Gerimis dan Kau
Gerimis tak suka memilih ke mana ia akan terjun. Ia terjun bebas, pada saatnya.
Begitulah dirimu, yang duduk menanti detak demi detak jam dinding di ruang tunggu wawancara. Pandanganmu menunduk, ke arah arloji dan sesekali menatap rintik-rintik di luar jendela. Gerimis.
Ada angan yang kau selipkan diantara hujan dan pintu di ruang.
Esoknya, kau datang lagi dengan tatapan tak tentu arah. Melihat kami, orang baru yg menjadi dunia barumu. Tempatmu memulai lembaran baru berisi petualangan baru yang kau warnai dengan angan.
Perlahan, kau mulai menemukan senyum-senyum dan tawamu. Seperti diary yang kau isi setiap malam dengan keping-keping puzzle kisah yang melengkapi hidup, bagimu jalan-jalan adalah tempat berbagi cerita. Baik sendu atau ceria.
Ada bahagia yang tak terbendung saat tersenyum dan ayunan kakimu agak cepat. Entah kau tersenyum pada siapa. Seolah ingin bilang, "Hai dunia, aku punya kabar indah sore ini."
Saat sedih, kau menyembunyikannya di balik wajah. Lalu kau pergi jalan-jalan entah ke mana batinmu membawa. Dirimu bisa bebas berjalan dengan tatapan hampa, dan semuram apapun wajah.
Seperti gerimis. Kau tak memilih ke mana rasa itu terjun, kau menyimpannya untuk terjun pada waktu yang terpilih.
Kadang, itulah yang membuatku tersenyum sendiri. Kau, gadis lugu yang suka berjalan di antara keramaian, seorang diri. Tiba-tiba melambaikan tangan dari kejauhan, memintaku melihatmu menyapa. Tanpa kau sadari, memintaku melihat senyum manismu.
Apa itu berarti ada banyak cerita yang mau kau bagi denganku?

















