Aku percaya kamu, lalu runtuh. Aku butuh kamu, lalu sendiri. Aku memperhatikan kamu, lalu terusir.
Lelah, begitu panjang perjalanan hatiku untuk sampai ke tempatmu, tapi lompatan jarak membelah hatimu dengan kasar. Lalu bagaimana aku bisa melangkah kembali dengan awan hujan yang menantiku keluar di depan sana?
Sedang kecup darimu menahanku untuk menjauh. Peluk hangatmu memintaku untuk tinggal, tapi tidak ada lagi siapapun yang tersisa disini. Hanya hati yang tercabik jarak dan waktu, yang menuntunku untuk menantang badai di depan sana, kembali ke peraduanku yang sunyi.
Haruskah aku percaya untuk kembali? Haruskah aku membutuhkanmu kembali? Haruskah aku memperhatikanmu kembali?
Akan kutunggu hatimu tumbuh kembali dari seberang sana. Pada saatnya nanti, jemput aku, peluk dan sayangi aku seperti dulu, dibawah langit parahyangan yang menyelimuti jiwa kita, hujan dan tanpa rahasia.