Wulanku..
Aku tidak pernah tahu kalau harus bertemu lagi dengannya dalam keadaan seperti ini. Di saat terpurukku, yang mesti menerima kenyataan untuk kehilangan wanita yang kucintai dalam kecelakaan lalu lintas dua bulan lalu.
Hujan deras tak mampu menghentikan langkahku. Ini adalah momentum terpenting dalam hidupku. Lima tahun lamanya kutunggu saat ini, entah bagaimana memulai percakapan dengannya nanti. Pikiranku kacau, karena dipenuhi bermacam tanda tanya.
'Seperti apa keadaannya sekarang?'
'Masihkah ia bersama Dicky, kekasihnya yang dulu? Pria yang mempecundangiku, karena kekalahanku dari pertarungan untuk memperebutkan hatinya.'
'Salahkah aku menemui masa laluku? Di saat harusnya aku merasa kehilangan??'
'Kenapa sekarang??? Kenapa harus sekarang ia ingin menemuiku?'
'Tepat di saat aku mendahului ego daripada kesetiaan.'
"Kita sudah sampai, Pak." supir taksi membuyarkan lamunanku.
Pikiranku masih berkecamuk. Kusempatkan berkaca pada spion taksi untuk merapihkan rambutku yang basah karena hujan. Sebatang mawar merah masih aman tersimpan di balik jaketku.
Jantungku berdegup kencang, saat kulihat parasnya yang anggun dan tersenyum kepadaku dari kejauhan. Wulan masih secantik yang dulu.
Aku berdeham keras, berusaha membuang kesan kaku pada sikapku. Kubalas ciuman pipi kanan dan kirinya. Kini sikapku sudah setenang samudra.
Belum sempat aku menanyakan bagaimana keadaanya sekarang. Seorang bocah perempuan yang manis mendekatinya.
"Mah.., ini siapa?" panggil anak itu ke Wulan.
Sekujur tubuhku mengeras kaku. Keringat dingin mulai merembas lewat pori-pori. Kuremas hancur mawar yang kusimpan di balik jaketku tadi. Mawar yang sengaja ku bawa sebagai pernyataan cintaku, pernyataan yang lima tahun lalu sempat tertunda. Kini harus musnah untuk selamanya.












