Tenggelamnya Penyesalan - Part 2
Teruntuk kekasihku. Dewi segala Dewi.
Kuharap jendela kamarmu sedang tertutup rapat saat surat penuh rinduku ini sampai dihadapanmu.
Masihkah engkau berpikir akan jalan takdir yang tengah digariskan-Nya untuk kita saat ini? Aku masih berharap ini hanya takdir yang benar keliru. Tapi apa mungkin ada takdir yang keliru? Sementara sebab takdir juga yang mempertemukan kita.
Aku muak akan takdir ini, Dewi.
Mengapa harus kita? Mengapa harus sepelik ini? Terhalang karena kepercayaan adat yang mereka yakini, Konyol.
Apapun caranya aku akan tetap bertahan. Tak ada adat yang bisa mengalahkan kita.
Ini mungkin akan menjadi surat terakhirku. Ingatlah pertama kali kita bertemu. Ingatlah bahwa aku sangat mencintaimu.
Setelah besok perang berakhir, rinduku sepenuhnya akan sampai pada pelukmu.
-Panglima perang musuhmu. Kekasihmu, Rama.
****
"Dewiiiii.... mundur."
Teriakan Rama sontak menyadarkan akan lamunan panjangku. Mengingat tentang isi surat yang ia berikan sebelum peperangan konyol ini. Dengan sigap Rama menghadang anak panah yang sedang menuju kearahku. Sebuah anak panah yang dilepaskan oleh salah satu pasukan Desa Suka Kui, desa kelahiran Rama.
"Aaahh..." Rama merintih. Anak panah itu berhasil mengenai lengan kirinya dan mengakibatkan luka sobekan yang cukup besar. Aku segera membalut luka itu dengan kain ikat kepalaku. Berharap kain itu bisa menghentikan darah segar yang mengalir dari lukanya. Aku meringis ketika melihat luka sobek dilengannya. Tetapi Rama menenangkanku dengan senyum manisnya. Meyakinkan bahwa ia baik-baik saja.
Dihadapanku keriuhan semakin menjadi, terlebih ketika Rama sang Panglima Desa Suka Kui tak sengaja terkena panah pasukannya sendiri. Mereka sempat saling menyalahkan.
"sudah.. sudah.. kembalikan fokus kalian mengalahkan pasukan Desa Suka Kene" teriak lantang salah satu tetua desa itu.
Perang merebutkan ladang terbesar hari itu semakin mengerikan. Satu persatu pasukan kedua Desa itu mati berjatuhan. Serangan demi serangan membabi buta. Tak pandang bulu, keserakahan telah membutakan mata.Bahkan telah mematikan hati nurani.
Aku merasakan perang dalam batinku bahkan sebelum perang ini dimulai. Harus siapa yang aku selamatkan? Kumbara, saudaraku atau Rama kekasihku?Belum lagi bayangan suara sorak sorai Ayah menambah kalut pikiran serta hatiku. Harusnya perang ini tak ada. Yaahh, aku harus berusaha untuk menghentikannya.
"Berhentiiiiii..!!!" “Kalian semua bedebah biadab! Berhentii."
Seketika perang terhenti, seluruh masyarakat kedua Desa itu menoleh ke arahku. Begitu juga Rama dan Kumbara.
"Kalian tahu? Keserakahan membutakan akal pikiran kita! Membunuh sesama manusia. Kita serumpun! Terlebih dengan persyaratan konyol yang dibuat sejak dulu."
"Alahh... kau terlalu munafik Dewi! Siapa di dunia ini yang tak ingin menjadi orang terkaya? Kalau kau tak mau, kau bodoh!" teriak Kumbara dengan kemarahan yang memuncak.
"Apa yang kau pikirkan hanyalah harta?! Hati nuranimu sudah mati, hah?!" "Lalu, apa maksud dengan persyaratan antara desa ini? Tak boleh bersama, tak bisa menikah! Aku tahu, bukan hanya aku saja yang telah jatuh hati pada seorang pria asal Desa Suka Kui."
