Terpidana dan Proposal Hidupnya
Bukan tugas mudah meyakinkan orang tua kalau kita juga punya rencana hidup sendiri. Hal ini tentu klise dan sudah diceritakan banyak orang. Namun kita tidak akan pernah mengerti akan suatu hal klise sebelum mengalaminya sendiri bukan?
Seringnya seorang anak berselisih pendapat dengan orang tua akan 2 hal; akan kecintaannya terhadap lawan jenis yang dirasa orang tuanya bukan orang yang tepat, atau rencananya akan masa depan yang dirasa orang tua kurang meyakinkan dan belum mantap. Aku pribadi belum sempat mengalami yang pertama, namun untuk yang kedua sepertinya aku bisa menceritakannya sekarang.
**
“Ya, Bapak respek dengan keinginanmu. Apapun itu pokoknya kamu pikir matang - matang terus nanti kamu jelasin proposal hidupmu ke Bapak biar Bapak juga jelas”, tegas Bapak melalui telefon suatu sore. Sebuah telefon yang hadir di tengah-tengah rutinitas olahraga mingguanku. Sebuah telfon yang pada masa – masa itu aku hindari untuk datang. Meskipun itu telfon dari orang tua ke anaknya yang sudah berapa waktu tidak pulang dari kota yang ia pilih untuk mengenyam perguruan tinggi.
Saat itu adalah masa dimana telefon orang tua adalah hal yang aku hindari. “Jahat kamu, itu kan orang tua. Ya iyalah mereka nelfon anaknya wong mereka jarang ketemu”, ujar semua orang yang aku ceritakan mengenai apa yang aku rasakan. Well, mereka benar. Agak tidak sopan bahkan menjurus jahat memang. Namun siapa yang tidak pernah merasakannya? Di tengah – tengah kepala pusing akan tugas akhir yang progressnya tidak terlihat membaik, hanya tiga suku kata “gimana skripsimu le?”, yang bahkan itu datang dari orang tua yang memang ingin tahu, terasa sungguh membuat mood hilang. Atau menyebalkan kalau boleh jujur.
Plus nasihat (dan perintah) untuk mengisi waktu selain mengerjakan skripsi dengan kegiatan bermanfaat. Kursus bahasa misal. Seperti yang selalu dan selalu ditekankan oleh Bapak kepadaku. Ya bukannya aku tidak mau, tapi kalaupun ada yang aku pelajari selama perguruan tinggi, itu adalah apabila sesuatu dilakukan tidak dengan minat dan ikhlas, tidak akan ada hasil yang bisa didapat. Yang sudah kubuktikan sendiri dengan kursus bahasa selama setahun lalu. Proses yang panjang namun sekarang bahkan sudah hilang samasekali apa yang dipelajari. Atau bahkan hanya menempel sesaat saja dan sudah jatahnya untuk mudah hilang.
Setelah berminggu – minggu meyakinkan dengan kalimat “aku belum benar – benar minat”, yang sedikit ditambah intonasi berupa tanda seru, akhirnya kalimat pengakuan akan keinginan sendiri itu muncul juga. Namun disertai kalimat tagihan pula bahwa aku harus menjelaskan secara tatap muka rencana hidup yang aku susun sendiri. Yang dengan kata lain justru menambah pekerjaan rumah lain selain membereskan revisi yang tak kunjung usai datang bertubi.
Oleh karenanya berbekal riset dan bertanya kepada teman yang mengerti akan psikologi, telah disusunlah (di dalam pikiran saja, bukan di atas kertas) rencana hidup yang siap untuk diperjuangkan di hadapan palu hakim yang dipegang Bapak dan diasisteni oleh Ibu. Sampai setelah sidang skripsi akhirnya selesai yang disusul penyakit tipes seminggu, orang tua datang ke kosan untuk menengok anaknya yang keras kepala tidak mau dirawat meskipun positif tipes. Karena tipesnya sudah hampir sembuh, akhirnya bisa menghabiskan waktu secara maksimal dengan orang tua.
Akhirnya di sore yang cerah di jalanan kampus, dengan teh gelas serta cireng di tangan, kami bertiga; aku, Bapak, dan Ibu, duduk di taman depan mesjid Unpad. Dan disanalah sidang proposal hidup dimulai.
“Gimana, sekarang jelasin ke Bapak sama Ibu rencanamu”, ujar Bapak membuka sidang dengan tiga kali ketok palu.
“Ya, jadi gini. Bukannya aku nggak mau langsung S2 kayak yang Bapak Ibuk pengenin, tapi gelar master di ilmu yang aku pengen nggak bisa langsung diambil sekarang”, aku sebagai terpidana menjelaskan.
“Maksudnya gimana le?”, tanya ibu asisten hakim. Baru kali ini ada asisten hakim yang tangannya memegang cireng, bukan palu sidang.
“Jadi, aku punya kepengenan master di bidang ekonomi. Antara Ekonomi Internasional atau Bisnis Internasional. Kalau yang bisnis internasional gelarnya M.B.A. Kan selama iki aku tertariknya ke ekonomi, bukan murni HI”, ujarku membuka penjelasan.
