Mengenal Diri, Mengenal Rasa.
Coba ingat-ingat lagi selama hidup, hal apa yang (terkesan melelahkan bagi orang lain tapi) membuatmu merasa powerful saat melakukannya?
Aku tercenung mendengar pertanyaan Bu Sukma itu. Kemudian, aku berkaca dengan kejadian beberapa waktu belakangan saat stuck dan cenderung stagnan dengan rutinitas yang ada.
Ya, jangan-jangan apa yang kulakukan selama ini hanya sekadar ikut-ikutan tanpa tahu tujuan yang sebenar-benarnya. Apa iya, yang kulakukan hanya mengikuti arus dan mengabaikan tujuan perjalanan yang melibatkan Allah?
Menilik kejadian hari ini. Sedari pagi, aku mengantre di dua bank, selagi menunggu dipanggil CS. Aku mengobrol dengan temanku, Fah. Memang hanya tentang hal-hal keseharian aja sih, tapi bercerita dan mendengarkan sesuatu membuatku feel better. Aku merasa, ya ada orang di dekatku. Siangnya balik sebentar untuk Zuhuran terus janjian makan siang bareng temanku satunya lagi, Ai.
Pertemuan makan siang dengan Ai juga Fah, meski kurang dari 1 jam, rasanya it's such a blessing. Hanya menikmati seporsi kwetiau dan ngobrol pengalaman kita bertiga tentang dental care. Mungkin terdengar bagi orang lain, "Apaan sih, kayak gak ada bahasan lain aja?" Namun bagi kami bertiga, itu adalah pengetahuan baru. Pengalaman yang belum tentu masing-masing dari kami juga alami. Dari situ jadi tahu berapa budget yang harus disiapkan untuk perawatan gigi dll. Di parkiran, kami baru sadar, terus celetuk, "Jadi kita ketemu hari ini hanya untuk ngomongin soal gigi?" dan kita tergelak bersama. Momen-momen sederhana yang bisa dibilang langka sih karena tidak bisa bertemu intens juga, apalagi sedang pandemi begini.
Lalu sorenya, selesai nonton film dari senias Indonesia berjudul Unbaedah yang berdurasi 15 menit, tak sadar melihat beberapa menit lalu ada panggilan tak terjawab. Ternyata temanku, Uma. 10 menit menemani Uma jalan selepas turun dari kereta menuju flat-nya—via WA Call. Aku sibuk bercerita mengenai Film Unbaedah yang padahal baru saja beberapa menit lalu aku tonton. Mungkin bagi orang lain terlihat sepele tapi tidak bagiku. Dan bercerita tentang hal sederhana dan ada yang mau mendengarkan kayak begitu bikin mood-ku cenderung netral.
Akhirnya sesaat panggilan itu dimatikan karena Uma telah tiba di flat dan dia mau lanjut beberes juga bebasuhan, aku tersadarkan tentang apa-apa yang aku sukai tapi tidak kusadari selama ini.
Dan melihat fakta kemarin, seharian mood-ku terasa awut-awutan, aku memang tidak bertemu dengan satu pun manusia. Texting (saling berbalas pesan) yang justru lebih sering "terabaikan" jadi tak membuatku lega sekalipun. Mungkin tersebab sudah terasa melelahkan, yang waktu keseharianku sudah tergerus dengan ketik-ketik dengan tangan. Untuk bentuk panggilan, aku tak mau memaksakan siapa pun, sama-sama saat saling luang aja. Begitupun dengan keluargaku, aku lebih sering menunggu dihubungi.
Hal itu berdampak banget bagiku. Kacau. Bakda witir semalam ibuku menghubungi setelah berhari-hari tidak telepon. Dan rasanya hangat sekali ketika mendengar suara beliau. Seperti biasa, hanya untuk mendengarkan curhatannya dan sesekali aku menimpali. Tentu saja aku suka bercerita tentang hal baru, yang terkait dengan keluhan memar yang beliau rasakan, yaitu "trauma fisik tumpul" yang tak sengaja kubaca di utas salah satu mas-mas perawat di Twitter. Lalu ketika hendak beristirahat, perasaanku cenderung lebih stabil dan bye overthinking sementara waktu dan kalau bisa selamanya aja ya please hehe.
