Cerita ke-5
"Ya Allah rahmatilah kami dengan al Qur’an.
Jadikan ia imam kami, cahaya, petunjuk dan rahmat bagi kami.
Ya Allah ingatkanlah kami apa yang kami lupa dan ajarkan bagi kami apa yang kami jahil.
Karuniakanlah kepada kami untuk dapat membacanya sepanjang malamnya dan sepanjang siangnya.
Jadikanlah ia perisai kami.
Wahai Tuhan sekalian alam."
"edan cah gendeng koyo koe iso puji pujian toh cah,hahaha". Lah kamu pikir aku tidak bisa membaca yang seperti itu hah. itu arti dari Khotmil Qur'an yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan entah itu betul atau tidak sesuai atau tidak dengan teks asli Qur'an.
Oh maaf itu bukan merupakan teks dari Al Qur'an melainkan pujian kepada sang Ilahi. Entah siapa yang pertama kali menciptakan kau cari saja sendiri. Pujian merupakan tingkat yang lebih tinggi dari Doa menurutku, oke kesampingkan dahulu semua teori yang kamu punya, aku akan menjelaskan sesuai dengan kemampuanku.
Doa dan Pujian sama sama ditunjukan kepada sang Pencipta namun yang membedakan adalah jika Doa aku melihat seperti hamba yang meminta dengan memaksa. Sedangkan dalam pujian hamba tersebut sudah yakin tentang Tuhannya sehingga tidak meminta dengan memaksa atas dasar berdoa.
Sekali lagi kukatakan itu pendapatku namun jangan kau salah pahamidan jika salah semoga Sang Ilahi memberi hidayah kepada manusia bodoh ini.
"Edan meneh kau mengakui bahwa kau itu bodoh, hahah sudah sejak lama kau baru tau" Iya aku baru tahu belakangan ini bahwa aku bodoh merasa putus asa ketika kejadian tidak sama dengan keinginanku, aku bodoh ketika doa yang ku panjatkan dengan memaksa tidak kunjung dikabulkan, dan aku memang bodoh menganggap . . .ah sudahlah terlalu banyak bersedih pun sudah kategori bodoh.
karna kau mentertawakanku akan kuberi kau satu puisi dengankan baik baik
"hahah baiklah kawan"
Sebelum ada apa apa sudah ada Allah
To Be Continued . . .
















