Papua Dalam Pemerintahan Kolonial
Kapitein L.Th. Becking. De eerste controleur van Onderafdeling Boven-Digoel (1926-1927)
Kontrolir pertama (dan komandan militer) Kabupaten Boven-Digoel, Residensi Nugini Selatan (1926-1927), membawahi termasuk Kecamatan Muyu. Pertama kali datang untuk mengurus tahanan politik Pemberontakan PKI 1926 di kamp Tanah Merah.
Sebelum pendirian kamp Tanah Merah, wilayah ini pertama kali kontak dengan dunia luar pada tahun 1907-1915 saat diadakan eksplorasi militer Belanda (Hindia-Timur Belanda) dan saat ramai perburuan burung (terutama Cendrawasih) pada tahun 1914-1926. Kontak yang betul-betul intensif terjadi sejak pendirian kamp tersebut (Schoorl, 1957:231-249).
Dalam bukunya, J.W. Schoorl (1957) menceritakan sejarah dan perkembangan Suku Muyu, terutama yang berhubungan dengan kebudayaan barat (sekolah, gereja, desa, pemerintahan, dan ekonomi). Suku Muyu adalah kelompok kebudayaan/religi yang menempati wilayah paling timur Nugini Belanda (Papua, Indonesia), bersama dengan orang Merauke di sebelah selatannya, dan orang Holandia (Jayapura) di sebelah utara. Bahkan, kelompok Muyu masih dapat ditemukan di wilayah Papua Nugini.
Kedatangan Belanda di Papua dilatarbelakangi oleh demam ekspansi Barat seperti abad ke-15, yang mulai melanda pada abad ke-20. Eksplorasi dilakukan untuk mendapatkan masukan-masukan akan kemungkinan ekonomis dari Pulau Nugini. Pada tahap selanjutnya ketika pemerintahan sudah campurtangan, tujuan Belanda adalah civilizing the natives, terutama dengan menyalurkan subsidi sekolah. Tujuan campurtangan pemerintah lainnya adalah rust en order (ketatatertiban). Tujuan-tujuan tersebut cukup rasional bagi pemerintahan modern, namun dalam pelaksanaannya, tidak jarang dilakukan dengan pemaksaan dan kekerasan (seperti pembakaran rumah di hutan untuk memaksa orang tinggal di desa dan "kewajiban" membangun desa), yang diistilahkan oleh Schoorl sebagai "perintah halus". Selain pemerintah, karya misi juga memiliki tujuan untuk :membawa terang iman kristiani kepada bangsa-bangsa baru".
Bagaimanapun, kedatangan kebudayaan baru di wilayah Boven-Digoel telah mengubah kebudayaan asli. Kedatangan uang barat sedikit-demi-sedikit menggeser keutamaan uang tradisional (ot). Perubahan nilai uang ini mendorong orang bekerja untuk mendapatkan uang barat. Banyak yang bekerja di Merauke, sebagai pembantu rumah tangga orang Belanda, menjadi polisi desa, menjual barang-barang untuk uang barat, bahkan membuka koperasi. Di Sorong Nederlands Nieuw-Guinea Petroleum Maatschappij (NNGPM) mulai beroperasi pada tahun 1935 dan menarik banyak orang kesana, termasuk orang Boven-Digoel. Kebudayaan yang mengalami perubahan lainnya adalah religiusitas, sekolah, dan peradilan.
Sekarang, secara relatif, Papua itu su maju kotanya. Su pintar orangnya (juara olimpiade, universitas, dst). Tapi, bagaimana jika secara keseluruhan?