"Dewi, sudahlah nak! Kau terlalu muda untuk memberontak. Itu sudah persyaratan adat turun-temurun antara desa ini, bahwa tak ada satupun pasangan yang akan menikah bila ia jatuh cinta kepada seseorang yang berlainan desa. Antara Desa Suka Kui dan Desa Suka Kene sudah diberikan kesialan yang akan terjadi secara terus menerus jika ada yang melanggar."
Aku tak habis pikir dengan penjelasan tetua Desa Suka Kene. Terlalu konyol! Apa takdir sekejam itu? Bila aku benar-benar menikah dengan Rama kesialan akan terjadi pada mereka? Bodoh! Siapa mereka? Memangnya Tuhan!
Rama menghampiriku. Berusaha menenangkan dan meyakinkan bahwa kami bisa melewati ini. Mempertahankan kisah cinta, dan bertahan apapun yang terjadi. Bila perlu, ia akan membawaku pergi meninggalkan desa ini. Namun, ketika Rama berjalan, seseorang yang berdiri dibarisan belakang telah membidiknya, mengarahkan busur panah tepat ke arah kepalanya. Aku melihat itu, langkahku tak bisa ku hentikan, aku berlari menghampirinya.
"Ramaaaaaa..."
Jeeeeeebb! "Aaaaaaahhh....!" anak panah itu berhasil menembus tepat di jantungku. Aku bisa merasakan aroma tubuh Rama yang mendekapku saat darah mulai mengucur perlahan dari tubuhku membasahi anak panahnya.
"Ak...akuu...men...cinntaim..u rama."
"Tidaaakk! Dewi banguuuunn! Dewiii aku mencintaimuuuu!" teriakan frustasi Rama terdengar. Aku tak pernah tega melihatnya menangis hanya karena aku.
*Aku melihatnya, masih. Namun tak lagi mampu menyentuhnya*
Dengan tatapan mata penuh dendam dan amarah. Rama berbalik meninggalkanku, ia mencari sosok yang telah membunuhku. Kumbara! ia yang sedang memegang busur panah sejak tadi dan masih dalam posisi menarik pegasnya. Seketika Rama mengambil satu anak panah, bersiap membidik Kumbara. Begitupun Kumbara mengarahkan busur panah itu pada Rama.
Keduanya saling melepaskan pegas pada busur panah itu. Anak panah terlepas menuju antara satu sama lain.
Jeeeeebbb!
Tepat sasaran, anak panah milik Rama mengenai jantung Kumbara.
"Kakaaaak, teriakku tapi tak lagi terhiraukan orang-orang." Darah tak berhenti mengalir dari tubuhnya.
Namun saat aku berbalik pada Rama.
Jeeeeeeebbb!
Anak panah salah satu pasukan Desa Suka Kui berhasil mengenai sasarannya. Tepat mengenai punggung Rama yang menenbus ke jantungnya. Seketika Rama runtuh, jatuh dengan darah segar yang mengalir deras. Kedua Tetua adat segera berhambur ke jasad Rama dan Kumbara. Terdengar isak tangis pilu yang bersumber dari suara Ayah. Yang baru menyesal karena sifat keserakahannya, telah merenggut nyawa kedua anak kesayangannya.
****
Aku melihat Rama berjalan ke arahku, meninggalkan kerumunan orang-orang yang mulai menanggalkan panah dan pedangnya. Pada langit bagian timur, Matahari mulai menghilang perlahan. Langit yang menjadi keemasan, pertanda perang yang harus berakhir.
"Lihat kan? tak ada yang menang ataupun kalah dari mereka. Kitalah yang akhirnya menjadi pemenang" ucap Rama dengan senyum yang sama saat pertama kali kami bertemu di bukit Armes.
Aku kini tenggelam dalam dekapnya.
~~~~~~~~
Part 1 telah diposting oleh @rizkamarini : http://rizkamarini.tumblr.com/post/151882862128/tenggelamnya-penyesalan-part-1
Tulisan ini dalam rangka writing project kolab BnW Club. cc: @kitaclubofficial @tumbloggerkita













