Menikah; Kemana-mana bisa berdua???
Nikah. Sebuah kata dasar yang lagi nge-trend dan digandrungi banyak kaula muda di jagat raya ini. Sebuah kata yang menggambarkan ikatan suci nan halal antara dua insan manusia berbeda jenis bersama keluarganya.
Ada yang bilang, jika sudah matang, sudah siap, daripada dosa, lebih baik menikah. Tak sedikit yang beranggapan bahwa dengan menikah, status tak lagi jomblo atau pun single jadi kemana-mana bisa berdua. Coba kita lihat.
Kata siapa setelah menikah kemana-mana bisa berdua?
Aduhai kau pasti bercanda. Semua hanya ada di benak dan khayalan kau saja, PASTI.
Iya, yang betul adalah berdua kemana-mana setelah menikah itu halal. Hanya itu.
Setelah menikah? Semua biasa saja. Sama saja. Terlebih jika masing-masing memiliki segudang kesibukan. Akan pergi kemana-mana berdua? Belum tentu. Kalau sudah biasa sendiri ya sendiri saja. Coba lihat berapa pasang mereka yang telah menikah kemana-mana bisa berdua, berapa pasang? Aduhai jika dibandingkan kok ya lebih banyak mereka yang mengeluh kemana-mana sendiri. Eits, berdua juga deng, iya sama si debay di perutnya. Ups. Selamat ya tokcer.
Ada yg bilang foto prewed itu tidak baik dilakukan tapi yang bilang begitu apakah juga melakukan foto pascawed? Wong kemana-mana saja (masih) sendiri-sendiri. Kesibukan saja (masih) menumpuk. Agenda-agenda saja tertata rapi dalam kalender kehidupan masing-masing. Mana ada waktu untuk acara foto pascawed. Duh. Mau jalan-jalan berdua juga susah. Masih untung bertemu tiap malam. Itu baru berdua. Tapi kalau kemana-mana berdua? Duh lihat waktu dulu ya *eh. Foto pascawed paling hanya bisa dilakukan di kontrakan atau di kamar. Eits nampaknya itu tak patut untuk disebarluaskan.
Nah yang masih beranggapan mau menikah supaya kemana-mana ada yang nemenin, kemana-mana bisa berdua, at least ga sendirian, coba dipikir ulang. “Berdua kemana-mana setelah menikah itu halal” baru betul.
Yuk. Lurusi niat menikahnya. Apakah menikah hanya untuk berdua kemana-mana dengan yang halal atau tujuan lain yang jauh lebih mulia dari hanya sekadar mencari kehalalan saat pergi berdua dengan si dia; menyempurnakan agama misalnya.
Aduhai, mohon maaf beribu maaf; Tak pantas daku menjelaskan ini itu terkait tujuan mulia sebuah pernikahan. Wong yang nulis saja (saat tulisan ini dibuat) belum menikah. Silakan tanya ustad/ustadzah terdekatmu terkait tujuan mulia sebuah pernikahan. Semoga mendapatkan jalan terbaik menuju ridha sang Illahi ya. By the way, kalau sudah dapat info dan ilmunya boleh lah berbagi. Penulis (alhamdulillah) masih punya dua telinga dan dua mata untuk mendengar juga membaca ilmu yang kau dapat untuk dibagikan. Ditunggu ya!
*sebuah tulisan dari observasi acak di lapangan yang terbatas*
Terima kasih sudah membaca. Silakan diambil manfaatnya, jika ada. Kesalahan boleh dikoreksi dan mohon dimaafkan ya. Namanya juga manusia.