Dia, wanita berkaos putih di foto ini. Awal perkenalan kami ketika saya datang sebagai siswa baru di ruang kelas 5. Karna sebelumnya sudah pernah berjumpa di persekutuan anak & sekolah minggu (waktu itu saya masih dianter bapak, tapi gak ditungguin, lebih tepatnya ditinggal diam2), dialah yg setia jd teman duduk sebangku saya hingga lulus SD. Dia bertindak sbg penerjemah ketika saya berkomunikasi dg teman2 lainnya yg berbahasa Jawa. Pernah ada hari dimana kami berdua duduk di bawah pohon jati di belakang rumahnya, mencurahkan isi hati kami masing2, dan ternyata kami mengidolakan seorang anak laki2 yg sama. Mungkin itu cinta monyet pertama kami. Ketika SMP kita harus berjauhan. Namun suatu siang ketika saya pulang ke kampung halaman, menyempatkan diri berkunjung ke rumahnya. Saat itu, di tengah kesibukannya menyetrika baju yg begitu banyak, isi hatinya pun kembali tercurah. Berderet nama laki2 yg mungkin teman sekolahnya dan ada juga dr sekolah lain menjadi subjek kisah romantiknya. Dan di bangku SMA-lah hatinya tertuju pada satu titik. Jarang dia bercerita tentang sosok kali ini. Diam dan tenang dia menjalani lika-liku aliran asmara yg terkadang berarus deras. Sekitar 10tahun dia memperjuangkan apa yg diyakini sebagai belahan dr jiwanya. Hingga akhirnya semua perjuangannya tidak sia-sia. Bermuara dlm sebuah janji suci, diberkatilah pernikahannya 6 hari lagi. "Demikian mereka bukan lagi dua melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." (Matius 19 : 6) #prewedding #koncocilik #koncokentel #bestfriend #sister #Jogja (at Graha Sabha Pramana, Universitas Gajah Mada)






