pictures are taken from Google, Tumblr, and my iPhone.