Tembalang - Gunung Pati 15 menit
Bisa dibilang ini pengalaman pertama saya melintasi jalur yang lumayan ngeri, seru dan penuh kejutan untuk mencapai Kecamatan Gunung Pati. Bayangkan saja, tidak sampai 20 menit saya dari Tembalang bisa mencapai Gunung Pati. Begini ceritanya.
Pagi itu, kebetulan ada job untuk memotret dan video sebuah acara didaerah Semarang. Saya berangkat ke studio pagi-pagi sekali. Kira-kira pukul setengah lima kurang saya sudah berada di studio. Bukan tanpa alasan saya berangkat pagi-pagi sekali. Selain saya sudah harus stand by di studio pukul 5, saya juga bermaksud untuk nunut (numpang) mandi di studio. Maklum, sudah hampir dua bulan ini kosan saya kekeringan.
Sudah pukul lima lebih. Saya dan kamera sudah siap. Tinggal menunggu Tiyok saja. Sedangkan kami harus sudah ada di venue acara pukul 6. Rencananya kami berboncengan untuk menuju venue. Pukul setengah enam lebih akhirnya Tiyok sampai di studio juga. Kami briefing sebentar, lalu berangkat.
Ketika sampai didepan Plaza Hotel di Setiabudi, Tiyok tiba-tiba berhenti. Setelah dirasa-rasa, katanya kalau kita lewat bawah, lalu naik lagi itu akan memakan waktu yang sangat lama. Sedangkan kami harus sudah di Gunung Pati pukul 6. Tiyok memutar balik sepeda motornya. Entah mau dibawa kemana saya. Katanya lewat suatu jalan dimana tidak memakan waktu 30 menit dan langsung tembus ke FIK Unnes. Saya sebagai orang yang membonceng hanya nurut-nurut saja. Karena pada dasarnya Tiyok adalah mahasiswa Unnes. Saya yakin dan percaya bahwa dia mengetahui seluk beluk jalan menuju ke Gunung Pati.
Pertama-tama kami melewati sebuah gang besar disekitar jalan Setiabudi yang sederetan dengan Wallet Photo, tapi saya lupa nama gangnya apa. Saya berpikir, lho memangnya bisa ya tembus Unnes lewat sini? Kan Unnes jauh banget. Apalagi posisi kami yang masih berada di Gunung Pati. Sangat mustahil bila perjalanan kami ini hanya menghabiskan waktu tak kurang dari 30 menit. Awalnya saya ingin protes. Tapi tidak jadi. Karena sudah terlanjur masuk kedalam gang itu.
Awal perjalanan, medan yang kami tempuh masih bisa dibilang normal. Tapi lama kelamaan medannya sungguh tak masuk akal. Tanjakkan dan turunan yang curam, serta jalan yang berbelok-belok menjadi kawan kita pagi itu. Untungnya motor si Tiyok masih sanggup melewati itu semua. Ada satu hal yang membuat saya berdecak kagum saat lewat jalur aneh itu. Sungai. Kami melewati sebuah jembatan kayu yang dibawahnya mengalir sebuah sungai yang tidak terlalu deras, namun terasa sejuk ketika saya memandangnya dari atas. Terdapat pula batu-batuan yang berada di tepiannya sungai. Hal itu mengingatkan saya pada sungai di Muria.
Sembari diatas motor, Tiyok berkata pada saya bahwa daerah itu namanya Bantar Dowo. Saya mengangguk-angguk paham. Saya tidak tahu pasti apakah perjalanan kami masih jauh atau tidak. Yang pasti sebelumnya Tiyok berkata bahwa kita akan melewati dua kali tanjakkan.
Tak lama kemudian, akhirnya kami menemui tanjakkan pertama. Tiyok bilang bahwa ada salah satu dari kita yang harus turun karena motornya tidak kuat jika harus ditumpangi berdua. Maka, saya memutuskan untuk berjalan. Karena saya pikir tanjakannya biasa saja. Tapi Tiyok memaksa saya untuk yang naik motor saja. Tapi saya tetap tidak mau. Saya memaksa untuk berjalan.
Sambil menggendong satu tas Lowepro besar dipunggung dan satu tas Lowepro kecil yang saya selempangkan di bahu, saya berusaha untuk berjalan menanjak. Wow! Tidak seperti yang saya duga. Saya kira tanjakkannya mudah. Ternyata lumayan juga. Dengan kemiringan sekitar 45 derajat, saya memaksakan diri untuk terus naik menuju Tiyok yang sudah ada diatas. Dan akhirnya sampai juga. Kaki saya seperti pusing. Kehilangan keseimbangan. Padahal masih ada satu tanjakan curam lagi kata Tiyok. Karena kaki saya pusing, saya memutuskan untuk naik motor dan Tiyok yang berjalan. Kami bergantian.
Aneh, saya tiba-tiba seperti tidak bisa menaiki motor. Saya beberapa kali hampir mau oleng. Untung Tiyok yang masih dibelakang saya memegangi motornya supaya tak jatuh. Akhirnya saya bisa juga mengendarai motor hingga sampai ke sebuah dataran sambil menunggu Tiyok yang masih berusaha menanjak. Saya mengamatinya sambil membalikkan pandangan saya kebelakang. Hingga tiba-tiba dia berjalan dengan pedenya menuju ke arah saya sambil berkata : "WELCOME TO FIK UNNES".
Saya membalikkan pandangan saya dari Tiyok ke depan.
"OH MY GOD! Itu Unnes, Yok"?
"Itu FIK Unnes, La", Tiyok meyakinkan saya.
Saya melongo masih tidak percaya dengan apa yang ada didepan saya. Kurang dari 20 meter, samar-samar terlihat beberapa anak sedang berlari-lari sambil membawa bola. Tiyok naik ke motor. Kami melanjutkan perjalanan. Kami semakin mendekati tempat itu. Benar rupanya, itu lapangan basket FIK Unnes. Seketika saya heboh sendiri diatas motor. Dengan cepat, saya melihat kearah jam yang ada dipergelangan tangan kiri. Ya ampuun, dari awal perjalanan kita dari Tembalang sampai FIK Unnes, ternyata tidak memakan waktu sampai 20 menit kawan.
Selama beberapa menit, saya masih tidak percaya dengan perjalanan singkat namun penuh tantangan itu dari Tembalang menuju Gunung Pati. Speechless. Tapi motor tetap melaju menuju venue yang ditentukan. Kami masih mengejar waktu.













