Rumput Tetangga (Tak) Selalu Lebih Hijau
Ada banyak sekali hal di pikiran gue hari ini yang pengen gue tuliskan. Trigger-nya sebenarnya gara-gara percakapan di grup kantor gue, Roena (nama grup, bukan kantor #yha), soal gaji. Jadi, salah seorang temen posting di grup soal gaji pada salah satu lowongan pekerjaan yang dibagikan di grup besar kantor. Katanya gaji untuk posisi itu bisa mencapai 100 juta per bulan. WOW. Cukup kaget sih meski merasa tidak heran juga karena itu emang lembaga donor dan mungkin standar gajinya juga standar gaji negara maju alias dollar (tapi bukan dollar Zimbabwe #krik). Lalu pembahasan bergulir seputar temen-temen gue yang berminat, tertarik mendaftar karena gaji di kantor gue yaah tentu saja ga segede itu wkwkwk.
Ini membuat gue tiba-tiba berefleksi #duileh. Seberapa happy gue dengan gaji gue sekarang? Temen gue nanya, “mba, lu ga pengen resign? Wkwkwk”.
Gue cuma ketawa dan bales dengan balesan bercanda tapi serius: “hahahahahahha ga tau mo kmn.. males daftar2 gue mah, kecuali ada yg nawarin wkwkwk memang mager ya segitu aja rejeki lo, Li”
Tapi serius sih, emang lagi di tahap ga mau resign juga meski kadang jenuh sama pekerjaan. Alasan utama memang yaa karena males itu NGAHAHAHAHAHH. Plus, sebenarnya gue udah nyaman dengan pekerjaan gue sekarang. Banyak hal yang bikin gue nyaman: budaya kerjanya *kecuali pada beberapa hal*, mekanisme kerja yang flexible, lingkungan dan teman-temannya. Hal-hal ini belum tentu gue dapetin di tempat laen kalo gue pindah. Walaupun kadang gue misuh-misuh sama kultur di kantor gue *wkwk*, tapi itu sepertinya sih misuh-misuh karena sayang utututuuu #preett.
Literally gue.
Kadang suka ada aja yang bilang: lo terjebak di comfort zone tau!
Loh, memangnya kenapa? Bukankah kita hidup itu memang mencari kenyamanan? Jadi, apa salahnya terjebak di zona nyaman?
Untuk saat ini, gue belum merasakan urgensi untuk berpindah kerja. Gue bilang sama temen gue dengan jawaban serius gini:
sebuah filosofi #preet
Well yah, kalo mau dibandingkan sama gaji minimal di lembaga donor itu, ya tentu gaji gue mah jauh lah. Tapi, gue sejauh ini udah merasa cukup dengan gaji itu. Alhamdulillah, semua kebutuhan primer gue bisa terpenuhi, bahkan beberapa kebutuhan tersier juga. Memang, ini jelas karena gue punya ‘keistimewaan’ tadi: karena gue masih single dan ga punya tanggungan (kecuali si duo anabul wkwk). Ditambah lagi gue anak bungsu yang tingkat kesejahteraannya dibanding kakak-kakak gue juga urutan bungsu wkwkwk, jadi kalo ada keperluan apa-apa gue tuh ga pernah dibebanin paling gede heheh..
Gue sadar itu, makanya gue bisa bilang gitu. Tapi ada orang-orang yang pastinya mereka punya kebutuhan lebih besar sehingga juga perlu gaji yang lebih besar. Maka mencari pekerjaan dengan benefit yang lebih layak adalah hal yang sah-sah saja.
Pemikiran gue mungkin bisa aja berubah ketika misalnya nanti gue punya tanggungan, misal dikasih Allah kesempatan untuk berkeluarga. Bisa aja kebutuhan gue juga makin besar. Bisa aja gue jadi perlu untuk upgrade penghasilan. Who knows? Tapi untuk saat ini, gue merasa cukup dengan gaji gue sekarang.
Gue juga percaya sama hukum makin besar penghasilan makin besar juga pengeluaran. Kan ada tuh yang bilang: “ah itu mah karena ga bisa aja ngatur duitnya”. Engga. Ga sesederhana itu kadang-kadang.
