Sore dengan gerimis dan lagu kesukaan.
Menatap atap bumi yang tengah mengadu perihal lagi-lagi harus dijatuhkan. Jalanan yang penuh genangan sana-sini, bising kendaraan dan klakson memenuhi.
Se-ekor katak di pinggir selokan terlonjak kaget lalu menyeburkan dirinya di genangan coklat nan pekat. Pundak-pundak nan lelah, diselimuti harapan dan ekspektasi masa depan. Membangun mimpi di pagi buta, terkurung dalam kotak-kotak menjulang, asa dan realita sepakat untuk bersama. Merintis angan dalam penatnya tuntutan. Kaki-kaki melangkah pelan dalam remangnya jalanan. Di sini kebanyakan pagi, katanya. Sedikit tak kenal dengan senja dan begitu asing dengan ketenangan malam. Seorang bapak menjajakan koran, menaruh doa sang istri dan anak dalam pelukan. Pakaiannya sedikit basah, gigil tak dihiraukannya tertelan wajah-wajah yang telah menantinya dalam pengharapan. Senja kembali pulang. Dan raut-raut penuh lelah memberikan bumi pertunjukan. Esok masih panjang, secangkir kopi akan tetap jadi teman, satu-dua kali hangatnya teh manis akan menggantikan peran. Berharap hari selanjutnya akan berbeda, meski pada akhirnya tetap sama. Kebanyakan pagi, tak kenal senja dan asing dengan malam. Kita perlu ketenangan. Kita perlu perenungan.
- Alifa











