berbicara hati ke hati dengan diri sendiri di pagi jelang siang yang terik
Bagaimana aku merangkai kata untuk tidak diucapkan tetapi disimpan lalu dilupakan? Bagaimana kau begitu cepat meninggalkan dan memutuskan asa yang sempat diharapkan? Apa memang aku yang terlalu, padahal kau telah berlalu?* Apa memang aku yang berlebih pada kau yang tak punya arti? Lalu aku mencari-cari, pada kau yang mungkin saja mati. Pergi dan semoga saja tak kembali.
Begitu isi kepalamu dibuat riuh dan rusuh. Pikiran, doa bercampur dengan kesedihan, juga kelegaan karena tahu kau memang tak pernah bisa hidup dengan yang lain. Kali ini kau diam, menunggu, entah pada apa. Barangkali petanda dari alam, deus ex natura. Natura naturans, agar menuntunmu tetap pada jalan yang punya ujung.
*** Kau hanya ketakutan menjadi sendiri. Namun, seringkali kau menikmatinya. Berulang-ulang. Coba lihat, sudah berapa siklus macam itu yang kamu jalani Hingga akhirnya kamu berakhir sendiri. Dan sepi adalah teman terbaik yang kamu punya. Karena sunyi hanya tepat bersama sepi. Dan sepi hanya mungkin lekat dengan sendiri.
***
Pondok Indah 31/3/2015, 11.36A hanya fiksi jangan diambil hati
(*) dari kaos @yajugaya











