Belajarlah bahwa rumah bukanlah sekedar hunian, tetapi tentang suatu perasaan
- keep in mind

blake kathryn

Janaina Medeiros

Origami Around
Peter Solarz
Lint Roller? I Barely Know Her

if i look back, i am lost

❣ Chile in a Photography ❣
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
One Nice Bug Per Day
AnasAbdin
$LAYYYTER
Three Goblin Art
todays bird
almost home
No title available

titsay

izzy's playlists!
Mike Driver

Andulka

tannertan36

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Poland

seen from South Africa

seen from Ukraine

seen from Netherlands

seen from Lithuania

seen from Italy
seen from Türkiye
seen from Türkiye

seen from Malaysia

seen from Germany
seen from United States

seen from South Africa
seen from United States
seen from Lithuania
seen from Türkiye

seen from Malaysia
@mycrypticode
Belajarlah bahwa rumah bukanlah sekedar hunian, tetapi tentang suatu perasaan
- keep in mind
ANEKDOT
Gue faham ada beberapa orang terjebak ditempurung yg bukan seharusnya, istilah lain raga beda jiwa. Betul ada woke agenda menormalisasi…
Gue faham ada beberapa orang terjebak ditempurung yg bukan seharusnya, istilah lain raga beda jiwa. Betul ada woke agenda menormalisasi terhadap berbagai diversity, persamaan hak & perlakuan adil. Tapi kelompok itu ada yg sengaja menarik yg straight ke komunalnya juga kan ?
It's sickness tho. Gue gak judge, bener memang ada orientasi ini dah lama, selama itu urusan privasi masing-masing kalau dilakukan ruang tertutup mungkin gk masalah. Ya minimal jangan diumbar ditempat umum, karena masih banyak yang belum faham terutama kaum konservatif ataupun buruh tani dll.
Belum diliat sama anak-anak yg gk tw apa-apa kan aneh, dan belum tentu juga keluarga sendiri menerima. Terus kalo dah kena abuse jangan berdalih di belakang HAM dsb. padahal mereka lakuin di tempat umum. Ya pantes dapet sanksi sosial. Ya minimal tau diri, jaga & kendalikan ruang <queer>mu sendiri.
Semua manusia di hadapan Tuhan itu sama, adapun kondisimu saat ini mungkin dari takdir entah orang sadar atau tidak. Peristiwa ini akan ramai kedepannya, juga menjadi bagian dari ujian hidup bagi kaum queer ini, apakah lu tetap lurus atau menyimpang?
Ini pilihanmu sendiri & juga pertanggungjawaban mu kepada-Nya✌️
Memahami karakter "bubarin aja lah" dan sejenisnya adalah kalimat agresif /ultimatum akibat lingkungan parent ego state yg terbiasa menghakimi utk melampiaskan frustasi. Ini typical suka menghindari masalah tanpa kejelasan apapun, tanpa mw negosiasi ato menghindari diskusi rumit.
Ini bentuk defense mechanism dimana org lari menghindar dr masalah secara instan tanpa beradu argumentasi karena situasi sudah tdk menguntungkan. Emosi membutuhkan kontrol mutlak n mengeluarkan ancaman utk memaksakan otoritasnya. Makanya typical ini sulit membuat jalan tengah
Tiap orang menyimpan latar belakang berbeda-beda juga bagaimana cara merespons tekanan dari luar, menghadapi dengan cara dingin akan jauh lebih efektif daripada membalas balik dengan emosi.
Berani menyukai, juga harus bisa menerima sisi buruk lain yang sudah terbawa. Penyesuaian diri untuk saling memahami baik ataupun buruk satu sama lain akan memerlukan kesepakatan bersama bahwa untuk saling menerima yang berujung pada sebuah kompromi.
Sekarang tanpa kita sadari terasa sudah dikendalikan oleh media social yang isinya penuh fraud, gak ada batas yang jelas. Segala informasi silih berganti, menjadikan kita kehilangan focus dan memberi rasa candu.
Jiwa jadi kering, paparan informasi diperoleh membuat emosional gak stabil.
Cerita Senja di Majapahit
1. Pasca Pralaya MAJAPAHIT DI TROWULAN 1478 M kerabat istana semburat melarikan diri ke segala penjuru. Salah satu rombongan pengungsian itu adalah rombongan Pangeran Majapahit yg berjuluk LEMBU MIRUNDA/LEMBU AGNISRAYA yang lari mengungsi ke Gunung Bromo.
Beliau mendirikan padepokan disana dan menjadi guru dengan sebutan Panembahan Gunung Bromo/Ajar Guntur Agni. Waktu berlalu rombongan ini lambat laun menempati juga daerah Tepasana di Lumajang yang juga bagian dari desa kuno yg pernah do singgahi Hayam Wuruk dari Lembu Agnisraya/Lembu Mirunda ini lahir Menak Sembar yg kemudian menjadi Raja Blambangan
2. Pasca runtuhnya MAJAPAHIT DI KEDIRI oleh serangan Demak tahun 1527 M Raja Majapahit Kediri Dyah Ranawijaya lari ke timur dan menjadi penguasa Panarukan
Tahun 1528 Dyah Ranawijaya mengirim utusan pada Portugis di Malaka
Sebagai tanda persahabatan tahun 1532 di belokan pertama sungai Panarukan Portugis mendirikan sebuah bangunan yg d sebut PADRAO (monumen/prsasti versi Portugis )
Hal ini membuat Sultan Trenggono semakin geram.Iapun segera menyiapkan penyerangan k Panarukan.
