perfect,
setiap orang punyalah standar kesempurnaan masing masing. Dalam hal apapun itu, kek contohnya kalau gue ya gambar. Dulu seringnya ada sedikit cacat gue langsung ganti kertas, parah banget pokoknya. Gimana nggak?! lah mubadzir kertas kan. itu gua yang mana gambar sendiri adalah hal kecil kan. terus gimana kalau itu gua paksain diaplikasikan dalam perkara besar alias bukan sekedar hobby semata. Mau contoh lagi? misalnya suatu usulan sama bagian BEM yang menurut gua usulan dari kepala gua itu kalau ga punya alasan yg kuat mending ga usah diusulin, karna percuma dia bakal dibuang gitu aja si usulannya, padahal kan yang mempertimbangkan ya BEM sendiri, ya gitulah jadinya su'udzon terkedepankan dan juga standar perfect yang keterlaluan (menurut gua sendiri). contoh lagi, misalnya gue ada tugas kuliah bikin makalah. karna standar perfect gua yang bener bener mengacu pada sebuah karya ilmiah sekelas ntah apalah namanya itu membuat gua sendiri kaya orang sekarat harus buka semua buku turats. itu menyulitkan. btw ada ga sih yang kaya gua? sama sama lah kita benahi diri kita agar menjadi yang lebih baik. jangan sampai standar kesempurnaan kita menghambat kita menjadi orang yang lebih bermutu, lagian semua hal itu sok aja kalau mau dicoba meskipun masih newbie bahkan.











