SELESAI?!! dan Masa Bodo!
Hal pertama yang harus saya katakan di sini ialah “selesai” dan “masa bodo”. Selesai urusan hal yang ga penting itu. Masa bodo dengan hal-hal yang lebih ga penting lagi. Gak perlu ada omongan lagi terkait dengan isi pembahasan di luar yang terkait dengan permasalahan yang sudah di bahas di ruang rapat tadi (17/11/’19) karena memang sudah dianggap selesai sepanjang hal-hal yang sudah disepakati, kata si koor segala koor. Saya, entah apapun ingin disebut dan orang lain menyebut, pun nggak akan dan tidak tertarik bahas itu lagi. Namun, di sini saya cuma ingin berbicara alias nulis alias “curhat” alias membahas terkait dengan respon dari sebagian koor-koor itu, karena beberapa omongan mereka sangat mengganjal dan justru kontraproduktif, menurut saya yang amatiran ini. Mengenai hal-hal yang bisa dianggap sebagai membahas sesuatu yang dianggap sudah selesai, saya cuma bilang kalo itu hanya untuk memberi jalan pada inti permasalahan yang ingin saya ungkap.
Pertama, pembahasan kemarin siang, khususnya di bagian akhir ialah ketidaknyamanan para “penggerak”, atau sekarang jadi “koor-koor” bersadarkan pernyataan si koor segala koor dan si bos besar yang sangat responsif dan baperan itu. Atau jika mereka ngga merasa seperti itu, bisa diganti dengan “suara-suara sumbing nan iri hati dari para orang yang tergerak”, sesuatu yang mungkin terdengar menyenangkan bagi mereka. Jika mereka ga merasa senang dengan penyebutan itu, yaaa buat sendiri ajalah biar enak sendiri, menang sendiri, atau merasa menang hehehehe. Balik lagi ke hal yang ingin dibahas, jadi, ketika si koor seluruh bidang itu mulai berbicara tentang adanya omongan miring tentang kelompok yang sudah berganti nama itu, saya memberanikan diri untuk merespon sekaligus menjelaskan isi dari pesan yang, katanya, dia terima dari orang yang sangat sangat sangat dirahasiakan terkait dengan posisi dan kedudukan para koor tersebut (ingat! saya sudah nggak nyebut “penggerak” lagi). Intinya ialah ada keresahan atau kecemburuan atau iri hati, terserah mau pake yang mana, dari para client yang merasa hanya sekedar bawahan yang tidak tau apa-apa dan tidak berperan apa-apa terhadap mereka, para patron, yang memiliki peran besar dengan segala hal yang mereka dapat, kerjakan, dan banggakan itu. Saya sendiri sebagai yang dianggap client tersebut lebih memilih kata “resah” dibanding dua kata kaliannya itu. Sebuah pemilihan kata yang berbeda konsekuensi dengan dua kata lainnya yang saya anggap sangat negatif itu.
Oke, karena masih bagian pertama, dan itu pun belum selesai, kurang lebih saya katakan bahwa secara bahasa kata “penggerak” itu kurang pas dan sangat mengganggu kenyamanan beberapa di antara kami (saya, dia, mereka yang bukan koor-koor). Pemakaian itu memiliki konsekuensi bahwa jika ada penggerak pasti ada yang digerakkan. Lalu siapa yang digerakkan? Jelas, mereka yang digerakkan ialah orang-orang yang di luar penggerak huehehe. Lebih baik memang memakai kata “koor” saja, lebih egaliter, jika memang fungsi dan geraknya hanya mengkoordinasikan saja (itu juga kalo bener-bener sesuai, jika kenyataannya justru seperti ada hierarki “kekuasaan” yaaaaa ya udah hahaha).
Selain itu, distribusi informasi juga saya sebutkan. Hal mengenai informasi sangat penting, menurut saya, karena tanpa mendapatkan hal itu kami semua seperti orang bodoh yang ngga tau apa-apa. Distribusi Informasi di situ bukan tentang semua informasi harus semua didistribusikan saat itu juga ketika koor-koor itu menerimanya. Bukan, bukan itu yang saya maksud Ini lebih kepada soal distribusi informasi yang berkeadilan wkwkwk. Maksudnya jangan ada hegemoni terhadap informasi. Ga semua informasi yang penting, penting banget, ga penting, dan ga penting banget itu harus ditabulasi, diolah, atau dicuap-cuapin dulu oleh para petinggi. Jika memang ada hal yang seharusnya semua orang harus dan bisa langsung tau, yaa langsung disebar aja. Kenapa mesti ditahan atau hal-hal ga penting lainnya. Jika memang sekiranya ada informasi atau hal-hal penting lain yang harus diolah oleh mereka yang katanya dan ngakunya orang-orang berkomitmen, baik secara pikiran, fisik, dan jangka waktu tertentu, yaaa silahkan olah saja. Kalian bahas saja sampai tuntas, dan kalau perlu sampai berbusa deh tuh hehehe. Saya tidak peduli soal itu. Saya hanya peduli tentang kejelasan dan keadilan terkait dengan hal-hal tidak penting yang seharusnya kaum bawah bisa langsung tau.
