Ulasan, Kesan, dan Pesan: Planetarium - Jirapah
Tahun 2019 merupakan tahun yang seru bagi banyak band. Mulai dari nama-nama besar yang telah dinanti-nanti, hingga para pendatang baru yang menyegarkan, berlomba-lomba meramaikan akhir dekade dengan merilis berbagai macam karya. Semuanya ingin menutup dekade dengan mengeluarkan materi-materi yang dapat dikenang oleh siapa pun. Saya sendiri puas dengan hal ini. Saya bisa mendengarkan berbagai macam karya yang keren nan ajaib.
Dari semua rilisan yang telah keluar, ada satu nama yang menarik perhatian saya, yaitu Jirapah. Meskipun mereka merilis album full pertama, namun band tersebut bukanlah band yang baru saja muncul. Mereka adalah nama besar yang telah berlalu-lalang sejak awal dekade. Rilisan-rilisan minor seperti mini album dan single lagu yang dirilis dalam berbagai format telah mereka kerjakan. Bahkan, band ini merupakan band pembuka konser Mac DeMarco di Jakarta, 2015. Pengaruhnya pun cukup besar, termasuk beberapa label dan band indie pop di Jakarta telah mengakui, bahwa Jirapah merupakan inspirasi mereka. Namun, mereka baru bisa merilis satu album penuh pada tahun 2019, utamanya disebabkan oleh kesibukan para personil yang masih aktif bekerja harian. Tapi, hasil nya pun terbaik. Lama nya penantian dibayar dengan rilisnya materi baru yang segar dan memuaskan. Saya sendiri menganggap album yang berjudul Planetarium ini sebagai salah satu album terbaik yang dirilis pada tahun 2019.
Jirapah sendiri merupakan project musik oleh Ken Jenie, yang pada pertunjukan langsung nya dibantu oleh Mar Galo, Yudhistira Agato, dan Nico (sempat beberapa kali berganti formasi sebelumnya, line up tersebut merupakan line up terkini). Sebelum merilis Planetarium, Jirapah telah merilis beberapa mini album dan single lagu. Beberapa tersedia dalam format kaset dan vinyl, yang dirilis oleh berbagai label. Namun, jelas kali ini saya akan membahas album terbaru mereka, Jirapah. Sebuah album penuh yang diisi oleh track-track Jirapah yang menyegarkan dan penuh eksplorasi. Album ini dirilis oleh Kolibri Rekords. Sejarah pendek label tersebut cukup baik. Sebut saja nama seperti Grrrl Gang dan Bedchamber, yang telah melalang buana di berbagai acara. Artwork Planetarium dirancang oleh Ratta Bill, salah satu pemilik Kolibri Rekords. Pada album ini, ia mengangkat estetika ruang angkasa sebagai dasar dalam merancang artwork. Dengan warna utama putih dan hijau, Ratta menggambar pemetaan seperti tata surya yang memetakan judul-judul lagu sebagai sampul album. Sebagaimana sampul-sampul rilisan Kolibri Rekords lainnya, terlihat menonjol jika dijejerkan di rak cd. Sebuah pendeketan rilisan yang menarik menurut saya.
Setelah kemasan dan publikasi yang dilakukan oleh Kolibri Rekords, sekarang saat nya menuju inti dari tulisan ini, lagu-lagu baru Jirapah. Sebelumnya, Jirapah sendiri dikenal dengan bunyi-bunyian gitar ala indie popnya. Namun, eksplorasi juga menjadi acuan dalam meraka dalam berkarya. Dalam album ini, kedua hal diatas masih terasa, bunyian gitar yang agak tipis dengan eksplorasi yang maksimal. Album ini dibuka dengan lagu berjudul "Menapak". Sebuah track yang berisi bunyi-bunyian gitar dan keyboard yang diiringi oleh. nuansa-nuansa bising. Lagu ini memiliki kesan membuka suatu perjalanan panjang yang gelap dan penuh misteri ke ruang angkasa yang tak terbatas (mungkin ini berlebihan, tapi menjelaskan impresi saya terhadap lagu tersebut). Lanjut ke lagu kedua, berjudul "Bintang". Lagu berbirama 3/4 dengan durasi 9 menit ini menceritakan gelapnya ruang angkasa dan mungkin menyinggung soal black hole. Lirik "saat bintang yang meredup sudah usai" mengingatkan saya soal bintang yang memiliki massa yang cukup besar dan telah mati, akan berubah menjadi materi yang gelap dan dingin yang bernama black hole. Setidaknya, itulah yang saya tangkap pada lagu ini. Jirapah sukses membuat saya merinding, mengingat kembali akan pastinya kehancuran setiap bintang di alam ini. Selanjutnya, lagu yang menjadi single kedua mereka untuk album ini, "Matahari". Hal yang saya tangkap dalam lagu ini adalah, mereka mencoba menceritakan manfaat matahari dalam kata-kata yang tertata rapi dan diiringi oleh gitar yang penuh dengan reverb. Video musik yang dibuat untuk lagu ini berlatar di Planetarium dan Observatorium Jakarta. Sebuah penggambaran visual yang menarik, memperlihatkan benang merah album ini, estetika ruang angkasa namun berlokasi di kota tinggal Jirapah, Jakarta.
