Aku dan Ketakutanku
Hari ini sungguh melelahkan perasaan dan pikiran.
Lihat, bahkan kalimat pertama tulisan ini dimulai dengan sebuah keluhan. Benarlah sebuah pertanda bahwa diri ini sedang berada pada level amat kurang bersyukur dan perlu meningkatkan kualitas pendekatan kepada-Nya.
Sebelumnya, aku tidak ingin melakukan pembenaran bahwa perempuan yang sedang hamil memiliki gejolak emosi yang tidak stabil. Setiap orang harusnya mampu mengendalikan emosi dan mood-nya, meski pada ibu hamil maupun perempuan yang sedang PMS sekalipun. Dalam Islam, adab-adab mengendalikan gejolak emosi ini telah diatur dengan jelas. Jadi tidak ada alasan mengatasnamakan ini karena aku sedang hamil, pengaruh hormon, atau sebagainya.
Namun sayangnya, aku memang sedang melankolis sekali belakangan ini. Dan tampaknya menjadi semakin parah dalam beberapa hari ini.
Seperti sebelum-sebelumnya, aku selalu merasa lega setiap kali airmataku mengalir deras. Semacam perasaan bahwa akhirnya aku bisa melepaskan emosi ini dalam bentuk yang paling lembut: airmata. Airmata tidak akan menyakiti siapa pun. Apalagi jika kita mampu menumpahkannya diam-diam, tanpa ada seorang pun yang tahu momen itu. Untuk kali ini, biarlah sesekali kutuliskan karena momen itu telah berlalu. Melegakan.
Dalam pelampiasan tangisku, aku memikirkan banyak hal. Terutama mengenai aku dan ketakutan yang bersemayam di dalam kepalaku. Aku takut jika aku mengambil keputusan X maka hasilnya akan Y. Aku takut jika aku telah merencanakan Y lalu yang terjadi justru Z. Aku takut. Takut sekali. Hingga sesak dan kehabisan kata, lalu tumpah menjadi airmata.
Sejenak aku mengambil napas panjang. Membuka mata. Mengelus perutku yang permukaan kulitnya semakin padat dan kencang terasa. Aku bahkan takut jika ketakutanku menakutinya. Aku takut jika kesedihanku turut membuatnya bersedih. Bukankah ia yang menyatu dalam ragaku adalah yang paling dapat merasakan emosiku saat ini?
Allah. Allah. Allah.
Mengapa aku merasa takut padahal ada Dia yang menjamin kehidupanku. Mengapa aku merasa takut padahal Dia tak pernah mengabaikan hamba-Nya. Mengapa aku merasa takut padahal Dia Sang Maha berada sedemikian dekat denganku.
Barangkali, inikah pertanda imanku sedang melemah? Inikah ketakutan yang Dia hadirkan agar aku kembali mengingat-Nya lebih sering, lebih dekat, dan lebih dari segala aspek kehidupan di dunia yang menyesakkan ini?
Aku tak memerlukan jawaban. Hatiku telah lebih dahulu menyahut dengan suara yang lirih. Syahdu melantun hingga mengetuk relung jiwa. Hampa. Pantas saja.
Ada Allah.
Yang lebih patut untuk kamu takuti daripada ketakutanmu itu sendiri.
Sebab barangkali kamu bukan sedang dalam ketakutan.
Melainkan jiwamu yang sedang mempertanyakan, "Ke mana perginya iman atas hadirnya Allah, Sang Pemilik dan Maha Pengatur kehidupan?"
***
Rumah, Oktober 2017












