Kenangan Motor Sayur
Siang itu langit ibu kota cerah sekali seperti hati gue yang bakal dijemput seseorang yang selama ini gue sayang. Bokap. Ohh bukan, bokap gue lagi sibuk ngurusin burung yang lebih diperhatikannya daripada gue. Polusi yang sulit sekali gue cegah meskipun dengan masker ini yang selalu membuat gue pengap, sama seperti saat gue naik metromini dan harus bersebelahan dengan ketek ibu-ibu yang habis belanja di pasar. Bisa membunuh gue pelan-pelan.
Udah setengah jam gue nunggu Aryo. Laki-laki yang diam-diam gue sukai selama ini. Di bawah pohon rambutan gue nungguin dia. Akhirnya ia datang setelah gue nyaris jenggotan. “Lo lama bangeeettt!” teriak gue saat ia sampai dan memberikan helm ke gue.
“Sorry. Tadi bantuin Ibu dulu. Ya udah ayo naik,” ajaknya sambil menyalakan motor.
Tak disangka, tak dinyana, motor yang ia kendarai ternyata meletat-meletot membuat badan gue bergerak ke kanan ke kiri dengan khusyuknya.
“Lo bisa bawa motor ga sih? Kalau nggak bisa, sini gue aja yang bawa,” tanya gue ke Aryo sambil menggoyangkan badannya. Bukan joget dangdut yang gue lakukan, tapi goyangan yang diakibatkan dari motor Aryo yang mengenaskan.
“Bisa kok, gue jago bawa motor, cuma ini remnya aja yang rada susah”, ujar laki-laki berkaos hitam dengan santai.
Di tengah perjalanan yang panas seperti saat-saat gue harus melihat mantan gue jalan sama pacarnya, motor Aryo makin membuat gue ketakutan.
“Mending gue turun dan naik angkot deh.” gue udah siap-siap meminta ia menepikan motornya tanpa spion ini dan rem yang sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Alias remnya blong!
“Engga usah. kan sebentar lagi sampe rumah Mira. Gue kan emang mau anter lo ke sana.” ia sama sekali enggak menenangkan gue. Gue memukul-mukul punggungnya dengan ganas.
“Awas ya kalo sampe gue kenapa-kenapa,” pekik gue dibalik helm.
Nahas. motor yang gue harapkan bisa mengantarkan gue ke rumah sahabat gue pun mempermalukan gue saat melewati pasar tradisional.
CKIIIIIIIITTTTT. bunyi roda yang direm menggema di telinga gue.
BRAKKKKK. motor yang Aryo kendarai menabrak tukang cendol yang sedang menyeberang, dan dengan sukses kami terjatuh di genangan air dekat penjual ikan basah.
Gue engga kenapa-kenapa, tetapi gue sangat malu karena ditonton sama para ibu-ibu yang sedang berbelanja dan pejalan kaki yang sedang lewat.
“Sorry ya. ini motor emang butut banget.”
“Terus lo kenapa antar gue pake motor ini?” tanya gue yang masih tergeletak cantik di genangan air berbau amis.
“Ya abis gimana lagi. motor gue yang satunya dipake abang gue. tinggal motor ini yang ada di rumah.” Aryo membantu gue bangun dan kami melanjutkan perjalanan dengan sangat hati-hati.
Sesampainya di rumah Mira. Badan gue dan Aryo udah dikerubungin semut eh maksud gue lalat.
“Kalian kenapa?” tanya Mira sewaktu gue sampai di rumahnya.
“Ada tragedi yang tidak diharapkan terjadi, Mir. Gue mau minum dong.” Mira masuk dan membawakan air kobokan bekas ibunya masak.
“Anjir ini air apaan kok asem sepet banget?” air itu terpaksa gue buang dan mengenai sebagian badan Aryo. Ia kebasahan.
“Mira, kok kobokan ibu kamu bawa keluar?” tanya ibu Mirna dari dalam rumah.
Mak, dosa apa gue sama emak bapak gue. Gue cuma bisa tercengang sambil mencoba memuntahkan air kobokan yang mengalir lembut di kerongkongan gue. Entah apa yang terjadi hari ini. Semua kesialan beruntun menimpa gue yang tidak berdaya. Gue harus mandi bunga tujuh rupa biar enggak sial terus-menerus. Namun, di balik itu semua, ada hal yang berkesan, kenangan “motor sayur” Aryo yang enggak akan gue lupakan.
@hujankopisenja @menatapmu
Ps: komedi romance ala ala ceritanya untuk “Writing Project Kolab BnW Club”.
@tumbloggerkita @kitaclubofficial













