a Shoutout to Our First Wefie..
Ibuku adalah wanita biasa. Wanita yang cerewet, bawel, suka marah – marah, suka diskon, suka nawar, dan sifat – sifat umum lain yang dimiliki para ibu – ibu pada umumnya. Hanya satu hal yang membuatnya berbeda dari wanita – wanita lain, adalah karena dialah Ibuku. Wanita yang mengandungku selama sekian bulan, yang rela menahan sakitnya operasi usus buntu saat mengandungku, yang melahirkanku, yang mendidikku hingga bisa menjadi diriku, yang selalu mendoakanku, dan masih banyak lagi yang tidak mungkin kusebutkan satu per satu. Begitu juga dengan Ibumu.
Ibuku, yang rela menahan ego nya demi kami, buah hatinya. Selama masa pertumbuhan kami, aku jarang melihatnya memanjakan diri. Seperti berbelanja untuk keperluannya sendiri. Kalau kamu perempuan, kamu pasti tahu betapa sulitnya menahan ego untuk berbelanja, ya kan? Pakaian, make up, skincare, dan keperluan lain yang seringkali membuat kami, para perempuan gelap mata ketika berbelanja. Aku tidak melihat itu dalam dirinya, Ibuku.
Satu nasihat kecil yang selalu kuingat dari Ibuku, adalah bahwa uang bukanlah segalanya. Bahwa aku tetap dapat hidup dengan baik walau dengan uang yang seadanya. Bahwa aku tidak perlu menghamburkan uang untuk menunjukkan eksistensi diriku. Bahwa banyak hal baik yang bisa kita lakukan dengan uang yang ada dari pada hanya digunakan untuk membelanjakan hal – hal yang tidak perlu.
Ibuku yang senantiasa mengajarkan kepada kami bahwa rizki Allah itu luas dan tidak melulu berbicara tentang uang. Aku rasa terlalu rendah jika kita berpikir bahwa rizki itu disamakan dengan uang. Rizki itu tentang kesempatan. Kesempatan mendapatkan uang, kesempatan untuk beribadah, kesempatan untuk bersedekah, kesempatan untuk dipertemukan dengan orang – orang baik atau orang jahat sekalipun.
“Nasihat kecil” yang diucapkan Ibu sangat menyentuh lubuk hatiku. Meluluhkan hati kerasku saat itu. Meluruhkan tingginya ego yang dimiliki oleh remaja labil kala itu. Darinya aku belajar. Untuk bersikap qana’ah dalam menjalankan hidup. Untuk bersikap apa adanya dan hidup dalam kesederhanaan. Untuk terus berbagi dalam kebaikan, sekecil apapun itu. Darinya aku belajar untuk rela berkorban untuk saudara.
My Dear Ibuk, terima kasih karena mengajarkanku kehidupan. Ibu mungkin gak baca ini, tapi semoga Allah menyampaikan rasa cintaku padamu dengan cara yang lain.