mari merekam jejak selama 20 tahun 7 bulan 15 hari
Hari terakhir riset Sang Hyang Dedari, setelah pagi dihabiskan berbincang dengan Niang-nya Mbak Saras, siang berangkat dengan Bli Sugi dan Andrea, seorang ahli Jawa Kuna dan Sansekerta lulusan Leiden, kuncir cepolnya selalu jadi pengingat rupa dirinya, Mbak Praychita dan tentunya Mbak Saras. Berangkat kurang lebih dua jam ke Karangasem, melewati jalan yang lurus, menanjak, hingga berkelok. Perjalanan diisi penuh dengan obrolan, tentang apa saja. Sesampainya di Karangasem, mampr ke Pura di pinggiran jalan, candidasa jika tak salah ingat, pura-nya memapas tebing, banyak monyet, dan orang yang sembahyang tampaknya pejalan yang lewat dan sengaja berhenti untuk hening cipta sejenak. Entah apa yang disaksikan saat itu, nuansa intim pada pencipta, sesuatu yang tak diketahui lagi ditakuti kental terasa. Hingga, perlahan, bunga yang terhampar ikut diambil dan diletakkan di telinga. Tangan turut mengatup dan dilekatkan depan muka. Diam kian takzim, pikiran sesaat kosong. Dan entah apa yang diminta, saya merasa tenang.
Langkah dilanjutkan, setelah melewati Puri Karangasem, kendaraan terhenti di Taman Ujung Karangasem. Bangunan megah yang sudah diperbaharui berulang kali. Pohon kamboja berjejer dengan jarak yang telah diperhitungkan, terlihat arca Sarasvati sendirian di tengah kolam, berdiri di atas angsa. Kesempatan itu sudah semestinya diisi dengan berjalan mengelilingi seluruh kompleks taman, hingga naik ke atas, disosor soang, lalu berhenti sejenak di warung membeli pisang dan air mineral. Kembali berjalan, melewati altar, dan mendengar Gunung Agung di kejauhan. Kembali turun ke bawah, duduk di pinggir kolam sembari makan nasi campur. Tampak Anggara, seorang fotografer muda berbakat yang seru diajak berbincang.
Dan, membantu Andrea mendapatkan nomor kontak Gadis Bali manis yang ia suka. Menghibur sekali. Lalu, jalan arah pulang, tapi berhenti sebentar di pantai sepanjang jalan Karangasem, semeja dengan Adrian Vickers, pengamat Bali-Indonesia yang aktif sekali menulis buku. Juga ngobrol dengan teman-temannya Anggara, sineas dokumenter yang bercerita proyeknya tentang Wayang Potehi.
Dan, kembali ke Sanur, senja di sudut bangunan gaya art-deco minimalis, dengan kopi susu dingin.
Malamnya, bergegas dari Denpasar, menyusuri jalan terjal, penuh dengan tikungan, melewati Negara? arah Gilimanuk.
Pagi pun tiba, dua puluh, quite a journey.
Menyusuri pantai utara Jawa, melewati Pati, dan akhirnya bertemu Ibu Petani Penjaga Kaki Gunung Kendheng di Rembang. Pertemuan itu salah satu yang jadi catatan lekang di hidup saya. Bagian untuknya akan diceritakan nanti. Karena satu pertemuan itu, saya sadar, diam bukan pilihan. Panjang Umur Perlawanan, Ibu.