Mengapa Aksi Atas Nama Kemanusiaan Tidak Saling Bertemu ?
Disclaimer: Tulisan ini tidak akan menjawab pertanyaan judul diatas.
“Dari hari pembentukan Amnesty Indonesia sampai boikot produk Amerika”.
Sejuknya pagi mulai redup mengikuti munculnya matahari yang masih terbit disebelah timur menandakan siang mulai menyapa. Hari Minggu, 17 Desember 2017 halaman Monas dipadati aksi masa besar bertakjuk kecaman Presiden Donald Trump terkait pengakuan kedaulatan Israel dengan Ibu Kota Yerusalem. Tentu kita tau, keputusan Presiden Amerika ke-45, Donald Trump membuat kecewa banyak orang apa lagi warga Palestina yang terkena dampak langsung.
Status Kota Yerusalem sampai saat ini masih abu-abu, baik Palestina atau Israel saling berargumen & klaim bahwa Yerusalem sebagai ibu kota mereka, namun tidak ada satupun klaim yang diakui secara luas atau Internasional. Tapi 6 Desember ’17 lalu ada pendekar pecinta WWE mengumumkan bahwa Amerika Serikat mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel yang akhirnya menjadikan kota berstatus abu-abu kini menjadi kota berstatus mirip depresi pria baru diputusin karena terlalu baik alias makin membingungkan.
Penulis melihat aksi solidaritas atas Palestina muncul karena ada yang teraniaya baik fisik ataupun batinnya, dalam kasus ini adalah warga Palestina. Sehingga dapat disimpulkan triger orang untuk turun kejalan adalah sebagai menunjukan rasa kemanusiaan dan jiwa empati yang kuat melihat saudara sesama manusia disakiti (harusnya, xixixi). Melalui sudut pandang ini penulis beranggapan bahwa Aksi Bela Palestina sebagai bentuk aksi membela kemanusiaan. Yang membingungkan adalah ketika sebuah aksi yang begitu mulia dan memiliki banyak massa namun yang bergaung adalah boikot produk Amerika, hhmmm~
Tetap pada topik aksi kemanusiaan. Kita lihat kemanusiaan lainnya, Aksi Kamisan yang setiap hari kamis selalu ada didepan istana merdeka menuntut pembunuh anaknya diadili, saat ini dibawa terbang dengan program nawacita yang mulia pak presiden Joko Widodo. Salah satu program Nawacita didalamnya menuliskan janji penuntasan pelanggaran HAM masa lalu namun setelah terbang selama 2 tahun menunggu tembakan dari Pak Jokowi, tiba-tiba sang jendral diangkat menuju singgasana kekuasaan sebagai Menkopolhukam, bisa diibaratkan jika kamu tembak cewe lewat SMS dan di balas “Iya, aku mau” namun malamnya dia bilang “Maaf tadi dibajak temen”. Tapi penulis positif thinking aja, kalo soal hukum kan harus tegas jadi yang cocok menjabat ya harus mantan jendral, heheee.
Jadi, Jelas bahwa Aksi Kamisan juga mengusung kemanusian yang mana concern-nya bisa dipadukan dengan Aksi Bela Palestina lalu. Aksi Kamisan ke-517 lalu dianggap spesial karena beberapa forum seperti JMPPK Rembang, Jaringan Relawan Kemanusian Indonesia, Omah Tani Batang bisa bersatu di Aksi Kamisan 517 dan membuat tekanan semakin tinggi dengan jumlah massa yang lebih besar. Lebih spesial dari itu, Amnesty Internasional Indonesia melakukan deklarasi pembentukan lembaganya, hal ini bisa menjadi angin segar keluarga korban pelanggaran HAM yang sudah mentok dengan usahanya menuntut melalui pengadilan negeri.
Mengambil 2 (dua) contoh peristiwa aksi kemanusian diatas kita perlu telaah kembali, mengapa mereka tidak bisa bertemu didalam satu aksi? Aliansi aksi kemanusian seharusnya bisa saling melengkapi dan tentunya bisa saling menambah massa untuk menguatkan apa yang ingin tercapai bersama melalui politik gedor pintu.
Sskkkrrrrrhh~