Namun sayang..sebelum Demak sukses menakhlukkan Panarukan Sultan Trenggono keburu wafat d bunuh anak Bupati Surabaya yg menjadi pembawa tempat sirihnya.
.............
CERITA HALU
#Episode - 1....
Tahun 1478 Sang Munggwing Jinggan Samarawijaya & adik-asiknya yg berkoalisi dg Demak & Bupati Pesisir (beragama Islam) dibantu Masyarakat Majapahit menyerang Trowulan (Ibukota Majapahit) hingga menyebabkan runtuhnya Istana di Trowulan.
Pararaton dengan kalimat "SIRNA ILANG KERTANING BUMI"' Th Saka 1400/Th.1478 M.
Tetapi kemenangan Putra-2 Sang Sinagara ternyata harus ditebus dengan ikut matinya Sang Munggwing Jinggan Samarawijaya (Putra Mahkota).
PRASASTI PETAK menyebutkan Kadigwijayanira Sang Munggwing Jinggan duk ayun-ayunan yudha lawaning majapahit (Kemenangan Sang Munggwing Jinggan yg naik jatuh berperang melawan Majapahit).
Ungkapan ayun-ayunan (naik-jatuh) berarti meraih kemenangan akan tetapi mati dalam pertempuran.
X : Pararaton tidak menyebut Sirna Ilang Kertaning Bhumi..tetapi Pararaton menyebut dengan Cunya Nora Yuganing Wong..sengkalan yg berarti 1400Saka / 1478M.
Namun demikian Pararaton juga tidak pernah menyebut bahwa Sang Munggwing Jinggan berkoalisi dengan Demak dan penguasa moor di pesisir Utara Jawa.
Dalam kasus Pralaya ( baca Kudeta ) Trowulan, posisi Demak justru memanfaatkan situasi dengan mengambil keuntungan jatuh nya Majapahit atas kudeta putra putra Sinagara untuk melepaskan diri dari kekuasaan Trowulan dan mendirikan kerajaan merdeka.
Y : O iya ya. Maaf klu gitu krn tebal banget buku prinbonnya.
Tertulis disini Serat Kanda : Candra Sengkala Sirna Ilang Kertaning Bhumi (1400 Saka - 1478 M) & atas gugurnya Bre Wirabhumi.
X : Bhre Wirabhumi gugur tahun 1406M, di bunuh oleh Raden Gajah Narapati saat Paregreg.
.......
#Episode - 2 ...
Setelah Istana Majapahit runtuh Th. 1478, 3 (tiga) Org adik Sang Munggwing Jinggan, yaitu :
1. Wijayakarana.
2. Wijayakusuma.
3. Ranawijaya
Mendirikan Kerajaan baru di Keling (antara Mojokerto & Kediri sekarang). Secara berturut-turut bertiga menjadi Raja dengan gelar Sri Maharaja Bhatara Keling.
Adapun Sang Raja Majapahit, Dyah Suraprabawa Singawijramawardhana menurut Pararaton "mokta ring kedhaton" / mangkat di Istana tetapi menurut Cerita Sejarah Lasem tdk demikian.
Pangeran Santibadra, Penguasa Lasem generasi ke-4 dari Sri Rajasaduhita Indudewi (adik ipar Prabu Hayam Wuruk) dg Bhre Matahun Rajasawardhana yg sdg berada di Trowulan, ia menyaksikan jatuhnya ibukota Majapahit ke tangan Kediri yg dipimpin oleh Girindawardhana Dyah Ranawijaya Th. Saka "Sunya-Nora-Yoganing-Wong" / Th. 1400 Saka / 1478.
#Episode - 3 ...
Cerita Sejarah Lasem menguraikan cukup jelas & logis kemana perginya Dyah Suraprabawa atau yg dikenal Brawijaya IV.
"Sang Prabhu lolos melu aneng pepanthan kono, kanthi nylamur dadi sramana Buddha, sirahe gundul plontos ngagem jubah kuning"
Ternyata diketahui Sang Prabu lolos dg menyamar sbg pendeta Buddha berkepala gundul mengenakan jubah kuning mengungsi meninggalkan ibukota Majapahit.
Bersama kedua istrinya (Rajasawardhana Dewi Dyah Sripura/istri permaisuri & Retno Mundri/istri selir) beliau pergi ke pantai laut selatan Gunungkidul. Beliau tinggal menetap sampai akhir hayatnya di Pantai Ngobaran. Ketika jenazah beliau dikremasi, ke-2'istrinya ikut melakukan sati sbg tanda kesetiaan kpd Sang Suami shg pantai tsb dikenal dg Nama Pantai Ngobaran tempat dibakar / dikremasikannya jenazah Sang Prabu.
X : diliat dari bahasa yg dipakai, sepertinya babad Lasem ini apakah memakai bahasa Jawa baru???
Y : Memang iya. Itu berbahasa Jawa Baru.
.........
#Episode - 4 ...
Putra Mahkota Pangeran Harya Baribin (dari permaisuri Rajasawardhana Dewi Dyah Sripura) & Adiknya yg lolos dari hura-hara istana melarikan diri ke arah barat (Pajajaran) bersama rombongan Istana dipandu oleh Ki Diparsa dg melewati pegunungan Karangsambung Sadang Kebumen Utara.
Tetapi sesampai di gunung Waluh, Karang Gumelem Susukan Banjarnegara, Sang adik jatuh sakit & meninggal dunia. Keanehan sempat terjadi ketika mayatnya hendak dimakamkan ternyata raganya telah menghilang & tinggal kerandanya yg dikuburkan di Gunung Waluh yg kemudian dikenal dg Girilangan yg berasal dari Giri Ilangan.
Sang Pangeran tsb kelak dikenal dg sebutan Ki Ageng Gumelem / Ki Ageng Pendersan / Ki Ageng Giring 1 putra Dyah Suraprabawa dg Retno Mundri. Sepeninggal Ki Ageng Giring 1, putra beliau Ki Ageng Giring 11 meneruskan perjalanan ke arah tenggara menuju Pantai Ngobaran tempat leluhurnya menyepi lewat Gunung Gentong Gedangsari dan Penerus beliau adalah Ki Ageng Giring 111 kelak tinggal di daerah Sodo Paliyan Gunung Kidul Utara Pantai Ngobaran. Dialah kelak mendapat wahyu kedaton Mataram, Wahyu Gagak Emprit di Mbang Lampir & terjadi perjanjian antara Ki Ageng Giring & Ki Ageng Pamanahan.