Dari tiga lagu pertama pada album Planetarium, sudah bisa disimpulkan bahwa album ini cukup becek, dibasahi oleh reverb-reverb yang seksi. Lanjut ke lagu berikutnya, berjudul "Nafas". Menurut saya, lagu ini merupakan lagu yang paling "indie pop", dengan pukulan drum layaknya lagu-lagu post-punk dan suara gitar layaknya roster-roster Kolibri Rekords. Lagu kelima merupakan single pertama untuk album ini, menjadikan lagu ini sebagai lagu pertama yang dirilis ke publik. Judulnya "Menjamur". Entahlah, mungkin lagu ini menceritakan pengalaman dalam "berjamur". Liriknya juga terkesan abstrak dan misterius. Namun, sedikit distorsi yang terasa pada lagu ini menjadi poin tambahan. Seperti memberi energi ditengah perjalanan ruang angkasa yang melelahkan. Habisnya lagu ini dilanjut dengan lagu berjudul "Pengunjung". Sebuah lagu berdurasi 6 menit yang terkesan kalem. Ditengah-tengah lagu, Mar Galo, yang merupakan bassist Jirapah, mengisi bagian "spoken word" yang terkesan menghipnotis. Lagu ini kembali mengingatkan kita tentang keberadaan manusia yang memiliki sifat "nihil". Kita semua hanya pengunjung di alam semesta ini dan akan kembali ke tempat yang tidak pernah diketahui oleh manusia sebelumnya. Atau semuanya hanya siklus, entahlah. Mulai terasa banyak sekali perenungan dalam album ini. Seperti berisi pemikiran pukul tiga pagi orang yang menggemari sains dan fiksinya. Hal inilah yang membuat album ini cukup relate dengan saya.
Lagu selanjutnya adalah favorit saya dalam album Planetarium ini. Bahkan mungkin lagu Jirapah favorit saya. Judulnya sama dengan album, "Planetarium". Dengan durasi 8 menit, lagu ini seperti merangkum secara keseluruhan akan album Planetarium. Lagu ini menceritakan tentang berakhirnya alam semesta suatu saat nanti, menjadikan seluruh ruang di alam ini gelap, dingin, dan sepi. Sebuah lagu yang selalu saya nikmati setiap dini hari, merenung akan banyak hal (salah satunya sains dan fiksinya yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya). Betul-betul 8 menit yang sangat indah dari Jirapah. Saran dari saya, coba nikmati lagu sambil menonton video tentang timeline alam semesta yang banyak tersedia di youtube. Nanti, anda akan merasakan maksud dari kata-kata milik Ken Jenie ini. Video musik lagu ini disutradarai oleh Edwin, sutradara yang terkenal akan film-film arthouse nya yang menarik. Video musiknya menggambarkan seorang wanita yang memakai pakaian seperti baju ruang angkasa, menunjukan beberapa koreografi yang terkesan aneh dan "alien". Jirapah juga tampak di video musik tersebut, memegang instrumen masing-masing dan me-lipsync-kan lagu mereka di gedung Rossi Musik, Fatmawati. Sebuah video musik yang sangat keren menurut saya. Pada festival Joyland 2019, Jirapah membawakan lagu ini sebagai penutup aksi panggung mereka. Mereka juga mengajak Cholil Mahmud, vokalis Efek Rumah Kaca, untuk menyanyikan lagu ini bersama mereka. Hasilnya adalah terbaik. Kolaborasi tersebut menutup Jirapah dengan manis. Om Cholil juga terlihat sangat menikmati dalam membawakan lagu tersebut. Semua orang yang ada di panggung maupun di bawah panggung berjingkrakan saat paruh kedua lagu ini, dimana tempo lagu menjadi cepat dan distorsi dinyalakan. Sebuah pengalaman yang tak tenilai harganya.
Lagu ke-8 berjudul Bekerja. Lagu ini merupakan favorit saya setelah lagu sebelumnya, Planetarium. Lagu ini merupakan lagu yang paling "duniawi", menceritakan bagaimana dunia pekerjaan sangat melelahkan bagi pekerjanya. Namun, sisi nihil dari manusia juga disinggung, dengan lirik "mengejar, yang tidak terlihat". Menggambarkan manusia yang hanya mengejar materi duniawi yang sebenarnya tidak ada apa apa nya jika dibandingkan banyak hal lain yang lebih besar. Saya menikmati lagu ini ketika pulang kuliah, atau selepas bekerja sampingan yang ternyata juga melelahkan. Album ini ditutup oleh lagu yang berjudul "Mengawang". Seperti lagu pembuka pada album ini, lagu instrumental ini berisi suara gitar dan keyborad dengan iringan nuansa-nuansa bising seperti ruang angkasa. Terdapat juga tema lagu Planetarium (riff pendek yang khas di lagu tersebut). Sebuah track yang manis untuk mengakhiri album "sci-fi" ini.
Secara Keseluruhan, album merupakan salah satu yang terbaik oleh band Indonesia. Sebuah album dengan benang merah sains dan fiksinya, didominasi oleh gitar dan reverbnya yang becek dan seksi, menawarkan pengalaman baru yang "ruang angkasa", gelap dan penuh misteri. Jirapah telah membuat album pertama nya dengan apik. Rapi, menarik, dan eksploratif. Sinergi Jirapah dan Kolibri Rekords dalam berbagai hal terlihat baik. Keduanya bekerja sama menghasilkan satu album yang komplit akan penawarannya, secara etik maupun estetik. Harapan kedepan, tentunya adalah semoga Jirapah dan band-band lainnya mampu menghasilkan karya-karya yang seru untuk diikuti dan enak dinikmati. Eksplorasi di berbagai bidang harus terus berjalan, agar dapat menghasilkan siklus yang segar dan otentik. Dan harapan untuk Planetarium, semoga menjadi abadi dan bisa terus dinikmati oleh semua orang. Semoga perjalanan panjang hidup dan ruang angkasa nya mencapai titik yang baik dan terang, ditengah gelap, dingin, dan sepinya alam semesta. Cheers!