“Emang selama ini kamu belajar apa wae kuliah di HI?”, kejar hakim kepala. Hmm, pertanyaan sulit.
“Ya, poin utamanya di politik internasional memang. Tapi karena aku tertarik sama ekonomi makanya kalau matakuliah pilihanpun aku ngambilnya Hukum Ekonomi Internasional, Bisnis Internasional gitu – gitu. Kan aku juga skripsi ngambil Bisnis Bnternasional. Tentang perbankan malah, baru kali ini ada mahasiswa HI ngambil skripsi tentang bank lho”, jelasku melempar pleidoi.
Hakim kepala dan asisten terdiam. Ini kesempatan kurasa.
“Nah di sisi lain ada namanya rumpun ilmu pengetahuan. Itu aturan Menristekdikti yang ngebagi pengetahuan ke rumpun – rumpun berbeda. Kalau kasusnya ngambil S2, untuk bisa loncat jurusan itu hanya boleh lompat sub-rumpun. Jadi HI boleh ke Kesejahteraan Sosial karena masih sama – sama di rumpun utama, Ilmu Sosial Politik. Tapi HI nggak bisa lompat ke Ekonomi atau Bisnis Internasional karena rumpun utamanya di ilmu Ekonomi bukan Sosial Politik.”
“Trus gimana biar bisa lompat?” tanya Ayah—sang Hakim Kepala.
“Bisa, syaratnya harus ada pengalaman kerja yang mendukung. Nah itu yang pengen aku kejar. Jadi S2 itu nanti nurut sama profesi yang aku punya. Kan master itu ilmunya teknis jadi biar bisa mendukung ke profesi. Kalau mau sekarang S2 ya palingan sama – sama HI lagi. Aku ndak mau.” Kulihat kedua hakim masih mempertimbangkan. Kuputuskan mengeluarkan amunisi terakhir.
“Lagipula kalau ngambil HI sekarang Cuma bisa jadi dosen atau peneliti karena HI itu ndak ada keahlian spesifiknya selain analisis. Dan aku ndak mau jadi keduanya, ndak ada keinginan samasekali. Kan aku udah sering bilang ke Bapak sama Ibuk.” Pungkasku.
“Harusnya ini berhasil membuatku bebas dari jerat pidana”, batinku seusai mengucapkan kalimat itu.
Kedua hakim saling berpandangan. Kulihat asisten hakim mengangguk tanda setuju. Akhirnya Hakim Kepala akan berbicara. Vonisnya akan membuatku bebas, atau justru pergi dengan borgol di tangan.
“Yasudah le, Bapak Ibuk terima rencanamu”. Demi mendengar itu aku langsung teguk habis sebotol teh karena rasa gembira bercampur nervous.
“Bapak menghargai kamu punya keinginan sendiri. Tapi kamu janji kalau itu juga harus kamu kejar. Habis ini kamu bakal memasuki dunia mencari kerja. Bukan mudah itu. Nanti kamu tahu beratnya gimana. Tapi pokoknya kamu harus kejar cita – citamu itu. Ndak papa, Bapak Ibuk pokoknya dukung kamu terus.”
Sekonyong – konyong kalimat terakhir menyadarkanku dari lamunan hiperbolik akan ruang sidang. Ya, mau seberat apapun nanti masa depan, selama aku punya Bapak Ibu di depanku ini, aku rasa semua akan baik – baik saja.
“Yaudah le ayok pulang, cepetan beliin tiket kereta. Kataunya mau beli di Intomart,” ujar bapak sambil berdiri yang diikuti Ibu yang menelan cireng terakhirnya.
Mereka berjalan dan aku mengikuti di belakang. Meskipun baru waktu – waktu sekarang ini—ketika aku sudah resmi pengangguran, aku mengerti arti kalimat “bukan mudah” itu, kalimat terakhir tadi selalu membuatku merasa nyaman. Aku tahu memang tidak mudah, dan mungkin akan selalu ada kesulitan – kesulitan lain yang tidak pernah aku duga akan datang. Minimal sekarang aku mencoba sesuatu semaksimal mungkin. Paling tidak mengisi waktu menanggur dengan hal yang bermanfaat seperti belajar dasar – dasar ilmu Ekonomi sendiri, mengulang dan mengingat – ingat pelajaran Bahasa Perancis dahulu, dan mengikuti challenge menulis kecil – kecilan ini. Untuk yang terakhir, off the record, selain les Bahasa Perancis dan olahraga, membaca dan menulis adalah hal yang tidak pernah lupa diingatkan ayah untuk selalu dilakukan. Ayah dan Ibu penulis, mereka menulis bukunya masing – masing yang diperuntukkan untuk pendidikan. Aku? Aku juga punya mimpi sendiri ingin menulis apa. Tapi untuk mimpi yang satu itu aku rasa belum siap untuk diceritakan.
“Ayo le cepat nanti keburu kesorean,” ujar Ibu membuyarkan lamunanku. Sepertinya sore itu aku mendapatkan pelajaran hidup baru.
“Ya.”











