Aku mencari kata-kata yang tepat untuk menggambarkan nuansa malam ini. Penghujung liburan akhir tahun. Di saat orang-orang menyalakan lilin menunggu Mesias, pesta makanan besok siangnya, memakai rok, celana katun dan topi segitiga merah, aku mendekam di kamar selama tiga hari. Aku tetap mandi dan makan, bahkan memasaknya sendiri untuk mama juga. Sebotol minuman isotonik dan setengah bungkus biskuit lapis menjadi pengisi celah ketika mata perih dan punggung pegal akibat terlalu sering bersandar.
Begini. Pasalnya aku senang sekali. Ada sesuatu yang kembali pulang. Sesuatu yang ternyata telah lama hilang dan sebelumnya aku tidak tahu itu apa. Setelah ia kembali, barulah aku tahu yang hilang itu.
Aku tidak mau menjelaskannya dengan satu kalimat begitu saja. Aku memilah istilah, mencoba mengabstraksikan sesuatu itu, supaya ini tidak menjadi sebuah tulisan yang klise. Bukan maksudku menjadikannya tidak sederhana. Justru ini adalah sesuatu yang sederhana setelah kamu tahu apa maksud sebenarnya.
Aku buru-buru menuliskan ini sebelum mengerjakan tugas paper yang sama sekali tidak ingin kukerjakan. Ide itu bersayap.
Baiklah. Ini dia yang hilang.
Satu semester terakhir menjadi momen di mana tubuhku bergerak lebih gesit dari biasanya, otakku berpikir lebih keras dari sebelumnya, dan tidurku lebih memakan waktu banyak. Sama hitungannya dengan banyaknya buku yang terlewat, tempat rekreasi yang tersingkirkan, dan teman-teman lucu yang terabaikan. Oke, partikel ter- tidak cocok untuk ini. Sebab aku melakukannya dengan sengaja. Aku asik dengan aku yang ini—aku si Robot. Atau asik yang dipaksakan ya? Kesibukan duniawi membuatku tidak ingin bersenang-senang. Karena memang tidak ada yang menarik untuk aku lakukan. Tidur adalah predikat yang tidak termasuk di dalamnya. Lelah, penat, pegal-pegal, semua kuobati dengan tidur.
Aku kira libur Natal ini adalah waktu yang tepat untuk meregangkan otot. Tertawa lebih keras, berkata kasar, menyembunyikan sebelah sepatu orang, mengejek kejelekan teman, atau membuat ungkapan sarkasme. Lagi-lagi tidak.
Sebuah buku di rak yang mencuri perhatianku. Buku itu berwarna hitam dengan judulnya yang berwarna biru mengilap. Ada jaring laba-laba di depannya yang juga mengilap. Buku itu nyaris 2 tahun menjadi asuhanku walau sempat dipinjam orang dengan waktu—sangat—lama. Akhirnya aku membuka bagian testimoni buku tersebut. Yang menarik buatku adalah kata-kata Sujiwo Tejo. Begini katanya:
“Mereka yang karena kebiasaan lama terlalu membedakan fiksi dan nonfiksi, mungkin kecewa dengan buku ini. Tapi, tidak bagi yang selalu bergairah menyongsong segala hal yang tumbuh.”
Kemudian aku semangat melanjutkannya ke daftar isi, bagian puisi pembuka, dan mulai ke kepingan pertama: Yang Ada Hanyalah ADA.
Aku tidak akan menulis resensi untuk buku tersebut. Nyatanya aku tidak tertarik menulis resensi atau review untuk buku apapun yang sudah kubaca. Cukup dengan bilang: buku itu penuh magis, dan kamu boleh membacanya kalau kamu tertarik dengan magis. Ada yang percaya lalu meminjamnya, ada yang buang muka dan memilih judul lain di rak bukuku.
Lalu, apa itu gairah yang kumaksud?
Aku lupa kapan terakhir kali membaca buku seharian penuh. Atau bahkan dari pukul delapan malam sampai pukul tiga shubuh. Aku lupa kapan terakhir kali waktu istirahatku di kantor dipakai untuk baca buku, bukan untuk tidur atau mengerjakan tugas kuliah. Aku juga lupa kapan terakhir kali aku pergi ke tengah kota naik bus atau kereta hanya untuk menghabiskan beberapa bab yang tanggung jika diberhentikan. Aku lupa karena rasanya sudah beberapa abad yang lalu. Tidak, ini bagian hiperbolaku.
Mungkin setahun lebih. Apakah itu namanya hampa atau kosong? Bukan keduanya kukira. Jika memakai salah satu dari dua diksi itu aku seperti merendahkan diriku sendiri. Menempatkan tubuhku di kasta paling bawah. Aku adalah tanah tempat piramid berdiri, bukan bagian dari piramid itu sendiri. Jadi, aku ini apa?
Bukan aku yang mau kusandingkan dengan gairah itu. Melainkan sebuah kondisi.
Malam ini aku berhasil menamatkan buku jaring laba-laba itu. Bonusnya, sesuatu yang hilang kembali pulang. Menjadikan aku sesuatu yang utuh, sempurna. Dan, aku berhasil mencapai kondisi di mana aku merasa lebih hidup. Aku terbangun. Membaca tanpa berhenti karena merasa ceritanya tidak patut digantung. Ia harus selesai dalam waktu yang sama. Bertemu dengan banyak diksi asing dan mengeksekusinya di tengah-tengah paragraf. Lalu sesegukan di pojok kamar. Pindah ke ruang tamu karena kegerahan. Membuka lebih banyak keping-keping dan menggenapkan cerita si penulis dalam kitab roman sainsnya. Voila!
Inilah gairah yang kumaksud.
Hal yang membuatmu hidup bukanlah sebuah material. Wujud dalam bentuk padat yang memiliki value untuk menyokong keberlangsungan rumah tangga bisa binasa, menjadi material mati yang tidak bermakna ketika value itu terkikis. Sementara dirimu selalu butuh hal-hal sentimental, kebutuhan fundamental setiap manusia untuk bergerak. Aku, atau siapapun, bukanlah robot yang bisa disetir kapan saja dan ke mana saja. Hati bisa menolak, bisa juga mendorong lebih cepat bergerak. Gairah.
Liburan telah berakhir. Besok aku dan robot-robot lainnya kembali bergerak berkat remote. Tapi, mungkin kamu bisa mengundurkan diri dari peranmu sebagai robot. Melibatkan gairah untuk bergerak, dengan menolak atau mendorongnya lebih maju. Berbahagia atas kendali gairahmu dan dengarkan semesta bernyanyi lagu gembira kali ini.