Catatan pertemuan Selasa, 17 Januari 2023
Akhir Januari 2022, Sejawat Merawat (saat itu nama ini bahkan belum tercetus) membagi diri dalam dua kelompok untuk berkumpul di Jogja dan Jakarta (plus seorang dari kami di Freiburg, Jerman). Itu adalah kopdar pertamaku bersama mereka dalam kerangka proyek ini. Aku membawa serta sekotak pie susu, lalu kami berbagi banyak cerita menarik, rencana yang matang atau setengah matang, dan tentu saja makanan enak. Pertemuan ini membuat hatiku bungah sekali, enggak heran aku jadi menangis di dalam pesawat menuju Bandara Ngurah Rai. Selain kerinduan yang belum tuntas dengan Jogja, satu hal yang pasti adalah aku menemukan kenyamanan bersama kawan-kawan dalam "kelompok" baruku ini. Kami bisa bercerita tentang apa saja tanpa penghakiman apapun (ya di-ece gemes sedikit enggak apa-apa lah). Rasanya seperti diterima sahabat lama.
Satu tahun kemudian, aku telah menjalani kehidupan selama empat bulan di London. Kota yang penuhnya membuatku kewalahan, abu-abu, dan dingin. Tentu saja, aku luar biasa bersyukur bisa berada di sini, memahami bagaimana aku memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh. Akan tetapi, bukan berarti aku tidak boleh bilang bahwa aku capek, bukan? Penyesuaian diri kembali ke ritme kehidupan akademik, perbedaan kultur (ini bisa jadi sangat spesifik dalam hal-hal terkecil sekalipun), perbedaan cuaca & iklim, pengukuran atas kemampuan diri, rasa sepi, dan hal-hal lainnya merupakan kombinasi tokcer untuk membuatku sering bertanya, "Sakjane kowe ki meh ngopo neng kene?"
Aku tidak banyak bercerita secara detail tentang kehidupan S2-ku, sesederhana karena: 1) aku merasa tidak perlu membebani orang lain dengan ceritaku, 2) keluhanku bisa jadi berputar di situ-situ saja, 3) mungkin aku memang cupu saja dan semua ini seharusnya bukanlah masalah yang berarti.
Aku bersyukur dikelilingi kawan-kawan Sejawat Merawat yang selalu belajar, kalau tidak bisa dibilang mahir, menggunakan inderanya. Kami terpisah jarak belasan ribu kilometer dan pertemuan virtual ini membuatku menitikkan air mata atas reaksi mereka pada cerita kelelahanku yang itu-itu saja. Kawan-kawanku mendengarkan ceritaku dengan seksama, menatap ke layar dengan sungguh-sungguh (walaupun aku harus mematikan kamera karena glitch yang terus-terusan datang), dan mengucapkan, menuliskan, kalimat-kalimat baik. Mereka meyakinkanku bahwa nilaiku tidak hanya ditentukan oleh satu-dua hal, apalagi angka-angka. Bahwa masing-masing hidup kita terdiri atas spektrum yang kompleks, bahkan dinamis, sehingga nilai kita sesungguhnya didapatkan atas pengamatan yang cermat dan seksama. Seketika ragam perasaan dan pikiran yang sebelumnya kuanggap kurang valid atau sepele menjadi sesuatu yang penting untuk diutarakan dan dibagi. Aku seolah diingatkan lagi untuk apa perjalanan ini dimulai. Aku dan perasaanku merasa dihargai, dan lebih-lebih lagi, dirawat.
Seiring waktu berjalan, aku makin belajar bahwa aku tidak akan pernah mampu hidup sendiri. Maka dari itu, memiliki kawan-kawan yang penuh empati dan kasih yang besar adalah suatu anugerah.
Kata para orang tua, nama adalah doa. Nama "Sejawat Merawat" kami pilih sebab harapan itu akan menjelma dirinya sebagai sesuatu yang secara sadar, hingga akhirnya tak sadar, kami upayakan. Kami menghimpun diri sembari berupaya menjadi rekan yang baik demi memelihara satu sama lain. Sebab ide-ide baik soal tanah, pangan, kebun, solidaritas, kasih, dapat tumbuh subur jika dirawat dengan baik, pertama-tama melalui perawatan agensi yang hendak mengusahakannya.
Namun, ini bukan berarti bahwa hanya orang-orang yang sudah "subur" saja yang boleh berupaya. Justru, kenyataan dimana ada beberapa orang yang bisa mengusahakan kesuburan diri dan pikiran ketika banyak lainnya tidak mampu melakukannya dapat menjadi titik pijak untuk berefleksi: mengapa kita tidak tumbuh subur bersamaan? Bagaimana cara merentangkan tangan kita untuk merangkul satu sama lain? Bagaimana cara yang tepat untuk menumbuh-suburkan diri dan sesama? Apa itu perawatan, dan mengapa ia penting?
Bagiku, kerja-kerja perawatan adalah esensial. Ia membuatku menyadari bahwa aku tidak bisa melakukan semua ini sendiri, sekaligus menegaskan kekuatan yang ternyata juga kumiliki untuk memberi kembali. Mungkin perasaan ini sama seperti saat makan masakan favorit buatan mamaku. Masakan mama lezat dan mengenyangkanku, sekaligus menyehatkan dan memberiku energi untuk menjalani hari, untuk mengusahakan hal-hal yang kupercayai. Lewat masakannya, mama merawatku untuk merawat diriku sehingga aku mampu merawat sekitar, dan akhirnya, secara langsung-tak langsung, merawat mamaku. Bahkan pujian kecil atas nikmat masakannya seringkali masih membuat dia tersipu-sipu.
Jika ditilik dengan teliti, upaya merawat sesama sesungguhnya juga merupakan upaya merawat diri sendiri. Ia resiprokal, timbal balik, kembali ke titik semula; membuat kita tak sadar bahwa kita sedang mengerjakan suatu lingkaran penuh bersama lainnya. Oleh karenanya, kawan-kawan Sejawat Merawat, terima kasih, ya. Mari kita putar lagi garis-garis lingkaran yang selalu mengantar kita kembali ke awal.