Kapitayan Sebuah Konsepsi
Agak terdengar aneh ditelinga kita tentang agama Kapitayan ini, bahkan mungkin anda baru mendengarnya bukan ?. Sebelum datangnya pengaruh Budhisme dan Hinduisme kita mengetahui adanya agama-agama animisme-dinamisme dimana kepercayaan kepada roh nenek moyang dan kekuatan ghaib atau supranatural bersemayam pada batu, pohon, gunung, serta benda-benda bertuah lainnya.
Agama ini juga konon bagian dari turunan kepercayaan agama yang lebih kuno yakni angin muson. Kapitayan sendiri adalah konsep ajaran yang memiliki sesembahan utamanya adalah Sanghyang Taya/Toyo. Adapun maknanya adalah Hampa, Kosong, Suwung atau Awang-Uwung.
Makna Taya/Toyo yakni yang absolut yang tidak dapat dipikirkan & dibayangkan, tidak pula didekati dengan panca indra.
Orang jawa kuno biasa menyebut nya "Tan keno kinoyo ngopo"
Yang bermakna tidak bisa diapa-apakan keberadaanya
Awang Uwung
Yang bermakna ada tapi tiada
Konsep Sanghyang Taya/Toyo merefleksikan dirinya sebagai Tu/To bermakna tunggal, memiliki daya gapit, dan memiliki dua sifat yakni :
Tu-Han yang bersifat positif atau baik. Dimana refleksi karakter adalah sosok Sanghyang Wenang
Han-Tu yang bersifat negatif atau buruk. Dimana refleksi karakter adalah Sanghyang Manikmoyo
Oleh karenanya konsepsi agama Kapitayan ini kemudian dijadikan strategi syiar para Walisongo dimana ada sisi-sisi konsep pengakuan tauhid atau ke-Esaan Tuhan














