A : Kalau aku ga bisa melewati ini dengan baik, gimana? Kamu bakal marahin aku?
B : Kok ngomong gitu? Emang aku pernah marahin kamu?
A : Enggak.
B : Yaudah. Jangan pesimis dulu. Buang jauh-jauh pikiran kayak gitu.
Noah Kahan
occasionally subtle

izzy's playlists!
Monterey Bay Aquarium
Not today Justin
𓃗

PR's Tumblrdome
No title available
Cosmic Funnies
Show & Tell

#extradirty
Fieri Frames

oozey mess

No title available
No title available
Cosimo Galluzzi
The Stonewall Inn
h
sheepfilms

Love Begins
seen from Vietnam

seen from United States
seen from Poland

seen from Bangladesh
seen from Spain
seen from Colombia

seen from Germany

seen from United States
seen from Bangladesh
seen from Finland

seen from Portugal
seen from Armenia
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States
seen from Argentina
seen from Romania

seen from Thailand
seen from Vietnam
seen from Portugal
@jurnala2
A : Kalau aku ga bisa melewati ini dengan baik, gimana? Kamu bakal marahin aku?
B : Kok ngomong gitu? Emang aku pernah marahin kamu?
A : Enggak.
B : Yaudah. Jangan pesimis dulu. Buang jauh-jauh pikiran kayak gitu.
Ujian
Paparan tugas dan makalah yang bertubi-tubi dalam tenggat waktu yang berdekatan membuat fisik sedikit mengubah jam biologisnya. Yang biasanya saya tidur di malam hari, kini menjadi sebaliknya. Bersyukur kini ada yang menemani dan memberikan dukungan secara mental fisik dan psikis.
Setelah Beberapa Minggu
Beberapa minggu ini saya tidak mengakses akun Instagram. Tapi, suami sayalah yang sesekali menengok akun itu. Diet Instagram dan Facebook (saat ini) memberikan pengaruh yang signifikan. Saya jadi tidak berlama-lama berada di depan smartphone yang berimbas banyak aktifitas lain yang saya kerjakan. Saya masih akan diet Instagram sampai akhirnya saya bisa seratus persen lepas dari itu. Mungkinkah?
Leaving for a while
Aku memutuskan untuk tidak menggunakan instagram dalam waktu dekat dengan alasan ingin menjaga hati. Terutama hatiku sendiri. Aku sadar bahwa aku mudah menilai buruk seseorang. Terutama dari postingan-postingan yang mereka unggah. Maka dari itu, aku ingin menutup mata sejenak dan tidak mau tahu tentang kehidupan pribadi mereka yang sebenarnya itu bukan hak-ku untuk melarang atau membenci mereka berdasarkan unggahan mereka.
for my lovely husband
Masih berantakan, belum halus dan perlu banyak belajar dan perbaikan.
Aku dan Wanto berencana untuk membuka (kembali) toko yang pernah dirintisnya. Jadi malam ini kami mendesain ulang gambar profil yang ada di toko onlinenya.
Tentang 2017
Tidak seperti biasanya aku menulis di akhir tahun tentang peristiwa yang terjadi selama kurun waktu ini. Namun, kali ini aku mencoba untuk sedikit menuliskan hal-hal yang sekiranya memang ingin aku tulis. Setidaknya sebagai tanda bahwa aku masih aktif di dunia per-tumblr-an ini.
Awal tahun yang seharusnya antusias, namun aku merasakan yang sebaliknya. Seakan tidak ada optimisme untuk menyongsong tahun 2017 dengan penuh harapan. Sebenarnya masalah klise, percintaan, yang membuatku merasa gegana (gelisah, galau, merana) kalau kata Cita Citata. Nampaknya awal tahun ini aku lewati dengan pergulatan batin yang cukup serius antara sekedar melepaskan atau mengikhlaskan yang akhirnya menjadikan aku sebagai konsumen tisu terbanyak dua hingga tiga bulan itu di rumah. Awalnya aku merasa ragu untuk berpaling (istilah sekarang move on). Namun apa boleh buat, daripada terus disakiti dan menyakiti satu sama lain (ye kan)?
Sebuah Pertanyaan
“La, kamu kok bisa sama dia?”
Itu adalah pertanyaan yang pertama aku dapat ketika mendengar respon dari teman-teman SMP yang menerima undangan pernikahan kami. Sebenarnya itu adalah pertanyaan yang wajar mengingat kami berdua dulunya bukan teman baik bahkan setelah sembilan tahun setelahnya. Sejujurnya, aku sendiri pun masih belum tahu mengapa dia memilihku. Dari sekian banyak teman perempuan sekelas kami yang sekiranya lebih berpotensial dari aku, kenapa dia malah memilihku. Itu yang sering kutanyakan pada dia. Tapi, selama ini aku belum menemukan jawaban yang bisa menghentikan rasa ingin tahuku perihal itu.