Buat gue, berdasarkan pengalaman pribadi dan pemahaman atas diri sendiri yang suka BM alias banyak mau ini *wkwk*, gue ga bisa tuh punya pengeluaran yang sama dengan ketika gue punya gaji pertama di kantor gue sekarang wkwkwk. Komponen bisa aja sama, tapi nilai yang gue keluarkan lebih besar. Dan saat punya penghasilan yang lebih besar, kadang-kadang keinginan juga suka makin ngadi-ngadi sih HAHAHAHAHHAHA. Yah, karena merasa lebih mampu wkwk. Kalo kata Tyas sih, jajan ini itu sah-sah aja: “untuk alasan apapun menurutku valid2 aja asal ga ngerugiin diri sendiri apalagi org lain. Alasan mau nyenengin diri sendiri kah, alasan kebutuhan lah, atau sekadar pengen ngicipin kemewahan”
Kecenderungan kita ketika punya duit memang menginginkan sesuatu yang (lebih) mahal wkwk. It’s okay, selagi duit yang dipake itu halal, bukan hasil nyolong atau ngutang ke orang laen (ngutang buat gaya hidup, naudzubillah semoga terhindar dari perilaku kayak gini). Yah, ngatur keuangan dengan lebih bijak tentu gak kalah penting sih. But, pampering yourself is not a sin 😊. Kuncinya kalau menurut gue adalah ‘being responsible’ alias ‘tau diri, tau batas’.
Balik lagi ke masalah gaji atau penghasilan. Merasa cukup itu (mungkin) hal yang sulit. Dari pembahasan di grup hari ini gue merasa bahwa penting sekali kita berdoa sama Allah agar selalu dicukupkan. Mau gaji kita sebulan 5 juta, 10 juta, 20 juta, atau bahkan 100 juta, semua bisa tetap terasa kurang kalau kita ga merasa cukup *yaiyalah wkwk gue timpuk ya lu, Li*.
Gue sadar, gue bisa ngomong gini karena gue punya ‘privilese’ tadi. Di luar sana, ada orang-orang yang hidup dengan gaji tidak layak. Jangankan berpikir untuk ‘memanjakan diri’, memenuhi kebutuhan dasar saja mereka bahkan kesulitan. Karena itu, gue selalu menyelipkan dalam doa gue supaya gue dijadiin orang yang senantiasa bersyukur dan dicukupkan. Harta berlebih juga sebenarnya buat apa? Punya harta itu kan ya harusnya dihabiskan dan digunakan, ya gak? wkwkwkwk.
Dari beberapa orang yang gue liat, saat penghasilan mereka besar, kadang tuh suka ada aja kebutuhan mendadak (atau ga mendadak) yang juga besar. Gue merasa ini mungkin emang cara Allah untuk ngasih tau kita bahwa rezeki kita tuh emang udah ditakar. Rumput tetangga (akan) selalu terlihat hijau, tapi kita kan ga tau buat menghasilkan rumput yang hijau itu ‘pengorbanan’ apa yang udah dilakukan oleh tetangga kita?
Maka, mintalah selalu untuk dicukupkan. Mintalah selalu untuk diberi kemampuan senantiasa bersyukur. Gue meyakini bahwa benefit bekerja itu bukan cuma soal materi. Dan gak apa-apa banget kalau kita bertahan karena hal-hal di luar materi dan gak apa-apa banget kalau kita keluar karena ingin materi lebih. Semua keputusan pertimbangannya tentu kembali ke kita. Ada orang yang emang merasa harus punya gaji gede karena misal dia harus menghidupi keluarganya atau mengobati keluarganya yang sakit. Ada juga orang yang merasa cukup dengan penghasilannya sekarang dan memilih bertahan karena kenyamanan atau alasan lainnya. Dan ada juga orang-orang yang memang ga berkecukupan, sehingga keberadaan orang-orang yang berkecukupan lah yang akan mencukupkan mereka *terlalu banyak mengulang kata ‘cukup’*.
Satu hal yang gak kalah pentingnya bagi gue adalah jangan sampai gue tergelincir karena masalah ‘uang’. Entah itu gue jadi pribadi yang tamak, sampai merugikan orang lain (dan diri sendiri) gara-gara uang. Memang, ini hal yang sensitif dan sangat perlu pikiran waras kita sih wkwk. Pertanggungjawabannya serem cuy. Ga usah ngadi-ngadi soal duit aja dosa gue udah banyak, jangan ditambah-tambahin lah T_T.
Semoga kita semua dijauhkan dari hal-hal buruk yaa..
















