Kalau ditanya kenapa bisa betah di desa dengan kondisi terisolasi, tanpa teman dan tentu tanpa es krim pula, jawabannya bukan karena alam, meski ini pendukung, tetapi alasanku adalah karena cinta.
Aku lahir di keluarga kurang mampu, di mana masa kecilku yang indah tinggal di kebun orang, kebun rambutan. Hanya kami sekeluarga di sana. Masa kecil selalu indah, meski aku tidak punya banyak teman, aku senang karena keluargaku masih utuh, hasil kebun kami tidak pernah sepi, buah-buahan banyak, aku juga merawat sejumlah kambing dan ayam, punya danau kecil untuk berenang dan mancing ikan, punya anjing dan kucing, bahkan aku pernah punya teman burung hantu dan banyak lagi. Ini menjadi pembentukan terhadap bagaimana aku merasakan bahagia.
Usiaku 9 tahun, orangtuaku mulai cekcok, kenanganku mulai tercemar, aku kecil mulai melihat berbagai macam luka lain. Kenapa ibu lebih sering memukulku dibanding abang, kenapa bou, nenek, ujing dan saudara lainnya lebih sayang kepada kakak, dan kenapa-kenapa lain yang akhirnya membentuk pemikiran di mana aku merasa tidak dicintai.
Umur 11 tahun orangtuaku bercerai, dan keluargaku porak-poranda, terpisah. Rumah yang kami tempati tinggal sejarah, kami berpindah ke rumah baru. Setelah tamat SD aku turut pula mengasingkan diri, masuk sekolah berasrama dan hanya pulang saat lebaran, kuliah juga di luar pulau, dan hanya pulang sekali sebelum lulus. Setelah lulus aku masih bekerja di rantau, jika bukan karena covid dan adikku meninggal aku tak akan pernah tahu desa seperti ayah tempat ayah tinggal sekarang. Covid selesai dan kembali merantau. Pulang kembali 2024, tetapi aku tak pernah benar-benar di rumah sepanjang tahun.
Aku benar-benar tumbuh dengan anggapan, tak ada yang mencintaiku, tak ada yang benar-benar terasa rumah.
Namun dewasa membuat kita melihat hidup dengan berbagai kacamata. Aku sudah menyelesaikan banyak sekali pemikiran buruk di kepala, dan salah satunya adalah jarak dan waktu tak bisa memberikan cinta. Tanpa komunikasi, tanpa saling berbagi, tanpa semua upaya untuk saling ada, tak ada yang cukup bisa menjadi cinta. Cinta itu benar-benar kata kerja, begitu aku belajar mencintai, aku mengerti rasanya dicintai.
Desa tempat aku tinggal sekarang, bukan desa yang sama dengan aku tumbuh saat kecil. Ini dunia baru bagiku, tapi di dunia yang baru ini aku belajar kembali memahami kehidupan, lebih utuh, lebih jelas, lebih berani dan lebih dewasa.
Adikku sudah meninggal, juga kakakku. Ibuku tak pernah berniat kembali rujuk. Di sini hanya ada aku, ayah, abang, juga adikku dari ibu berbeda, tapi aku merasakan ada, aku merasa berfungsi sebagai manusia yang memiliki jiwaku sepenuhnya. Dan potret bahagia yang pernah ada saat kecil, hadir kembali di sini. Di mana aku punya keluarga, yang memberikan rasa bahwa aku tak sendirian, aku penting, aku dihargai, dan turut pula alam yang terasa sama seperti aku kecil. Pula sama seperti masa kecilku, di sini tak ada teman.
Mungkin orang akan berpikir betapa frustasinya hidup tanpa berbicara dengan orang di tingkat kedewasaan dan intelektual yang sama, aku juga pernah berpikir demikian. Namun itu menjadi tidak berarti karena aku punya mereka di sini, bukan hanya keluarga inti, juga saudaraku yang lain, yang sekarang kupotret sebagai orang-orang yang kusayangi.
Aku masih punya keadaan di mana aku ingin pergi, merantau, melarikan diri dari satu keadaan tertentu, tetapi aku mulai takut bagaimana jika aku tak bisa lagi bersahabat dengan jenis kesepian di mana tak ada satu orang pun yang bisa memelukku. Aku tak ingin, jadi aku berpikir, kesepian tanpa obrolan yang kuinginkan lebih baik daripada kesepian tanpa pelukan.
Barangkali, aku hanya bersedia pergi jika suatu hari keadaannya menjadi berbeda, atau ada seseorang yang bisa memberikan cinta yang lebih besar daripada yang aku dapatkan di sini. Barangkali, mungkin saja orang itu ada. Namun jika orang itu pun tak ada, aku berdoa apa yang kumiliki sekarang tidak berubah dengan begitu kejam.