Oh, Tuhan, kepalaku rasanya seperti ingin meledak.
Dengan tangan bergetar, aku mengambil botol berwarna oranye yang berisi tablet-tablet putih. Aku menuangkan dua buah ke telapak tanganku, kemudian dengan terburu-buru menelannya. Beberapa saat setelahnya, aku berbaring di atas kasur dan memeluk kedua lututku. Halusinasi bodoh itu kembali menghantuiku setelah hampir 2 tahun tidak muncul. Sial sial sial. Aku menjadi gila hanya karena satu bagian kecil di halaman sepuluh sebuah koran, dan itupun hanya sebuah foto.
Foto seorang wanita yang selalu muncul dalam pikiranku.
Aku perlahan-lahan menuruni jendela kamarku yang berada di lantai kedua. Sayup-sayup, aku masih dapat mendengar teriakan dan cacian kedua orangtuaku di lantai bawah. Malam ini, aku tak mau menjadi korban pemukulan dan pelampiasan kekesalan mereka lagi. Aku harus pergi jauh dari sini.
Saat kakiku akhirnya menapakkan kaki ke tanah yang dingin, aku merasakan udara dingin merambat ke sekujur tubuhku. Aku bebas. Aku akan berumur tujuh belas dalam dua tahun, dan aku tak mau menunggu kedewasaan di tempat semacam neraka itu lagi.
Aku berlari--tak peduli dengan sepatu yang masih tergantung di tasku dan kaki yang telanjang. Aku sudah merencanakan hal ini selama berbulan-bulan agar aku tak lagi merasakan diriku diperbudak, dilecehkan, dan diinjak oleh kedua orangtuaku sendiri.
Lariku terhenti ketika suara menyengat di telingaku muncul kembali. Dengan penglihatan yang mulai kacau, aku meraba-raba udara dan tersandung pada sebuah bangku taman. Sial, umpatku. Hal semacam ini selalu datang setiap kali hal-hal buruk terjadi. Seperti perkelahian orangtuaku misalnya. Entah kenapa, hal itu terkadang memicu kepalaku untuk menjadi kacau dan pikiranku penuh dengan bayang-bayang kabur.
Dan sekarang, hal ini muncul di saat yang kurang tepat.
Aku meringkuk di bangku taman dan mencoba menenangkan diri. Kau tak apa, ucapku pada diri sendiri. Kau bebas sekarang. Tak ada yang perlu ditakutkan.
Saat itu hanya ada lampu taman yang entah mengapa mati tiba-tiba padahal hanya itulah satu-satunya pencahayaan di tempat tersebut. Semilir angin mulai menusuk kulitku. Tidak ada siapa-siapa, tidak ada apa-apa. Pikiranku masih berlari entah kemana. Aku mendudukkan tubuhku di bangku ini.
Kulemparkan pandanganku ke sekitar, dan terhenti ketika samar-samar aku melihat sesosok manusia di balik semak. Dengan kepala yang masih pengar, aku berjalan secara perlahan sembari memperbaiki letak tas sandangku.
"Hallo? Ada orang di sana?"
Ketika sudah mendekati semak tersebut, tiba-tiba cipratan air mengenai wajahku, lalu kuusap perlahan air itu dan tercium bau amis yang tidak biasa.
Aku mengencangkan jaket abu-abu milikku lalu berhenti dan mencari posisi yang pas. Aku memegang pelipisku. Sial, pengar di kepalaku tak kunjung menghilang. Dengan kekuatan yang tersisa, aku memberanikan diri melihat semak tersebut dengan seksama.
Jantungku berhenti berdetak. Sesosok tubuh wanita tergeletak disana, terlihat dingin dan kaku. Aku menelan ludah dan mengeluarkan suara. "Miss, kau tak apa?"
Wanita itu tidak bergerak. Aku mundur selangkah dengan perlahan. Aku mengalihkan pandanganku dan tiba-tiba, aku melihat sebuah wajah di balik kegelapan. Wajah itu menatapku dalam-dalam.
Aku terpaku dan ketika wajah itu mulai berjalan keluar dari kegelapan, aku membalikkan badanku kemudian berlari.
"Mati! Aku bisa mati disini!" Teriakku sambil melirik ke belakang, "Dia mengejarku! Astaga Tuhan bantu aku lolos dari laki-laki ini." Ucapku lagi dengan jantung yang berdetak semakin kencang, sengatan di telinga yang makin menjadi-jadi, dan pandangan yang makin lama semakin kacau.
Tapi tiba-tiba, semuanya hilang dan tubuhku terhempas.
"Ia akan baik-baik saja. Dia harus beristirahat selama sebulan." Ucap seseorang yang samar-samar dapat kudengar. Aku mengerjapkankan kedua mataku berkali-kali. Cahaya langsung menyeruak masuk. Aku menarik napasku. Sakit.
"Kau sudah bangun?" Tanya sebuah suara asing di dekatku. Aku mencoba mencari sumber suara kemudian mendapati seorang suster yang sedang mengecek peralatan disampingku. "Kau sudah tertidur selama hampir dua hari."
Lanjutnya lagi, kemudian berjalan ke arahku. "Aku akan memeriksamu, kemudian kau akan bertemu orangtuamu. Mereka sangat khawatir." Ucapnya tanpa memandang mataku. Aku tahu ia berbohong. Orangtuaku tak pernah khawatir.
Keheningan menyergap dalam waktu yang lama ketika mereka berdua memutuskan untuk masuk ke dalam ruangan ini. Akhirnya, aku memutuskan untuk berbicara duluan. "Bagaimana cara kalian menemukanku?"