Taukah kalian bagaimana respon mereka? adakah respon yang menyebalkan? jawabannya itu ada yang sepakat ada yang tidak, ada yang menyebalkan dan tentu ada yang tidak. Beberapa ada yang sepakat terkait dengan pemakaian istilah, meski sebagian yang lain menanggapi dengan penuh emosional kalo pemakaian istilah itu ngga punya maksud apa-apa. Sambil emosi, menurut saya, si bos besar bilang kalo orang-orang yang tergabung di sana itu awalnya orang-orang yang sudah diminta dan mau untuk masuk dalam tim restrukturisasi, kemudian berkembang menjadi seperti sekarang ini dengan penambahan beberapa orang, serta penambahan embel-embel yang memiliki komitmen secara pikiran, fisik dan dalam jangka waktu yang panjang dibanding yang lain. Yaa itu menurut dia, saya pribadi ga mempermasalahkan isi yang disampaikan, hanya saja ga suka dengan sikap responsif dan bapernya itu.
Forum agak memanas, sambil saling melempar pendapat sebagian besar para koor itu nyeletuk dengan mengucap hal-hal yang tidak penting,
“Saya juga ga pengen jadi koor gini, kalo emang bisa ditukar dengan kalian, ya udah tukeran aja”, kata si A.
“Cape jadi koor, saya malah lebih suka tukeran posisi kalo emang kalian pengen”, nyeletuk si B.
“Di sini kita ini volunteer, hanya relawan, ga ada tendensi untuk menguasai. Buat apasih posisi-posisi kayak gini, ga dibayar juga. Kalau emang mau ya udah tukeran posisi aja. Saya lebih senang kalo kayak gitu”, kata si C yang ngomong sambil ngegas.
Loh, beberapa yang “protes” itu bukan mempermasalahkan mereka yang ga dapet posisi lebih tinggi, bukan soal mereka yang mau punya jabatan tinggi, bukan pengen punya titel “koor” atau “penggerak” yang dianggap prestis itu, bukan. Sebagian besar dari para cecurut ini justru ga pengen punya tanggungjawab yang besar, bahkan kalo bisa ga perlu dapet kerjaan tapi tetep bisa dapet fasilitas berupa kasur, ac, meja belajar, listrik, komputer, hingga PES yang tersedia di sana. Pernyataan mereka tentang tukar posisi itu sangat menyebalkan menurut saya. Bukannya fokus pada permasalahan, justru malah membuat masalah baru dengan menganggap kami-kami ini seperti ingin punya posisi tinggi di sana.
Belum lagi ketika pembahasan sedang agak panas, si bos besar yang dengan lantang menyatakan “INI NAMA GRUPNYA SUDAH SAYA GANTI. BUKAN LAGI “PENGGERAK”. Whaaat? Apaansih. Ga jelas banget. Anda ini salah satu yang tertua dan yang dituakan di sini, tapi anda yang sendiri terlihat terlihat kekanak-kanakan saat di forum. Bukannya fokus ke hal yang lagi dibahas, dengan sangat responsif nan kekanak-kanakan justru langsung mengganti dan mengumumkan nama grupnya sudah diganti ke khalayak ramai. Ga penting. Ga jelas. Dasar ga penting dan ga jelas. Yaaa sebenernya saya cuma pengen bilang itu aja soal hal yang mengganjal dari mereka, dari cara berpikir mereka.
* * *
Pada akhirnya, disepakati bahwa kata “penggerak” diganti. Lalu, hal-hal yang terkait dengan mereka-mereka itu harus dilegowokan oleh kami. Ya ga masalah. Dari awal saya ga mempermasalahkan peran mereka yang besar, karena emang saya sendiri malas untuk mengerjakan hal yang besar, dan sebenarnya sudah sedikit ngga betah di sana, meski masih sering ke sana. Dari hal itu saya menyadari sesuatu bahwa terkadap respon kita terhadap sesuatu itu harus benar-benar tenang dan menggunakan pikiran yang jernih. Jangan sampai ketika ada yang mengkritik mengenai A, dan itu merupakan hal yang sepele, justru kita malah merespon dengan berlebihan, apalagi sampai keluar dari konteks pembahasan atau hal yang dikritik oleh orang lain. Ga semua orang yang mengaku bijak akan melakukan hal bijak, ga semua yang tua harus pasti merasa benar dengan segala asam garam pengalamannya, ga semua orang yang berada di atas selalu benar dan selalu merasa mendengarkan dengan baik orang-orang di bawahnya, juga ga semua yang ada di atas akan selalu salah. Hal yang sama juga berlaku untuk yang di bawah, ga semua hal yang dikatakan dan dikerjakan oleh mereka akan selalu salah, juga ga semuanya pasti akan benar. Semua relatif. Karena kerelatifannya itu, justru kita harus selalu membuka mata, kuping, dan hati kecil kita supaya.......................
Makasih.















