Entah mengapa, belakangan ini hari hanya berlalu sebagai hari, doa hanya melantun sebagai doa, angin hanya berhembus sebagai angin, tak ada makna, tak ada cerita. Setiap malam berganti hari, hari berganti malam tak lebih dari sebatas rutinitas. Aku merasa, aku kehilangan arah, aku kehilangan harapan meski aku tahu ada sebuah mimpi tersimpan di hati kecil ini. Aku kaku dalam menulis, aku kaku dalam menuangkan rasa. Aku terjerat komplikasi batin antara rasa dan logikaku seorang.
Berulang kali aku mengingatkan diri yang letih ini mengenai perjalanan yang sudah kita tempuh jauh berbulan - bulan. Jangan menyerah, Aku memohon, pintaku suatu ketika. Namun, aku rasa, jiwa ini sudah terlalu lelah untuk mendengar, terlalu letih untuk berusaha, terlalu banyak kecewa untuk memulai. Dan aku tahu betul, ini bukan jiwaku. Entah ke mana jiwaku yang sebenarnya, aku ingin ia kembali ke dalam urat nadiku.
Suatu pagi aku mengira jiwaku yang hilang, ia tidak benar - benar hilang. Ia hanya berdiam diri di Yogyakarta, enggan untuk kembali, enggan untuk menerima kenyataan bahwa Yogyakarta tidak pantas untuk kita. Aku mengira pula bahwa sebagian jiwaku tertinggal di Surabaya dan dengan melantarkan kota itu, aku tidak bisa kembali ke jiwaku dengan utuh. Berhari - hari aku merenung, mencari sebuah jawaban yang cukup membuatku tenang ke mana ia pergi, ke mana ia singgah dan berteduh. Aku memeluk resah akan kesunyian yang tertimbun dan mendarah daging dalam sukmaku.
Pada malam di hari yang sama, aku memohon kepada Tuhan, mungkin dengan aku kembali menulis tentangnya, mungkin dengan aku mengenangnya kembali, aku akan kembali bersama jiwaku yang telah pergi.
Aku selalu berpikir bahwa jiwaku yang pergi bersamanya pada akhirnya akan kembali lagi kepadaku, hanya saja aku salah. Sebagian dari napasku, singgah bersamanya di Yogyakarta, merajut mimpi dan melayang bersama melukiskan cerita yang tak seorangpun siap menahan sakitnya. Aku selalu berpikir bahwa perjalanan aku dan dia telah berhenti, jauh, jauh sebelum diriku hilang. Namun terlepas dari itu semua, aku percaya, Tuan, aku percaya betul akan kuasa Semesta.
Selagi logikaku berkata bahwa perjalanan aku dan dia telah usai, selagi hatiku berkata bahwa perasaan sakit hati aku terhadap dia telah sembuh, aku lupa, aku lupa ia juga berdoa kepada Semesta dan sombongnya diri ini, tidak pernah mengira di sebrang sana, ia pula mendoakan diriku.
Sebagian dari jiwaku hilang, benar - benar tenggelam bersamanya. Dan cara yang paling mudah untuk merasakannya menjadi utuh lagi, dengan mengenang perjalanan bersamanya, setiap persimpangan yang terlalu banyak sampai kita lupa untuk menikmatinya.
Kenangan selalu meninggalkan segenggam perasaan yang takkan pernah pudar meski ratusan purnama telah berlalu, begitu pula kenangan bersamanya.
Teruntuk diriku yang dipeluk nyaman bersamaan dengan kabut napasnya, kembalilah, pulang. Tempat kita bukan lagi bersamanya. Cukup pula untuk kamu berandai akan kembali ke dalam pelukannya. Kau tidak pernah mengerti seberapa besar Semesta menyayanginya.
Mimpi, mungkin itu yang membuat hidup berjalan dan pohon purba bertahan. - Kata Puan.