Pertobatan Intelektual
Keputusanku untuk melanjutkan studi bukan tanpa alasan. Walaupun aku masih belum tahu akan bagaimana suasana perkuliahan nanti. Aku menduga-duga bahwa kuliah magister pasti akan lebih mendalam. Benar saja, setelah menjalani beberapa minggu kuliah, aku sudah dihujani bermacam-macam tugas yang menuntutku untuk memahami dan mendalami teori yang aku pilih. Tugas yang sebagian besar berupa paper dan presentasi membuatku bisa melahap hampir lima buku dan berbagai macam jurnal agar mampu menyelesaikan tugas itu dengan baik. Jika dulu aku mencari banyak buku dan jurnal hanya untuk memperbanyak daftar pustaka, kali ini aku memang benar-benar mencari informasi dari sumber-sumber tersebut.
Bertemu Kembali
Kami bertemu pada ramadhan tahun ini setelah sembilan tahun. Tunggu, sepertinya kami masih sempat bertemu saat ada acara mengunjungi salah satu guru sekolah kami pada saat lebaran dua tahun lalu. Saat pertama kali dia menghubungi, saya tidak memiliki pikiran apa-apa selain seorang teman yang ingin menjalin komunikasi dengan teman lama. Maka, mengalirlah percakapan kami yang saat itu masih melalui aplikasi WhatsApp dengan sewajarnya. Hingga pada suatu saat, ketika hari lebaran, dia mengutarakan niat untuk bertemu dengan Bapak saya dan ingin meminta ijin untuk menikahi saya.
Pemanasan
Mungkin ini adalah satu masa dimana aku merasa buntu dengan urusan akademikku. Bukan karena aku capek atau gak kuat untuk menghadapinya, hanya aku benar-benar merasa kosong dalam berpikir. Kuliah di program pascasarjana tentu saja sangat berbeda drasti dengan kuliah program sarjana. Disini aku benar-benar harus memahami dengan baik setiap ilmu yang diberikan. Aku gak bisa main-main walaupun terkadang aku masih nyolong waktu untuk main. Tapi sayangnya, hidup di kota metropolitan memang benar-benar membuat pikiran susah untuk rileks dan aku memiliki keyakinan bahwa kebuntuanku ini disebabkan karena hingar-bingarnya ibukota.
Itulah mengapa setiap minggu selalu aku sempatkan untuk pulang ke rumah. Selain agar bisa menghirup udara yang minim polusi, aku juga bisa melihat sawah dan pepohonan hijau. Walaupun baik di Surabaya atau Tuban sama-sama berasa seperti sauna. Semoga kebuntuan ini bisa teratasi setelah pangeran bersepeda motor matic memutuskan untuk berkunjung ke rumah setelah tulisan ini di posting.
Gak ada yang lebih membahagiakan selain bisa saling menerima, mendukung dan menguatkan satu sama lain tanpa harus menuntut agar menjadi (terlihat) sempurna di mata orang lain.
17.09.2017
Setiap orang pasti berubah. Manusia bersifat dinamis, pastilah mereka mengalami perubahan. Entah dari perilaku, cara berpikir, gaya berpakaian, berat badan, dandanan, cara berbicara, sifat, bahkan hingga ke watak. Hal yang mendasari perubahan tersebut bisa saja karena faktor lingkungan tempat tinggal, keluarga, teman, tuntutan profesi, pengalaman masa lalu, ataupun peristiwa yang tak terlupakan. Bagi saya, perubahan ada dua, yaitu berubah menjadi lebih baik atau sebaliknya. Sebagai manusia normal, kita pasti pernah berada dalam fase pencarian jati diri. Disadari atau tidak, proses tersebut memunculkan sisi baik dan buruk dari dalam diri kita yang pada akhirnya kita sendirilah yang harus memilih bagaimana diri kita dalam bersikap, menghadapi masalah, menentukan pilihan, dan menjadi manusia yang tidak saling menyakiti manusia lain. Sisi buruk pada manusia pastilah ada walaupun dengan susah payah kita menyembunyikannya. Namun ketika amarah memantik, jika tak bisa dikendalikan, secara mudah sisi buruk itu akan muncul. Itulah mengapa sebagai manusia kita perlu mengendalikan diri. Pengendalian diri tidak sebatas kita menahan amarah, menahan tangan untuk melukai fisik, tapi juga mengendalikan ucapan agar tidak melukai perasaan orang lain.
Dear my future husband, Biarkan aku tetap menulis ya. Bahkan untuk sekedar menghilangkan kegetiran hidup. Walaupun tulisanku masih berantakan dan amburadul, percayalah bahwa aku akan memperbaiki itu. Sama ketika hidup yang kuanggap berantakan ini. Aku akan memperbaiki itu.