"Kami terdata sebagai kedua orangtuamu, Bodoh." Ucap laki-laki tua itu. "Kau merepotkan. Seharusnya kau mati saja di jalan itu."
Wanita yang berwajah sombong yang tengah menyandarkam tubuh ke dinding kemudian menambahkan dengan sengit. "Percuma kau kabur. Kau ini gila, tidak akan ada yang mau percaya dengan ucapanmu."
Aku tersedak akibat menahan amarah. "Oh, ya?" Jawabku singkat, berhasil menahan diri.
"Ya. Ada yang bilang kau berteriak di taman itu bahwa ada yang mengejarmu, padahal tidak ada. Kau ini gila."
Aku diam saat perlahan-lahan ingatan tentang malam itu kembali. Wajah itu...
"Tapi aku benar-benar dikejar."
"Tidak. Itu hanya bayanganmu saja. Sudah kubilang, kau ini gila."
"Ada pembunuhan di sana."
Muncul jeda yang panjang sebelum akhirnya Ibuku menyanggah. "Tidak ada berita apa-apa disana. Tidak ada kehebohan apapun. Kau berbohong."
"Tapi aku melihatnya!" Teriakku frustasi, tak dapat lagi menahan amarah. Mereka berdiri tegak, hendak pergi meninggalkan ruangan.
"Tolong, dengar aku! Aku tidak gila! Aku melihatnya! Kumohon, jangan pergi..." Aku mengemis pada mereka, tapi mereka tak merespon ucapanku.
Ibuku berbalik sejenak, kemudian berkata "kau gila" dan melenggang pergi meninggalkan ruangan.
Aku menghabiskan sisa hidupku setelah itu dengan dokter yang tiap saat berkata bahwa itu hanya bayanganku, kemudian memberikan banyak obat-obatan. Aku awalnya menolak untuk percaya, tapi lambat laun aku mulai menerimanya. Mungkin aku memang gila, dan pada malam itu tak ada hal yang terjadi. Itu hanya bayanganku saja.
Setelah aku mulai menerima semuanya, aku dipindahkan ke Washington DC untuk menjadi tempat tinggalku yang baru, masih dengan obat-obatan yang harus aku minum agar aku tidak gila.
Tapi semua ketenangan itu menghilang ketika seminggu yang lalu aku melihat sebuah kolom di koran berkata "kami akan selalu mengingatmu, Merrie Sue." diikuti dengan sebuah foto seorang wanita muda yang cantik.
Dan wanita itu adalah wanita yang berada di taman pada malam itu.
Setelahnya, obat-obatan tak lagi mempan. Malam-malamku dihiasi dengan aku yang menahan sakitnya kepala, dan tanganku yang bergetar hebat berusaha meraih botol obat dan segelas air putih.
Hal ini masih berlanjut sampai malam ini. Dua hari terakhir aku mengisi hari dengan melakukan riset tentang Merrie Sue. Bayang-bayang tentang malam itu kembali menghantuiku. Terkadang, aku bahkan melihat sekilas bayang wajah yang muncul dari balik kegelapan di beberapa tempat. Ia bahkan muncul di tengah kerumunan ketika aku menyeberang jalan pagi kemarin.
Dan, tadi siang, aku mendatangi keluarganya. Keluarga Merrie Sue.
Mereka bilang ia terakhir kali terlihat menggunakan baju selutut berwarna putih, berjalan menuju tengah kota untuk membeli es krim kesukaannya. Setelah itu tak terdengar kabar darinya lagi, sampai saat ini. Deskripsi yang diberikan keluarganya persis seperti hal yang aku ingat tentang wanita itu. Pada akhirnya, aku hanya mengangguk, menyatakan belasungkawa sedalam-dalamnya, kemudian pamit pulang.
Dan sekarang disinilah aku, memeluk lututku sendiri sambil mempertanyakan hal apalagi yang merupakan kebohongan dalam hidupku. Aku besar dengan mempercayai bahwa aku gila, bahwa kejadian-kejadian itu hanya bayang-bayangku saja.
Tapi sekarang, ada kemungkinan besar bahwa pembunuhan itu benar-benar terjadi. Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Tiba-tiba, terdengar suara krasak krusuk di luar jendela rumahku. Aku meluruskan tubuhku dan bangkit dari posisi awal, dan memberanikan diri berjalan menuju jendela.
"Hallo? Ada orang di sana?"
Aku membuka tirai jendela, dan terhenyak kaget ketika melihat kilasan seseorang berjalan. Aku berlari mengambil pisau dapur dan langsung duduk di sudut kasur sambil memandang ke sekitar.
"Tolong ini tidak nyata. Tidak ada siapa-siapa. Aku aman. Aku aman. Aku aman." Ulangku pada diri sendiri, mencoba untuk tidak panik.
Setelah hampir satu jam tidak ada yang terjadi, aku bernapas lega. Kuletakkan pisau dapur kembali ke tempatnya, kemudian merangkak ke bawah selimut. Makin hari halusinasiku makin menggila, dan aku tidak tahu caranya mengontrolnya.
Aku menutup mataku, ingin melupakan segala kejadian ini selama sejenak. Kepalaku sudah lelah, aku butuh istirahat.
"Seharusnya, aku sudah membunuhmu sejak awal." Ucap sebuah suara, diikuti suara langkah kaki yang berjalan keluar dari kegelapan sudut kamar, "Sepertinya, bayanganmu menjadi nyata, ya?"
Aku membuka mataku. Oh, sialan.
^Writing Project Kolab BnW Club cc: @tumbloggerkita @kitaclubofficial