Dulu Diselingkuhi, Kini Jadi Selingkuhan, Kok Bisa?
Tadi di explore YouTube tidak sengaja muncul video tentang seorang istri yang bercerita bahwa ia diselingkuhi suaminya dan ternyata selingkuhannya adalah seorang janda yang dulu juga pernah menjadi korban perselingkuhan. Waaah… pasti heboh ya netizen? Ramai sekali yang kemudian mengungkit kembali ucapan si perempuan itu di masa lalu.
Kenapa hal seperti ini bisa terjadi?
Kisah itu membuatku merenung. Lalu aku teringat pada satu kejadian lain yang pernah aku jumpai. Jauh sebelum kasus ini viral, aku pernah menemukan perempuan yang mengalami hal serupa. Dulu ia diselingkuhi saat masih pacaran, dan ia sibuk menghujat selingkuhan pacarnya di media sosial… namun beberapa tahun kemudian justru menjadi selingkuhan suami orang dan merusak rumah tangga orang lain.
Melihat pola seperti itu bikin aku berkaca. Aku sendiri dulu juga pernah mencela dan menghujat orang yang melakukan dosa itu. Saat sedang tersakiti, emosi kadang menguasai diri, dan lisan pun jadi lepas. Aku pikir waktu itu wajar. Tapi ketika melihat bagaimana orang yang mencela justru bisa terjatuh pada dosa yang sama, aku mulai sadar bahwa celaan itu sering kembali kepada diri kita sendiri.
Kesadaran itu semakin kuat ketika suatu hari aku menemukan hadits ini:
“Siapa yang menjelek-jelekan saudaranya karena suatu dosa, maka ia tidak akan mati kecuali mengamalkan dosa tersebut.” (HR. Tirmidzi no. 2505)
Astaghfirullah… jleb banget rasanya. Seakan Allah menegur langsung hatiku. Kita ini manusia biasa, sangat mungkin terjatuh pada dosa yang pernah kita hina. Maka jangan pernah merasa diri paling suci.
Dalam QS. Al-Hujurat ayat 12, Allah juga melarang kita mencela dan mencari-cari kesalahan orang lain. Kalau sudah terlanjur pernah melakukannya (dan aku pun termasuk yang pernah salah), perbanyaklah istighfar dan bertaubat. Tulisan ini sebenarnya adalah pengingat untuk diriku sendiri.
Hanya Allah yang mampu melindungi kita dari dosa. Bahkan Nabi Yusuf ‘alaihissalam pun hanya bisa selamat dari godaan zina karena pertolongan Allah, sebagaimana disebutkan dalam QS. Yusuf ayat 24. Perempuan itu tertarik kepada Nabi Yusuf, dan Nabi Yusuf pun sebagai manusia biasa juga tertarik kepada perempuan tersebut, tapi Allah menjaganya karena beliau adalah hamba pilihan-Nya.
Maka, mari kita berjuang menjadi hamba yang Allah pilih dan jaga, agar hati kita dilindungi dari dosa-dosa besar. Semoga Allah menjaga lisan, hati, dan langkah kita. Aamiin Ya Rabbal 'Aalamiin.