Ternyata bertemu, bercerita, dan mendengarkan masih menjadi sesuatu yang bikin semangatku stabil. Lalu, saat ubek-ubek galeri, terlihat foto-foto kegiatan yang aku ikuti. Ah, volunteering is such great thing. Pengen teriak, "Corona kapan hilang dari bumi sih?" Ya, aku tahu bahwa terhubung dengan orang lain adalah bagian dari passion-ku. Hal yang bikin aku berdebar-debar saat melakukannya. Betapapun usai kegiatan bakal tepar sampai rumah, tetap saja menggembirakan sekali.
Kalau dikaitkan dengan tujuan hidup yang tertuang dalam Q.S. Ali Imran ayat 191 dan Al-Isra' ayat 84, bahwa kita diciptakan bukan untuk sesuatu yang sia-sia, pasti ada maksud dan tujuan tertentu. Lalu hubungannya apa? Karena pada dasarnya kita tidak akan bisa dekat termasuk pada diri sendiri apalagi kepada Allah, ketika kita tidak sadar siapa sebenarnya kita, siapa sebenarnya Allah termasuk apa maksud penciptaan-Nya atas diri kita.
Ya sebenarnya mirip dengan laku sehari kita, kita pasti bakal susah banget dekat dengan orang ketika kita tidak kenal-kenal banget sama orangnya. Sebenarnya begitu juga ke diri kita apalagi ke Allah. Hidup dan ibadah hanya seperti formalitas dan pengisi kehidupan semata sembari menanti jadwal antrean kematian. Ya tidak ada seru-serunya. Tidak ada bahagia-bahagianya. Lalu pantas bosan, stuck, bingung mau apa lagi, dan seterusnya.
Berawal dari perjalanan rasa yang harus pelan-pelan kita kenali dan terima lalu ditelusuri bagaimanapun bentuk perasaan itu, entah senang, entah itu sedih, lalu mengembalikan rasa itu kepada Sang Pemilik rasa. Bukan sengaja untuk mengeluh dan kemudian mesti diseimbangkan juga dengan pernyataan syukur kita pada-Nya. Dengan demikian kita tidak lupa bahwa selalu ada kebaikan dan keberkahan yang Allah sisipkan dalam hidup kita sepahit apa pun fase yang sedang berlangsung.
Jadi kita tidak perlu denial dengan perasaan-perasaan yang ada, diterima aja setiap rasa yang Allah hadirkan. Sebab dengan menerima akal kita menjadi "sehat". Saat akal kita sehat, Allah pasti akan memberikan kita solusi tiap kali diterpa masalah. Yang ujung-ujungnya, saat kita bisa mengenal diri, maka kita juga pasti bisa mengenali Allah. Man 3rofa nafsahu, 3rofa robbahu.
Kalau Bu Sukma bilang, "Harus mau kerja keras mengenali dan menerima rasa. Dan jangan pernah membebani siapa pun untuk bertanggung jawab pada hidup dan perasaan kita sendiri." Sudah pasti memang tidak akan selesai dengan sesi konsultasi 1-2 jam. Karena boleh jadi itu awal perjalanan untuk membenahi diri. Mulai belajar asertif, mulai membedakan mana tanggung jawab kita dan mana yang bukan (jangan semua mau diambil alih), mana hal yang bisa dikontrol, dan mana yang tidak.
Sampai sini, ngerasa gak bahwa PR kita banyak sebagai manusia? Hmm. Selama dikerjakan sih, why not untuk hidup yang la haula wa la quwwata illa billah. Bener gak sih? Pasti deh, kebahagiaan itu kita rasakan saat kita benar-benar mengenal Allah. Lah gimana caranya mengenal Allah, kalau mengenal diri sendiri aja belum. Semangat untuk aku dan kalian semua. Kita bisa, bismillah. Oh iya, nanti kapan-kapan aku pengen ngeshare tentang wheel of emotions. Jadi sebenarnya bentuk "emosi" itu banyak banget. Yang mungkin semisal kita kira marah tapi sebenarnya kita sedang kecewa dan seterusnya.
Terima kasih Ya Allah untuk hari ini. Masih bisa bertemu, melihat, bercerita, dan mendengarkan orang-orang terdekat make me feel better. Aku masih akan terus beradaptasi dengan bentuk-bentuk emosi yang ada. Uma, Fah, Ai—kalian hari ini menjadi bagian dari jurnal rasaku. Terima kasih.