Usia berapapun, yang namanya patah hati.. tetap saja patahnya menyakitkan.
24 Oktober 2022
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Japan

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from China
seen from China
seen from United States

seen from Australia

seen from United Kingdom
seen from Mexico
seen from United Kingdom
Usia berapapun, yang namanya patah hati.. tetap saja patahnya menyakitkan.
24 Oktober 2022
kalau orang-orang pergi menjauh, yaudah..
gaperlu kan aku pusingin? karena orang datang dan pergi itu..sudah biasa.
makanya, sekalipun ada orang yang memberi harap..please ingetin aku buat selalu pakai tali pengaman. Biar gabisa terbang tinggi-tinggi, jadinya ga sakit-sakit banget waktu jatuh.
Buat Kamu yang di Sekitarku.
Percaya tidak, kalau cuek itu bukan berarti tidak peduli.
Justru terkadang, cara menunjukan peduliku ya dengan diam ditempat yang mudah di jangkau. Tanpa banyak tanya perihal masalahmu apa, karena aku sedang memberimu ruang untuk diri sendiri.
Karena aku yakin, kamu sendiri pun tahu aku tidak akan pergi jauh kemana-mana. Dan aku yakin, jika kamu sudah siap berbagi maka kamu akan mendatangiku. Kalau tidak, itu artinya kamu ada pilihan lain yang lebih nyaman untuk berbagi. Dan aku? tentu tak apa. Aku pasti mengerti, karena nyaman tak bisa dipaksakan adanya.
Tapi ada kalanya, rasa penasaranku yang bertopeng khawatir terlalu besar. Sehingga mencoba mendekat lebih cepat untuk bertanya tentang hal apa yang membuatmu resah. Mendengarkan seksama agar paham betul kronologi gelisahmu, lalu tidak jarang bersikap superior dengan memberikan beberapa tanggapan sok bijak atau hinaan jenaka untuk sekedar membuatmu tertawa. Tenang, itu hanya ku berlakukan untuk orang-orang tertentu.
Untuk orang asing? mana mungkin. Siapa aku berhak kepo tentang hidupnya? meski rasa kepo sulit dimusnahkan. Hehhe
Di Antara Lima
Ketika yang dua sedang sibuk berbenah, yang dua sibuk bersiap...ada satu yang sibuk bersabar.
Ketika yang dua sedang merapal doa ikhtiar, yang dua lainnya merapal doa syukur...ada satu yang sedang memohon dalam sujud.
Ketika yang dua sedang mengusahakan bahagianya, yang dua lainnya sedang dalam riuh bahagia...ada satu yang sedemikian rupa menjaga bahagianya.
Ketika yang dua mencari penghiburan, yang dua lainnya sudah nyaman berpeluk mesra...ada satu yang membutuhkan pelarian.
Aku adalah dua pertama di antara lima.
Ada saatnya saling melalaikan satu sama lain. Bukan maksud ingin berhenti peduli, hanya saja sedang butuh waktu sendiri. Saling menjauh sesaat, memberi ruang untuk yang lain, juga memberi rehat untuk diri sendiri tentunya.
Di antara lima yang saling abai, akan ada salah satu yang lebih dulu menggumam rindu, akan ada salah satu yang lebih dulu sigap menanggapi, akan ada salah satu yang lebih dulu memeras kisah, akan ada salah satu yang lebih dulu ramai bercerita dan akan ada salah satu yang lebih dulu memohon temu.
Aku, tentu saja yang lebih dulu memohon temu! Biar bisa menuntaskan rindu sambil mendengar kisah-kisah yang mereka punya.
Depok || 17 Desember 2019 - 17:13
Surat di Penghujung Desember
Dear, Nia.
Hmm, aku bukan yang pandai basa-basi. Kuharap kamu memakluminya.
Sebelum jauh membaca isi surat ini, mungkin kamu bertanya-tanya dalam pikiranmu..buat apa aku begini, mungkin juga kamu sedang geli sendiri sekarang, menertawaiku yang agak sedikit konyol menurutmu? hehhe.
Aku hanya ingin menuliskannya. Jadi, kalaupun kamu tidak membacanya sampai habis...setidaknya surat ini pernah ada. Bukannya bicara langsung atau mengirim pesan yang kupilih untuk komunikasi kali ini. Melainkan menuliskannya di sini, di beranda biru kesayangan. Walaupun sudah jarang juga aku singgah ke sini, setidaknya ini rumah buatku. Dan anggap saja aku sedang melatih diri untuk menulis kembali. Jadi seharusnya tidak masalah mau kamu baca atau tidak.
- 27 Desember 2019 -
Hei, ingat tidak kapan kita pertama kenal? Aku lupa juga sih, tapi kucoba cari jejaknya. Ternyata sudah lebih dari lima tahun lalu. Dengan kerandoman kalian yang muncul dan hilang sesuka hati, lima tahun itu..sulit dijabarkan. Kita ini apa? Semoga buatmu, kita bukan sekedar orang asing yang pernah saling sapa ya.
Nia, Aku mau minta maaf.
Maaf...karena pernah merepotkanmu dengan kunjunganku beberapa tahun lalu. Maaf jika ada ekspetasi kalian terhadapku yang tidak sesuai. Maaf...tidak menghabiskan teh manis hangat buatanmu waktu itu, karena kemanisan. Maaf...sudah merepotkanmu lagi untuk mengantarku ke terminal sembari hujan-hujanan.
