Iman, ilmu, dan amal
Oleh : Ati Fadhilah, FIK UI 2014 Dewasa ini, harga internet seringkali lebih berarti dari sebungkus nasi beserta lauk-pauknya (kecuali bila kondisinya sangat lapar, hehe). Iya, di era millennial yang menawarkan berbagai akses kemudahan menerima informasi, berita, hingga media sosial dengan segala kekhasannya hanya melalui genggaman tangan dan sentuhan jari-jemari. Semua arus mengalir tanpa terkecuali, baik yang benar hingga berakibat fatal. Pemuda menjadi salahsatu konsumen terbanyak dan terlama dalam penggunaannya. Pemuda yang seharusnya bisa menyeleksi segala informasi yang masuk seringkali malah tenggelam terbawa arus sungai informasi yang bercampur dengan sampah-sampah kebohongan, hedonisme, hingga gambar-gambar yang tidak pantas diperlihatkan. Lalu, bagaimana kah seorang pemuda islam seharusnya berperan di era ini? Sebenarnya tugas pemuda islam hanya satu yakni beriman. Maka setelah beriman, seorang pemuda islam seharusnya bisa menjalankan konsekuensi keberimanannya dengan ilmu dan amal. Ilmu dan amal merupakan peran pemuda sebagai agen intelektual dan perubahan. Pemuda yang dengan pemikiran matangnya mampu menjaga integritas moral dalam berkarya dan berkontribusi nyata melalui masing-masing keahliannya dan tentunya berlandaskan ajaran islam yang kaafah, lengkap sempurna dan tak terbantahkan dengan teori scientific manapun. Agen intelektual adalah seorang yang giat mencari ilmu dan kebenaran hakiki. Meneguk kopi hangat yang sudah mengendap tentu lebih nikmat bukan? daripada yang ampasnya masih bercampur baur dengan seduhan kopinya. Yaps, disinilah peran pemuda sebagai agen intelektual diuji, bagaimana ia bisa menyaring informasi yang bermanfaat baginya dan tentu saja bisa diimplementasikan untuk kebermanfaatan yang lebih nyata bagi orang lain. Agen intelektual yang bukan hanya berbicara dengan cara mencerdaskan dirinya sendiri dengan beragam teori dan nilai A yang bertebaran di transkip IPK, tapi bagaimana ia juga mampu mencerdaskan orang lain, memberdayakan, mewujudkan agar menjadi sebuah kontribusi besar yang bermanfaat. Bukan, bukan dengan bermedia sosial saja hingga berjam-jam, menonton film bajakan terbaru berhari-hari berminggu-minggu, atau menelan roman-roman picisan tak berkesudahan. Hiburan memang perlu, namun tidak berlarut-larut. Kemudian, agen perubahan tentu sudah tidak jarang kita dengar. Ya, kitalah pemuda islam yang seharusnnya mengemban. Meski tabiat perubahan adalah menyakitkan, seperti kata Richard Marcinko “perubahan menyebabkan orang merasa tidak aman, bingung, marah.” Sebagaimana mengubah kaum jahiliyah menjadi zaman yang cerah. Tapi, yaa memang begitulah hakikat perubahan untuk menuju mimpi dan keidealisan sebuah kondisi. Perubahan itu seperti bom waktu dengan 3 komponen yang melengkapinya, teladan menjadi mesiunya, kerja menjadi pemantiknya, dan karya menjadi ledakan besarnya! Siapa yang suka menulis bisa menginspirasi orang lain dengan menulis kebaikan-kebaikan dan kebenaran yang diketahuinya, yang suka hukum bisa belajar menjadi hakim yang adil, yang suka kesehatan bisa membantu orang dengan gangguan fisik maupun psikis hingga mereka menyadari betapa besar rahmat yang telah Dia beri, dan berbagai keahlian lainnya yang dengan mudah dan cepat dapat diinformasikan ke seluruh penjuru dunia untuk mensyiarkan kedamaian islam dan iman agar tak dinikmati oleh diri sendiri. Akhirnya, penulis berpesan terkhusus kepada diri pribadi dan teman-teman sekalian, jadilah orang beriman yang berilmu dan beramal. Kita sebagai pemuda islam berperan sebagai agen intelektual dan agen perubahan yang mewujudkan cita-cita negara yang paripurna, damai, dan bahagia. Seberat apapun jalan didepan, percayalah bahwa perubahan apapun bisa sangat berarti bagi keberlangsungan bumi pertiwi. Jangan menyerah, ujian sudah siap menantang kita di depan mata! Semangat lillah! Inspired by Byrne, Rhonda (2008). The Secret. Simon & Schuster, Inc. Hamas, Edgar (2015). Untuk Kalian yang Rindu Perubahan. Yogyakarta: Pro-U Media