#Episode - 5 ...
Putra Mahkota Pangeran Harya Baribin meneruskan perjalanan dari Girilangan ke arah barat menuju Galuh Kawali di Ciamis & diterima langsung oleh Prabu Dewa Niskala Putra Prabu Niskalawastu Kencana (Adik Dyah Pitaloka)
Setelah menceritakan kondisi terakhir Majapahit, Prabu Dewa Niskala menerima rombongan Majapahit dg senang hati & menjodohkan Pangeran Harya Baribin dg putru beliau Dyah Ayu Kirana yg kelak melahirkan :
1. Joko Katuhu Bupati Wirasaba.
2. Joko Kahiman Bupati Banyumas.
3. Banyak Kumara Bupati Kaleng.
Prabu Dewa Niskala sendiri menikah dg Rara Hulanjar yg bernama Dyah Retno Adtunawangi tetapi krn berasal dari Majapahit & telah bertunangan maka dianggap melanggar aturan Kerajaan shg jabatan beliau diserahkan kpd Sang Putra Prabu Jayadewata / Prabu Siliwangi yg kelak menyatukan Kerajaan Galuh Ciamis & Kerajaan Sunda di Bogor hingga menjadi Kerajaan Pajajaran.
#Episode - 6 ...
Di Majapahit Prabu Girindhawardhana Dyah Ranawijaya setelah memindahkan Ibukota dari Trowulan ke Dahanapura menyebabkan banyak dari daerah2 pesisir yg melepaskan diri dari Daha.
Ketika Daha (catatan Tome Pires) mengutus Patih Udhara Th.1512 mengirimkan seperangkat Gamelan & Kain Batik kpd penguasa Portugis di Malaka utk menjalin kerjasama. Fihak Demak sangat tersinggung dg sikap Daha thdp Portugis yg telah menguasai Malaka.
Koalisi bersama Demak - Daha yg telah terbangun ketika bersatu menjatuhkan Singgasana Suraprabawa & menyebabkan hancurnya Istana Majapahit di Trowulan kandas.
Koalisi Demak, Giri, Cirebon, Banten & Aceh mengobarkan semangat jihad bukan krn ancaman dari Daha tetapi invansi Portugis ke Jawa yg telah di undang fihak Daha. Daha pun akhirnya bisa ditaklukan Demak & Portugis tdk bisa masuk Jawa.
Pecahnya koalisi Demak - Daha & runtuhnya Majapahit menyebabkan munculnya sentimen keagamaan sbg imbasnya.
Daha menuduh Demak berkhianat & menikam dari belakang, Demak menuduh Daha merebut Tahta Ayahnya yg kesemuanya adlh bentuk kekecewaan & penyesalan Demak - Daha.
Majapahit Hancur
Demak pun Hancur
JANJI SABDO PALON TELAH TERLAKSANA
X : koq ujung ujungnya ada Sabdo Palon nya??? Sumber babad Lasem memang nya menyebut tokoh Sabdo Palon??
Y : Itu utk tambahan bumbu aja sbg penutup, tdk dlm babad Lasem. Biar relax nggak tegang.
X : babad Lasem itu dibuat tahun brp Nggih?
Y : Babad Lasem karangan Mpu Santri Badra Th. 1401 Saka / 1479 M.
X : kalo ditulis tahun 1479M, mestinya memakai bahasa Jawa kuno Om..bukan bahasa Jawa baru.
BHRE PAKEMBANGAN
By : Damar Wulung
Majapahit bergolak,
Hubungan politik antara kedaton wetan dengan kedaton kulon makin meruncing,
Aji Rajanatha (Bhre Wirabhumi II) sebagai anak laki laki Hayam Wuruk dgn istri selir merasa berhak atas tahta majapahit sepeninggal ayahandanya, Sementara menurut tradisi istana bahwa Kusumawardhani dianggap paling pantas menjadi penerus tahta majapahit karena Kusumawardhani adalah anak dari Permaisuri sah yaitu Sri Sudewi atau Paduka Sori.
Sementara itu di lain kesempatan tampil seorang pemuda gagah berbaju hitam lengkap dengan aksesoris bangsawan, sedang duduk bersila di hadapan raja kedaton wetan Aji Rajanatha. Usia pemuda tsb tak kurang dari dua puluh tahunan.
"Ayahanda Prabu, kirannya keraton Pakembangan yg Ayahanda Prabu bangun buat Ananda baru akan bisa Ananda tempati satu bulan ke depan, mengingat masih banyak prajurit kita yg berjaga di perbatasan. Kita tahu akhir akhir ini prajurit prajurit dari kedaton kulon sering menyusup ke wilayah kita dan berupaya memata-matai kegiatan kita di wetan."
Ujar si Pemuda yg ternyata adalah Paramasora, Putra tertua dari Aji Rajanatha Raja kedaton Wetan.
"Baiklah anakku, yg terpenting engkau tetap waspada dan selalu berkoordinasi dengan para Senopati yg aku tempatkan di setiap pos pos perbatasan,
Wilayah pesisir Utara Jawa sudah kita kuasai dan kita sangat membutuhkan dukungan politik para penduduk pesisir yg rata rata pendatang dari Daratan Tiongkok, Campa, Arab dan Gujarat. Aku sangat berharap kelak Engkaulah yg bisa menggantikan kedudukan dari tahta Ayahmu di keraton Wirabhumi."
Disaat bersamaan, rupanya kedaton kulon juga tengah disibukkan berbagai kegiatan yg dilakukan oleh para petinggi militernya terkait rencana besar mereka akan melakukan serangan mendadak ke kedaton Wirabhumi.
"Kakang Narapati, dengan bergabungnya pasukan Tumapel pimpinan Tuanku gusti Manggalawardhana ke kubu kedaton kulon, maka aku sangat yakin sekali kemenangan itu sudah sangat dekat dengan kita." Berkata Senopati Kebo Ungaran.