Maaf...jika pernah membuatmu risih dengan pertanyaan-pertanyaanku yang terlalu ingin tahu banyak tentangnya.
Maaf...jika pernah kekanakan dengan memaksakan pikiranku, yang buat kalian berpikir aku terlalu banyak berburuk sangka.
Maaf...atas sikapku dulu yang pernah sangat ingin dimengerti. Pernah memintamu memihakku daripada dia.
Maaf...kalau pernah membuatmu jengkel karena menganggumu dengan rasa putus asa dan kesalku terhadapnya.
Maaf ya untuk semuanya.
Pernah ada yang bilang, kamu bukan tipe orang yang suka mikirin apapun berlarut-larut dan akan segera lupa nantinya. Sudah jelas buatmu, apa yang sudah lalu biar berlalu, mungkin juga menurutmu hal diatas berlebihan dan bukan hal penting. Ya, silahkan. Setiap orang kan tidak mesti sependapat.
Aku menulis ini terlebih untuk diri sendiri, biar tidak ada lagi yang mengganjal. Aku hanya ingin mencoba lepas dari resah yang tak jelas, tak pasti juga karena apa. Aku hanya sedang mencoba melepaskan rasa sakit dan marah yang tertinggal dan ingin memperbaiki satu persatu yang sekiranya masih belum selesai, menggantung tanpa kejelasan akan pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah terjawab. Kamu..semoga paham.
Dulu kamu pernah bilang, terlepas dari hubunganku dengannya. Kita akan tetap bisa berteman, harus tetap menjaga hubungan meskipun dia tidak ada. Tapi realitanya agak sulit ya. Kamu sama dia itu sama, hobbynya hilang-hilangan. Pergi tanpa pamit dan datang tiba-tiba. Lebih lucunya lagi, kalian selalu memutus akses komunikasi lebih dulu. Waktu itu ku percaya, ada lagi kesamaan kalian, sama-sama keras kepala dan egois :P
Nia, Aku juga mau bilang terima kasih.
Terima kasih..sudah mau berkenalan. Terima kasih sudah mau mendengarkan dan juga membagi cerita-cerita random saat dulu.
Terima kasih...sudah mau menyambutku di kunjungan pertama dan terakhir waktu itu. Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk sekedar piknik singkat. Omong-omong, aku rindu mochinya Sukabumi.
Terima kasih...sudah mau kembali menyapa lagi setelah hilang kontak beberapa kali. Terima kasih sudah mau memberi kabar tentangnya lagi di dua tahun lalu. Terima kasih sudah memberikanku kesempatan untuk kembali menyapanya di dua tahun lalu.
Terima kasih...sudah pernah menjadi teman yang baik. Teman sebaya yang lebih tua tapi malah menuakan orang lain, hahha sial. Terima kasih sudah menjadi si keras kepala yang tidak mudah luluh. Terima kasih sudah meyadarkanku secara tidak langsung.
Terima kasih ya, untuk semuanya.
Terima kasih, sudah mau meyempatkan diri untuk menyapa kembali setelah dua tahun. Seingatku yang ada masalah aku sama Dia, bukan kamu. Tapi kenapa ikutan menghilang juga?. Ah iya..mau gimana juga blood is thicker than water. Dan sejujurnya, sulit juga menepis ingatan tentang dia diantara kehadiranmu. Hehhe..maaf. Oya, besok-besok kurasa kalian tidak perlu menghilang lagi. Sebisa mungkin aku tidak akan menganggu. Atau..anggap saja kali ini aku yang menghilang pergi, meskipun aku tidak pernah kemana-mana.
Kurasa aku harus berhenti menulisnya sampai sini. Agar tidak perlu menyita waktumu lebih lama untuk membacanya. :D
Selamat sore, dari Depok yang sedang gerimis sendu.
tunggu sampai januari habis ya?
atau aku yang harus segera, sebelum desember habis?
Beberapa hari ini sengaja sering mampir, sekadar lewat ataupun menjenguk sebentar.
Dulu ramai, pencahayaan pun masih terang warna-warni. Sekarang cukup sepi dan lampu pijar jadi andalan.
Ada satu hal yang semakin terasa.
Energi positifnya berkurang, sedang krisis rasa rupanya.
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Mampir diam-diam di tiap beranda, seringnya tanpa suara.
Kadang mau masuk juga perlu mengintip dulu depan pintu, sebelum memutuskan untuk menumpang rehat atau cuma mampir sebentar.
Belum bisa betah lama-lama, soalnya takut malah kejebak dan sulit keluar. Takut tenggelam dan susah mengendalikan diri lagi nantinya. Itu sih namanya menyusahkan diri.
Sketsa Rindu
Depok, 26 Desember 2019 || 15:51
sialan!
kenapa selalu datang ditengah malam sih. sedang tertidurpun dipaksa terbangun merasainya. inginku diam-diam saja menikmatinya sambil berdoa agar cepat usai. nyatanya selalu meresahkan dan merepotkan yang lain.
seminggu!
bahkan penawar saja tak mempan. ah, mungkin harus kutemui ahlinya dan mendapatkan yang lebih ampuh.