Yaa Allah, lindungi lah aku dari keputusan yang keliru. Jika apa yang aku inginkan buruk bagiku, maka jauhkanlah hal itu dengan cara yang lembut … Yaa Allah, aku serahkan segala hal dalam hidupku kepadaMu, agar Engkau ridho kepadaku
Cosmic Funnies

JVL
occasionally subtle
I'd rather be in outer space 🛸
NASA
macklin celebrini has autism
Game of Thrones Daily
Stranger Things

ellievsbear
sheepfilms
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

Love Begins
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

❣ Chile in a Photography ❣
Monterey Bay Aquarium
he wasn't even looking at me and he found me

Origami Around

PR's Tumblrdome

Kiana Khansmith
No title available

seen from Malaysia
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States

seen from Singapore
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye
seen from United States

seen from Singapore

seen from United States
@coklatjingga
Yaa Allah, lindungi lah aku dari keputusan yang keliru. Jika apa yang aku inginkan buruk bagiku, maka jauhkanlah hal itu dengan cara yang lembut … Yaa Allah, aku serahkan segala hal dalam hidupku kepadaMu, agar Engkau ridho kepadaku
Yaa Allah, berikanlah aku kekayaan harta yang belum pernah aku miliki sebelumnya… Berikanlah aku kekayaan ilmu yang belum pernah aku miliki sebelumnya… Berikanlah aku kekayaan hati yang belum pernah aku miliki sebelumnya… Dan jadikanlah ketiganya mendekatkan diriku kepadaMu dan membuat Engkau semakin ridho kepadaku…
From: 22 April 2026
To: 22 April 2027
Hari ini kesimpulan itu kuambil, meski sepihak. Ya, rencana itu gagal lagi. Dia menghilang. Lagi. Mungkin dia bingung setelah segenap tanya yang terus kuberikan. Tentang 'selanjutnya apa? Bagaimana? Kapan kamu akan memutuskan? Orang tuaku sudah ingin tahu arahnya kemana'.
Hari itu dia hanya diam sebelum berkata 'aku usahakan dulu'. Katanya dia tak mau memberi harapan. Lucu ya. Tahun lalu dia mengajakku untuk serius. Tahun ini, dia tak ingin memberi harapan. Seolah ajakan itu hanya gurauan. Atau mungkin memang dia hanya melempar candaan dan aku saja yang menanggapi serius.
Entahlah.
Dia berhasil membuatku mulai meragukan ucapan siapapun. Rasa percaya yang sudah tipis ini semakin terkikis. Kasihan ya, aku.
Tapi tidak apa. Aku baik-baik saja. Lebih tepatnya berusaha untuk baik-baik saja. Tak ada yang baik dari dijadikan uji coba perasaan kan? Dia yang tak yakin dengan dirinya, justru menyeretku untuk jadi tak yakin dengan diriku.
Hingga sesekali tanya itu hadir, 'apa aku tak layak untuk siapapun?'
Ini bukan tentang terbawa perasaan. Namun, bagaimana kamu memperlakukan seseorang? Ucapan yang berubah, niat yang tak sejalan dengan perbuatan. Hingga membuat seseorang merasa dipermainkan.
Untungnya aku tak ingin memperpanjang dan menyudutkan. Bagiku cukup kini aku tenang dalam kesendirian. Menjawab pertanyaan 'kapan?' dengan 'doakan'. Menutup mata dari sejoli yang duduk berpasangan. Aku mencoba untuk terus berjalan. Meski kadang, aku juga manusia yang ingin menjalani kehidupan layaknya orang kebanyakan.
Lalu tentang dia, aku sedang belajar merelakan. Memaafkan. Dan mendoakan. Semoga dengan siapapun akhirnya dia memutuskan dan berkeyakinan, itu menjadi jalan kebaikan, untuknya.
Mungkin kali ini memang belum waktu ku, kan?
Bagaimana rasanya diterima, seutuhnya?
#catatanharian
Hari ini rasanya cukup padat. Beberapa list tidak terselesaikan sebab waktu yang tidak mencukupi. Ada saja halangan yang memperpanjang durasi satu urusan, hingga urusan lain belum tersentuh. Ya, ternyata memang benar, 24 jam rasanya tak cukup untuk menjalankan semuanya. Sedang diri ingin sekali untuk menambah, sebab sadar di antara padatnya kegiatan mayoritas masih perkara duniawi.
Hm, semoga urusan duniawi ini juga mendapat nilai akhirat dan menjadi bekal pulang.
Hari ini cukup padat, tapi rasanya lega sebab Allah atur semua dengan porsi yang tepat.
Hari ini rasanya lelah, tapi juga lapang dengan pengawasan Allah di sepanjangnya.
Terima kasih ya Allah atas waktu yang telah diberikan.