"Betul sekali Adi Kebo Ungaran, Rasanya gatal sekali tangan ku ini ingin memenggal kepala Aji Rajanatha.!!"
Keputusannya mengangkat Paramasora sebagai Bhre di Pakembangan sangat tidak adil buatku, sebentar lagi dendam ini akan terbalaskan." berkata Gajah Narapati dengan berai api.
Pada tahun 1404M perang antara kedaton kulon dgn kedaton wetan memang sdh pecah, dimana pihak kedaton wetan berhasil keluar sebagai pemenang, Namun dua tahun kemudian, tepatnya di tahun 1406M dengan bergabungnya dua kekuatan baru yaitu pasukan dari Manggalawardhana dan juga tambahan pasukan pimpinan Aji Ratna Pangkaja, maka kekuatan kedaton kulon tidak bisa dianggap remeh.
Maka demikianlah, ketika pagi itu masih sangat gelap, ketika ayam ayam belom sempat berkokok menyambut mentari pagi, Tak kurang dari dua puluh ribu pasukan majapahit kulon pimpinan Gajah Narapati, Manggalawardhana, Aji Ratna Pangkaja bergerak menuju perbatasan Pamotan,
Mereka melengkapi diri dengan senjata seperti pedang, tombak dan panah.
Serangan mendadak ini rupanya sangat mengagetkan para prajurit kedaton wetan pimpinan Paramasora. Dia tidak menyangka pasukan kedaton kulon datang begitu banyak laksana air bah mengepung disetiap penjuru Pamotan.
"Mundur..mundur..!!!" Teriak Paramasora meminta pasukannya mundur sambil terus bertahan...
"Paman Sutawirya, Aku perintahkan dirimu segera ke Keraton Wirabhumi untuk melindungi Ayahanda, kawal beliau menuju Bali. Sebisa mungkin aku akan bertahan disini menghadapi pasukan Gajah Narapati." berkata Paramasora sambil mengarahkan kudanya menuju pesisir Utara Pasuruan.
Setelah berhasil menguasai wilayah Pamotan, pasukan pimpinan Gajah Narapati terus bergerak kearah timur,
Tujuannya jelas menuju ke Wirabhumi.
Paramasora yg di kawal oleh beberapa pasukan tersisa terus menggebrak kudanya menyusuri pesisir Utara menuju Probolinggo.
Tepat ketika kuda kuda itu melewati gugusan bebatuan dipinggir pantai, tampak kelebatan bayangan sedang mengendap endap di balik bebatuan, tak kurang dari 50orang berseragam kedaton kulon rupanya telah mengepung tempat itu.
"Berhenti!! Ha ha ha.... Mau lari kemana kau Paramasora..!!?
Terkekeh Kebo Ungaran berdiri diatas sebongkah batu cadas pantai, dibelakangnya tampak menganga jurang yg cukup dalam dan ditumbuhi semak belukar cukup lebat.
Saat itu hari sudah mulai gelap, matahari sudah mulai terbenam dan menyisakan sedikit sinar kemerahan di langit.
Paramasora dan beberapa pengawalnya memang sdh tidak ada jalan lagi untuk kabur, tempat itu sudah dikepung oleh Kebo Ungaran dan pasukannya.
"Anak anak!! Ayo..Tangkap cecurut itu, jangan biarkan dia lolos lagi, kalo melawan bunuh saja!!" Teriak Kebo Ungaran lantang...
Maka secara bersamaan, seluruh prajurit Majapahit kulon itu segera menghambur menyerang Paramasora dan pengawalnya.
Tak Sampai dua puluh jurus berlalu, beberapa pasukan pengawal Paramasora sdh berjatuhan, maka ketika satu pukulan dahsyat Kebo Ungaran bersarang telak di punggung Paramasora, tak ayal, tubuh Paramasora terpental jatuh kedalam jurang yang ada di pantai itu..tubuhnya segera lenyap ditelan lebatnya semak belukar di dasar jurang.
Melihat junjunganya sudah jatuh ke dasar jurang, maka beberapa prajurit pengawal yg tersisa nyalinya ciut, segera mereka melarikan diri masuk ke dalam hutan.
"Tahan!!! Biarkan, jangan dikejar!! Sekarang yang terpenting kita sudah berhasil membinasakan Paramasora.
Anak anak, ayo kita pergi dari sini.!!" Perintah Kebo Ungaran ke pasukannya.
Ketika pertempuran berlangsung tadi, rupanya tanpa disadari, ada sepasang mata tajam mengamati jalannya pertempuran, tepat ketika tubuh Paramasora jatuh melayang ke dasar jurang, sosok misterius itu rupanya secepat kilat telah terbang menyambar tubuh Paramasora dan meletakkannya di dicelah batu yg tidak diketahui oleh Kebo Ungaran..
"Hemm... untunglah pukulan orang itu tidak benar benar telak menghantam dada dari pemuda ini.. Nafasnya masih ada.."
Sambil mengusap dada Paramasora, sosok tua berambut putih itu menyalurkan tenaga dalamnya ke dalam tubuh Paramasora yg masih belom sadarkan diri..
"Kalo diliat dari pakaiannya,pemuda ini pastilah bangsawan dari kedaton Wetan. Di dalam lipatan bajunya juga ada semacam lencana kerajaan kedaton wetan.. Mungkinkah dia seorang Pangeran??? Ohhh..entah lah.."
Malam itu, ketika seluruh pasukan majapahit kulon pimpinan Raden Gajah Narapati bersiap siap mendirikan tenda di perbatasan Probolinggo, dari kejauhan terdengar derap puluhan ekor kuda dipacu kencang makin mendekat.
Raut muka para prajurit itu baru lega ketika mereka tahu siapakah kiranya para penunggang kuda yang mendatangi kemah mereka.
