Membahas tentang jodoh dengan orang-orang terdekat kadang suka dibuat merasa bersalah atas keputusan yang diambil. Ya, keputusan untuk tidak gegabah dalam menentukan pilihan, keputusan untuk "pilih-pilih" dengan kriteria yang dianggap "muluk-muluk".
Padahal, kriteria yang ditetapkan rasa-rasanya standar saja. Dan pun, tak lupa memantaskan diri untuk kriteria tersebut.
Akan tetapi, yang tidak paham malah menganggap itu tindakan mempersulit datangnya jodoh, memperumit keadaan dan seakan menghalangi terjadinya pernikahan.
Ah, ribet memang. Ketika kita sedang berupaya memperbaiki suatu sistem yang salah (dalam hal ini perihal menemukan jodoh terbaik) malah dipandang asing.
Masa cuma karena menginginkan pasangan yang baik agama dan akhlaknya, berpendidikan, tidak merokok, aktif membela palestina, mau untuk terus belajar dan menyukai terjun di masyarakat, dituduh pilih-pilih 😶
Kadang jadi ingin bertanya langsung pada para lelaki, apakah kriteria di atas terlalu muluk bagi mereka?
Bahas nikah emang nggak ada habisnya.
Page 12/366_ Batusangkar, 17012024