Kupikir sudah sampai di halaman rumah yang tepat, tapi ternyata masih saja memijak alamat yang salah. Sakit, tapi harus buru-buru pamit
Belakangan ini aku kehilangan ketertarikan pada menulis. Atau lebih tepatnya kehilangan bahan. Mungkin karena yang masuk juga mulai berkurang a.k.a bacaan.
Ya, kuakui minat bacaku menurun. Beberapa buku tak selesai kubaca. Yang membuat beberapa topik atau ide untuk ditulis juga tertahan di kepala.
Menjadikanku bertanya-tanya apa yang salah? Apa yang tak lagi berbinar di hatiku hingga semangat yang dulu ada kini begitu sukar melahirkannya?
Malas? Distraksi? Kebiasaan menunda? Kehilangan alasan? Motivasi?
Semua seakan berkolaborasi menghambat lajunya usahaku mengejar impian. Ataukah impian itu yang mulai padam?
Sampai detik ini aku masih mengira-ngira, sembari melakukan apa yang bisa kuupayakan; kembali membaca, kembali menuangkan isi kepala di sini. Sampai hambatan itu bisa kuuraikan satu persatu.
Kau dan Lidah Politismu
oleh @coklatjingga
Kemarin, katamu aku satu-satunya dan kau serius ingin hidup bersamaku. Aku percaya saja.
Kemarin, katamu selain aku tak pernah menarik perhatianmu. Dengan tatapanmu yang dalam, kauyakinkan aku. Ya, aku percaya saja.
Kemarin pula, katamu kau merindukanku setiap hari. Setiap kau kehilangan tempat berbagi, aku yang kaucari. Kau sangat membutuhkanku. Dan sekali lagi, aku percaya saja.
Lalu, kemarinnya lagi, katamu kau sibuk sekali. Mendadak rutinitasmu bertambah hari ke hari. Kau tak sempat mengabariku sama sekali. Dan aku, kaupaksa percaya.
Katamu setia adalah harga diri dan komitmen adalah harga mati. Kau sangat pro meyakinkan hati ini. Teramat bisa membuatku lupa diri.
“Katamu” ... kata-kata yang sangat kauhapal beserta intonasi yang kaukuasai membuatku bertanya-tanya, kau ini seorang politisi atau pria yang menjajakan hati?
Ya Rabb, yang menciptakan dan mengetahui ciptaanNya.
Mohon satukan hamba dengan dia yang akan melengkapi segala kurang diri. Sahabat berbagi yang tak akan pergi meski beda pendapat menghampiri. Teman bercerita yang tak akan bosan meski kuputar cerita sama berulang kali.
Dia yang mengajak hamba pada ketaatan, hingga jalan menujuMu semakin terang di hadapan. Dia yang mencintai ilmu dan bersemangat menjemputnya bersama. Dia ... Yang menjawab kebutuhan hamba akan teman menujuMu.
Engkau yang Maha mengetahui segalanya. Kepada Engkau pulalah hamba kembalikan segalanya, Ya Rabb.
Doa itu masih sama ya Allah. Pinta itu masih di sana.
Di usia sekarang ini tubuh yang sehat dan pikiran yang waras adalah prioritas utama.
Begini Ternyata Fase 32
Bertambah lagi satu tahun jatah hidup dilewati. Kali ini tanpa drama. Tanpa ada lagi air mata karena salah jatuh cinta. Bersyukurnya hidup mendewasa tanpa luka. Kecewa yang dulu ada, kini sirna sudah. Berganti alhamdulillah dalam suka duka.
Mereka yang dulu riuh dengan berbagai tanya perlahan menepi. Tutup suara. Entah karena tak lagi peduli atau jengah dengan jawaban yang itu-itu saja. Mau bagaimana lagi?
Berada di fase 32 membuatku lebih banyak mendengar suara dalam diri. Tentang tawa dan air mata yang hanya aku tahu sendiri, Allah tentu saja tahu segalanya. Aku tak lagi banyak bercerita. Karena tak tahu telinga mana yang bisa memahami maksud setiap kata atau juga karena telah hilang percaya pada sesiapa. Tak apa. Dunia tak harus tahu aku ada, bukan?
Begitulah akhirnya fase 32 kulewati dalam sunyi yang menenangkan. Tidak perlu berkabar pada siapapun. Tidak juga mencari perhatian dari manapun. Aku lebih suka dianggap tiada. Tenang saja rasanya.
Waktunya berpindah menuju fase selanjutnya. Dalam teka-teki apakah di fase ini aku bertemu si dia atau pulang dijemput Dia.
Apapun itu, tak ada pinta seindah bahagia untuk keluarga. Mereka satu-satunya alasanku tetap merasa ada.
:)
Sampai malam ini aku masih bertanya, "Bagaimana rasanya diperjuangkan oleh seseorang? Menjadi tujuan yang ingin segera ia capai? Bagaimana rasanya diajak berjuang dan bertumbuh bersama?"
Sebab, sampai detik ini belum ada yang meminta hal serupa padaku. 😅