"Oh kiranya tuanku Gusti Kebo Ungaran yang datang bersama rombongan." Menyapa seorang pimpinan prajurit kepada Kebo Ungaran.
"Hey Prajurit!! Dimanakah letak kemah kakang Narapati dan Gusti Manggalawardhana?? Tanya Kebo Ungaran kepada prajurit itu.
"Disebelah sana yang tendanya lebih besar itu tuan, mari hamba antarkan kesana Tuan." jawab Prajurit itu.
Setelah memburu Paramasora dan menghantamnya dengan pukulan maut, Kebo Ungaran merasa sangat yakin kalau Paramasora telah tewas dan kabar ini tentu sangat ingin sekali disampaikannya kepada Pianglima perang Mjapahit kulon Gajah Narapati.
Maka malam itu juga Kebo Ungaran menderapkan kudanya menuju perkemahan Gajah Narapati dan sebagian besar Pasukan Majapahit kulon.
"Bagus Bagus Bagus...
Akhirnya mampus juga itu si Paramasora... ha ha ha..."
Tertawa lebar Gajah Narapati mendengar kabar kematian Paramasora dari Kebo Ungaran.
"Ya begitulah kakang, sekarang fokus kita tinggal menghadapi kekuatan dari Aji Rajanatha (Bhre Wirabhumi II) dan sisa sisa pasukannya. Aku dengar Aji Rajanatha memiliki senjata sakti mandraguna berupa sebuah gada berwarna emas dan sohor disebut GODO WESI KUNING." bergetar bibir Kebo Ungaran ketika menyebut senjata sakti itu. Terlihat raut mukanya menyiratkan kengerian mendalam.
"Kenapa dengan dirimu Adi Kebo Ungaran?? Aku perhatikan engkau begitu ketakutan menyebut senjata itu." Bertanya Gajah Narapati.
"Be.. be.. betul Kakang, senjata mustika GODO WESI KUNING itu memang senjata yg sangat mengerikan... aku sendiri pernah menyaksikan kehebatan senjata setan itu.!! Puluhan prajurit ku pernah berantakan kepalanya dihantam oleh senjata maut itu. Ingat kakang... dua tahun lalu kedaton kulon dibuat takluk oleh pasukan Wirabhumi, bahkan Sang Aji Rajanatha sendiri yg memimpin pasukannya. Dia mengamuk bagi banteng terluka." Kata Kebo Ungaran setengah bercerita mengenang kekalahan kedaton kulon saat Paregreg dua tahun silam.
"Begini Adi Kebo Ungaran,
Aku sudah menyiapkan strategi jitu untuk mengelabuhi Paman Aji Rajanatha, kalo kita pakai siasat perang terbuka, pasti kita akan kalah nanti, aku sendiri masih kalah jauh dengan ilmu kanuragan Paman Aji Rajanatha, senjata itulah kekuatannya, maka kita harus bisa mencuri dari tangannya." Kata Gajah Narapati menyampaikan siasat liciknya.
Akhirnya malam itu siasat licik Narapati telah disiapkan, Kebo Ungaran pamit dan keluar dari tenda Narapati dengan raut muka cukup senang, ada senyum kelicikan terlihat di bibirnya...
Malam itu, suasana perkemahan begitu sunyi, semua prajurit Majapahit kulon sudah terlelap tidur, hanya beberapa orang terlihat berjaga jaga di ujung perkemahan.
Mereka memang diperintahkan segera tidur, karena besok pagi buta harus berangkat ke timur menuju Wirabhumi.
Kita kembali ke pesisir Utara Pasuruan, dimana Paramasora tergeletak lemah diatas sebongkah batu cadas dan masih belom sadarkan diri.
Sosok tua berambut putih yang telah menolongnya sudah satu jam lebih meninggalkannya.
"Aku harus segera kembali, kiranya daun daunan obat ini sudah cukup banyak aku dapatkan, semoga saja pemuda itu segera sadar. Sudah seminggu ini aku menanti perahu Jung milik tuanku Cheng Ho, tugasku mengumpulkan rempah rempah dan bahan obat rasanya sudah cukup, perahu Jung milik tuanku Ceng Ho yang akan ke Tulembang rasa rasanya akan segera tiba. Biarlah... aku akan bawa pemuda itu ikut ke Tulembang."
Malam itu, Istana kaputren keraton Wirabhumi diselimuti kabut tebal, udara begitu dingin menusuk tulang.
Suasana hening itu menambah kegelisahan hati seorang Dewi Seruni, putri bungsu dari Prabu Aji Rajanatha.
Bagaimana tidak, sekitar 1 jam yang lalu, hatinya begitu kaget membaca gulungan rontal yang diberikan oleh dayang kaputren siang tadi.
"Hemm..Rupanya kakang Dayun benar benar nekat, Dia tanpa tedeng aling aling menyatakan cintanya kepadaku. Aku tau, memang kakang Dayun adalah seorang pemuda yg tampan, karir keprajuritannya juga tergolong cemerlang. Tapi apakah mungkin Ramanda Prabu merestui hubunganku ini??" Membatin Dewi Seruni.
Pikiran pikiran itu terus saja berkecamuk di dalam benak nya, hingga akhirnya tak terasa malam berganti pagi dan Dewi Seruni pun tertidur dalam kegalauan hatinya.
Sementara itu dikesempatan lain, seorang pemuda gagah berbadan tegap sedang asik memanjat pohon kelapa hijau di belakang tembok istana, gerakannya begitu cepat seperti tupai melompat lompat enteng dari pohon yg satu ke pohon yang lain.
Jika dilihat dari caranya memanjat pohon kelapa, si pemuda tentu bukanlah seorang pemanjat sembarangan, ilmu meringankan tubuhnya begitu sempurna, di dalam pasukan elit kerajaan Wirabhumi, si pemuda dikenal dengan Nama Senopati Dayun.
