Hujan dan Kaos Kaki
Apa sih hubungannya hujan dan kaos kaki ?
Apa sih kaki doang apa indah nya coba ?
Sebelum menjawab, disini aku mau ceritain percakapan antara seorang bunda (panggilan kepada guru) dan santri nya yang pernah ku dengar di ruang makan asrama kala itu.
Bunda : Kemana kaos kaki nya shalihah ?
Santri : eh bunda, hujan bun nanti kaos kaki nya basah 😁
Bunda : (hanya tersenyum)
Santri : maklum ya bun gak pake kaos kaki kan hujan 😀
Bunda : ya itu mah terserah kamu aja mau nyuci kaos kaki atau mau nyuci kaki di neraka (dengan nada santai).
Seketika aku yang hanya mendengar percakapan mereka itu langsung terdiam dan mencerna ucapan terakhir seorang guru itu. Jika dipikir-pikir kalimat nya sangat santai, singkat, tapi memiliki makna yang sangat-sangat dalam.
Jadi diantara hujan dan kaos kaki terjadi sebuah ujian ketaatan.
Terkadang kita masih menyepelekan aurat kaki. Ya dulu aku juga memakai kaos kaki hanya sebatas mentaati "peraturan sekolah" yang kata nya aurat wanita itu seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan dan intinya sami'na wa atho'na (kami dengar dan kami taat). Padahal di dalam diri masih perang bathin, yaela apa sih indah nya kaki ? Siapa sih yang mau merhatiin kaki doang ? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang mucul di bathin.
Tetapi tidak lama dari itu aku membaca buku (lupa judulnya), yang dimana buku itu menjawab pertanyaan-pertanyaanku ya walaupun tidak sepenuhnya karena semua tidak bisa mengandalkan logika manusia yang terbatas. Ternyata seorang ikhwan yang sholeh akan senantiasa menundukan pandangannya dan apabila ia menundukan pandangannya maka yang terlihat adalah kaki seorang akhwat tersebut dan disana bisa jadi timbul syahwat. Ya mungkin bagi kita itu hal yang biasa tapi kita gak tau ujian-ujian para ikhwan. Bukankah dengan kita menjaga diri sama dengan kita membantu para ikhwan menjaga keimanan nya ?
Ayo kita sama-sama belajar taat 😊

