Momen paling indah bersama Allah adalah saat Allah patahkan hatiku sepatah-patahnya dan Allah peluk aku seerat-eratnya.
Sekarang aku menyadari, ada satu fase dalam sebuah perkenalan atau mungkin pertemanan yang dialami oleh hampir banyak orang. Fase penurunan ketertarikan. Ketika sampai di satu masa sudah mengenal banyak tentangnya, tak lagi muncul penasaran yang mengharuskan untuk terus menggali dan mencari tahu. Saat obrolan mungkin tak lagi terarah seperti awal mengenal. Saat tak ada lagi topik menarik, sebab telah tahu segala tentangnya.
Dan kuakui sebagai innie, bukan orang yang bisa mempertahankan itu semua. Alih-alih menyembunyikan beberapa hal agar terus digali, aku lebih memilih membiarkan seseorang melihat warnaku secara luas, dan ketika mereka memilih 'cukup' untuk kemudian menghilang, bagiku itu lebih baik.
Walau jauh dalam hati ada sedikit kekecewaan sebab perkenalan tak bertahan lama dan tak kemana-mana. Tapi itu lebih baik untuk bisa melihat warna mereka juga secara luas.
Akhirnya, memang kembali menjadi asing dalam dunia yang terus berputar. Seolah yang kemarin tak pernah ada. Hanya dua musafir yang kebetulan berteduh di bawah pohon yang sama. Sejenak melepaskan penat masing-masing. Berbagi sedikit basa-basi lalu kembali berjalan ke tujuan yang berlainan.
Fase yang menyakitkan, jujur. Namun harus dilalui untuk bertemu teman yang tepat, bukan?
Akhir kata,
Selamat malam, musafir.
Aku terjebak pada sekumpulan ingin yang hanya menjadi angan. Rencana yang berserak karena eksekusi tak nampak. Mulai jarang menulis, mulai enggan membaca. Entah kenapa. Ada saja alasan yang berbisik di kepala.
"Nanti saja, pekerjaanmu masih banyak."
"Setelah ini mungkin bisa."
"Ah, ide cerita yang ini biasa saja."
"Yakin mau nulis ini?"
"Coba baca yang lain saja dulu."
Dan banyak monolog lain yang tak lagi terekam tapi berhasil membuat impianku mendekam. Seperti kehilangan gairah hidup. Aku tak lagi tertarik dengan apa yang dulu bagiku sangat menarik. Menulis, membaca, menggambar, berkarya ... Rasanya aku mulai sering menyalahkan kesibukan di pekerjaan seolah kugunakan 24 jam untuknya.
Padahal tidak. Aku tidak sesibuk dan seproduktif itu. Aku teralihkan. Terlena. Terbuai. Dengan kesenangan yang entah apa. Scrolling IG, nonton youtube. Menyimak yang kadang tak habis kupahami.
Mungkin aku memang jenuh.
Atau brain rot itu benar telah menyerangku?
Sesekali ingin kabur dari penjara itu. Pikiranku jernih. Sadar ada yang tidak beres dan ingin bergegas bergerak lagi. Namun, tak lama. Aku terjebak lagi dan lagi saat sedikit semangat itu mulai longgar.
Aku ... Hah, jenuh ini atau fokusku yang tak menentu lagi.
Ada yang tak bisa bersama bukan karena tak ingin. Tapi karena takdir bekerja sesuai kehendakNya. Dan tak selalu yang bertemu akhirnya bersatu.
Ramadan Talk #9
"Apa momen/kenangan manis kamu bersama Allah?"
Begitulah pertanyaan yang tersirat disampaikan seorang ustazah beberapa hari lalu melalui channel youtube. Pertanyaan singkat namun membuat tertegun.
Kuingat kembali masa-masa itu. Ya, ternyata bagiku saat itulah kenangan terindah bersama Allah yang pernah kumiliki. Kenangan yang akhirnya menjadi pelajaran.
Hari itu aku ingat, hari dimana Allah mematahkan hatiku sepatah-patahnya. Segala harapan hancur berantakan oleh kenyataan yang menyakitkan. Saat itu duniaku seakan porak poranda. Tak tentu arah. Aku kehilangan diriku, bertambah-tambah dari sebelumnya.
Mungkin sempat aku terpikir untuk berakhir saat itu juga. Entah bagaimana caranya, aku hanya ingin pulang. Pulang. Ke tempat seharusnya aku pulang.
Namun, Allah Maha Penyayang tak membiarkan aku berada di titik jauh dari harapan. Allah selamatkan keputusasaanku dengan mengirimkan banyak kebaikan.
Momen yang membuatku sadar, Allah memang mematahkan hati ini sepatah mungkin. Akan tetapi, di saat yang sama Allah juga yang memelukku seerat-eratnya.
Sangat manis saat sekarang kukenang. Betapa lembut dan penyayangnya Allah atas hamba yang berlumur dosa ini.
😢