Jika menilik dari namanya yang cukup pendek, Pemuda ini memang dari keturunan rakyat biasa. Dia menjadi seorang prajurit di Wirabhumi berkat jasa dari Raden Gajah Narapati yang bertemu ketika Sang Pemuda memberikan beberapa butir kelapa muda saat Gajah Narapati beristirahat di tepian hutan. Saat itu Gajah Narapati masih bergabung dengan pasukan Mandala Wirabhumi.
Namun setelah Gajah Narapati membelot ke Majapahit kulon, hubungan keduanya sepertinya memang terputus, tapi sebenarnya tidak demikian.
Dayun masih ingat benar pesan terakhir dari Gajah Narapati junjungannya.
"Dayun, keputusan Paman Prabu mengangkat Paramasora menjadi Bhre di Pakembangan, membuat ku sakit hati, keputusan ini tidak adil buatku. Walaupun aku hanya seorang keponakan, tapi Aku ini lebih pantas dijadikan Bhre di Pakembangan... Aku tau, engkau adalah seorang yang sangat loyal kepadaku, bantu aku membalaskan dendam ini kepada Paman Prabu.!!
Duarrrr...
Kaget Sang Pemuda seperti di sambar petir, telinganya masih belum percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Lalu apa yang bisa Hamba lakukan Gusti..??" Tanya Dayun kepada Gajah Narapati.
"Aku ingin engkau mencuri senjata mustika sakti GODO WESI KUNING milik Paman Prabu!!
Kata Gajah Narapati setengah berteriak.
"Aku ingin engkau menyusup ke keraton Wirabhumi dan menjadi prajurit disana, dengan ketampananmu, aku rasa tidak sulit engkau masuk ke istana lewat kaputren.!!
Dayun memang lah seorang pemuda yang cukup berbakat, kemampuan olah kanuragannya juga tidak bisa dianggap enteng, maka dengan cepat pula karir keprajuritannya meningkat pesat dan posisi terakhirnya adalah seorang Senopati perang. Wajah nya yang rupawan juga tak jarang membuat jantung para putri bangsawan Wirabhumi di buat dag dig dug bila berpapasan dengan nya, tak terkecuali Sang Putri Dewi Seruni.
Dayun sudah berjanji kepada Gajah Narapati, jika datang waktu nya kelak, maka senjata mustika GODO WESI KUNING milik Prabu Aji Rajanatha akan diserahkan kepada junjungannya itu kelak.
Tepat tiga hari sudah gulungan rontal dari pemuda idaman itu Ia baca, hatinya bertambah galau mengetahui sikap dari Ramandanya yg terkesan tidak merestui hubungan cintanya dengan sang Pemuda.
Akhirnya malam itu Ia beranikan diri untuk menemui Sang Pemuda ditempat yg telah mereka janjikan... Ya... dibelakang tembok istana kaputren. Sambil mengendap endap, Dewi Seruni memantapkan langkahnya untuk menemui sang Doi.
"Ssssttttt..sssssttt.."
Terdengar suara suitan lirih di balik pohon beringin itu,rupanya Dayun sdh satu jam lebih duduk menunggu di atas dahan pahon itu.
" Aku disini.." bisik Dayun pelan.
Dewi Seruni masih celingak celinguk mencari sumber suara itu, setengah ragu dia paksakan juga mendekat kebawah pohon beringin itu tepat ketika Dayun melompat turun dari dahan dan Hupp..
Didekaplah tubuh semampai itu..
" Widih... Aji gile... wangi bener tubuhnya." Hemmm...batin Si Dayun dalam hati, Baru kali ini kesampaian bisa mendekap erat tubuh seorang putri Raja.
Setengah terpekik Dewi Seruni berteriak kaget dan segera tangan kekar itu mendekap mulutnya.
"Waktuku tidak panjang Kakang... aku harus segera kembali ke dalam kaputren. Rasa rasanya walaupun aku juga sayang sama Kakang, namun sepertinya Ramanda tdk menghendaki hubungan kita ini..." bisik Dewi Seruni ke telinga Dayun.
Dayun yang sedari awal memang tdk benar benar mencintai Seruni, pura pura terkejut akan jawaban dari Seruni.
"Apa..??!!, Tapi aku sangat mencintaimu Seruni". Jawab Dayun berpura pura meyakinkan..
Akhirnya, malam itu mereka berpisah dengan meninggalkan perasaan berbeda satu sama lainnya.
Namun mereka akan tetap bertemu walaupun dengan cara sembunyi sembunyi.
Dayun sangat tau dengan skenario yang Ia Jalankan, semua nya berjalan lancar.. Ia paham sekali bahwa pintu kaputren langsung berhadap hadapan dengan kamar peristirahatan Sang Raja. Dan senjata itu makin dekat dengannya.
"Hehehe... sedikit lagi... tunggu tanggal mainnya, suatu saat, jika waktu sudah tepat, senjata itu akan mudah aku dapatkan!!" Membatin Si Dayun dalam hati..
Pagi itu, langit di bagian timur pulau Jawa belum benar benar terang, kabut tebal masih menyelimuti keraton Wirabhumi. Ada pemandangan tak biasa di balai Paseban agung Keraton , dimana seluruh Pembesar kerajaan berkumpul disana.
Nampak sekali wajah wajah murung dan tegang terpancar dari para hadirin yg sejak pagi sudah berada disitu.
Prabu Aji Rajanatha (Bhre Wirabhumi II ) memang sengaja memanggil seluruh Pembesar istana dari mulai pangkat terendah sampai pangkat tertinggi yg di jabat seorang Patih.
