Lanjutan kuliah pagi tentang moral di grup keceh sbmatahari yang difasilitasi oleh kak muhammadakhyar Sebelum lanjut ke kuliah selanjutnya, setiap kita perlu menjawab pertanyaan pada studi kasus berikut. "Suatu ketika di Eropa, terbaringlah seorang perempuan yang sedang berada di penghujung ajal. Ia mengidap kanker yang begitu langka. Terdapat satu obat yang para dokter pikir bisa menyelamatkan nyawa perempuan ini. Obat itu diracik dari radium yang baru-baru ini ditemukan oleh seorang ahli obat-obatan di kota yang sama. Obat itu begitu mahal ongkos pembuatannya, tetapi si penemunya justru memberi harga obat itu 10 kali lipat dibanding biaya pembuatannya. Ia harus membayar 200 dollar untuk bahan radium dan menghargai 2000 dollar untuk satu dosis kecil obat itu. Suami perempuan yang sakit tadi, Heinz, pergi ke setiap orang yang ia kenal untuk meminjam uang, tetapi ia hanya bisa mendapatkan pinjaman sebesar 1000 dolar, yang berarti hanya separuh dari harga obat. Ia menyatakan kepada ahli obat bahwa isterinya sedang sekarat, dan meminta ahli tadi untuk menjual lebih murah atau memberikan keringanan dengan menunda pelunasan. Akan tetapi, ahli obat itu menjawab, "tidak, saya telah menemukan obat ini dan saya ingin mendapatkan keuntungan." Hal ini membuat Heinz terdesak dan membobol toko ahli obat-obatan itu dan mencuri obat untuk isterinya. Haruskah Heinz melakukan itu? Apakah itu hal yang benar atau keliru? Mengapa?" (Jawaban bisa ditulis dikertas, dijawab dalam hati atau dikirim ke [email protected] ;p) Nah kita lanjutkan pembicaraan kita tentang moral yah. Piaget (sang penemu "moral") dan juga pengikutnya Kohlberg adalah penganut aliran konstruktivisme. Aliran ini melihat bahwa manusia berkembang lapis per lapis. Jika ia telah memiliki kemampuan tertentu, ia pasti menguasai kemampuan di bawah kemampuannya yang sekarang. Misal, jika seseorang udah gape sama integral pasti perkara perkara macam tambah kurang bagi kali jadi hal enteng. Kohlberg membagi perkembangan moral menjadi tiga level: pra-konvensional, konvensional, & pasca-konvensional. Masing-masing level dibagi menjadi dua tahapan. Biasanya beberapa ilmuwan menyederhanakannya menjadi tahapan 1, 2, 3, 4, 5, & 6. Nah, karena inilah mereka menganggap perkembangan moral pun meningkat seiring perjalanan usia dan pengalaman hidup. 1. tahapan 1. > Biasa dikenal dengan tahapan kepatuhan buta. Pada tahapan ini yang disebut moralitas adalah kepatuhan terhadap perintah yang diberikan kepadanya. Level ini punya ciri egosentrisme, jadi seseorang dengan level moral ini selalu melihat konsekuensi apa yang ia akan peroleh ketika suatu perilaku dimunculkan. > nah jika kemarin indikator moral itu untuk melihat perkembangan "moral" seseorang ada dua aspek yang diperhatikan: (1). pemahamannya terkait adanya kewajiban dan hak pada setiap interaksi sosial. (2). keinginannya untuk menyeimbangkan dua hal tadi, pada tahapan 1, seseorang sudah tahu apa kewajiban dan hak dan ia juga paham bagaimana menyeimbangkannya. > Cara menyeimbangkannya ialah mematuhi perintah. karena hak yang ia miliki adalah terhindar dari hukuman jika ia patuh pada perintah. > Tiga karakter representatif dari tahapan 1 ini. > 1a. Salah atau benar definisinya sederhana saja, patuhi peraturan (perintah) yang ada. Merujuk dilema Heinz respon respon orang dengan tahapan ini misalnya: "jika kamu mengambil obat dengan cara seperti itu berarti kamu mencuri. Mencuri selalu bertentangan dengan hukum. Dan jelas, hukum adalah hukum." > 1b. Hukuman adalah sesuatu yang tak terhindarkan terkait adanya ketidakpatuhan dan jelas orang yang dihukum pastilah seseorang yang buruk. > nah pada fase ini kan anak dan pengasuhnya tidak pada posisi seimbang. pengasuh bisa mengatur anak sementara anak tak bisa mengatur pengasuh. Pada (akhir) tahapan ini anak belajar konsep bahwa aturan itu juga berlaku untuk anak lain. 2. tahapan 2. > Pada tahapan ini seseorang sudah mengetahui, tiap orang punya harapan, aspirasi, keinginan, pandangan, motifnya sendiri. Jadi tiap orang bisa bisa saja melakukan hal yang berbeda tergantung "interest" mereka. > nah titik kritisnya di sini. jika tiap orang punya interest yang beda, bagaimana "society" stabil dan bertahan? > Pada tahapan inilah manusia mulai belajar bekerjasama dengan orang lain dan mengemukakan hak dan kewajiban masing masing dengan metode "bargaining". "tawar-menawar" ini karakteristiknya sederhana sekali, sampai sampai sering disebut dengan "one-shot exchanges of favor for favor" > Jadi kalau kesepakatan tidak terjadi, seseorang tidak boleh mengganggu yang lain, karena masing masing orang punya keinginan masing masing. > Nah karena itu salah satu karakter khas tahapan ini: 1a. Suatu perilaku benar jika itu mengakomodasi hasrat dan minat seseorang. Misalnya ketika mendapat dilema Heinz "yah ahli obat boleh saja melakukan apa yang ia maui, Heinz juga dapat melakukan apa yang ingin ia lakukan." 2b. Seseorang perlu mematuhi hukum jika itu memang sangat perlu untuk dilakukan. 2c. Interaksi antar sesama selalu berdasarkan pertukaran sederhana. pada akhir tahapan ini seseorang memahami makna "equality" dan hubungan timbal balik yang berwujud "pertukaran sederhana". > Adil adalah jika tiap tiap pihak paham mereka memiliki sesuatu yang dapat dipertukarkan untuk mendapat sesuatu. Aaahh cukup panjaaang, tapi kuliahnya belum selesai ^^, untuk tahapan selanjutnya akan diposting pada postingan selanjutnya. Terima kasih kak akhyar