Dasi Milik Paul
“Rambutmu nggak diikat?”
Hampir setengah jam ia habiskan untuk membuat simpul di dasinya. Bahkan aku sendiri sudah rapi dari ujung kepala hingga ujung kaki selagi ia sibuk sendiri. Dia duduk di tepi tempat tidur. Ujung kemejanya sedikit keluar membuat penampilannya sedikit berantakan. Ditambah rambutnya yang mulai panjang dan belum disisir sama sekali.
Aku menghampirinya setelah kurasa tidak ada bercak lipstik yang tercecer di wajah. “Kapan ya kamu bisa pasang dasi sendiri?” Aku menepis kedua tangannya dan mengambil alih dasi hitam di lehernya yang mulai kusut bekas bongkar pasang.
“Aku nggak minta bantuanmu, Jani.”
“Wajahmu memelas, sih.”
“Nah, aku maunya kamu yang peka.”
Hanya tiga menit, dasi hitam terpasang dengan rapi di bawah kerah kemejanya. Sedikit kurapikan jahitan di bagian bahu. Menepuk-nepuknya, kemudian melirik ke bagian bawah. “Perlu aku bantu masukkan juga kemejamu ke dalam celana?”
“Kamu mau?”
Aku memutar bola mata dan menjauh dari hadapannya. Ponsel kami berdua sama-sama berbunyi. Tanda ada pesan dari grup di Whatsapp yang meminta semua orang berkumpul di lobi.
“Paul.”
Dia yang sedang memakai kaus kaki seketika menoleh. Aku menghampirinya sekali lagi. Kemudian memutar tubuhnya ke kiri. Tanganku menyisir rambutnya yang mengembang dan panjang sebahu. Harum menthol menyeruak saat itu juga. Ditambah aroma parfum miliknya yang tidak pernah ia beri tahu namanya menyeruak dari tengkuknya. Tercium dan menembus ke bagian terdalam yang sudah tidak tersentuh sejak lama.
“Lebih keren sedikit kalau diikat.”
“Pujiannya kok tanggung banget.”
Seseorang masuk ke kamarku. Pintu yang semula sedikit tertutup kini terbuka lebar oleh Ben yang tiba-tiba muncul. “Paul dicari-cari ternyata ada di kamar Jani.”
“Orang-orang sudah kumpul semua, Ben?” tanya Paul.
“Sisa kalian dan Surya. Omong-omong, nggak heran kamu di sini, Ul. Dasimu rapi.”
Kami semua tertawa.
“Jani paling hebat kalau mengurus keperluan Paul.”
Aku mengernyitkan dahi.











