“Karma yang paling pedih atas apa yang telah kita perbuat bukanlah yang ditimpakan kepada diri kita sendiri, tetapi karma yang seharusnya untuk kita tapi ditimpakan kepada orang-orang yang kita sayangi”. Selama ini, kalimat itu dengan segar tinggal di pikiranku dan konsepnya selalu berkembang dari waktu ke waktu, sehingga sampai detik ini dia menjadi “ketakutan” yang bersifat egosentris dari diriku sendiri. Ada yang pernah melontarkan perkataan: kita harus siap menerima karma. Tapi, dalam pikiranku sendiri percaya bahwa yang namanya karma pasti datangnya di waktu kita tidak siap, di waktu yang luar biasa tidak tepat bagi kita. Saat-saat krusial, saat-saat dimana semua kartu AS kita habis, dimana kita hanya mengandalkan keberuntungan di situ tapi justru karma yang menyaambut.
Karmaphala adalah buah perbuatan, ibaratnya perbuatan kita adalah tanaman yang pasti tumbuh dan berbuah, dan buahnya pasti akan dipetik. Kalau tanamannya baik, buahnya pasti baik, begitu pula sebaliknya. Bisa dibayangkan, seandainya kita menanam tanaman yang berbuah buruk dan yang memetik buahnya bukanlah kita sendiri, tetapi orang-orang terkasih kita. Bisa bapak, ibu, istri, suami, anak, cucu, atau siapapun yang hati kita condong ke mereka, dan kita dipaksa menyaksikan mereka dihujani karma atas perbuatan kita, padahal mereka tidak tahu menahu tentang apa yang telah kita perbuat.
Aku sendiri tidak bisa membayangkan sakitnya, seandainya ada saat yang paling aku sayangi adalah cucuku kelak, sementara aku masih hidup melihat perkembangannya, dan tiba-tiba dia mendapat karma atas perbuatanku belasan tahun yang lalu, jauh dimana dia belum lahir di dunia. Aku disini tidak berbicara tentang dosa turunan atau apapun konsep tentang itu. Ini semua tentang momen dan cara yang paling sakit, dan cara paling jitu menyakiti manusia adalah dengan cara menyakiti orang yang paling disayangi. Intinya hanya satu, momen yang paling menyakitkan itulah karma yang sebenarnya menimpa kita tapi dengan cara kita dipaksa menyaksikan orang-orang yang kita kasihi tertimpa kesusahan.
Nalar sederhana tentang momen terpedih yang kumaksud itu seperti ini. Aku percaya, seorang anak yang jauh di rantau, kemudian memberi kabar kepada orang tuanya bahwa dia sedang sakit, pasti orang tuanya akan sedih luar biasa karena memang orang tua pasti sayang anaknya, walaupun sakitnya hanya sakit ringan. Kabar dengan untaian kalimat sederhana: aku sakit, sudah bisa meremukkan hati dan melahirkan berjuta kekhawatiran kepada orang tua. Ya, karena orang tua pasti sayang anaknya. Itu sudah insting manusiawi, dimanapun belahan dunianya yang namanya orang tua pasti sayang kepada anaknya, anaknya lah yang nomor satu, dan ingat, kita semua ini adalah anak dari orang tua yang berbeda satu sama lain. Jadi, ada banyak orang tua, dengan versi kesayangannya masng-masing. Maksudnya, saya mungkin adalah kesayang orang tua saya, dan Anda mungkin juga adalah anak kesayangan versi orang tua Anda sendiri. Itu maklum, wajar. Yang tidak wajar adalah ketika dua orang tua yang berlainan saling bertengkar mempertahankan kebenaran anaknya masing-masing. Ya gimana lagi, itu sudah insting manusia, mempertahankan apa yang disayangi. Aku pun juga membanyangkan seandainya kelak anakku kasih kabar bahwa dirinya sakit, sudah pasti kacau hati dan pikiran ku dan berjuta tanya pasti muncul, kebingungan, dan nalar menjadi sumbu pendek. Lalu, bayangkan, kalau si anak bawa kabar bahwa sakitnya si anak sakit level serius, sudah tidak bisa dibayangkan lagi bagaimana kacaunya kondisi perasaan orang tua saat itu.
Seperti itulah skema karma yang salah satunya menjadi sumber ketakutanku selama ini. Aku hanya tidak tega bila dipakasa melihat orang-orang terkasih menerima karma atas perbuatanku. Omong kosong, bila manusia tidak punya rasa takut sama sekali. BUkan berarti aku berpikiran bahwa tidak masalah mendapat karma asalkan karma itu menimpa diri kita sendiri, tapi siapa yang bisa menjamin bahwa karma itu pasti ditimpakan ke kita sendiri? Jawabnya tidak ada yang bisa memastikan seperti itu, karena semua tergantung dari blueprint kehidupan kita pada masa lalu, masa sekarang, dan masa depan yang sudah disiapkan oleh Tuhan. Kita hanya bisa berusaha berperilaku agar jangan sampai kita mendapat karma pada momen yang menyakitkan, entah untuk diri kita sendiri maupun orang-orang yang kita sayangi.