Dalam sebuah pertemuan kita pernah bersepakat akan menapaki jalan yang aku-kamu pun sama-sama tidak tahunya akan seperti apa. Ketidaktahuan kita bukanlah apa-apa selagi Allah lah yang jadi tujuan.
Tetap disana, memilah-milah perkara mana yang mendekatkan kita denganNya. Adakalanya kita pula saling mengingatkan perkara mana yang menjauhkan.
Masing-masing kita hanyalah separuh yang dipertemukan untuk menyempurnakan sisanya. Yang kusiapkan dariku adalah ruangmu, yang kamu siapkan darimu adalah ruangku. Tak perlu macam-macam hiasan, ia hanya perlu cukup syukur dan penerimaan.
“Kamu bersabar dulu, kemudian shalat. Shalat pun menjadi isti’anah, tempat kita meminta pertolongan.” - Ust. Subhan Bawazier.
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
QS 2:45
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.”
Tapi apa setiap sabar dan shalat kita sudah pasti menolong ya? dan lanjutan ayatnya;
وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
“Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'”
Dari Ust Salim A Fillah:
“Imam Al Ghazali pernah ditanya, khusyu’ itu seperti apa? Kata beliau shalat khusyu’ itu adalah yang tampak diantara salam sampai takbir. Kalau shalat shubuhmu khusyu’, maka antara shubuh dan dzuhur kamu akan terjaga dari perbuatan keji dan mungkar. Kalau shalat dzuhurmu khusyu’, maka antara dzuhur dan ashar juga akan mencegahmu dari perbuatan keji dan mungkar. Karena shalat itu mencegah kita dari perbuatan demikian. Begitu hingga waktu shalat seterusnya.”
Sebuah tulisan dilatarbelakangi percakapan dengan salah satu teman. Ia bilang,
Mamahku kadang ngga suka kalo aku pergi kajian-kajian gitu, katanya ‘ngapain cari surga jauh-jauh, surgamu itu Mamah’
Aku jadi teringat;
Di suatu Rabu malam, ust. Subhan Bawazier pernah bilang,
“Ngga akan ada tuh ceritanya orang tua akan ngelarang anaknya untuk pergi kajian, kalau hasilnya kelihatan. Jadi janganlah mengatasnamakan jihad kalau melawan orang tua. Jangan...”
Tapi temanku ngga nyerah dalam berupaya mengambil hati ibunya.
Jadi sebelum kajian aku pasti minta izin dan sepulang kajian aku tawarin, ‘Mah, mau dibawain makan apa?’
Ibu adalah peredam semua yang pernah terang menyala-nyala jadi redup menghangat; yang beradu cepat jadi melaju lambat. Ibu adalah sebab rasionalitas manapun sudi luluh lalu bersimpuh. Anak-anak bahkan menghamba pada restunya yang tak cukup satu untuk seribu impiannya. Abi bilang, “Nak, ibunya Abi (Mbah Putri) udah meninggal, jadi tertutup satu pintu yang menyelamatkan Abi. Fitri jangan buat ibu marah, sedih, ya.”
الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ
Orang tua adalah pintu surga paling tengah.
‘Di surga ada banyak pintu. Yang paling nyaman dimasuki adalah yang paling tengah. Dan sebab untuk bisa masuk surga melalui pintu itu adalah menjaga hak orang tua.’ (Tuhfatul Ahwadzi, 6/21)
Dua yang sengaja berjarak untuk menjaga prasangka, menjauh karena salah paham—
terlalu lelah untuk lagi-lagi memahamkan.
Kali ini cukup kita sibuk dengan ramainya hidup masing-masing, “ramai” yang entah maknanya teurai berai atau kita sudah pandai mengambil apa-apa yang ada dibalik ini.
Lama saling menetapi, belum pernah ada pisah yang kita rayakan sespesial ini. Kadang, ada kalanya merpati yang dicipta sepasang ingin berlepas diri.
Bagaimana jika yang membandingkan bukan orang tua atau guru tapi justru mereka sendiri?
Di satu kelas tempel menempel, PJ kelas selalu reminder kakak guru untuk tidak membantu mengerjakan tapi cukup mengarahkan (ini susah, karena gemes bgt pengen mereka cepet beres). Tapi, setelah mereka dibiarkan mengerjakannya sendiri dengan hanya arahan, ada salah satu adik yang menangis ketika waktu hampir habis.
“Kamu kenapa Hasna?”
*Hasna menangis pelan* *panik* *berkeringat*
Hasna tidak jawab apa-apa, tapi dari sikapnya ia nampak terburu-buru karena banyak temannya yang sudah selesai. Akhirnya, karena terpaksa, kakak guru pun menawarkan bantuan.
“Kakak bantu Hasna selesaikan, boleh?”
*masih menangis tapi mengangguk-ngangguk
Di usianya yang 4 tahun, Hasna memiliki jiwa kompetisi yang tinggi. Menurut podcast simplefamilies.com, anak hanya perlu melatih jiwa kompetisi mereka seiring bertambahnya usia. Dalam podcast itu ditekankan bahwa orang tua sebaiknya fokus dalam mengubah mindset mereka, misalnya jika anak merasa superior karena kelebihannya, mari ajarkan mereka untuk ikut happy karena bisa membuat orang lain juga sebaik/secepat mereka dengan kelebihan yang mereka punya. Jika anak merasa inferior, tanyakan apakah sudah melakukan yang terbaik? Kalau iya beri pujian atas usahanya; “Kamu hebat!” dan yakinkan bahwa seiring berjalannya waktu dan banyak-banyak latihan mereka pasti bisa lebih cepat/baik. Menurut podcast tsb, penting sekali menekankan bahwa kerja keras mereka lah yang akan membuat mereka lebih baik dari diri mereka yang sebelumnya, bukan semata-mata lebih baik dari anak lainnya. Pada intinya, ambisi adalah fitrah anak. Yang terpenting adalah bagaimana mengelola fokus kompetisinya pada kualitas anak itu sendiri dari hari ke hari, bukan kualitas seorang anak dengan anak yang lain.
It can be hard to listen to our kids compare themselves to others. Today, we are discussing “social graces” in young childhood and how to su
D: “Jasmine, kamu akan ketemu seseorang kalo kamu selesai dengan diri kamu sendiri. Termasuk menerima dan nyaman sama diri sendiri.”
J: “Selesai tuh gimana, Des?”
D: “Selesai itu ketika kamu sudah merasa siap kalo ada orang baru masuk ke kehidupan kamu. Kalo belum siap, ya gimana akan menginzinkan seseorang untuk masuk?”
—
Sementara Mbak Mia, dalam salah satu postingan IG nya. Mbak Mia menjawab pertanyaan yang sama:
“Indikator selesai dengan diri sendiri itu gimana, Mi?”
“Well, egositas. Bagaimana masing-masing bisa menekan egositas dan mementingkan bagaimana memutuskan segala sesuatu secara bersama. Tidak ada pemaksaan, tidak ada saling eksploitasi, yang ada adalah kerjasama. Masing-masing memiliki akar yang kuat untuk menopang bahtera.
Bagaimana mungkin seseorang yang belum selesai dengan dirinya, kemudian mengizinkan satu orang masuk, kemudian nanti ditambah dengan kehadiran anak juga?”
Pandangmu kabur, memecah sisa spektrum yang tidak lagi genap tujuh. Tak mungkinku salah hitung, pikirmu. Padahal tak semua hitungan adalah wilayahmu. Karena bagiNya, jika hari ini satu tambah satu adalah dua, esok bisa jadi rahasia, lusa bisa jadi sesukaNya.