(Pikiranku) ingin pulang, tapi sudah di rumah (inspired by Lala Bohang's tweet)
Kau berkelana sembari membawa cangkir kosong, yang entah hingga kapan ia akan terisi dengan hal baik
Jika kau memutuskan untuk melepas diri, akankah kau mengerti peta mana yang tak akan menyesatkanmu? Membaca kompas saja kau berputar-putar
Jika kau menetap di bawah atap ini, dengan tembok dan jendela sebagai sekat dari udara luar tanpa saringan, akankah kau melihat pintu sebagai benda dilematis?
Lalu kau membayangkan kengerian yang terjadi di antara keduanya. Tubuhmu terikat. Lidahmu tercekat. Alismu mengernyit dengan matamu yang kebingungan--
nafasmu tersengal.
"AKU TIDAK TAHU!", sarafmu berteriak.
Hingga akhirnya ruang dan waktu terasa fana. Kau anggap orang lain menjalani hidupnya di luar sana hanya sebagai fatamorgana.
Kau melihat, antara plafon dan bintang-bintang sarat atas ketidakmungkinan. Ubin atau tanah yang kau tak yakin untuk dipijak.
Lantas, bagaimana kau akan menentukan rumah, atau singgah? "dia"-kah yang menjadi siapa, atau "itu" sebagai apa?















