Bakar tak banyak bunyi. Namun suka menyimak dalam diam. Mendengarkan percakapan orang yang berkeliling di sekitarnya di perapian/api unggun atau mendengarkan pedagang sate saat menerima pesanannya. Kadang Bakar juga memperhatikan kerja keras chef chef saat membakar ayam atau steak di restoran. Chef - chet tersebut bekerja keras kadang setetes keringat jatuh dari dahinya ke Bakar. Membumbungkan asap yang meluap kemana - mana. Menyimak dan mendengarkan membuat bakar merasa lebih senang.
Kayu seperti penampakannya, kaku dan padat. Kayu selalu diajarkan bahwa dia bisa menjadi apapun yang diingingkan. Diantara kayu - kayu ada yang mewah dan ada yang sederhana. Yang mewah menjadi kerangka rumah atau furnitur. Disusun, dihaluskan, dan dilapisi sedemikian rupa agar berfungsi dan berwarna. Tapi kayu sisa, kecil, lapuk, dan murah memenuhi semua kriteria menjadi kayu sederhana. Kayu sederhana kadang ada di dapur, di restoran steak, di toko surabi, atau di angkringan.
Kayu sederhana paling bahagia jika bertemu Bakar. Kayu mewah paling bersedih jika bertemu Bakar.
Bakar selalu memerhatikan orang lain. Namun lupa bahwa orang - orang pun memerhatikan Bakar. Kadang, kalau bakar beraksi, ia diperhatikan oleh ibu rumah tangga, pedagang sate, koki, atau juga pemadam kebakaran. Kayu adalah salah satunya yang senang memerhatikan Bakar dalam diam dan mungkin tanpa Bakar sadari.
Kayu tidak bertemu Bakar sesering dulu. Sebelum orang menyulut api dengan minyak tanah, lalu dengan gas. Kata Bakar, mereka hanya bertemu dalam keadaan ekstrim sederhana atau mewah. Pendapat Bakar tidak selalu benar pikir Kayu, namun, Kayu senang mendengarkan teori - teori Bakar. Mendengarkan Bakar-Yang-Pendiam bisa beretorika dan bertutur membuat Kayu-Yang-Kaku-Dan-Padat melunak menjadi abu. Sampai - sampai Kayu lupa akan perbedaan elemen diantara mereka berdua.
Seperti hal-nya Kayu bahagia melihat Bakar membara menghabiskan Kayu.