Pagi itu Prabu Aji Rajanatha telah menyampaikan berita yang sangat mengejutkan, bahwa semalam pusaka istana, Senjata mustika maut GODO WESI KUNING yang terkenal itu telah raib di curi orang !!!
Semua yang hadir di pendopo agung begitu terkejut, mereka tampak masih belum bisa percaya dengan berita itu.
"Gusti Prabu, siapakah kiranya yang telah lancang mencuri pusaka itu Gusti??" Tanya seorang kepala prajurit.
"Dari awal aku sudah mencurigai gerak gerik seseorang, dan orang itu sekarang ini telah kabur dari istana!!" Jawab Prabu Aji Rajanatha kesal.
"Dayun...ya.. pemuda itu telah berkhianat kepadaku!!
Dia telah memainkan siasat busuk dengan mendekati dan berpura pura mencintai putriku Dewi Seruni. Berkata Prabu Aji Rajanatha dengan bibir bergetar menahan amarah.
"Aku perintahkan kepadamu Tumenggung Gagak Seta untuk mengejar Senopati Dayun dan membawa kembali pulang GODO WESI KUNING kepadaku.!!" Titah sang Raja.
"Sendiko Dawuh Gusti Prabu, Pagi ini juga hamba segera berangkat!!"
Setelah mempersiapkan perbekalan secukupnya serta memilih beberapa prajurit pilihan, pagi itu juga Gagak Seta segera berangkat meninggalkan istana Wirabhumi kearah barat dimana diduga Senopati Dayun masih belom jauh meninggalkan istana. Bahwa kecurigaan Tumenggung Gagak Seta selama ini dengan Senopati Dayun yang dulunya adalah pengikut loyal dari Gajah Narapati yg telah membelot ke Majapahit kulon akhirnya kini menjadi kenyataan.
Namun demikian Gagak Seta serta pejabat pejabat lain yg merasa memiliki kecurigaan yg sama terhadap Senopati Dayun merasa belom punya bukti yang kuat untuk melaporkannya ke Baginda Prabu, apalagi Senopati Dayun cukup dekat hubungannya dengan putri Dewi Seruni.
Sementara itu ketika matahari sudah tepat berada diatas kepala, dari arah timur tampak kepulan debu membubung tinggi akibat dari derap tiga ekor kuda yang dipacu dengan sangat kencang melintasi Padang rumput dikaki barat gunung Argopuro.
Tampak ketiganya berpakaian hitam hitam menggunakan caping lebar petani dan tampak berpakaian seperti masyarakat biasa.
Namun jika dilihat dari cara mereka menggebrak kuda kudanya, pastilah orang akan segera tahu bahwa mereka pastilah para prajurit tangguh yg sangat terampil.
Dan ketika para penunggang kuda itu mendekati gugusan batu kapur di ujung Padang rumput itu,salah seorang dari mereka berteriak kencang..
"Berhenti..!! Kita sudah cukup jauh meninggalkan istana.. sebaiknya kita istirahat dulu di tepi hutan itu sambil memberi minum kuda kuda kita yang tampak sangat kelelahan.. Perintah orang itu terhadap dua orang kawannya.
"Baiklah tuanku Dayun...Tapi apakah para prajurit Wirabhumi akan bisa menyusul kita Gusti.??" Jawab seorang lagi yang ternyata anak buah Senopati Dayun.
"Aku kira kita sudah sangat jauh meninggalkan keraton Wirabhumi, kalaupun mereka mengejar, aku yakin tidak akan bisa menyusul kita." jawab Senopati Dayun penuh keyakinan.
"He he he.. akhirnya.. senjata mustika ini berhasil aku curi. Aku pasti akan mendapatkan imbalan besar dari usaha ku ini." Guman Senopati Dayun dalam hati.
"Aku harus membawanya ke perkemahan Gusti Gajah Narapati di Probolinggo. Setelah itu aku akan gabung bersama prajurit Majapahit kulon untuk menggempur Wirabhumi
Di kesempatan lain dimana Paramasora yang sedang tergeletak lemah diatas sebuah batu cadas pantai Utara Jawa, dimana Dia baru saja diselamatkan oleh sosok misterius berambut putih yang ternyata adalah seorang tabib dari Tiongkok pengikut dari Laksamana Cheng Ho,
Kondisinya sudah mulai membaik, kesadarannya mulai pulih ketika Pak Tua berambut putih yg telah menolongnya terlihat kembali dari hutan sambil membawa sekeranjang tanaman obat.
"Hai Kisanak, sudah siuman kau rupanya.?? sapa Pak Tua itu.
"Oh.. Siapa Kau Pak Tua.. apa yang telah terjadi padaku..?" Jawab Paramisora.
"Kau baru saja tidak sadarkan diri setelah terjatuh dari tebing atas sana. untunglah badanmu tidak jatuh pas di bebatuan itu. sehingga kau masih bisa selamat.
Paramasora baru teringat akan apa yang telah terjadi di atas sana, Dirinya dan para prajurit pengikutnya telah disergap oleh orang orang majapahit kulon pimpinan Kebo Ungaran, dan dirinya terkena pukulan di tubuhnya bagian samping sampai terpental ke dasar jurang.
"Kisanak, apakah engkau ini prajurit dari kerajaan Wirabhumi?? Kalo aku perhatikan pakaianmu adalah prajurit dari Wirabhumi, dan engkau juga mengenakan lencana kerajaan bagi para bangsawan. Kalo boleh tau Siapakah Kisanak sebenarnya??" Tanya Pak Tua kepada Paramasora..
"Memang benar Pak Tua, aku adalah Pangeran Dyah Paramasora, putra sulung Baginda Prabu Aji Rajanatha Raja Wirabhumi "
