Biarlah Dia yang menjagaku
Sejak kecil aku selalu di didik untuk menjadi anak yang tangguh dalam mengerjakan sesuatu, mandiri dalam setiap hal, kuat mental, dan tegar hatinya menghadapi apapun.
Hidupku begitu keras untuk seorang anak kecil yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Aku hanyalah anak seorang petani di desa, bukan anak dari keluarga berada. Meskipun begitu aku selalu di didik untuk tidak miskin harga diri.
Jika ingin mendapatkan sesuatu yang kuinginkan, maka aku harus berusaha sendiri untuk mendapatkannya. Bukan karena orang tuaku tidak bisa memberikannya, namun mereka ingin aku menjadi seseorang yang mampu bekerja keras dan sabar.
Terkadang diriku merasa lelah, bosan, sedih, bahkan pernah merasa kecewa. Kenapa aku tidak bisa seperti anak lain? Mereka begitu mudah mendapatkan apa yang diinginkan, sedangkan aku mesti bekerja keras terlebih dahulu. Memeras keringat, membanting tulang, dan menguras air mata. Aku merasa kurang beruntung dibanding anak lain.
Aku merasa tidak ada keadilan untukku. Padahal aku ini masih kecil, anak sekolah dasar yang harusnya dimanja dan disayang. Temanku bahkan sangat disayang orang tuanya, saat dapat juara dia diberi hadiah. Padahal aku adalah juara 1 nya, tapi aku tak dapat apapun. Aku meminta pun tak ada yang kudapat. Mengapa begitu? Apa bedanya aku dengan yang lain?
Saat malam gelap di jalan tengah persawahan aku meluapkan kesedihanku, aku menangis, sesekali berteriak melepaskan amarah dalam hati, menatap langit gelap, dan kutanyakan semua pada-Nya. Kenapa Ya Rabb? Aku ini masih sangat kecil, aku ingin seperti anak lain. Kenapa begitu sulit hidupku ini. Apa salahku Ya Rabb?
Badanku sangat lelah bekerja setiap hari di sawah dan ladang. Tubuhku ini kecil tapi pekerjaanku begitu berat. Sampai banyak orang mengenalku, mereka terkagum akan rajinnya diriku, anak pekerja keras, selalu membantu orang tua. Banyak orang lain memujiku, menyayangiku, dan membanggakan diriku. Tapi, kenapa bukan orang tuaku yang seperti itu. Orang tuaku selalu menganggap hal itu sangatlah biasa, walaupun aku masih kecil.
Tiap hari aku mandi keringat, bergelut dengan lumpur, berada di bawah terik matahari, dan mengerahkan seluruh tenaga untuk menyelesaikan pekerjaan. Saat senja mulai hilang baru aku kembali pulang. Seluruh tubuhku rasanya sangat lelah hingga muncul bunyi "krek krek kletek". Padahal aku masih punya tanggungan lain yaitu belajar.
Menurutku aku diperlakukan seperti seorang anak laki-laki, walaupun pada kenyataannya aku adalah anak perempuan. Hidup keras, tidak boleh menangis, tidak boleh main, tidak boleh sering bertemu teman, dan tidak boleh mengeluh. Setiap teman datang ke rumah, selalu saja orang tuaku memberikan pekerjaan. Sehingga temanku harus menunggu lama bahkan sampai terkadang mereka pulang tidak jadi bermain denganku. Untuk seorang anak kecil sepertiku. Itu sangat menyakitkan dan menyedihkan.
Sekarang aku sudah besar, aku mulai hijrah tempat untuk menimba ilmu. Kini aku harus hidup sendiri, berkelana di luar kota. Aku harus mandiri di atas kakiku sendiri. Semua keputusan ada padaku, apapun yang akan kulakukan tidak ada yang melarang. Kini aku bebas tidak terkekang.
Dan akhirnya kini kusadari mengapa saat kecil aku diperlakukan seperti itu. Ya, karena hidup ini keras sekali. Aku merasakannya sekarang, jika tidak bisa kerja keras maka keinginan tidak akan bisa terwujud. Aku menyadari dulu adalah cara orang tuaku menguatkanku, membimbingku, dan melindungiku dari kerasnya kehidupan di masa depan. Mereka telah membekaliku dengan kekuatan yang tidak semua anak mampu mendapatkannya.
Sungguh baru kusadari mereka sangat mencintaiku, menyayangiku, memikirkan masa depanku, dan melindungiku. Aku rindu saat-saat itu datang kembali. Aku rindu hidup bersama mereka kembali. Aku rindu dinasehati seperti dulu lagi. Kini saat aku di kota orang sendirian, baru kurasakan indahnya masa itu.
Kini biarlah Dia yang menjaga raga dan hatiku. Meskipun kini jauh dari keluarga, namun hidupku mampu kujalani dengan baik. Semua karena bekal orang tua sejak kecil dan karena Dia selalu menguatkan diri ini. Terima kasih ayah ibu telah menyayangiku sepenuh hati. Aku tidak akan mampu membalas semua jasa kalian, setiap cinta yang tulus, setiap tangis kalian, dan setiap bekal hidup yang kalian berikan. Hanya Dia yang mampu membalasnya dan biarlah Dia yang membalas setiap kebaikan mereka.
Biarlah Dia yang menjagaku, menunjukkan jalan baik yang harus kutempuh, dan menguatkan setiap langkahku. Meski berat dan susah, namun aku sudah terbiasa.
- LanjariKu













