PERKARA NAIK GUNUNG . Sungguh, buat yang perutnya one pack, even yang one-BIG-pack, naik gunung itu PR banget. Seandainya jalur pendakian sebuah gunung dikonversi menjadi satuan anak tangga, kira-kira bisa jadi berapa? Plis, jangan ngomongin rumah tangga, anak tangga aja, ya, plis banget. Nah, itung deh. . Tapi kenapa orang-orang pada pengen ke sana? Gausah sebut gunung mana dah, semua gunung daku yakin tahun baru ini pasti rame, dan pasti penuh sampah. *eh* . Sungguh, riyak itu bisa terjadi di mana saja, bahkan di sini, di instagram kesayangan kita ini. *udah ngaku aja* . Barangkali selain riyak, ada yang pengen membuang sesuatu. Plis, kenanganmu aja yang dibuang, sampahnya tolong bawa pulang. (lagi) *ehe* . Terus udah siap belum sama kondisi di sana? Ya kalau hujan doang, kecil mah ya. Ngapelin pacar hujan-hujanan aja berangkat kok, ini gunung doang. Enteng lah ya. Tapi tiati ya, petir-petir kenangan kalian, apalagi petir yang beneran itu yang harus diwaspadai. Gausah nekat naik gunung kalau cuacanya buruk, apalagi cuma buat gaya-gayaan dengan perlengkapan seadanya. Inget, itu gunung, bukan set syuting film Thor. Lah daripada bikin repot BASARNAS. *ehehe* . Terus kalau udah sampai atas mau ngapain? Oh, tentu, jeprat-jepret-jeprat-jepret. Ah, apalah jeprat-jepret, dikata ini jaman tustel sama kodak? SLR dong, atau GoPro, hari gini kok masih kodak, pwih. Biar selfienya makin mantap, siapa tahu besok nyaleg, kan udah 20 megapixel tuh gambar mukanya. *EHE* . BTW, udah dulu ya ceritanya, daku mau packing. Gak kok, gak ke gunung, tapi ke pantai, mau melarung kenangan. Solo, 2016 @30haribercerita #30haribercerita #30hbc1701 #kemanahore #semogacerita #narasibulanmerah