"Apa.?? Apa kah saya tidak salah dengar Tuan?? Hemmm.. rupanya benar dugaanku.. bahwa Raden memang dari golongan bangsawan Kedaton Wetan, Dan Bahkan Raden Adalah seorang Pangeran di Wirabhumi."
Bersambung...
Ibukota Jawa
Sampai sekarang saya belum pernah menemukan nama TROWULAN tertulis di prasasti atau rontal kuno sebagai ibukota Kerajaan Majapahit. Yang ada ialah ANTARAŚAŚI yang tertulis di kakawin Nāgarakṛtāgama. Antaraśaśi bersinonim dengan Antarawulan (śaśi = wulan) yang diduga sebagai cilal bakal nama Trowulan modern. Tapi, informasi dari Mpu Prapañca, Antaraśaśi bukan nama ibukota, melainkan daerah tempat pendarmaan Śrī Jayanāgara, raja kedua Majapahit.
Kalau nama Trowulan tidak tertulis di sumber kuno, lalu apa dong nama ibukota Majapahit? Yang tanya seperti itu biasanya membayangkan Majapahit seperti Indonesia, lalu Trowulan dipilih jadi nama ibukota, biar selaras dengan Jakarta. Nggak lah yauw ... Konsep di zaman kuno berbeda dengan zaman modern. Sistem zaman kuno adalah negara-kota. Misalnya, Ma Huan (sekretaris Cheng Ho) pada tahun 1415 mencatat: Raja Jawa tinggal di kota bernama Majapahit.
Sejarahnya begini. Raja Jawa bernama Śrī Kṛtanagara yang beribukota di Tumapĕl, digulingkan bawahannya, yaitu Śrī Jayakatwang dari Gĕlang-Gĕlang pada 1292. Kemudian Śrī Jayakatwang menjadi raja Jawa, dan memilih Daha sebagai ibukota baru. Selanjutnya, menantu Śrī Kṛtanagara yang bernama Raden Wijaya pura-pura menyerah. Ia mendapat Hutan Trik dari Śrī Jayakatwang untuk dibuka menjadi permukiman, diberi nama Majapahit. Kemudian pada 1293 Raden Wijaya bersekutu dengan pasukan Dinasti Yuan berhasil menggulingkan Śrī Jayakatwang. Raden Wijaya pun menjadi raja Jawa, sedangkan Majapahit yang semula dukuh permukiman, naik kelas menjadi ibukota.
Kesimpulan :
- Śrī Kṛtanagara : raja Jawa yang beribukota di Tumapĕl.
- Śrī Jayakatwang : raja Jawa yang beribukota di Daha.
- Raden Wijaya : raja Jawa yang beribukota di Majapahit.
Kalau tidak percaya silakan cek prasasti Kudadu, di situ Raden Wijaya tertulis sebagai : samastayawadwīpeśwara (raja seluruh Pulau Jawa). Jadi, pada zaman itu kalau ada orang mau pergi ke ibukota, mereka bilangnya "mau ke Majapahit", bukan "mau ke Trowulan".
Demikian, semoga menjadi periksa.
- Heri Pur
Tunggu saja.
Semua dalam upaya menampung segala residu, lanjutkan saja pesta kalian diatas penderitaan orang-orang lemah.
Hingga sampai waktu itu datang, habis lah kalian
Ada yang berasa mengganjal orang kog pada aneh-aneh perilakunya ya dari politisi, agamawan, pendidik, seniman, sampe aparat nya kebuka banyak scandal. Berasa tu bumi dah berasa sempit, tinggal menunggu pralaya. Banyakin do'a 🙏 gengs...
Mugi-mugi tansah pinaringan wilujeng saking Gusti Pangeran
Tak sadar kita lagi menuju keseimbangan baru, liat tu orang-orang berasa mudah emosional kan. Hampir semua lini-masa mengeluarkan amarahnya masing-masing, semoga kita di berikan ketabahan dan kekuatan.
Dikabarkan bahwa bulan-bulan terakhir di tahun Dal biasanya akan terjadi pralaya
Fyi, tahun Dal itu salah satu nama tahun di siklus 8 tahunan di sistem kalender Jawa.
Karakter tahun Dal : bencana lebih mudah terjadi, more prone to social conflict, godaan nafsu (anger, lust, greed, dll) jadi ekstrim.
So disarankan untuk lebih banyak prihatin dan tirakat
-Dr temen
Orang yang banyak kebutuhan sebenarnya banyak kebodohannya, karena menggantungkan kebahagiaan dengan berbagai banyak hal. Kecukupan adalah berusaha untuk tidak memiliki banyak hal yang sebenarnya tidak terlalu kamu butuhkan.
Bukan, memenuhi segala kebutuhanmu. Karena nafsumu itu tidak ada batasnya, kalau kamu penuhi pun tidak akan pernah selesainya.
-GB
Orang yang banyak kebutuhan sebenarnya banyak kebodohannya, karena menggantungkan kebahagiaan dengan berbagai banyak hal. Kecukupan adalah berusaha untuk tidak memiliki banyak hal yang sebenarnya tidak terlalu kamu butuhkan.
Bukan, memenuhi segala kebutuhanmu. Karena nafsumu itu tidak ada batasnya, kalau kamu penuhi pun tidak akan pernah selesainya.
-GB
Banyak hal harusnya bisa diungkapkan bisa juga tidak, tapi apalah daya
Gak semua harus diketahui, buat apa?
Malah menambah beban kan !
Cukup hal sederhana, hal kecil yang dianggap remeh juga bisa membuatmu bahagia
Dah cukup
Selesai
Semakin dikit yang km jelaskan, maka semakin dikit pula yang akan dibuktikan. Semakin sedikit yang kt tampilkan ke dunia, semakin ringan hati kita.
Tidak semua hal membutuhkan penonton
Beberapa momen terbaik adalah momen-momen tenang yang tidak diketahui orang lain.
Kedamaian menyukai privasi, juga kebahagiaan tumbuh ditempat yang minim kebisingang.
Jangan jadi orang yang harus bahagia dulu untuk bisa bersyukur, atau harus susah dulu untuk mengingat Tuhan